Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Insiden di Ruang Operasi


__ADS_3

Semenjak kejadian itu, sikap Rayyan terhadap Arumi sedikit berubah. Dia tak lagi banyak bicara saat keduanya tengah berada dalam ruangan yang sama. Hanya sesekali saja mereka terlibat percakapan apabila ada hal penting yang perlu didiskusikan terkait pekerjaan dan urusan rumah tangga. Begitu pun saat mereka sedang berada di rumah sakit, sikap pria itu begitu dingin dengan wajah tanpa ekspresi.


Kendati demikian, Rayyan tetap memperhatikan sang istri secara diam-diam dari kejauhan. Mengamati setiap gerak gerik Arumi tanpa disadari oleh wanita itu. Meminta Tini ataupun Burhan turut menjaga istrinya tatkala dia sedang tak ada di apartemen.


Hari ini, seperti biasa, Arumi dan Rayyan disibukan dengan pekerjaan mereka sebagai seorang dokter di salah satu rumah sakit terkenal di kawasan pusat ibu kota. Pagi-pagi sekali sepasang suami istri itu telah berangkat dari apartemen menuju sebuah bangunan mewah layaknya hotel bintang lima.


"Pukul sepuluh nanti kita akan ada operasi. Operasi kali ini termasuk bedah mayor (operasi besar) dan tindakan akan dilakukan sekitar 3-5 jam. Jadi, kamu harus menyiapkan mental dan tenagamu. Jangan sampai terjadi kesalahan dan malah merugikan kita semua," ujar Rayyan seraya mengemudikan kendaraan roda empat miliknya.


Arumi yang saat itu tengah memandangi pemandangan di luar jendela menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum hangat. "Kamu tenang saja, Mas. Aku akan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan sedikit pun saat operasi nanti."


Pendar bahagia terlukis di bola mata indah sang wanita. Arumi merasa bahagia setiap kali Rayyan memulai percakapan dengannya, meski hanya sebatas membahas urusan pekerjaan tetapi wanita itu tetap bersyukur karena dia dapat mendengar suara pria yang teramat dicintai olehnya.


Usai mengucapkan kalimat terakhir, Arumi kembali memandang lurus ke depan. Senyum merekah di sudut bibir wanita itu. Hati berbunga-bunga, laksana bunga bermekaran. Jiwanya tentram dan damai. Akhirnya, setelah empat hari berlalu sikap Rayyan mulai mencair meski tak sehangat dulu.


Arumi berpikir, setidaknya dia sudah mulai meluluhkan hati pria itu dengan menunjukan keseriusannya untuk tak mengulangi kesalahan yang sama. Mencoba memahami Rayyan serta tak lupa meminta izin pada sang suami setiap kali hendak bepergian bersama Nyimas maupun Rini.


Tepat pukul sembilan lebih tiga puluh menit waktu setempat, kendaraan roda empat milik Rayyan telah memasuki area pekarangan rumah sakit. Berjalan bersisian melangkah masuk ke dalam bangunan menjulang tinggi ke atas awang.


"Selamat pagi, Dokter Arumi dan Dokter Rayyan." Kepala perawat bernama Amira menyapa pasangan suami istri itu dengan ramah. Kedua insan manusia itu berjalan dengan anggun dan gagah berani menyusuri lorong rumah sakit.


"Selamat pagi, Sus. Tumben, jam segini sudah datang di rumah sakit," ujar Arumi basa-basi. Sementara Rayyan hanya mengangguk kepala seraya berlalu meninggalkan dua wanita beda usia.


Amira melirik sekilas saat Rayyan meninggalkan mereka berdua. Alis perawat senior itu mengerut, otaknya sedang menebak sendiri mengapa hubungan antara pasangan serasi itu terlihat sedikit renggang dari sebelumnya. Namun, ia tersadar jika tugasnya di rumah sakit ini bukan untuk menjadi tukang gosip melainkan sebagai perawat, menolong pasien yang membutuhkan.

__ADS_1


"Eh ... iya, Dok. Sengaja datang lebih pagi karena diminta Dokter Rayyan ikut dalam tindakan operasi nanti." Amira menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


Wanita berseragam perawat itu memperhatikan wajah Arumi yang sedikit memucat serta terdapat beberapa flek coklat pada area sekitar dari, hidung dan bibir. Walaupun menantu dari pemilik rumah sakit Persada International Hospital menggunakan make up namun flek coklat itu tetap terlihat, sebab Arumi hanya menggenakan make up flawless sehingga noda sedikit tidak tersamarkan.


"Dokter sedang sakit?" tanya Amira begitu dia yakin kalau wajah istri dari atasannya memang terlihat pucat.


Arumi tampak terkejut mendengar pertanyaan Amira. Kedua alisnya tertarik ke atas dengan kedua mata melebar sempurna.


