
Pintu kamar Yve terbuka.
Vee salah tingkah menarik tangan kembali menegakkan duduk menghadap ke depan.
Daniel ikut menjadi salah tingkah.
Menatap Vee penuh tanda tanya.
“Ma … baju kuning Yve yang ada gambar kucing kok tidak ada?” tanya Yve.
Menoleh ke belakang, “Memangnya kapan terakhir dipakai?”
“Kemarin!”
“Coba tanya madam Lia, mungkin baru dicuci atau masih di keranjang cucian!”
Mendekat, “Ah benar!” duduk di sebelah Vee.
“Nggak jadi tidur siang?” tanya Vee.
Menggeleng, “Ma … adiknya Caesar lucu banget deh!” tersenyum, “Yve juga mau dong punya adik!”
Daniel tersedak mendengarnya.
Vee salah tingkah nyengir menatap putrinya.
Yve melirik tajam Daniel, “Hya … nah kan … virusnya disebar luaskan!” cibir Yve.
Daniel mengambil gelas minum di atas meja.
Meneguk air sembari membuang muka.
“Sayang … kan kamu bisa main juga sama adiknya Caesar!”
“Tapi kan nggak bisa dibawa pulang!”
Vee tersenyum mengelus rambut Yve, “Mama lihat, Caesar memang sangat baik ya?” mencoba mengalihkan pembicaraan.
Mengangguk, “Kemarin Yve diperlihatkan semua mainannya. Banyak sekali mainan dia!”
“Oh ya?” Vee tampak antusias mendengar cerita putrinya.
“Papa Caesar selalu membelikan mainan baru setiap minggu … katanya tiap akhir pekan mereka akan jalan-jalan dan membeli mainan!”
“Woah … papa Caesar pasti sangat baik dan penyayang!”
“Papa Yve juga sayang sama Yve!”
Seketika senyum Vee memudar.
Daniel menyipitkan mata melihat perubahan ekspresi Vee.
“Ma … sebentar lagi Caesar ulang tahun! Yve kasih kado apa ya?”
Lamunan Vee buyar.
Gelagapan dia tersenyum menatap Yve, “Emb … kamu … kamu bilang dia sudah banyak mainan, bagaimana kalau baju atau sepatu saja?”
Tersenyum, “Atau gantungan kunci berbentuk kapal saja? Caesar sangat suka cerita bajak laut!”
Mengangguk-angguk, “Oke … kita carikan saat ke mall ya?”
“Atau mau ke mall sekarang?” tanya Daniel.
“Hya tidak bisa! Kami harus mengunjungi papa Yazza nanti,” cibir Yve.
“Kalau begitu, kamu tidur siang dulu dong!” Vee mengelus rambut putrinya.
Menghela nafas panjang, “Yve ada tugas sekolah yang sulit dikerjakan! Yve mau menelepon Caesar saja!” turun dari kursi kembali berlari kecil menuju kamarnya.
Vee tersenyum memperhatikan.
“Ahh benar! Aku sampai hampir lupa dengan ini,” ucap Daniel begitu Vee menutup pintu kamarnya lagi.
Menyipitkan mata, “Apa?”
“Waktu pak Didik menjaga Yve dan Caesar … dia bilang anak itu ternyata keponakan pak Gerry! Itu artinya teman Yve adalah anak dari pemilik Nirwana!”
“Wait! What?” Vee sangat terkejut, “Kok bisa?”
“Yang menjemput Caesar waktu itu adalah pak Gerry, om nya! Well, pak Gerry cuma punya satu saudara, yaitu pak Ganny … suami dari pewaris Nirwana. Itu artinya, Caesar adalah anak pemilik Nirwana.”
Pantas saja mobil yang Vee lihat tadi tidak asing.
__ADS_1
Mobil yang pernah dia lihat saat Gerry meninggalkan tempat lelang kemarin.
“Untung masalah kita dengan Nirwana sudah beres!” Vee tidak menatap ke arah Daniel.
Pikirannya melayang jauh ke depan.
Dia sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi jika Yazza tahu, putrinya berteman dengan keponakan dari sang rival.
Yve pasti akan sangat sedih jika Yazza melarang mereka berteman lagi.
Sebaiknya mulai dari sekarang, dia harus menutupi ini semua dari Yazza.
Jangan sampai Yazza tahu tentang identitas teman Yve ini.
Atau mungkin lebih baik tidak usah menceritakan tentang siapa saja teman Yve kepada Yazza.
Menyipitkan mata, “Kamu kenapa malah melamun?” tanya Daniel.
Tersenyum menggeleng, “Pak Daniel mau dibuatkan camilan?”
Daniel menggeleng, menggeser duduknya mendekati Vee.
“Emb … bagaimana jika yang tadi dilanjutkan?” tersenyum cengengesan.
Mencibir, “Cih … apa?”
Daniel mendekatkan kepala.
Vee langsung memukul kepala Daniel.
“Aaa!” mengelus kepalanya menatap Vee memprotes.
“Hya! Saya mau masak makan siang, belum sempat makan sedari tadi,” berdiri cengengesan melihat ekspresi kesal Daniel.
Daniel mencibir masih mengelus kepalanya.
Vee meninggalkan Daniel, berjalan menuju pantry masih menertawakan Daniel.
“Padahal dia yang tadi sepertinya mau menciumku! Kenapa sekarang malah dipukul! Dasar tikus besar!” gerutu Daniel lirih.
...***...
Yazza tengah duduk menyandar di ranjang rawat sembari menghadap laptop.
“Papa!” tersenyum riang.
Dia tidak sabar ingin menemui papanya kembali.
