
Yunna pura-pura tersenyum dalam kepedihannya, “Mana kutahu. Aku banyak berhubungan dengan banyak pria.”
Meski pada kenyataanya dia tidak pernah sembarangan lagi tidur dengan pria sejak bekerja di kantor.
Sangat jelas itu adalah anak Yazza, karena hanya dengannya Yunna melakukan lagi setelah sekian lama tidak berhubungan badan.
“Bagaimana kamu masih bisa tersenyum?” menghempaskan nafas putus asa, “Lalu mau diapakan sekarang?”
“Kali ini aku tidak akan menggugurkannya," ujar Yunna tidak berani menatap sahabatnya.
“Apa?” Vee terkejut mendengarnya, "Bagaimana dengan karir masa depanmu?"
Yunna berjalan kembali menuju kamar, “Vee, ayo kita pindah apartemen. Aku sudah keluar dari kantorku!”
Vee mengikuti makin curiga, “Kenapa tiba-tiba?”
“Karena aku sudah memutuskan untuk membesarkan dan merawat anak ini!”
“Kamu mengorbankan masa depanmu untuk membesarkan anak yang tidak jelas bapaknya ini? Bagaimana bisa kamu akan melahirkan tanpa sosok bapak? Jangan aneh-aneh Yun!” debat Vee meninggikan nada.
“Vee ini juga sulit bagiku!” tegas Yunna.
Menyipitkan mata, “Apa yang sebenarnya kamu coba sembunyikan dariku?”
Yunna menunduk menangis, “Vee ... ini semua kesalahanku!”
Mendekat, merangkul sahabatnya, “Yun, kita bersahabat sejak lama. Dan aku tahu kamu berubah akhir-akhir ini. Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Aku akan menceritakannya, tapi berjanjilah satu hal padaku.”
“Apa?”
“Jangan membuat masalah dan bertindak gegabah.”
“Maksudnya?”
“Aku sudah berubah sejak mendapatkan pekerjaan tetap. Dan satu-satunya pria yang berhubungan denganku, kamu tahu sendiri kejadian tiga bulan yang lalu.”
“Pria itu?” Vee mulai geram.
“Vee, dia bukan orang sembarangan. Dia adalah tipe orang yang akan melakukan apapun untuk menyelamatkan nama baiknya. Dia memberiku cek kosong untuk menutup mulut. Dan bahkan dia sudah menandai tempat tinggal ku ini."
Geram, "Apa?"
"Aku takut Vee! Selama ini, aku merasa di bawah tekanan. Dan jika kehamilanku ini tersebar, dia pasti akan melakukan hal yang mengerikan."
"Lalu kenapa tidak mengugurkan saja!" tegas Vee.
"Mungkin, jika aku sudah melahirkan dan memperlihatkan anaknya yang masih bayi ... dia akan berubah pikiran.”
“Kenapa kamu masih berpikir seperti itu terhadap orang gila ini! Aku akan menemuinya!”
“Vee!” Yunna menahan tangan sahabatnya, “Kumohon, jangan terlibat dalam hal ini. Kamu mau kan pindah dan hidup dengan tenang bersama ku?”
Vee menundukkan kepala.
Ini juga berat baginya, tapi demi sahabatnya, dia pun akhirnya memutuskan.
“Kita kembali ke pesisir dan melanjutkan hidup di sana!”
Yunna terperangah menatap Vee berkaca-kaca.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanyanya.
“Aku akan seperti dulu!” Vee tersenyum pedih, berusaha membuat Yunna tenang.
Menggeleng, “Aku tidak mau menghancurkan masa depanmu Vee!”
“Jika kamu masih berkeras kepala. Aku juga akan berkeras kepala dan menemui pria itu!”
“Oke baiklah! Kita akan kembali ke pesisir. Tapi berjanjilah, jangan pernah menemui pria itu!”
“Aku juga sudah malas melihatnya sejak awal!” Vee tersenyum, mencoba menghibur Yunna.
...***...
Daniel tidak mengerti kenapa Vee tiba-tiba mengajukan surat pengunduran diri.
Dan sejak saat itu, dia tidak pernah melihat Vee lagi.
...***...
6 Bulan Kemudian.
Sekumpulan pemuda berkerumun membentuk lingkaran di dekat pesisir pantai.
Mereka bersorak dan terus berteriak penuh semangat melihat pertarungan sengit antara dua orang yang tengah berduel di sana.
“Stop!” teriak seorang wasit yang mengawasi pertandingan.
Vee menghempaskan nafas panjang. Dia membalikan badan sembari mengatur nafas yang masih terengah-engah.
__ADS_1
Dilepaskan hand warp yang membalut tangannya, lalu di eratkan kembali.
Pria paruh baya menghampiri membawakan sebotol air putih.
Rambutnya yang di ikat ke atas terlihat lepek, keringat membasahi kening juga sekujur tubuhnya.
