Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Jangan Harap Kamu Bisa Lolos Dariku


__ADS_3

Sementara itu, Rayyan beserta Firdaus dan petinggi rumah sakit sedang berada di sebuah aula. Mereka tengah mengadakan rapat mengenai laporan kegiatan per enam bulan sekali. Rayyan yang sebentar lagi menggantikan sang papa, tentu saja harus hadir sebab di kemudian hari dialah yang akan meneruskan tongkat estafet kepempinan Persada International Hospital. Walaupun ada Raihan sebagai anak kedua hasil pernikahan Firdaus dan Lena, tetapi Rayyan-lah yang paling berhak menjabat sebagai direktur karena rumah sakit tersebut didirikan oleh mendiang Mei Ling, ibu kandung Rayyan.


Rapat masih terus berlangsung dan belum ada tanda-tanda akan segera usai. Seorang perawat yang diminta suster Amira tampak sedang kebingungan. Sedari tadi ia mondar mandir di depan pintu masuk berwarna coklat tua.


Tangan Tiara terulur ke depan hendak mengetuk pintu. Akan tetapi ia urungkan niatannya itu karena tak memiliki keberanian untuk bertatap muka dengan seluruh orang penting di rumah sakit itu.


"Aduh, bagaimana ini. Apakah aku harus mengetuk pintu itu dan mengatakan yang sebenarnya pada Dokter Rayyan? Bagaimana kalau orang-orang di dalam sana beranggapan kalau aku hanya ingin mengganggu mereka?" gumam Tiara. Wajah perawat wanita itu begitu frustasi, terlihat dari gerakan bola mata yang tak fokus pada satu arah. Berkali-kali mengetuk-ngetuk sepatu pentofel di atas lantai hingga menimbulkan suara nyaring.


Di saat Tiara sedang sibuk dengan pikiriannya sendiri, seorang OB melangkah di depan wanita itu. Tiba-tiba sebuah ide terlintas dalam benak wanita itu.


"Mas, tunggu!" seru Tiara. "Kamu mau mengantarkan minuman ini ke dalam?"


"Benar, Mbak. Kenapa?" tanya OB itu kebingungan.


"Tolong kamu sampaikan pada Dokter Rayyan, kalau di luar ada perawat dari bangsal Bougenville ingin bertemu dengannya. Penting!" OB itu menganggukan kepala, lalu ia melangkah masuk ke dalam ruangan dengan kedua tangan membawa nampan berisi minuman bagi seluruh peserta rapat.


Tak berselang lama, Rayyan pun keluar dari dalam aula. Pria itu segera bangkit dari kursi setelah mendapatkan pesan penting yang ditujukan kepadanya.


"Ada berita penting apa?" Rayyan berdiri di ambang pintu dengan sorot mata dingin. Kedua tangan masuk ke dalam saku jas dokter ia kenakan.


Rayyan terpaksa menemui Tiara. Kalau bukan karena perawat itu ingin menyampaikan berita penting, ia sebetulnya enggan sekali menemui wanita lain selain Arumi.


"Ehm ... a-anu, Dokter. A-anu ...." Tiara berusaha melanjutkan kalimatnya, tetapi tenggorokan rasanya seperti disumpal oleh bongkahan kaktus yang mengganjal hingga membuatnya tak mampu berkata.


"Katakan yang jelas, ada apa!" Membuat Rayyan tidak tahan lagi dan berusaha mendesak perawat wanita itu agar mengatakan ada berita penting apa yang ingin disampaikan kepadanya. Kenapa Tiara bisa datang menemuinya ke sini sedangkan wanita itu tahu kalau rapat ini sangat penting baginya.


"Cepat katakan! Kalau tidak, saya minta security melemparmu ke jalanan!" ancam Rayyan, membuat Tiara panik dan akhirnya ia mengatakan yang sebenarnya pada pria itu.


"Seorang wanita paruh baya datang ke bangsal Bougenville dan dia mendorong Dokter Arumi, Dokter." Hanya kalimat itu yang mampu terucap dari bibir Tiara. Kepala Tiara menunduk, kedua tangan saling meremaas satu sama lain. Tak kuasa menatap sorot mata tajam atasannya.

__ADS_1


"Sialan! Kenapa tidak kamu ceritakan sejak tadi!" Tanpa pikir panjang, Rayyan segera berlari meninggalkan Tiara yang masih membeku di tempat.


Rayyan sudah hampir kehilangan akal sehat saat mendengar Arumi didorong oleh seseorang. Memikirkan kemungkinan buruk terjadi pada istri beserta ketiga calon anak yang masih ada dalam kandungan membuat pria itu melupakan wibawanya sebagai wakil direktur rumah sakit. Pria itu tak memiliki waktu untuk menjelaskan kepada rekan sejawatnya mengapa ia begitu tergesa-gesa sampai meneriaki semua orang agar keluar dari dalam pintu lift.


"Aku bersumpah, kalau sampai terjadi hal buruk menimpa Arumi beserta ketiga anakku, akan kulenyapkan dia dengan tanganku sendiri!" janji Rayyan seraya mengepalkan tangan ke udara.


Bagi pria itu, Arumi dan buah hatinya adalah batas kesabaran Rayyan. Apabila terluka, maka ia tak segan-segan memberikan pelajaran pada orang yang telah melukai sang istri. Sekalipun ia harus mendekam di jeruji besi, pria itu sama sekali tak peduli. Di dunia ini, tidak ada satu orang pun yang boleh melukai Arumi.


Saat pintu lift berdenting dan terbuka, Rayyan bergegas keluar dan melangkah menuju meja resepsionis. "Di mana istriku?" tanyanya dengan nada suara tinggi.


