
“Pak Daniel jangan bercanda! Ada siapa saja di sini!” Vee menyipitkan mata menggandeng Yve.
Daniel membuka pintu.
Pak Fauzan dan bu Risma keluar dari arah ruang keluarga.
Terkekeh, “Hahaha! Nona Vee, selamat datang di kediaman kami!” sambut pak Fauzan.
Vee nyengir salah tingkah, “Pak Daniel jangan mempermalukan aku!” desis Vee berbisik kepada Daniel.
“Kenapa kalian sudah tampak bersiap menyambut?” Daniel mencibir.
“Haiz … anak ini!” pak Fauzan balik mencibir, “Kenapa tidak bilang-bilang dahulu jika akan membawa nona Vee kemari! Kita jadi tidak mempersiapkan apa-apa!”
“Ah, kami hanya kebetulan bertemu di taman sewaktu hendak jogging kok!”
“Ehmp!” bu Risma berdehem sengaja mencari perhatian.
“Ah, kenalin ini istri saya … mamanya Daniel!” pak Fauzan menarik lembut pinggang bu Risma agar maju ke depan.
Vee maju untuk bersalaman, “Ibu presdir! Senang bisa berjumpa dengan anda, saya Vee, sekertaris baru pak Daniel!”
Tersenyum balas menyalami.
“Wah, anda terlihat masih sangat muda sekali? Terlihat masih pantas jika mengenakan seragam SMA!” puji Vee.
Bu Risma tampak tersipu menutup mulut meringis tersenyum malu-malu, “Masak sih! Bisa saja!”
Daniel tampak meringis terkekeh mengejek menatap Vee.
“Wah!” terkekeh, “Kamu pandai juga mengambil hati istri saya!” pak Fauzan menepuk-nepuk punggung Vee.
“Tapi sungguh, apa resep bu presdir?” Vee mengusap-usap punggung tangan bu Risma, “Lihat ini, kencang sekali kulitnya.”
“Ah, hanya menjaga pola makan yang baik, minum air putih yang banyak dan rajin berolahraga!”
“Dan rajin ke salon!” sahut Daniel.
Menepuk punggung putranya, “Cepat siapkan sesuatu!”
“Ah tidak usah repot! Kami berniat ke kopi shop tadi. Tapi pak Daniel malah mengajak kemari!” menarik Yve pelan, “Oh iya … ini putri saya, Yve!” Vee mengelus kepala Yve, “Sayang ayo berkenalan!”
Yve tersenyum mengangguk lalu menyalami pak Fauzan dan bu Risma.
“Saya Yve, senang bertemu dengan kalian!”
“Oh … manis sekali! Kelas berapa?” bu Risma merengkuh wajah Yve.
“Kelas 2 SD! Sebentar lagi naik ke kelas 3!” Yve tersenyum ramah.
“Pasti kamu anak pintar di sekolah!” pak Fauzan mengelus rambut Yve.
“Apakah kalian mama dan papanya paman Daniel?” tanya Yve polos.
Bu Risma mengangguk, “Benar sekali!”
“Paman Daniel sangat baik kepada Yve. Bahkan waktu itu membantu Yve memenangkan perlombaan di sekolah!”
Bu Risma terkejut menatap Daniel, “Benarkah?” tersenyum bangga.
Yve mengangguk, “Sekarang Yve tahu, ternyata paman Daniel sebaik itu karena memiliki papa dan mama sebaik kalian!”
Bu Risma dan pak Fauzan langsung terkekeh gemas.
Vee ikut tersenyum malu-malu sambil mengelus kepala putrinya.
Daniel mengernyit tersenyum kaku mendengarnya, “Sungguh anak dan ibu yang begitu mengejutkan!” sindir Daniel.
Vee mencubit pelan perut Daniel, berisyarat agar dia diam saja.
“Ah … sudahlah!” Daniel menengahi, lalu mengendus bau masakan, “Belum selesai memasak ya?”
