
Dua belas tahun lalu, di sebuah yayasan panti asuhan di kawasan Bandung tinggallah satu dari sekian banyaknya anak panti asuhan yang dirawat di bangunan berlantai dua. Gadis kecil itu bernama Kayla Lestari, berusia sebelas tahun dan duduk di bangku kelas lima SD (sekolah dasar). Dia mempunyai dua orang sahabat bernama Arumi Salsabila dan Rini Wulandari. Kedekatan ketiga gadis itu bukan hanya sebatas sahabat melainkan juga sudah seperti saudara kandung, selalu berbagi dalam segala hal termasuk urusan pakaian dan makanan.
Arumi dan Rini tidak segan-segan melindungi adik kecil mereka dari kenakalan dan bully-an teman-teman sesama penghuni panti. Tinggi badan serta usia yang lebih tua membuat kedua gadis remaja itu berani lebih berani dan terkadang menjadikan tubuh mereka menjadi perisai untuk melindungi Kayla kecil.
Tepat di hari perayaan ulang tahun panti asuhan yang ke-15, seluruh pengurus panti sepakat mengadakan acara perayaan dan mengundang seluruh donatur agar hadir dalam acara tersebut. Ikut merayakan bersama anak-anak di yayasan panti asuhan tersebut.
"Arumi dan kamu, Rini. Ingat ya, selalu berikan senyuman manis dan bersikap ramah saat para tamu undangan datang ke sini." Salah satu pengurus panti asuhan memberikan wejangan pada Arumi dan Rini remaja sebelum acara dimulai.
Hari itu, kedua gadis cantik yang tengah duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama) diberikan tugas untuk menjadi penerima tamu. Oleh karena itu, pengurus panti yang diketahui bernama bu Maya meminta Arumi dan Rini bersikap ramah terhadap seluruh tamu undangan yang sebagian dari mereka adalah donatur tetap panti asuhan tersebut.
"Baik, Bu Maya!" ucap Arumi dan Rini hampir bersamaan. Kedua gadis remaja itu menganggukan kepala tanda mengerti.
Kayla yang saat itu sedang berdiri di samping kedua sahabatnya tampak kebingungan. Bola mata gadis kecil itu bergerak, memindai setiap inci tubuh Arumi dan Rini termasuk pakaian bagus yang dikenakan oleh mereka. Sementara dia hanya menggenakan dress biasa berwarna merah jambu dengan bandana menghiasi rambut.
Dihinggapi rasa penasaran, membuat Kayla kecil membuka suara. "Bu Maya, kenapa Arumi dan Rini mengenakan kebaya bagus, sedangkan aku tidak?" tanyanya polos.
Mendengar suara Kayla, Maya terkekeh. Lalu, wanita setengah baya itu membungkukan tubuh untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan gadis kecil itu.
"Itu karena kedua sahabatmu diberi tugas oleh Ibu Panti untuk menjadi among tamu. Jadi, mereka mengenakan kebaya. Kalau sudah besar, kamu pun bisa menjadi among tamu dan mengenakan kebaya seperti mereka," bujuk Maya berharap agar Kayla tak bersedih karena hanya dia dari kedua sahabatnya yang berpakaian biasa.
Bibir mungil nan tipis itu membulat. "Oh begitu." Tampak pendar penuh pengharapan terlukis di wajah. Berharap semoga kelak dia bisa mengenakan kebaya bagus seperti kedua sahabatnya.
__ADS_1
Tepat pukul sembilan pagi, acara pun segera dimulai. Hampir seluruh donatur tetap yayasan panti asuhan berbondong-bondong memadati aula. Dua di antara yang datang adalah Nyimas beserta suaminya bernama Zidan. Mereka duduk di bangku yang telah disediakan oleh panitian.
"Kamu lihat gadis itu, Mas? Dia siswa berprestasi di sekolah, tapi sayang nasibnya tak secerlang oataknya yang cerdas," papar Nyimas seraya menunjuk ke arah Arumi, Rini dan Kayla berdiri.
"Kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kita mengadopsi dia? Sayang sekali jika gadis pintar seperti dia tidak memiliki masa depan cerah. Lagi pula, aku sudah jatuh hati padanya sejak pertama kali bertemu. Kamu ... mau 'kan mengabulkan permintaanku, Mas." Nyimas memasang wajah memelas, memohon agar sang suami bersedia menuruti permintaannya.