Yazza mendongak, melihat Vee yang sedang menutup pintu dengan tatapan memprotes.
“Apa papa baik-baik saja? Kepala papa terluka parah ya? Yve sangat kangen sekali sama papa!”
“Di rumah sakit tidak boleh membuat keributan!” ucap Yazza datar.
Seketika wajah ceria Yve berubah menjadi muram.
Vee mendengus kesal berdehem untuk memberi isyarat.
“Ehemb!” melirik Yazza dengan kedua tangan menyilang di perut.
Yazza menghempaskan nafas, menoleh kearah Yve sambil tersenyum, “Kenapa mama malah mengajak kamu ke sini? Kan bahaya jika anak sehat dibawa ke rumah sakit. Takutnya malah tertular virus penyakit!”
Yve menyentuh lengan Yazza, “Jangan memarahi mama, Yve yang memaksa agar diajak ke sini. Yve khawatir sekali ingin melihat keadaan papa!”
“Papa Yazza baik-baik saja kok!” Vee mengambil laptop Yazza, membawanya ke meja.
“Hei … jangan sembarangan! Aku belum menyelesaikan pekerjaanku!” protes Yazza.
Duduk sambil melihat ke arah layar, “Cuma pekerjaan seperti ini aku bisa menyelesaikannya! Kamu mengobrol saja dengan putrimu!”
“Hya, jangan asal-asalan seperti itu!” sentak Yazza.
“Cih … kenapa selalu meragukan aku sih?”
“Kan kalau tidak benar aku jadi harus mengerjakan ulang!”
“Jangan khawatir, aku tidak akan menyusahkan!” tersenyum, “Ngobrol saja dengan Yve … dua hari tidak bertemu pasti kamu juga kangen sekali padanya kan!”
Yazza mendengus kesal memicingkan mata menatap Vee.
“Papa mau buah?” tanya Yve tersenyum polos.
__ADS_1
“Ah … boleh,” jawab Yazza singkat.
“Biar Yve yang kupas apel! Mau?”
“Hati-hati sayang saat memegang pisaunya!” Vee fokus melihat layar laptop dan memainkan jarinya di keyboard.
“Hya … kenapa kamu membiarkan dia mengupas buah sendiri!” protes Yazza, “Sini biar aku kupas sendiri saja!” mengulurkan tangan.
Yve tersenyum, “Yve sudah biasa kok! Papa duduk dan istirahat saja!”
Yazza menjadi canggung.
Dia tidak tahu harus bicara apa pada Yve.
“Mmb … jadi … apa yang sebenarnya terjadi di sekolah tadi?” basa-basi Yazza salah tingkah.
Vee tersenyum kecil saat mendengarnya.
Dia sengaja tidak menoleh dan berpura-pura tidak mendengar.
Vee sangat berharap, Yazza dan putrinya bisa sedekat dulu lagi.
Seperti saat sebelum Yazza tahu tentang identitas Yve yang sebenarnya.
Yve terlihat begitu bahagia dan seolah memiliki hidup yang sempurna ketika mereka liburan ke Bali waktu itu.
Dan hanya itu yang Vee harapkan, melihat senyum ceria dari putrinya.
Yve fokus mengupas buah, “Ada sekelompok kakak kelas yang mau memukul murid baru … Yve hanya berniat membantu.”
“Dengan cara memukuli mereka?”
Mengangguk, “Mereka menangis dan malah menuduh kami yang mem-bully!”
“Kami?”
“Yve dan kakak kelas yang baru pindah itu!”
“Jadi anak baru itu juga berkelahi melawan mereka?”
Mengangguk tersenyum antusias, “Dia jago sekali karate! Dia melindungi Yve dari semua pukulan dan masih bisa melawan mereka semua tanpa kesulitan. Sebenarnya tadi itu, Yve hanya membantu sedikit saja!”
“Kamu bilang mereka kakak kelas, kenapa kamu begitu berani mencampuri urusan mereka?”
“Karena Yve lihat mereka tidak adil … masak keroyokan!” memberikan apel ke Yazza, “Papa makan ini!”
Tersenyum tipis, “Terima kasih,” ragu menerima apel dari putrinya.
Yve duduk di kursi, “Ah benar … Yve baru ingat! Kata papa kakak itu … mama adalah teman lamanya!”
Yazza langsung menyipitkan mata menatap ke arah Vee.
Seketika jari Vee berhenti bergerak.
“Teman lama mama? Siapa?” tanya Yazza.
“Kodenya ‘senior buaya’!” Yve menoleh ke arah mamanya, “Iya kan Ma?”
“Hya!” sentak Yazza menatap Vee.
Vee memutar bola mata, melihat ke langit-langit, “Aku juga tidak tahu kalau akan bertemu Hirza di sana!”
“Kenapa sih, malah jadi sering menemuinya!” gerutu Yazza kesal.
“Hya! Kamu pikir, kejadian hari ini sudah di setting? Ini juga hari pertama anaknya masuk ke sekolah Yve. Hanya kebetulan saja putranya bertemu dengan Yve dalam kejadian tadi!”
“Papa tidak suka paman itu ya?” tanya Yve.
Yazza menghela nafas panjang dan menghempaskan.
“Bukannya tidak suka, tapi lebih baik tidak usah terlalu dekat dengan mereka!” Yazza tersenyum tipis menatap Yve.
Dengan putra Hirza yang sudah membantunya saja dia seperti itu.
Apalagi kalau dia sampai tahu, jika teman dekat Yve disekolah adalah keponakan Gerry.
Bisa-bisa Yve dimarahi dan malah disalahkan!
Vee bergumam dalam hati, sambil menatap kosong ke arah laptop Yazza.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...