“Mama masih memasak tadi. Belum matang, kalau begitu mama lanjut memasak lagi ya?”
“Ah boleh saya ikut membantu?” Vee menarik lengan bu Risma lembut.
Mengelus tangan Vee, “Masa sih baru pertama bertamu langsung merepotkan tamunya!”
Tersenyum, “Ah … ibu presdir jangan seperti itu! Saya sekertaris pak Daniel. Jadi apa salahnya ikut membantu ibu presdir juga.”
Yve ikut memegang baju bu Risma, “Selain rajin bekerja, mama juga sangat pandai memasak!”
Tersenyum mengelus wajah Yve, “Sungguh?”
__ADS_1
Mengangguk tersenyum polos, “Karena paman Daniel sudah banyak berbuat baik kepada kami. Bolehkah Yve dan mama ikut membantu menyiapkan masakan?”
“Eh, sungguh? Imut dan manis sekali anak ini!” bu Risma semakin gemas, “Oke baiklah kalau kamu juga mau ikut membantu.”
Yve bersorak senang, “Yeay! Terima kasih mamanya paman Daniel!”
Mencubit pipi Yve, “Panggil saja grandma Risma!”
“Grandma? Sungguh boleh seperti itu?”
Mengangguk sambil tersenyum.
“Wah, Yve akhirnya punya nenek!” kembali meloncat-loncat riang.
Bu Risma terkekeh senang mendengarnya.
Daniel hanya menggaruk kepalanya mengernyit membuang muka, “Dia sungguh berbakat!” berjalan menuju sofa ruang keluarga.
“Jadi ibu presdir mau memasak apa hari ini?” tanya Vee masih menggandeng lengan bu Risma.
Mereka berjalan ke arah pantry.
“Sup jamur dan ikan pedas manis.”
“Ikan? Saya sudah lama tinggal di pesisir, akan saya masakan resep masakan ikan yang paling enak dari tanah pesisir.”
“Sungguh? Apa itu?”
Tersenyum, “Akan saya tunjukan resepnya. Ibu presdir pasti akan sangat menyukainya!”
Terkekeh, “Hahaha! Jadi tidak sabar!”
Pak Fauzan tersenyum berdiri di belakang sofa ruang keluarga.
Menyenggol bahu Daniel, “Eh, padahal mamamu tadi terlihat begitu nyinyir! Lihat itu … mereka justru tampak lebih akrab … tidak seperti baru pertama berjumpa saja!”
“Tadi Daniel juga sempat khawatir tentang mama. Tapi Vee memang sungguh sangat istimewa!” tersenyum menatap Vee dari belakang.
“Putrinya manis dan cerdas sekali!”
“Yeah, sangat cerdas dan begitu cerdik. Dia bisa saja menjadi artis cilik bukan?” gumam Daniel sambil membuka botol air minumnya.
Mengangguk-angguk sambil meneguk minuman, “Itu benar! Daniel juga merasa sangat cocok dengan Yve. Dia benar-benar salinannya Vee!” tersenyum gemas.
Memang tidak sulit membuat mama Daniel terkesan.
Seperti yang sudah Vee perkirakan.
Mamanya Daniel memang terlihat agak judes, tapi dia sebenarnya mirip dengan Daniel.
Akan mudah luluh jika dihadapi menggunakan kelembutan hati
Yve memang benar, Daniel begitu baik hati karena memiliki kedua orang tua yang sangat baik juga.
Entah kenapa, justru Vee merasakan hangatnya keluarga saat berada di antara mereka.
Ia merasa ikut memiliki orang tua dan ikut berbahagia saat melihat ketiganya bercanda bersama.
Sungguh keluarga yang membuatnya begitu iri.
Pantas saja Daniel menjadi kolot dan manja.
Vee tersenyum sendiri memperhatikan mereka yang kini sibuk mengupas kacang bersama Yve.
“Ayo grandma! Kita pasti akan menang melawan mereka!” Yve bersemangat mengupas kacang di samping bu Risma.
