
Paman Mail menatap Daniel menyipitkan mata.
“Jadi benar, kamu bukan nahkoda?” tanya kek Mail lirih.
Deg!
Daniel langsung salah tingkah.
Pertanyaan yang dia takutkan ternyata dia dengar juga pada akhirnya.
Dia berusaha tenang agar tidak membuat curiga keluarganya dan juga keluarga Nirwana.
Paman Mail berisyarat kepada Daniel untuk berbicara empat mata dengannya.
Daniel mengangguk gelisah, takut jika keluarganya curiga.
Begitu ada kesempatan, dia mengendap ke belakang bersama paman Mail.
“Daniel mau kemana?”
Ups!
Dia ketahuan.
Pak Fauzan membuatnya terkejut karena pertanyannya.
Daniel menghentikan langkah, kembali membalikan badan, bersikap seolah tidak ada apa-apa.
Pria itu tersenyum meringis menggaruk kepala, “Daniel ada urusan sebentar!”
Tisya menyipitkan mata menoleh ke belakang, begitupula Ganny.
Sepertinya dia justru menarik perhatian keluarga Nirwana.
Sebelum ada lebih banyak pertanyaan yang mungkin sulit untuk di jawab, Daniel buru-buru berpamitan untuk menghindar.
“Sebentar saja kok,” ujarnya tersenyum meringis sembari menarik paman Mail untuk kembali melangkah menjauh.
“Dia siapa om?” tanya Tisya kepada pak Fauzan.
Menggeleng, “Mungkin klien.”
“Ah, I see!” Tisya tetap menatap curiga ke arah kepergian Daniel.
...***...
Sesekali Hans melihat ke arah Hirza yang terus terdiam melihat darah di tangannya.
“Mas, aku tahu mas pasti menghawatirkan nona Vee. Kenapa tidak ke rumah sakit saja untuk membuat mas merasa sedikit tenang sih? Lagipula itu rumah sakit kita! Tidak akan ada yang curiga!”
Handphone Hirza berbunyi.
“Xean! Lihat siapa yang menelepon?” perintah Hirza tanpa mengalihkan pandangan dari telapak tangannya sendiri.
__ADS_1
Anak itu menatap Hans, begitu melihat anggukan kepala dari Hans, Xean menghempaskan nafas sembari mengambil handphone di saku jas papanya.
“Siapa?” Tanya Hans menoleh ke belakang masih sembari mengemudi.
“Paman Rudi,” jawab Xean enggan melihat layar handphone.
Hirza menghempaskan nafas panjang, “Bukannya tidak mau pergi ke rumah sakit …,” mendongak menatap Hans kali ini, “tapi … lihat itu!”
Hans ikut menghempaskan nafas panjang, dia terdiam tanpa kata-kata.
“Mas Rudi pasti langsung tahu tentang kejadian ini. Jika kita sembarangan bertindak hanya berdasarkan keinginan, bukankah akan berbahaya?” Hirza menoleh menatap Xean, “Jawab dulu panggilan itu.”
“Enggak ah! Papa saja!” mengulurkan handphone ke depan papanya.
“Tangan papa kotor,” ucap Hirza santai.
Xean mencibir enggan menurunkan bahu, “Hallo paman!”
“Xean?” pak Rudi terkejut karena bukan Hirza dan Hans yang menjawab. “Di mana papa dan mas Hans?”
“Mas Hans sedang menyetir,“ melihat ke arah papanya, “papa sedang sibuk dengan laptopnya di sebelah ku,” dalih Xean, berbohong untuk melindungi papanya.
“Bisa paman bicara dengan papamu?”
“Hmph, sebentar,” anak itu langsung mengaktifkan loudspeaker.
Hirza menarik nafas panjang, dan menghempaskan perlahan, “Ya, halo mas Rudi?”
“Kami sudah dalam perjalanan pulang. Mas Rudi tidak perlu khawatir … kami tidak apa-apa!” Hirza mencoba menenangkan kekhawatiran kakaknya.
“Bagaimana bisa ada teror di acara pernikahan! Siapa yang berani mencari masalah dengan pak Yazza sampai segitunya? Bahkan aku sendiri tidak akan pernah berpikir untuk membangunkan macan yang tertidur!”
Tersenyum, “Bukankah dia punya musuh bebuyutan sejak lama?”
“Hah?” tampak berpikir, “Maksudmu pemimpin baru Strom?”
“Well … itu hanya dugaan! Kita tidak perlu ikut campur … itu urusan mereka. Selama tidak merugikan bagi kita, sebaiknya tidak usah terlalu dipedulikan!”
