
Icha dan team bayangan mata sudah mengecek video berkali-kali.
Tidak ditemukan bukti jika pelaku teror bekerja dalam sebuah kelompok.
Dari awal kedatangan, pria itu tidak menunjukan sikap jika dia adalah seorang profesional. Gerak-geriknya seperti orang linglung yang kebingungan dalam melakukan segala persiapan. Bahkan pria itu Nampak seperti orang yang baru pertama kali masuk ke dalam gedung hotel mewah.
Polisi kesulitan melacak karena ******* pria ini tidak memiliki indentitas diri yang jelas.
Sama sekali tidak di temukan tanda pengenal dari pria ini.
Dia tidak terdaftar di catatan sipil Negara, dan tidak seorangpun mengaku mengenalinya meski fotonya sudah di sebarluaskan.
Polisi menduga, oang ini adalah anak buah salah satu anggota ******* yang sudah dicuci otaknya. Dia melakukan kejahatan tunggal, yaitu bom bunuh diri.
Motif dan tujuan pelaku juga masih belum bisa diungkap oleh polisi.
Sekali lagi Icha memutar rekaman saat pria itu masuk ke dalam ballroom.
“Tunggu perlambat lagi!” salah seorang memperhatikan dengan seksama.
“Apa yang kamu temukan?” tanya Icha.
“Itu cuma perasaanku saja atau benar nggak sih?” ujar salah satu team bayangan mata. “Lihat deh mata pria itu tertuju pada lengan orang-orang yang baru datang! Dia tidak melihat wajah para tamu … yang dia fokuskan justru lengan saja!”
Icha menaruh jempol dan telunjuknya di dagu dengan sebelah tangan menyilang di depan perut.
Dengan seksama, wanita itu mulai mengobservasi, “Sepertinya memang ada sesuatu yang sedang dia cari!”
“Nah … dia baru mendongakkan kepala begitu melihat ke arah keluarga Nirwana!” lanjut pria tadi.
“Bagaimana jika itu hanya kebetulan?” Icha mengernyit masih menata layar.
Dengan senyum pongah pria itu memutar kursi ke arah teman di sampingnya, “Coba zoom … apa ada sesuatu di lengan mereka?”
“Itu pita merah atau gelang ya?” tanya temannya begitu memperbesar resolusi gambar.
“BINGO!!!” tersenyum puas, “Seluruh keluarga Nirwana memakai benda merah itu!” ucap pria itu dengan mantap.
Icha membelalakkan mata, semakin tajam menatap layar, “Coba cari tamu lainnya … apa ada lagi yang mengenakan pita merah seperti itu?”
Tiga orang team bayangan mata mulai mengamati dengan seksama.
“Sepertinya hanya keluarga Nirwana yang mengenakan pita merah itu!”
“Pria ini memutar badan begitu melihat keluarga Nirwana … bukankan sudah sangat jelas?” Icha kembali memegang dagu dengan jemari tangan kanannya, “Tapi sayang … hanya dengan video ini tidak akan cukup kuat jika dijadikan bukti laporan polisi!”
“Bukankah Strom yang baru akan bertugas di bidang seperti ini? Kurasa kita juga harus belajar memahami trik ke depannya!” ujar salah seorang team bayangan mata.
__ADS_1
Icha mengangguk-anggukkan kepala, “Aku rasa … sepertinya tuan Gio akan segera kembali ke kelompok!”
“Benarkah?” Tanya seseorang dengan senyum riang.
Icha ikut tersenyum lega, “Jika itu terjadi … aku akan lebih senang. Akhirnya Mr. Bald tidak harus menanggung banyak beban seorang diri lagi!”
...***...
Pintu terbuka, Vee melongok kan kepala dan melihat Berli tampak malu-malu tersenyum ke semua orang di belakang Leo.
“Hya! Kenapa baru datang?” tegur kek Gio kepada Leo, “Tunggu … kenapa wanita ini bersamamu?”
Yazza hanya menghempaskan nafas panjang menatap Vee datar.
“Haiz! Kek! Dia temanku!” Vee berusaha membantu Berli yang terlihat langsung pucat begitu mendengar ucapan sinis kek Gio.
“Teman?” kek Gio mengernyit terkejut, “Tapi dia itu …,” melihat Yazza, “haiz … entahlah!”
“Kek … yang lalu biar berlalu! Yazza jahat kepadaku saja … aku berusaha melupakannya! Sudahlah kek … Berli sebenarnya tidak sejahat yang kalian pikirkan kok!” Vee kembali mencoba membela Berli.