Sebagai pria yang begitu mencintai sang istri, hati Zidan langsung luluh dan bersedia mengabulkan keinginan Nyimas. "Baiklah. Setelah acara ini selesai, kita bertemu Ibu Panti untuk membicarakan masalah ini."
***
"Namun, rupanya Tante Nyimas dan Om Zidan tidak jadi mengadopsiku. Kedua orang tua itu lebih memilih kamu menggantikan posisi anak mereka di rumah itu setelah melihat aku berkelahi, melawan anak-anak panti yang terus membully-ku."
Derai air mata kembali membasahi pipi ketika mengingat kejadian dua belas tahun lalu. Harapan untuk bisa pergi dari panti asuhan, mendapatkan cinta serta kasih sayang dari kedua orang tua sirna begitu saja. Kayla kecewa, sedih dan marah karena dia harus tetap tinggal di bangunan itu selama belasan tahun.
Detik berikutnya pupil mata wanita itu membulat sempurna, kala mengingat cerita yang pernah diceritakan oleh Nyimas. Cerita versi Kayla jauh berbeda dari yang pernah dituturkan oleh Nyimas dan juga Zidan saat dirinya menanyakan mengapa memilih dia menjadi anak adopsi dibanding teman-teman yang lain.
Arumi tertawa miris, setelah dia sadar alasan apa yang membuat Kayla tega merusak rumah tangganya bersama Mahesa dulu. "Jadi ... karena ini kamu bersedia menjadi orang ketiga dalam rumah tangga yang kubangun bersama Mas Mahes?"
"Aku tanya sama kamu, kamu mendengar cerita ini dari siapa hem? Dari Vera atau Nadira?" cecar Arumi. Wanita itu sedikit kesal karena Kayla langsung mengambil kesimpulan tanpa meng-cross check kejadian yang sebenarnya. Sudah tahu kalau mereka berdua adalah tukang penyebar berita hoax tapi mantan sahabatnya itu masih percaya semua ucapan yang dikatakan oleh dua gadis itu.
"Asal kamu tahu, saat itu anak yang berencana diadopsi oleh Mama Nyimas dan Papa Zidan adalah aku, bukan kamu!" skak Arumi. Wanita itu mendengus dan tertawa masam karena tak menyangka persahabatannya dengan Kayla rusak disebabkan oleh sebuah kesalahpahaman belaka.
__ADS_1
Di seberang sana Kayla terdiam, tangisannya terhenti mendengar perkataan Arumi. Terkejut akan fakta yang diungkapkan oleh mantan sahabatnya itu. Bagaimana mungkin anak itu adalah Arumi, sedangkan dia mendengar sendiri dari Vera kalau dia adalah anak yang akan diadopsi oleh Nyimas dan Zidan. Sungguh, Kayla bingung dengan semua ini.
Dengan tubuh yang masih gemetar dan suara sengau akibat menangis, Kayla memberanikan diri bertanya pada Arumi. "M-maksudmu, apa? Kamu menganggap Kak Vera berbohong padaku, begitu?"
Arumi menyenderkan punggungnya ke dinding di belakang tubuhnya sambil menatap langit-langit apartemen miliknya, lantas dia menarik sudut bibirnya ke atas. "Rupanya semua kata-kata yang diucapkan oleh Vera langsung ditelan matang-matang olehmu tanpa diselidiki terlebih dulu."
"Sejak awal, anak yang hendak diadopsi oleh pasangan suami istri itu adalah aku bukan kamu. Saat itu, selain Mama Nyimas dan Papa Zidan, ada sepasang suami istri lain yang ingin mengadopsi anak di yayasan panti asuhan tempat kita dirawat. Akan tetapi, mereka urungkan niatan itu setelah tahu bahwa kamu terlibat pertengkaran dengan anak-anak panti asuhan lain."
"Namun, rupanya kesempatan ini digunakan oleh oknum tak bertanggung jawab untuk menyebarkan benih kebencian dalam hatimu."
Seketika jantung Kayla mencelos begitu saja. Tubuh terasa lemah, dan rasanya bumi tempatnya berpijak seakan menyeret wanita itu masuk ke dalam isi perut bumi. Beruntungnya dia dengan sigap berpegangan pada tiang yang ada di dekatnya.
"Jadi, selama ini aku sudah salah paham kepadamu dan juga Mama Nyimas. Begitu?"
Arumi mengangguk dan menjawab. "Benar. Selama dua belas tahun kamu hidup dalam dendam yang tak beralasan terhadapku dan juga Mama Nyimas. Kamu bodoh, Kayla. Benar-benar bodoh."
.
.
.
__ADS_1