
Hujan turun begitu deras.
Deburan ombak meraung menghantam pembatas pantai.
Seorang gadis berjalan mondar-mandir dengan kepanikan yang luar biasa.
Dia marah, kesal dan cemas karena sahabatnya tidak segera menjawab panggilan telepon darinya.
Berkali-kali dia mencoba melakukan panggilan. Tidak sekalipun mendapat jawaban.
“Kenapa sih, wanita gila satu ini selalu saja membuatku khawatir!” frustasi memegang kepalanya.
...***...
Tengah malam yang sepi, di pasar ikan dekat dermaga.
Wanita muda berlari hanya dengan satu sepatu tersisa di kakinya.
Sembari menggendong bayi mungil, dia mencondongkan tubuh yang sudah basah kuyup untuk melindungi bayinya dari guyuran hujan.
Rambut sebahunya lepek tidak beraturan dengan air yang terus menetes dari ujungnya.
Entah seperti sudah memahami situasi, bayi mungil itu tetap terlelap dan tidak menangis meski debur ombak, angin kencang dan derasnya hujan membuat suara bising di sekelilingnya.
Dua pria asing bertubuh besar dengan wajah seram mengejar di belakang.
Salah satu pria berambut gondrong dan satunya lagi berkepala botak.
Keduanya memiliki tato yang sama di lengan kirinya. Gambar siluet hitam seorang tentara lengkap dengan topi army.
Wanita itu berbelok, memasuki area gedung pasar.
Yeah, setidaknya hujan tidak akan membasahinya lagi untuk sementara ini.
Dia mulai menyusup di sela-sela gang ruko pasar.
Ketakutan sudah pasti memenuhi benaknya, tapi dia harus tetap bertahan untuk bisa melindungi putrinya.
Sebisa mungkin dia berusaha tenang dan tidak panik dalam situasi yang tengah dihadapi.
Kaki rampingnya melangkah pelan dengan sangat hati-hati. Mengendap perlahan untuk menghindari dua pria yang terus mengikutinya.
Dalam remang cahaya bohlam lampu kuning, yang nyalanya saja tidak bisa menerangi lantai di bawahnya, wanita itu terus melihat ke sekeliling.
Memikirkan bagaimana cara agar bayinya selamat.
Setumpuk keranjang ikan menarik perhatiannya.
Dia membungkuk lebih rendah, berjalan setengah jongkok menuju tumpukan keranjang di depan salah satu kios kecil di dalam area pasar tersebut.
Ada dua tumpuk keranjang yang diturunkan.
Sampai pada keranjang paling bawah, dia sempat terdiam dan ragu untuk melakukan rencananya.
Apakah bayinya masih akan bisa mendapatkan oksigen yang cukup jika dia menaruhnya di sana?
Satu hal yang paling ditakutkan.
Dia tidak akan bisa lagi melihat senyum dan mendekap putrinya sendiri di dalam pelukannya seperti saat ini.
Senyum pilu dan haru tergambar jelas tatkala wanita itu menatap bayinya yang terlihat begitu polos.
Meskipun tidak yakin, ini adalah pilihan terakhir. Dibaringkannya bayi mungil itu ke dalam keranjang tersebut.
__ADS_1
Air matanya mengalir saat jemarinya membelai lembut wajah bayi yang masih terlelap dalam tidurnya.
Sekali lagi dia mengangkat bayinya dan mendekapnya lebih erat.
Sayang, maafkan mama yang tidak bisa memberikan kebahagian untukmu!
Apapun yang terjadi, kamu harus tetap hidup.
Mama sayang sekali sama kamu Nak!
Ucapnya dalam hati sembari mengecup putrinya dengan linangan air mata.
Kembali melihat sekeliling.
“Tidak banyak waktu lagi,” desisnya lirih sembari menaruh bayinya ke dalam keranjang.
Dia segera menghapus air matanya.
Membalikkan badan dalam posisi yang masih jongkok, mengambil tumpukan sampah dan mengisi ke dalam gendongannya.
Begitu dirasa penuh sampai terlihat seperti menggendong bayi, dia kembali menumpuk keranjang lain di atas keranjang yang digunakan untuk menyembunyikan bayinya.
Menyusunnya ulang seperti sediakala.
Wanita cantik itu kembali berjalan mengendap dan justru lebih mendekatkan diri ke arah dua pria yang mengejarnya.
"Bagaimana bisa kehilangan jejaknya!" ucap salah seorang pria bertubuh kekar terdengar kesal.
Dia mulai menggaruk kepala botaknya yang sebenarnya tidak gatal.
