
Dengan hati-hati, Vee mendorong pintu ke dalam.
Deg!
Benar saja!
Seperti yang sudah dia pikirkan.
Yazza memang ada di dalam, duduk santai tanpa menoleh maupun mengucapkan sepatah katapun untuk menyambut kedatangan Vee.
Wanita itu memejamkan mata menarik nafas panjang.
Pak Didik pasti sudah tahu tentang ini, apakah dia akan memberitahukan kepada Daniel?
Kegelisahan kembali memenuhi relung hatinya.
Perlahan dia membuka mata, menoleh kembali ke arah daun pintu yang sudah dia tutup.
Cepat atau lambat, Daniel pasti akan tahu juga!
Lalu kenapa aku masih begitu ingin menyembunyikan kenyataan?
Apakah Daniel akan marah hingga tidak mau bicara lagi padaku setelah dia tahu kebenarannya?
Masalahnya, aku belum siap jika Daniel jadi berubah sikap!
Melihat dari ekspresi dan tingkah pak Didik tadi saja, sudah membuat Vee merasa sangat tidak nyaman.
Pak Didik terlihat seperti orang yang berbeda, tidak tampak seperti pak Didik yang selama ini dia kenal.
Entah dia marah atau merasa aku sudah keterlaluan karena menipunya ….
Bukankah Vee pernah berkata jika dia sangat membenci Yazza?
Tapi, kenyataan lain justru berlawanan.
Yazza berada di apartemen Vee.
Apa yang akan pak Didik pikirkan tentang aku?
Well, itu tidak terlalu menjadi masalah sebenarnya. Tapi ….
Bagaimana tanggapan Daniel setelah ini?
Sebenarnya yang paling Vee takutkan adalah, Daniel akan menjauhinya begitu tahu tentang semua ini.
“Menyesali sesuatu?” tanya Yazza datar membuyarkan lamunan Vee.
Menoleh tanpa kata-kata.
“Berdiri di sana sampai pagi pun tidak akan mengembalikan waktu!” Yazza membuang muka, “Jadi apa yang kamu sesali?”
“Bukankah sudah aku bilang … jangan ke sini hari ini!” Vee masih berdiri diam di dekat pintu.
“Memangnya apa yang sedang kamu coba tutupi? Semua orang juga akan segera tahu!” jawab Yazza berujar dengan nada datar.
“Apa saja yang sudah kalian bicarakan?” tanya Vee mengerutkan kening.
“Aku hanya menjawab semua pertanyaan dalam hatinya!”
Menyipitkan mata, “Maksudmu?”
“Jika orang mendengar anak kecil memanggil ‘papa’ kepada seorang pria … apa yang ada di pikiran orang tersebut?”
__ADS_1
Vee menghela nafas panjang, tangannya kembali mengepal.
“Tentu saja dia akan berpikir jika aku adalah ayah dari anak itu ‘kan?” lanjut Yazza santai.
“Itu sebabnya, aku tidak ingin kamu datang!” Vee mendengus membuang muka.
“Apa masalahnya? Kenapa aku harus mematuhi laranganmu?”
“Ini rumahku!” tegas Vee kembali menatap Yazza.
“Dan kamu adalah milikku!”
Deg!
Kata terakhir yang Yazza ucapkan terdengar lebih mengerikan dari suara sambaran petir yang menggelegar.
Meski tidak berwujud, bekasnya sangat terasa.
Membuat aliran darahnya mengalir tidak karuan.
Desir sengatan listrik menjalar di sepanjang garis tulang belakangnya.
“Ingat! Kamu sudah setuju untuk menikah denganku, jadi jangan diulangi lagi … pulang larut bersama pria lain!” tegas Yazza memicingkan mata.
“Cuih!” cibir Vee mulai kesal.
Dia baru saja pulang dari luar bukan untuk hal yang tidak penting.
Masih capek sekali, sejak sore hingga larut dia harus berkeliling kota.
Menguras tenaga juga pikiran ketika tronton muatan barang White Purple tidak kunjung ditemukan sementara waktu semakin mendesak untuk segera mengirimkan barang tepat pada waktunya.
Dan sekarang, dia justru harus menghadapi Yazza.
Hanya akan membuatnya semakin stress saja.
Tanpa memperdulikan lagi, Vee langsung menuju ke kamarnya.
“Tunggu!”
Vee yang sudah memegang gagang pintu, menjadi terdiam.
“Besok jam dua siang, kita ada janji dengan pihak wedding organizer. Jika kamu tidak datang ke kantorku, aku akan menyuruh orang menjemput paksa ke kantor White Purple!”
Menoleh sedikit, “Tidakkah kamu merasa ini terlalu cepat?”
“Takutnya, seseorang akan mencuri jika tidak segera dipercepat!”
