
"Permisi, Pak. Sekadar mengingatkan saja, siang ini Bapak ada janji bertemu dengan Pak Ilham." Aldo berdiri dengan penuh wibawa, di hadapan meja kerja Mahesa. "Pak Ilham mengirimkan pesan jika pertemuan kali ini akan diadakan di sebuah restoran Steak And Shake. Apakah Bapak keberatan dengan lokasi yang dipilih oleh Pak Ilham?" tanya Aldo.
Aldo ingin memastikan jikalau sang Bos baik-baik saja seandainya pertemuan kali ini diadakan di sebuah restoran yang dulu memiliki kenangan manis kala Mahesa mengutarakan niatnya untuk meminang Arumi dan menjadikan wanita itu sebagai istrinya.
Mahesa meletakan pena di atas meja, lalu memijat pelipisnya yang terasa sakit. Lagi dan lagi, kenangan masa lalu saat bersama Arumi terlintas di benaknya. Seolah bayangan itu terus mengikuti kemana pun ia pergi.
"Aku tidak keberatan jika pertemuan kali ini diadakan di restoran itu. Meskipun bayangan Arumi akan melintas di benakku saat berada di restoran itu tetapi aku harus tetap profesional di hadapan calon customer," jawab Mahesa.
"Baik, Pak. Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang! Jangan sampai Pak Ilham menunggu terlalu lama," ucap Aldo sambil tersenyum.
Mahesa berjalan keluar ruangan. Ia berbelok ke lorong sisi kanan, kemudian melangkah lurus hingga tiba di sebuah kotak persegi terbuat dari besi. Lift itu diperuntukan khusus bagi pejabat tinggi, keluarga serta klien penting Adiguna Property.
Ketika lift berdenting dan terbuka, pria berusia dua puluh tujuh tahun melangkah masuk ke dalam. Perlahan, kotak persegi itu membawa tubuh pria itu serta Aldo turun ke lobi.
"Silakan, Pak." Aldo membukakan pintu untuk atasannya. Setelah memastikan Mahesa duduk aman di kursi belakang, ia baru masuk ke dalam mobil. Memasang sabuk pengaman, lalu menginjak pedal gas. Mobil mewah itu melaju menuju restoran yang ada di salah satu mall di kota Jakarta.
Mobil Alphard milik Mahesa melaju dengan kecepatan sedang. Selama di perjalanan, Mahesa lebih memilih diam seraya menikmati pemandangan dari dalam mobil. Ketika melewati sebuah kampus terkenal di kota Jakarta, tiba-tiba bayangan di masa lalu melintas di benak pria itu.
Flashback on
Siang itu, Arumi baru saja selesai mengikuti perkuliahan di salah satu universitas terkenal di kota Jakarta. Dara cantik berusia dua puluh tahun itu begitu memukai dalam balutan celana kulot warna cream dipadu blouse warna coklat muda.
Arumi duduk di kursi taman sambil membaca materi kuliah yang baru saja diajarkan. Bola mata indah itu bergerak ketika halaman buku berpindah.
Ketika sedang serius membaca semua materi di buku tersebut, tiba-tiba saja tangan kekar seorang pria menutupi mata indah wanita itu.
__ADS_1
"Coba tebak, siapa aku?" ujar pria itu.
"Itu pasti kamu 'kan, Mas Mahes!" ujar Arumi. Meskipun mata Arumi tertutup dan pria itu merubah suaranya tetapi ia sangat yakin jika orang di belakang sana adalah Mahesa, pria yang begitu dicintainya.
Mahesa mendengus kesal, sebab ini kesekian kalinya Arumi dapat menebak jikalau dirinya-lah yang sedang menjaili wanita itu.
"Kenapa sih kamu selalu dapat menebakku di saat aku sedang bermain tebak-tebakan denganmu," keluh Mahesa. Ia duduk di sisi Arumi seraya menghela napas panjang. Raut wajah pria itu begitu kusut seperti pakaian yang belum disetrika.
Melihat air muka Mahesa yang kusut, membuat Arumi terkekeh. Jemari lentik itu menutup buku yang ada di atas pangkuan, lalu memasukannya ke dalam tas.
