Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Segera Halalkan Dia


__ADS_3

Pukul lima sore, Rayyan sudah ada di rumah. Ia sengaja meminta dokter lain menggantikan tugas di poli bedah sebab nanti malam pria berparas rupawan itu akan menghadiri acara syukuran ulang tahun kedua anak kembar dari pasangan Rio dan Rini.


Mengetahui sang pujaan hati akan datang ke acara tersebut, Rayyan sudah bersiap-siap sejak satu jam lalu. Ketika tiba di rumah, ia bergegas naik ke kamar tanpa menyapa Lena sama sekali. Meskipun sudah bertahun-tahun Lena mengambil alih tugas serta tanggung jawab sebagai seorang istri serta ibu yang baik bagi putra sulung dari pasangan Firdaus dan Mei Ling, Rayyan tidak pernah menganggap wanita itu ada dalam hidupnya.


"Sebaiknya apa mengenakan pakaian mana?" gumam Rayyan sambil memilih pakaian yang akan dikenakan untuk acara nanti malam.


Biasanya kaum Hawa yang akan kebingungan menentukan pakaian yang cocok untuk menghadiri sebuah acara, tapi dalam kasus ini Rayyan-lah yang kebingungan sebab ia ingin tampil memesona di hadapan calon istrinya.


"Warna kemeja ini terlalu mencolok." Melemparkan kemeja berwarna hijau muda di atas ranjang. Lalu memilih kembali kemeja yang lain dari dalam lemari.


Selama hampir sepuluh menit memilih, akhirnya Rayyan menentukan pilihan pada kemeja berwarna navy. Baju batik lengan pendek itu begitu pas membalut tubuh kekar dan atletis milik sang empunya.


"Sempurna. Dengan begini, Arumi pasti akan semakin mencintaiku dan melupakan si berengsek itu," gumam Rayyan sambil menyisir rambut.


Setelah memastikan penampilannya sempurna, Rayyan keluar kamar. Kedua tangan membawa dua bingkisan kado berukuran sedang untuk si kembar, Indah dan Bagus.


Ia menuruni anak tangga satu persatu dengan sangat hati-hati sebab tak ingin membuat bingkisan kado tersebut penyok ataupun rusak.


"Kamu mau ke mana Ray?" seru Lena ketika melihat anak tirinya berjalan melewati ruang keluarga. Wanita itu dibantu ART sedang menyiapkan makan malam.


Alih-alih menjawab, Rayyan terus melangkah keluar rumah tanpa menoleh sama sekali ke arah Lena.


'Sabar, Lena. Mungkin saja anakmu itu tidak mendengar seruanmu.' Wanita paruh baya itu mencoba menghibur diri agar ia tak bersedih akan sikap acuh yang ditunjukan oleh Rayyan.


Saat tiba di ruang tamu, Rayyan berpapasan dengan adik tirinya, Raihan. Kedua pria yang sama-sama memiliki wajah tampan saling melempar tatapan sinis. Aroma kuat permusuhan semakin terasa ketika salah satu di antara mereka ada yang mendengus.


"Papa mendidik kita agar bersikap sopan santun terhadap orang yang lebih tua. Namun, kenapa sikapmu sama sekali tidak memcerminkan bahwa kamu adalah seorang pria yang memiliki etika," sindir Raihan. "Apa susahnya menjawab pertanyaan Mama."


"Wanita seperti Ja*ang itu tidak pantas disebut orang tua. Dia memang layak untuk tidak dihormati oleh siapa pun."


Sindiran Rayyan menghujam tepat di jantung Raihan. Tangan mengepal ssmpurna di samping. Tubuhnya seketika memanas ketika putra sulung sang papa menghina wanita yang teramat dicintainya.


"Tutup mulutmu!" pekik Raihan. Urat-urat tangan menonjol keluar. Bola mata pria itu melotot dengan sempurna. "Sudah kukatakan, jangan pernah menghina Mamaku!"

__ADS_1


Rayyan menarik sudut bibir sebelah kanan lalu berkata, "Kenapa? Tidak terima jika aku menyebut wanita itu dengan sebutan ja*ang?" Pria itu sengaja menekankan kata jalaang di akhir kalimat.


"Kamu!" Raihan mengarahkan jari telunjuk di hadapan Rayyan. Namun, dengan gerakan cepat Rayyan menepis tangan itu.


"Lebih baik kamu temui Ja*ang itu. Aku yakin, saat ini dia sedang menangis sesegukan di kamar. Hibur hatinya dan katakan padanya sampai kapan pun, dia tidak akan bisa menggantikan Mama Mei Ling di hatiku. Sekalipun dia mengorbankan nyawa untuk menolongku, dia hanya seorang Ja*ang yang tak bernilai sama sekali di mataku."


***


Sepanjang perjalanan menuju rumah Rio, Rayyan berkali-kali memukul stir mobil. Setiap kali bertemu Raihan, emosinya selalu meledak-ledak. Ia tersulut emosi bila ingat dalam darah adik tirinya itu mengalir darah wanita yang menjadi penyebab kematian sang mama.


"Sial! Benar-benar sial!" Tangan kekar itu mencengkram erat stir mobil. "Seharusnya tadi aku segera berangkat sebelum berpapasan dengan laki-laki itu."


Kini ia menyesali kenapa tadi terlalu lama berdiri di depan cermin untuk memastikan penampilannya sudah terlihat sempurna. Andai saja tahu bila akan bertemu Raihan mungkin ia tidak akan menghabiskan waktu terlalu lama hanya sekadar berdandan.


Bangunan rumah mewah bak istana dengan dua tiang besar berada di sisi kanan dan kiri serta pintu gerbang menjulang tinggi ke atas membuat Rayyan mengurangi kecepatan laju kendaraan.