"Dokter sedang tidak enak badan?" Amira mengulang kembali pertanyaannya tuk kedua kali.


Wanita cantik dalam balutan snelli hanya tersenyum seraya menjawab. "Hanya kurang tidur saja kok, Sus. Ya sudah, lebih baik kita masuk ke ruang operasi. Jangan sampai kena omel Dokter Rayyan." Arumi sengaja mengalihkan pembicaraan agar perawat senior yang berdiri di sampingnya tidak terus mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


Di dalam ruang operasi, ada beberapa tim medis yang terlibat mulai dari dokter bedah, dokter anastesi, perawat bedah dan perawat anastesi. Operasi kali ini dipimpin langsung oleh Rayyan selaku penanggung jawab tim sekaligus dokter bedah profesional. Dia dibantu Arumi yang tak lain adalah istrinya sendiri serta satu orang dokter bedah pengganti yang siap sedia membantu jika dibutuhkan dalam keadaan urgent serta tenaga medis lainnya telah bersiap melakukan tugas serta tanggung jawabnya masing-masing.


Pertama-tama, dokter anastesi akan langsung memberikan obat bius pada pasien. Kemudian setelah memastikan semuanya siap, barulah Rayyan dibantu sang istri melakukan operasi sesuai prosedur.


Semuanya berjalan lancar, namun saat di tengah operasi ada sebuah kejadian yang membuat Arumi kehilangan konsentrasinya. Aroma darah segar yang menguar memenuhi ruang operasi serta organ dalam pasien terpampang nyata di hadapan wanita itu, membuatnya mual dan pandangan mata sedikit kabur. Keringat dingin mulai muncul dari pelipis wanita itu. Kendatipun begitu, dia mencoba bertahan sebab tak mau membuat Rayyan semakin kecewa.


Berkali-kali menggelengkan kepala berusaha agar kesadarannya tetap terjaga, menahan penciuman dari baunya darah segar yang berasal dari pasien di depan sana. Akan tetapi, dia sudah tidak dapat menahannya lagi. Hingga tiba-tiba saja tubuh wanita itu lunglai dan nyaris terjerembab ke lantai.


"Dokter Rumi!" seru Amira, kepala perawat yang saat itu berdiri di samping sang dokter. Dengan gerakan cepat dia menangkap tubuh istri dari atasannya agar tak terjatuh ke lantai.


Sontak, seluruh tenang medis yang ada dalam ruang operasi terkejut melihat pemandangan di depan mata. Pun begitu dengan Rayyan. Pria itu tampak mencemaskan sang istri yang berada dalam dekapan Amira.

__ADS_1


"Suster Amira, tolong kamu antar Dokter Arumi ke ruangan saya. Temani dia selama saya melakukan tindakan operasi," ujar Rayyan. Suara pria itu terdengar gemetar karena terlalu mencemaskan kondisi sang istri.


"Dokter Andra, kamu gantikan tugas Dokter Arumi!" titah pria itu pada salah satu dokter pengganti yang sengaja disediakan khusus untuk membantu jikalau ada keadaan urgent terjadi.


Dokter pengganti itu sedari tadi memperhatikan bagaimana proses operasi berlangsung di sebuah ruangan khusus di seberang ruang operasi. Terdapat sebuah kaca transparan sehingga setiap aktivitas rekan sejawatnya dapat terlihat dari ruanga tersebut.


Sejujurnya, Rayyan ingin tangannya sendiri yang membawa tubuh Arumi masuk ke dalam ruangannya. Namun, tanggung jawabnya sebagai pimpinan operasi memaksa dia menyingkirkan keinginan itu dan memberikan kepercayaan pada Amira untuk menemai sang istri selama proses operasi berlangsung. Menyampingkan urusan pribadi di atas kepentingan pasien merupakan tujuan utama seorang dokter.


Amira memapah Arumi berjalan secara perlahan meninggalkan ruang operasi. Meskipun tingkat kesadarannya menurun tapi dia masih dapat melangkah keluar ruangan dibantu kepala perawat.


"Mari, Dokter, saya bantu Anda ke ruangan Dokter Rayyan." Amira dibantu seorang perawat wanita melepas pakaian operasi yang dikenakan oleh Arumi.


Setelah memastikan tubuh sang dokter bersih dari segala kotoran yang berasal dari tubuh pasien, Amira membantu Arumi masuk ke dalam ruangan pribadi Rayyan. Membaringkan tubuh Arumi di atas ranjang yang biasa digunakan atasannya istirahat di sela jam makan siang.


"Dokter, wajah Anda pucat sekali. Saya periksa tekanan darah Dokter dulu ya. Khawatir jika Dokter anemia."


Arumi hanya menganggukan kepala lemah sebagai respon. Dia merasa lemas dan kepala terasa pusing. Belum lagi rasa mual yang membuatnya ingin memuntahkan isi dalam perut wanita itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2