Menyipitkan mata.
“Menurutmu, siapa si katak dalam cerita itu? Ular akan menyingkirkannya karena terlalu cemburu bukan?”
Vee geram, berbalik untuk menatap Yazza, “Kenapa kamu begitu picik seperti ini sih!”
“Picik kamu bilang?” Yazza berdiri bertolak pinggang menatap Vee.
“Pak Daniel tidak pernah berbuat jahat ataupun menyalahi kalian. Kenapa harus mengadu domba White Purple dengan Nirwana?” hardik Vee tegas.
Yazza terperangah menyipitkan mata, “Apa?” menurunkan tangan
“Jangan pura-pura sok polos!”
“Apa maksudmu berkata begitu?”
__ADS_1
“Kejadian hari ini, kami memang tidak akan melaporkannya ke polisi. Tapi jika sampai terulang lagi, aku sendiri yang akan melaporkanmu ke kantor polisi!” tegas Vee mengintimidasi.
Menatap gelagapan, “Tunggu … kurasa ada yang salah di sini!”
“Sudahlah! Jangan berakting lagi … memangnya siapa yang paling bisa menyewa preman untuk mencelakai orang lain selain kamu!”
Yazza mendengus tersenyum bertolak pinggang, “Jadi … kamu menuduhku?”
“Bahkan kamu tahu maksud arah pembicaraan ini ‘kan?”
Tersenyum mencibir, “Tentu saja aku tahu!”
Mengangguk-anggukkan kepala, “Kenapa masih menyangkalnya?”
“Jika kamu membicarakan masalah truk pengiriman … yeah … aku memang tahu tentang itu!” menggeleng tipis, “Tapi menuduhku melakukannya … bukankah terdengar sangat konyol sekali?”
“Masih tidak mau mengaku?”
“Apa aku harus mengakui sesuatu yang tidak pernah aku lakukan?” tegas Yazza.
“Kurasa aku sudah bisa menyimpulkannya sekarang!” Vee mencibir, “Pertama, kamu menjebak kami, dan setelah itu, kamu menggunakan pak Didik untuk menunjukan padanya jika kamu bisa melakukan apapun agar mereka takut kepadamu!”
“Hya … jangan …-“
“Orang bisa kamu manipulasi dengan kata-katamu!” sela Vee memotong, “Tapi tidak dengan aku!”
“Manipulasi?” ulang Yazza mengernyitkan dahi.
“Apa kamu bisa menjelaskan, kenapa pak Didik yang tahu di mana tepatnya truk itu berada sementara dia tidak pergi kemanapun?” menyilangkan tangan di depan perut, “Di sisi lain, seseorang ada bersamanya di rumah ini … bukankah sudah sangat jelas mencurigakan?” sindir Vee tajam.
“Yeah … aku memang yang sudah memberitahu kepada beliau!” sahut Yazza, “Tapi bukan berarti aku pelakunya!”
Tersenyum mencibir, “Logikaku masih berjalan dengan sangat baik. Jadi, jangan anggap aku bodoh! Aku tidak akan tertipu olehmu!”
“Siapa yang menipu?” Yazza mulai frustasi.
“Kejadian hari ini adalah masalah internal White Purple! Kamu bukan orang yang seharusnya berada di antara kita! Jika memang bukan kamu pelakunya, bagaimana kamu bisa tahu permasalahan kami dan lebih tidak masuk akal, kamu tahu di mana truk barang kami di sembunyikan!”
Yazza hanya bisa menghempaskan nafas memejamkan mata.
Jelas tidak mungkin jika dia mengatakan yang sebenarnya.
Berurusan dengan Shadow maupun Strom sama saja harus berdiri di atas lumpur hisap.
Lebih baik Vee tidak perlu tahu tentang kebenaran ini.
Daripada harus melibatkan Vee dalam bahaya, satu-satunya jalan adalah dengan membiarkan Vee berpikir jika dalang dari semua kejadian ini adalah dirinya.
Vee tersenyum menang, “Kenapa? Tidak bisa mengelak lagi sekarang?”
“Mengelak pun rasanya akan percuma. Aku tidak bisa memenangkan perdebatan kali ini!” ucap Yazza lirih.
“Pergilah! Aku benar-benar sedang tidak ingin melihatmu!” Vee kembali membalikan badan. Membuka pintu kamar, membanting dari dalam dengan cukup keras.
Yazza memegang kepalanya dengan sebelah tangan, memejamkan mata, mendengus menertawakan dirinya sendiri.
Setelah apa yang dia lakukan untuk membantu Vee, justru malah dia yang terkena tuduhan.
Memang tidak akan ada kebaikan yang bisa dilihat oleh mata Vee dari dalam dirinya.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1