Saat tiba di depan pos security, Rayyan menurunkan kaca mobil. "Halo, Pak. Selamat malam," sapa pria itu pada penjaga rumah.


Merasa tidak asing dengan wajah Rayyan, security itu tersenyum ramah sambil menekan tombol otomatis untuk membuka pintu gerbang. "Selamat malam, silakan masuk!"


"Hai, Bro! Kupikir kamu tidak akan datang malam ini." Rio berdiri tegap di depan pintu masuk rumah lantai dua yang dibeli dari hasil kerjakerasnya selama ini menjadi seorang pengacara. Pria itu menyambut hangat kedatangan sahabatnya.


"Aku sudah janji pada kedua anakmu akan membawakan kado ulang tahun. Kalau sampai tidak datang maka mereka sedih. Selain itu citraku di hadapan anak kembarmu akan tercemar dan mereka menganggapku sebagai pria yang jahat."


Rio terkekeh. Menepuk bahu sahabatnya. "Ya ... kamu benar. Apalagi aku memiliki anak perempuan. Bisa jadi dia beranggapan bahwa semua pria itu tukang bohong karena bercermin dari sahabat Papanya."


"Sialan, kamu! Aku tidak pernah ingkar janji. Selama kita bersahabat, apa pernah aku mengecewakanmu."


Rio membalas ucapan Rayyan dengan mengangkat bahu. "Mana kutahu," ucapnya santai.


"Sudahlah, ayo masuk! Kehadiranmu telah dinanti oleh Mama dan anak-anakku."


Dua orang pria itu melangkah masuk ke dalam rumah. Rumah mewah milik Rio telah dihias sedemikian rupa. Walaupun acara ulang tahun Indah dan Bagus diadakan sederhana tetapi Rini tetap menghiasi seluruh ruangan dengan dekorasi ulang tahun.

__ADS_1


Memiliki anak kembar beda jenis kelamin, membuat Rini sebagai orang tua berusaha untuk tidak membeda-bedakan kedua anaknya. Ia selalu bersikap adil dalam segala hal termasuk pemilihan konsep yang digunakan untuk dekorasi malam ini.


Mengusung konsep under the sea yang identik dengan warna biru, Rini menggunakan taplak meja berwarna biru sebagai dominan warna untuk menggambarkan suasana laut yang diinginkan. Di atas meja, semua hiasan seperti piring, sedotan dan minuman yang bertajuk biru.


Sementara untuk balon, vas bunga yang terbuat dari kerta origami dan topi ulang tahun yang akan dikenakan oleh tamu undangan, Rini memilih warna merah jambu, warna kesukaan Indah serta tak lupa dreesscode bagi tamu undangan wanita mengenakan pakaian warna merah jambu. Sedangkan untuk laki-laki mengenakan pakaian warna biru.


"Uncle Ray!" seru dua bocah kembar identik hampir bersamaan. Mereka berlari kegirangan ketika melihat sahabat sang papa.


"Halo, keponakan Uncle yang ganteng dan cantik," puji Rayyan. Pria itu mengusap rambut Bagus tetapi tidak melakukan hal yang sama pada Indah.


Indah berdiri di sisi Bagus langsung mencebik. "Kenapa hanya Bagus saja yang diusap? Sedangkan Indah tidak," protes gadis kecil itu. "Apakah karena Indah perempuan sehingga Uncle Rayyan tidak mau mengusap rambutku?"


Rayyan melirik ke arah Rio sekilas, lalu kembali menatap Indah. Ia berjongkok di hadapan gadis kecil itu. "Loh, Indah kenapa berpikiran begitu. Uncle sama sekali tidak membeda-bedakan Indah. Alasan Uncle tidak mengusap rambut Indah karena Uncle punya penyakit langka."


"Kalau Uncle sakit maka acara ulang tahun Indah berantakan, bagaimana? Indah tidak mau 'kan pesta ulang tahun ini malah jadi kacau." Rayyan mencoba memberikan alasan pada Indah berharap agar gadis kecil itu tidak merasa dibeda-bedakan oleh pria itu.


Ia tak tahu, apakah tindakan yang dilakukannya benar atau salah. Memberitahu gadis kecil itu tentang penyakit diderita oleh Rayyan sejak kecil merupakan sebuah keputusan yang baik atau tidak, pria itu pun tak tahu.


"Sayang." Rio mengusap lembut rambut sang putri. "Kelak, jika Indah sudah dewasa akan tahu alasannya kenapa Uncle Ray tidak bisa menyentuhmu. Terkadang, banyak hal kecil yang sulit dimengerti oleh anak kecil dan itu hanya dapat dimengerti ketika kalian dewasa."


Air muka gadis itu kembali ceria. Senyuman kembali terkembang di bibir. "Ya sudah tidak apa-apa. Selama Uncle Ray sayang padaku, Indah tidak keberatan jika tidak diusap rambutnya."


"Tentu saja tidak. Uncle akan selalu menyayangi kalian berdua." Pria itu tersenyum manis di hadapan gadis kecil berusia lima tahun.


"Uncle membawakan dua kado istimewa untuk kalian berdua. Dibungkus kado sesuai warna kesukaan Indah dan Bagus." Rayyan menyodorkan dua buah bingkisan dan menyerahkannya pada si kembar.


"Hore! Terima kasih, Uncle Ray." Kedua anak kecil itu bersorak kegirangan. Melompat-lompat seperti seekor kelinci. Terlihat lucu dan menggemaskan.


"Bro! Tampaknya kamu sudah pantas menjadi seorang ayah," bisik Rio. "Jika Arumi sudah melewati masa iddah, segera halalkan dia. Berikan aku dan Rini keponakan kembar yang lucu dan menggemaskan."


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2