“Loh, tidak perlu ikut campur bagaimana? Bukankah Strom berniat menciptakan keributan antar anggota kelompok?”
“Kelompok mana yang mas Rudi maksud? Yazza tidak terikat dalam kelompok manapun! Kecuali jika Yazza resmi terdaftar di keanggotaan, mungkin baru bisa dipermasalahkan!”
“Lah, bukannya dia cukup akrab dengan Mr. Bald? Aku pikir dia sepertimu, yang hanya bekerja dari balik layar!”
Mendengus tersenyum, “Mungkin setelah ini kita akan ada pertemuan lagi untuk mengumumkan ketua baru Shadow!”
Pak Rudi semakin kebingungan mendengar kalimat adiknya, “Aku nggak paham deh … apa yang kamu bicarakan? Bisa tidak jangan berputar-putar kalau bicara denganku?”
Hirza mendengus tersenyum, “Karena macan sudah dibangunkan, bukankah seharusnya dia kembali kehutan nya untuk memimpin?”
“Maksudmu pak Yazza akan memimpin Shadow?”
“Aku tidak cukup yakin … kita lihat saja dulu!”
__ADS_1
“Tapi bagaimana tentang Strom ini?”
“Sudahlah, lagipula tidak ada bukti juga untuk menguatkan tuduhan jika Strom yang melakukannya. Toh kalaupun memang Strom … kita juga tidak bisa menyalahkan mereka! Mas Rudi harus ingat, mereka sekarang berada di jalur ini … biarkan saja mereka berlatih untuk meneror atau mengeksekusi seseorang!”
Pak Rudi tidak lagi bisa mendebat adiknya.
Terdengar helaan nafas panjang di ujung telepon, “Oke … baiklah kalau kamu sudah berkata begitu! Yang terpenting saat ini, aku sudah tahu jika kalian baik-baik saja. Jika sampai Strom terbukti melakukan terror dan nyaris membahayakan pemimpin Paradise … aku tidak akan mengampuni mereka!”
“Mas jangan khawatir … kita semua baik-baik saja kok,” ucap Hirza santai.
...***...
Daniel dan kek Mail berdiri di dekat kolam buatan dalam area hotel.
“Kenapa paman tidak ikut Vee ke rumah sakit?”
Membuang muka melihat ke arah kolam ikan.
Penerangan di sana sangat minim, hanya beberapa lampu taman temaram.
“Aku memang sangat khawatir … tapi aku malas bertemu suaminya itu!”
Menyipitkan mata, “Kenapa begitu?”
“Aku tanya dulu kepadamu … sebenarnya apa hubungan antara kamu dan Vee?”
Daniel menarik nafas panjang ikut membuang muka, “Kenapa paman bertanya seperti itu?”
“Kalian pikir … kalian bisa mengakali aku? Dari tatapan mata kalian berdua pada waktu itu saja sudah membuatku merasa curiga! Terlihat sekali jika Vee sangat menyukaimu! Hanya berdua berlayar di tengah laut dalam satu kapal? Cuih … bukankah itu semakin tidak wajar?”
Daniel menundukkan kepala.
Pria tua itu menatap Daniel dari samping, “Aku tidak akan menyalahkan atau memarahi kalian jika memang ada sesuatu diantara kalian!”
“Yah … kami memang menjalani hubungan terlarang di belakang pak Yazza!” Daniel mengakui meski masih tidak berani menatap paman Mail.
Mendengus tersenyum, “Lalu kenapa kamu mau menjadi yang disembunyikan jika kamu sendiri tahu, Vee sangat menyukaimu?”
Daniel merasa semakin sedih, “Menikah dengan pak Yazza adalah keinginan putri mereka berdua. Yve ingin kedua orang tuanya kembali bersatu!”
Dia terdiam menunduk untuk beberapa saat.
“Bukankah saya memang tidak ada apa-apanya dibanding pak Yazza? Meskipun saya memiliki cinta Vee, saya tidak akan pernah bisa memiliki kekuatan melawan darah daging mereka! Bagaimanapun juga … mereka berdua sudah memiliki buah hati!”
Paman mail justru mendengus tersenyum sengit mendengarnya.
“Bagaimana jika aku mengatakan suatu kebenaran kepadamu?” ucap paman Mail datar.
Menyipitkan mata menatap pria tua di sebelahnya, “Kebenaran? Tentang apa?”
“Jika aku mengatakan Yve bukanlah putri kandung Vee, apa kamu akan percaya?”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...