“Hya! Kenapa membawa-bawa namaku!” protes Yazza.
“Hya … kamu tidak terkejut?” tanya kek Gio kepada Yazza.
“Kenapa harus terkejut? Istriku memang agak aneh dalam memilih teman!” sindir Yazza melirik Vee. “Kakek sudah tua … pasti kakek tidak sadar jika wanita itu semalam juga ada di pesta resepsi kan?”
“Bahkan Vee memintanya menjaga Yve!”
“Aku pikir wanita itu Dania … jadi itu kamu?” tanya kek Gio.
“Jelas-jelas dia sudah pernah berniat mencelakainya … tapi Vee masih saja mudah percaya pada wanita ini!”
Vee memanyunkan bibir lalu kembali menoleh menatap Berli, “Jangan pedulikan meraka, sini Ber!”
Berli tersenyum, tanpa sungkan-sungkan lagi dia langsung nyelonong melewati Leo, “Bagaimana keadaanmu?” duduk di kursi sebelah ranjang Vee. “Aku membawakan bubur untukmu, masakan ku sendiri loh!”
“Hya! Hati-hati … bisa saja ada racunnya!” ucap Yazza ceplas-ceplos.
Berli kembali murung menundukkan kepala.
“Hya! Bisa nggak sih kalau bicara tidak menyakiti hati orang?” tegur Vee mengelus lengan Berli dengan tangan yang tidak di infuse, “Jangan di ambil ke hati! Sini, kebetulan aku masih sangat lapar!”
Pak Karno langsung maju, “Nyonya … biar saya coba dulu!”
“Emb … pak Karno dan yang lain tidak perlu khawatir. Saya sudah mencoba dan itu aman kok!” sahut Leo.
Semua orang langsung menatapnya memicingkan mata.
Vee tersenyum menggoda menatap Leo, “Hya … aku yang sakit dan Berli membuatkan bubur untukku … tapi kenapa kamu mencobanya terlebih dahulu!”
__ADS_1
“Hei … bukan mencoba yang ini Vee! Aku sudah memisahkan khusus untuk dia!” sahut Berli polos.
“Khusus?” ulang Vee dengan nada menggoda.
Yazza bertolak pinggang menatap Leo yang semakin salah tingkah.
Berli celingukan melihat semua orang yang tiba-tiba terdiam.
Dia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini.
“Memangnya kenapa sih?” tanyanya lagi dengan nada lugu.
“Hya! Leo … ikut aku! Kita bicara di luar!” Yazza menurunkan tangan hendak melangkah.
Leo salah tingkah melihat jam tangan mencari-cari alasan.
“Emb … waktunya tidak banyak. Polisi mungkin akan segera datang … sebaiknya kita langsung mulai saja rapat kecilnya!”
“Rapat? Polisi?” desis Berli menatap Vee.
“Tentang kejadian semalam,” jawab Vee ikut mendesis.
“Ahh … I see,” menoleh ke belakang, “Apa aku datang di waktu yang tidak tepat?”
“Hya … kamu bisa sadar diri juga!” sahut Yazza.
Pria itu langsung menoleh kembali untuk menatap Leo.
“Sudah tahu kita akan ada hal penting … kenapa malah membawa orang luar ke sini sih?” tegur Yazza.
Leo hanya menundukkan kepala.
“Hei … sudahlah! Memangnya kenapa juga jika Berli di sini? Kita semua nyaris jadi korban malam tadi! Berli juga di sana, dia juga saksi!” Lagi-lagi Vee membela Berli.
Berli manyun mengangguk sembari menggenggam tangan Vee.
“Hah! Baiklah … karena sudah terlanjur begini … lupakan saja tentang wanita ini! Yang di katakana Vee tidak sepenuhnya salah! Kita semua memang hanya saksi yang akan di periksa atas kejadian terror bom malam tadi!” kek Gio kembali duduk santai menyandar sofa.
“Kakek yakin, tidak apa-apa jika wanita ini juga di sini?”
Leo maju satu langkah, mendongak mantap menatap Yazza, “Jika terjadi sesuatu yang tidak sesuai rencana … saya yang akan bertanggung jawab karena sayalah yang membawa Berli ke sini!”
Vee tersenyum lega begitu mendengar ucapan Leo.
Tapi tidak bagi Yazza, melihat sikap yang ditunjukan pria di hadapannya justru membuatnya semakin khawatir.
Tanpa bisa berkata-kata, dia hanya menatap Leo dalam bimbang.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1