"Lagipula, bagaimana mungkin bayi itu tidak menangis di tengah kebisingan ini," melihat sekeliling, "Jika dia mau menangis sekali saja, itu akan sangat membantu kita menemukan mereka!"
Wanita itu mengerutkan kening semakin khawatir.
Tidak!
Aku tidak boleh terus berdiam seperti ini!
Menoleh ke arah tumpukan keranjang.
Sebelum bayinya benar-benar menangis, dia langsung berdiri menampakan diri.
Dengan sengaja memancing perhatian keduanya.
“Hah … oops!” seolah terkejut, dia menoleh ke arah kedua pria sambil membungkam mulutnya sendiri dengan sebelah tangan dan sebelah tangannya lagi seperti masih menggendong bayi.
"Itu dia! Dia di sana!" Preman berambut gondrong menunjuk.
Keduanya menoleh ke arah Yunna.
"Cepat kejar!" menepuk pundak temannya lalu segera berlari mendahului.
Yunna memancing kedua pria tersebut berlari menjauhi dari gedung pasar ikan.
Membawa mereka kembali keluar di bawah guyuran hujan menuju arah dermaga.
Ponsel wanita itu kembali berdering.
Sambil terus berlari, dia mengambil ponselnya.
Dilihatnya layar panggilan.
'BFF'
Nama yang tertera.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum sambil meneteskan air mata yang membuat pandangannya menjadi semakin buram.
Ingin sekali dia menjawab panggilan, tapi air hujan membuat layarnya basah dan sulit untuk menggeser tombol hijau.
Berkali-kali dia mencoba menggeser layar, berkali-kali pula tidak berhasil.
Tentu saja itu membuatnya semakin panik.
Dihentak-hentakkannya layar ponsel, berharap supaya air di atasnya bisa hilang.
"Hei! Mau lari kemana lagi!" teriak Preman-preman yang masih mengejar di belakangnya.
Wanita itu menoleh dengan gugup, sembari terus berlari ke arah depan, dia mulai kebingungan tanpa tahu lagi kemana arah tujuannya.
Dermaga itu sangat luas, dan karena malam badai, tidak ada satupun petugas yang keluar untuk mengawasi wilayah tersebut.
Kapal-kapal berlabuh di pesisir dan para Nelayan juga sudah menepi lebih awal dari biasanya.
Ponsel Yunna kembali berdering setelah sempat terdiam.
Segera dia mengusapkan layar ke gendongan bayi di depan perutnya.
Meski tidak berhasil membuat layar ponselnya kering, kali ini dia berhasil menjawab panggilan.
"Kamu dimana! Jangan membuatku mencemaskan mu seperti ini!" sergah wanita di ujung panggilan.
Jelas sekali nada kekhawatiran dan kepanikan dari sahabatnya.
"Dengar! Aku ... -"
"Kenapa suaramu terdengar seperti berlari?" sela Vee memotong pembicaraan Yunna.
"Tunggu! Suara hujan dan ombak ... kamu di mana sebenarnya?" nada Vee semakin meninggi.
"Vee! Dengarkan aku!" tegas Yunna ikut meninggikan nada.
"Cepat cari tumpukan keranjang di dekat salah satu ruko pasar ikan," mengusap air mata lalu mendengus tersenyum.
"Heh! Wanita perkasa, aku akan membalas semua kebaikanmu ini di kehidupan selanjutnya. Tapi aku mohon, selamatkan bayiku. Rawat dia dengan baik!"
"Aku sangat memohon kepadamu kali ini," imbuhnya mengakhiri.
Yunna masih berusaha tegar di sela bibirnya yang sudah sangat kelu.
"Apa yang kamu bicarakan!" sentak Vee yang mulai kesal sendiri mendengar kalimat Yunna.
Tersenyum, "Vee, hal yang paling indah selama hidupku adalah, dipertemukan denganmu!"
"Berhenti di sana!" teriak Preman.
"Siapa itu? Kamu dikejar?" Vee membelalakkan mata menatap ke arah derasnya arus ombak lautan.
Tangannya mulai mengepal dengan rahang yang semakin mengeras.
"Tidak usah mengkhawatirkan aku! Cepat selamatkan putriku! Jangan biarkan mereka menemukannya."
“Apa-apaan ini Yun?” kaki Vee mulai lemas.
Yunna kembali tersenyum sembari meneteskan air mata, “Mari kita menjadi sahabat lagi di kehidupan selanjutnya. Vee, hanya kamu yang bisa aku andalkan. Love you bestie!”
Tut … tut ... tut ... tut ... tut ... tut ....
"Yun! Yunna!" panggil Vee semakin panik.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>°……..°<((((<...
__ADS_1