
Akhirnya Vee selesai menata dan memasukan semua bajunya ke almari.
Dilemparkannya gaun kuning ke dalam keranjang pakaian kotor.
Yazza duduk di dekat almari sepatu, melihat Vee memicingkan mata, “Jadi siapa sebenarnya yang suka asal lempar pakaian?”
Mencibir, “Tapi aku melemparkan ke tempat yang seharusnya!” melirik Yazza, “Lagian ngapain sih di situ? Mau jadi mandor?”
“Aku hanya masih tidak menyangka, akhirnya aku bisa membawa pulang dan menyimpan peri kecilku di dalam rumah!”
Mencibir , menyandar almari, “Aku ingin bicara sesuatu padamu!”
Menyilangkan tangan ke perut, “Kenapa setiap kali mendengar kalimat itu, aku merasa sedang ditantang untuk berdebat sih?”
Membuang muka mendengus kesal, “Cih! Itu karena sifat egoismu yang tidak pernah mau mendengarkan omongan orang lain!”
“Nah kan? Sudah mulai lagi meninggikan nada!” Yazza mendengus membuang muka.
“Dengar, aku mau bicara serius kali ini!”
Menatap Vee, “Apa?”
“Lusa, aku mau pergi ke Pesisir!”
Menyipitkan mata, “Pesisir?” ulang Yazza.
“Aku akan mengganti batu nisan Yunna. Karena sekarang aku sudah berada di depan pembunuhnya, jadi aku tidak takut lagi untuk mengembalikan identitas terakhirnya!”
Yazza membuang muka tidak mengatakan sepatah katapun kali ini.
“Dulu Yunna selalu berkata akan menikahi pria kaya agar hidupnya lebih baik. Dia mendapatkan pekerjaan di kantormu dan mulai berhenti dari dunia gelapnya. Dia bilang, dia ingin memperbaiki image agar mendapat kekasih orang yang terpandang.“
“Setahun lebih dia berhasil membuktikan omongannya. Sampai dia bertemu denganmu. Aku tahu yang dia rencanakan memang bukan sesuatu yang benar, seharusnya aku berkeras untuk menghentikannya. Tapi aku gagal menasihatinya.”
“Dia berharap, paling tidak bisa dipromosikan dan naik gaji setelah malam itu. Dan yang terjadi kamu malah memberikan cek kosong, lalu mulai menerornya!”
“Bahkan saat dia hamil, dia masih berkeras mau mempertahankan kandungannya dan berharap setelah dia melahirkan, kamu bisa menerima dan menikahinya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.”
“Hanya Yunna satu-satunya yang aku punya! Dan dengan mudahnya, kamu menghilangkan nyawanya. Untung saja masih ada Yve, setidaknya aku masih bisa merasakan sosok Yunna dari dalam dirinya. Dan karena aku sudah memutuskan untuk menjadi ibu Yve, maka aku juga sudah harus siap hidup sebagai Yunna! Melanjutkan mimpinya untuk menikah denganmu!”
Yazza merasakan kesesakan di dalam hatinya.
Meski dia merasa bersalah, setiap mendengar nama itu masih saja membuatnya kesal dan marah.
“Jangan membahas tentang dia lagi! Aku tidak peduli itu mimpinya atau apapun itu! Yang jelas, aku hanya akan menikahi peri kecilku!” tegas Yazza.
Vee mendongak untuk menahan air matanya. Dengan berat dan sesak, ia menghempaskan nafas.
“Sulit sekali menyadarkan mu! Aku di sini karena mereka berdua. Kenapa kamu masih tidak bisa berterima kasih kepada mereka?” kali ini ucapan Vee datar.
Dia sudah lelah, jika harus terus bertengkar tiap kali membahas ini.
“Sebenarnya apa yang kamu mau, dengan terus-menerus mengungkitnya?”
Menghempaskan nafas panjang, “Berulang kali aku mengatakan ini padamu. Setidaknya, sayangilah Yve seperti saat kamu masih menganggapnya jika dia adalah putri kandung kita!”
“Dia itu aib!”
“Iya … dan aib itu yang membuat aku berada di sini sekarang!” Vee mulai tidak bisa menahan diri.
Yazza menghempaskan nafas panjang, “Bukankah aku sudah berbaik hati padanya? Aku memberinya handphone baru, sekolah yang bagus dan masih memikirkan tentang bagaimana dia ke sekolah. Kurang apa lagi?”
__ADS_1
“Kasih dan sayang!” tegas Vee.
Yazza kembali menghela nafas, melihat jam tangan lalu berdiri.
“Ayo turun! Sepertinya sudah satu jam lebih!”
Vee menurunkan kedua tangannya.
Selalu saja Yazza berusaha untuk menghindari pembicaraan mengenai Yve.
“Tunggu! Ada satu hal lagi yang ingin aku katakan!”
Berhenti melangkah, tanpa menoleh kebelakang.