Dua orang perawat yang berjaga di balik meja kerja tampak terkejut saat mendengar suara menggelegar bagai gemuruh petir di siang bolong. Belum usai keterkejutan mereka akibat kedatangan Naila dengan cara menggebrak meja, kini rupanya wanita berseragam perawat itu kembali dibuat senam jantung lagi.


Susah payah mereka mengembalikan keberanian di dalam dada. Lantas, setelah keberanian itu terkumpul, secara serempak mendongakan kepala dengan sangat perlahan.


"D-dokter Arumi ... sudah dibawa Suster Amira ke ruangan Anda, Dokter."


Saat tiba di depan ruangannya, Rayyan segera masuk dan mendapati sang istri tengah terbaring lemah di atas ranjang.


"Babe!" Rayyan berhambur dan berjongkok di pinggiran ranjang. "Kenapa bisa seperti ini? Apa yang terjadi padamu? Katakan padaku, ada apa ini?" Pria bermata sipit terus mencecar Arumi dengan berbagai pertanyaan. Bola mata bergerak, memperhatikan setiap inci tubuh Arumi. Memeriksa apakah ada tubuh wanita itu terluka atau tidak.


Arumi tersenyum manis, seraya menangkup rahang sang suami. "Aku dan ketiga anak kita baik-baik saja, Honey. Tidak ada yang perlu dicemaskan," tuturnya dengan suara lemah. Insiden tadi cukup membuat wanita itu sedikit terkejut. Beruntungnya tidak terjadi hal serius menimpa ia dan si triplet.


Tubuh Rayyan terperosok ke lantai. Menghela napas panjang, mengeluarkan beban yang menimpa dada. Setidaknya ia dapat bernapas lega karena tidak terjadi hal buruk menimpa orang yang sangat dicintai olehnya.


Perlahan, ia bangkit dan duduk di tepian ranjang. Setelah mendaratkan bokongnya dengan sempurna, pria itu mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari sang istri. Lantas, ia menatap dingin ke arah Amira.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Suster Amira? Kenapa tiba-tiba saja ada seseorang yang berniat mencelakai istri saya?"


Suster Amira menarik napas panjang. "Ini semua berawal dari kedatangan mantan mertua Dokter Arumi. Wanita itu protes karena Dokter Arumi menemui Pak Mahesa tanpa izin darinya. Lalu, menuduh istri Anda berselingkuh."

__ADS_1


"Dokter Arumi tak terima atas tuduhan itu. Hingga akhirnya, insiden tak diinginkan terjadi. Namun, beruntungnya saya segera memanggil pihak keamanan untuk naik ke lantai tiga."


"Lalu, sekarang di mana wanita itu?" Rayyan semakin terlihat murka mendengar cerita yang disampaikan oleh suster Amira. Ia sampai harus mengeraskan kepalan tangan sebelah yang tak menggenggam jemari sang istri. Pria itu ingin sekali memaki dan menghajar wajah Naila hingga babak belur.


Meskipun ia hanya mendengar cerita secara garis besarnya saja, tetapi pria itu bisa menebak kronologi yang terjadi di sana. Merutuki kebodohannya karena memberikan izin pada Arumi menemui Mahesa. Seharusnya, ia biarkan saja pria itu mati dibandingkan harus membayangkan Arumi ketakutan sendirian menghadapi wanita sinting seperti nyonya besar Adiguna.


"Saya dengar, katanya Bu Naila dibawa ke pos keamanan, Dokter. Ia sedang dimintai keterangan oleh security yang berjaga di rumah sakit ini."


Iris coklat menatap wajah sendu Arumi membuat kemarahan dalam diri pria itu semakin berkobar. Tidak terima jika istri tercinta difitnah di depan orang dan dicelakai dalam keadaan tengah berbadan dua.


"Saya tidak bisa tinggal diam dan duduk santai di sini. Wanita berhati iblis itu harus mendapatkan hukuman atas kejahatannya selama ini." Rayyan sudah membulatkan tekad ingin memberi pelajaran pada Naila agar wanita itu tidak semakin menggila.


Rayyan mengusap puncak kepala Arumi, lalu mendaratkan ciuman di kening istrinya. "Kamu istirahat saja di sini. Biarkan aku membereskan kekacauan ini. Aku berjanji, dia tidak akan pernah lagi mengganggumu."


Arumi mengangguk lemah. Ia sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Rayyan. Wanita itu pun lelah bila terus berhadapan dengan Naila. Apalagi mantan mertuanya itu nyaris saja melenyapkan nyawa ketiga buah cintanya bersama Rayyan. Kehadiran Naila merupakan momok menakutkan dalam kehidupan Arumi.


"Suster Amira, tolong jaga Arumi selama saya tidak ada di tempat. Urusan pekerjaan, serahkan pada perawat junior saja," pesan Rayyan sebelum ia meninggalkan ruangannya.


"Baik, Dokter Rayyan. Saya akan menjaga Dokter Arumi."


Suara derap langkah menggema di segala penjuru lorong rumah sakit. Dengan langkah gagah berani, Rayyan mengayunkan kakinya menuju pos keamanan yang berada di lantai dasar. Kali ini, kesabarannya sudah habis. Ia akan membuat perhitungan pada Naila karena sudah berani-beraninya mencoba mencelakai sang betina kesayangan.


"Jangan harap kamu bisa lolos dariku, Nyonya Putra Adiguna." Sudut bibir Rayyan tertarik ke atas. Ia telah memiliki rencana untuk membalas semua perlakuan Naila pada Arumi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2