"Sekalipun kamu merubah suara ataupun melakukan operasi plastik di wajah tampanmu itu, aku tetap akan mengenalimu, Mas. Kamu tahu kenapa?" Arumi menautkan kedua alis. "Itu, karena aku terlalu mencintaimu sehingga gerak gerik serta langkah kakimu, dapat kukenali meski kedua mataku tertutup rapat."
Arumi merubah posisi duduk hingga mereka berdua duduk berhadapan. Perlahan, wanita itu menangkup wajah Mahesa. Mengusap lembut rahang sang kekasih.
"Mungkin rasa cintamu padaku tidak sebesar rasa cintaku padamu, tapi aku yakin dengan ketulusan cinta ini akan membuat kadar cinta dalam dirimu semakin bertambah setiap hari. Semakin lama kita bersama maka cinta itu akan tumbuh dan bersemi selamanya."
"Hubungan ini bertahan karena ada dua orang yang saling mencintai yaitu kamu dan aku. Jika salah satu di antara kita tidak benar-benar tulus mencintai pasangannya mungkin sudah sejak lama hubungan kita kandas di tengah jalan."
"Kamu tahu sendiri, begitu banyak krikil menghadang hubungan kita. Namun, berkat kekuatan cinta ini semua terlewati begitu saja. Bahkan cobaan ini semakin mengeratkan hubungan kita. Aku semakin yakin untuk menjadikanmu sebagai ibu bagi anak-anakku nanti."
"Kamu bersedia 'kan menikah denganku meski kehidupan rumah tangga kita akan terasa sulit di awal pernikahan?" tanya Mahesa, Arumi membalas dengan anggukan kepala.
"Kamu bersedia tinggal bersamaku di rumah kontrakan sempit di pinggiran kota Jakarta?" Arumi kembali menganggukan kepala.
"Lalu, apakah kamu juga bersedia menemaniku meski seumur hidup, aku tetap jadi pecundang yang tak mampu memberikan kebahagiaan untukmu?" Lagi dan lagi Arumi menganggukan kepala.
__ADS_1
"Mas, aku bersedia menemanimu di kala suka maupun duka. Aku bersedia hidup susah asalkan kamu tetap berada di sisiku. Selamanya," jawab Arumi dengan mata berkaca-kaca.
"Dan aku pun berjanji, akan selalu mencintaimu dalam keadaan apa pun. Tetap menjaga kesucian cinta kita hingga maut memisahkan," timpal Mahesa. Namun, sayang kini janji itu tinggal-lah janji.
Pria yang kini menjabat sebagai presdir di sebuah agen properti terkenal di tanah air sudah melanggar janji yang diucapkan olehnya sendiri. Ia telah menodai kesucian dari sebuah hubungan yang telah lama dibina. Rumah tangga harmonis yang dibangun susah payah oleh Arumi harus kandas akibat sebuah perselingkuhan.
Flashback off
Mahesa menghela napas panjang hingga embusan napas berat terdengar oleh pria yang duduk di balik kemudi.
"Maafkan, aku Arumi. Aku benar-benar menyesal telah menduakanmu," gumam Mahesa lirih. Tatapan matanya masih memandangi pemandangan di luar jendela.
"Aku yakin, saat ini Pak Mahesa sedang memikirkan kejadian di masa lalu. Ia pasti teringat akan kenangan saat masih bersama Bu Arumi," batin Aldo.
"Sejujurnya aku kasihan padamu, Pak, karena kini perlahan-lahan hidupmu mulai menderita. Namun, membayangkan betapa jahatnya kamu saat berselingkuh dengan sahabat Bu Arumi, rasa itu lenyap seketika. Aku malah puas karena dapat melihat penderitaanmu sedikit demi sedikit."
"Tampaknya kamu lupa, Pak, kalau karma itu benar-benar ada. Belum lama kamu berpisah dari Bu Arumi, Tuhan sudah membalaskan satu per satu rasa sakit yang pernah kamu goreskan di hati Bu Arumi." Aldo masih bermonolog sambil mencuri pandang lewat kaca spion.
"Tuhan itu Maha Adil. Dia bekerja dengan cara-Nya sendiri."
TBC
.
.
__ADS_1
.