“Mungkin aku akan menginap beberapa hari di rumah paman Mail!”
Membalikan badan, menatap Vee memprotes, “Kenapa harus menginap segala?”
“Aku mau ke tengah laut untuk menabur bunga. Bagaimanapun juga, orang tua kita bersemayam di tengah lautan. Aku sengaja tidak mengajakmu karena aku tahu, kamu trauma dengan lautan. Karena aku akan menikah denganmu, paling tidak biarkan aku memperkenalkan diriku kepada mereka sekaligus meminta ijin kepada ayahku!”
Yazza mengepalkan tangan mendengar kalimat itu.
Bukan karena marah, tapi dia justru merasa sangat tidak berguna.
Yang dikatakan Vee benar.
Mereka akan menikah dan seharusnya Yazza juga datang untuk meminta restu sekaligus menabur bunga di sana.
Tapi apa daya, rasanya masih sulit sekali untuk mendekati lautan.
Terlebih harus berlayar ke tengah.
“Kalau begitu sampaikan salam ku kepada mereka!” dengan penuh kepedihan dia kembali membalikan badan, berjalan menuju pintu.
Meski tidak dikatakan secara terang-terangan, paling tidak Yazza setuju dan mengijinkan.
“Yazza!”
Panggil Vee lagi tepat saat Yazza memegang gagang pintu.
Menoleh, “Apa lagi?”
“Tentang bayaran yang kamu minta untuk mengganti biaya sekolah Yve … aku akan memikirkannya!”
Tersenyum mencibir, “Aku hanya meminta supaya kamu tidak lagi berhubungan dengan pak Hirza, sebisa mungkin menjauhinya dan jangan ‘sok kenal sok dekat’ lagi dengan dia di muka umum. Tapi, kenapa masih ingin memikirkannya?”
Mengusap lengannya salah tingkah sembari berjalan mendekat, “Ya … bagaimanapun juga, kita berteman akrab sebelumnya. Jika bertemu tidak sengaja dan tidak saling menyapa, bukankah akan terlihat aneh?”
“Aku tidak suka tatapan matanya saat melihatmu!”
“Cih … cemburu?” cibir Vee tersenyum mengejek.
“Istrinya masih hidup! Kamu mau di tuduh pelakor?”
“Hya … aku tidak berusaha mendekatinya!”
Menyipitkan mata, “Kamu tidak ada perasaan padanya kan?”
Membuka pintu, “Dia tampan dan sangat karismatik. Wanita bodoh saja yang tidak ada rasa padanya!” dengan cuek berjalan mendahului.
Bertolak pinggang dengan mulut menganga.
“Hya … beraninya memuji pria lain di depan calon suamimu?”
__ADS_1
Vee menahan senyum, sengaja ingin membuat Yazza semakin kesal dengan tidak menggubris sama sekali.
“Hya!” Yazza mengejar.
...***...
Hidangan makan malam sudah di siapkan.
Keluarga Gionio sudah berkumpul, kecuali Yve.
“Putriku kok belum turun sih?” Vee celingukan.
“Nah itu dia! Baru dibicarakan!” kek Gio menunjuk Yve yang berlari kecil dengan riang menuruni tangga.
Dania mengikuti di belakangnya.
“Sayang pelan-pelan! Jangan berlarian di tangga!” Vee khawatir.
“Oke ma!” mulai berjalan dengan biasa.
Vee tersenyum lalu kembali menghadap ke depan.
“Sini sayang, kamu pasti suka makanannya!” kek Gio tersenyum lebar menatap Yve.
Duduk langsung melihat meja, “Wuih! Kelihatannya enak-enak sekali!”
Terkekeh mengelus kepala Yve, “Tentu dong!”
Dania ikut duduk tanpa rasa sungkan sedikitpun ikut membalikan piring di meja.
Semua mata tertuju ke arahnya.
“Heh, apa kamu tidak pernah belajar etika?” tegur kek Gio.
Senyum yang tadi merekah langsung memudar.
Dania terdiam mematung seolah tidak tahu apa-apa.
“Kamu pikir, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kita? Kami tidak melarang kamu untuk ikut makan bersama. Tapi kurang sopan dong kalau kamu langsung duduk seperti itu!” kek Gio tegas.
Dania kembali berdiri, menunduk hormat merasa bersalah, “Maaf!”
“Sudah! Karena kamu masih muda, anggap saja ini sebagai pembelajaran tata krama!” menunjuk ke arah meja pantry, “Ikut saja bergabung dengan bi Imah, mbak Rosi dan pak Udin di sana!”
Mengangguk lalu berjalan menuju pantry.
Siaalaan kakek tua ini!
Dia tidak tahu aku akan menjadi nyonya besar di rumah ini?
Lihat saja nanti ....
Dia belum tahu siapa aku!
Berani-beraninya membuatku kesal!
Geram Dania, bergumam dalam hati.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...