“Tidak! Paman yang akan menang!” Daniel menjulurkan lidah, “Wleek!”
Bu Risma meraup kacang yang sudah di kupas di wadah yang di kumpulkan suaminya, “Kita pasti menang!”
“Jangan curang!” pak Fauzan menyembunyikan wadah ke belakang punggungnya.
“Hei kalian curang!” protes Daniel hendak meraup kacang di wadah Yve.
Yve cengingisan ikut menyembunyikan wadahnya ke pangkuan bu Risma, “Jangan sampai di curi mereka!”
“Iya benar! Kita amankan disini!” bu Risma kembali mengupas kacang sembari terkekeh.
Mereka sedang membuat kelompok dan berlomba.
Siapa yang mengupas kacang paling banyak akan mendapat hadiah dan yang kalah akan dihukum.
__ADS_1
Handphone Vee berdering saat dia sibuk mengaduk soup sambil ikut terkekeh melihat games keluarga Daniel di meja makan.
Yazza!
Seketika senyumnya lenyap saat ia melihat ke layar panggilan.
“Biar saya lanjutkan non!” salah satu pembantu menawarkan diri.
Vee tersenyum, “Terima kasih!”
Vee sempat melihat ke arah Yve lalu berjalan agak menjauh.
Daniel sempat melihat Vee, itu membuatnya bertanya-tanya dengan menyipitkan mata.
Yazza sudah dalam perjalanan menuju pesisir tanpa memberitahu kepada Vee.
“Kenapa lama sekali menjawabnya!” sentak Yazza begitu panggilannya diterima.
Vee mencibir, “Memangnya saya tidak punya kesibukan lain?”
“Kenapa terdengar ramai sekali?”
“Suara televisi!”
“Oh!”
“Saya akan datang ke tempat anda agak siang!”
“Itu yang ingin aku beritahukan kepadamu! Tidak perlu datang. Aku dalam perjalanan penting yang begitu mendadak.”
“Wah, sebuah keberuntungan bagi saya! Dan hari ini sudah masuk dalam hitungan hari ke tujuh. Tidak ada yang namanya diganti hari!”
Mendengus tersenyum, “Aku belum mengatakan jika aku punya kejutan malam ini!”
“Apa maksud anda!”
“Jika aku mengatakan, namanya bukan kejutan!”
“Sungguh saya tidak tertarik!”
“Oh ya? Kita lihat saja!” dengus Yazza.
“Yeay! Kita menang grandma!” Yve bersorak gembira.
“Hahaha! Kita memang team yang hebat!” high five dengan Yve.
“Kalian curang tadi!” protes pak Fauzan.
Yazza menyipitkan mata, “Grandma? Itu tadi suara Yve! Kamu sedang berada di mana sebenarnya?” tangannya mulai mengepal.
Salah tingkah, “Em, itu … memangnya saya harus melaporkan kepada anda di mana saja kami berada!”
“Aku hanya bertanya di mana kalian sekarang!” sentak Yazza.
Vee sedikit ketakutan, “Anda punya hak apa memaksa bertanya seperti itu! Sudah! Saya matikan saja panggilannya!” Vee segara mengakhiri.
Dia menghela nafas panjang dengan tangan yang masih gemetar.
Masih menjadi misteri kenapa Vee begitu mudah ketakutan jika berhadapan dengan Yazza.
Daniel tampak tidak fokus dan khawatir melihat ekspresi Vee.
Bu Risma melirik ke arah Daniel melihat.
Ia menyipitkan mata melihat Vee tampak begitu gelisah dan ketakutan.
Sepertinya Vee sedang dalam masalah!
...***...
Yazza kesal melempar ponselnya.
Pak Ardi sempat mengejang ketakutan melihat ke arah spion atas.
“Tuan, tenangkan diri anda!”
“Lacak keberadaan Vee sekarang juga!” Yazza geram melihat keluar jendela.
“Siap tuan!” pak Ardi segera menelepon seseorang.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...