Beberapa memar di wajahnya terlihat masih sangat baru. Meskipun begitu, dia tetap terlihat cantik dan semakin mengagumkan.
“Vee, kenapa sih harus menyiksa diri terus-menerus seperti ini!” paman Mail, orang yang sudah Vee anggap sebagai pengganti ayahnya ini memang selalu ada di dekatnya.
“Paman, aku butuh sekali uangnya!” ucap Vee sembari mengusap peluh dengan handuk kecil.
“Untuk wanita yang tidak benar itu?”
“Yunna gadis yang sangat baik paman!”
“Mana ada gadis baik yang hamil diluar nikah seperti itu!” menghempaskan nafas kesal.
Vee duduk meneguk air mineralnya.
“Sudahlah Vee! Dia itu hanya menjadi benalu dalam hidupmu! Sudah kubilang dari dulu, sebaiknya tidak usah berteman dengan wanita seperti itu!”
“Paman, ayolah! Jangan seperti itu. Yunna tidak memiliki siapa-siapa kecuali aku. Sebentar lagi dia melahirkan ... biayanya pasti sangat mahal.”
“Setidaknya lihat dirimu sendiri juga! Kamu berusaha sekeras ini hanya untuk dia?” menggeleng-gelengkan kepala, “Jangan menghancurkan masa depanmu. Sudah banyak sekali yang kamu korbankan untuknya!”
Tersenyum, “Selama aku masih bisa melihat Yunna bahagia. Aku sudah merasa puas ... yeah ... rasanya tujuan hidupku sudah tercapai!”
“Hya! Anak ikan! Bicaramu seperti seseorang yang memperjuangkan kekasihnya saja!”
Mendengus pelan, “Heh! Aku masih normal!”
“Ckk … ckk … ckk …!” paman Mail melihat lawan Vee yang sudah mulai bersiap bertanding kembali, “Pria dari kampung sebelah itu cukup tangguh juga!”
“Ini ronde terakhir! Aku pasti akan memenangkan pertandingan ini!” mempererat ikatan hand warp di tangannya sembari berdiri untuk bersiap.
...***...
Sementara itu, di kediaman Vee. Lima pria terlihat mengendap di dekat pintu masuk.
Logan dan keempat temannya yang sering nongkrong di pasar memang sengaja mendatangi kediaman Vee saat mereka tahu Vee tengah mengikuti tournament tinju jalanan di pesisir pantai.
Logan merupakan anak pertama dari Mang Lohan, orang paling kaya di daerah dermaga.
Bisa dibilang, mereka adalah sekumpulan preman yang biasa menarik pungutan liar kepada orang-orang pasar maupun para nelayan.
Aksi mereka harus dilakukan dengan hati-hati.
Karena jika sampai Vee mengetahui kelakuan mereka, Vee pasti akan menghajar orang-orang ini.
Pyaar!!!
Salah seorang menjatuhkan pot tanaman hias.
Sontak saja suara itu membuat Yunna terkejut.
Dia tengah memasak makan malam untuk Vee.
“Apa itu?” desisnya mematikan kompor.
Berniat memeriksa ke depan.
Logan melotot kepada temannya, “Hya! Goblok!” desis Logan kesal.
Pria itu menunduk ketakutan melihat Logan yang seolah hendak memukulnya.
Perut Yunna yang sudah membesar membuatnya kesulitan saat berjalan.
Dengan hati-hati dia membuka pintu, dan detik berikutnya, salah seorang teman Logan langsung membekapnya dan seorang yang lain menyeretnya masuk kedalam.
“Mmm! Lepaskan!” pekik Yunna tidak jelas.
Dia berusaha melawan, tapi dia tidak cukup kuat untuk melawan dua pria yang menahannya.
Logan dan yang lain memeriksa sekeliling.
Begitu dirasa tiada orang yang melihat, dengan senyum mesum dia menjilat bibirnya sendiri sebelum akhirnya masuk kedalam di ikuti teman-temannya yang lain.
Pintu dikunci dari dalam.
Yunna yang sudah sangat ketakutan sungguh tidak bisa apa-apa kecuali merintih dan menangis saat pria-pria itu menyiksa dan memperkosanya.
Yang dia khawatirkan adalah bayi yang ada di kandungannya.
Dia tidak berani melawan orang-orang ini, dia takut jika mereka sampai memukul perutnya.
Tidak apa jika mereka memukul wajah dan bagian tubuh lainnya. Asalkan, mereka tidak menyakiti bayi yang bahkan masih belum dilahirkan ini.
Memar di wajah, darah yang keluar dari sudut bibir, dan mata yang membengkak merah tidaklah sesakit perasaan yang saat ini dia rasakan.
Tubuhnya terkulai lemas dan dia hanya bisa berdiam pasrah dengan tetesan air mata yang mengalir perlahan.
Secara bergantian, pria-pria itu terus bersenang-senang memuaskan nafsu tanpa peduli jika darah juga sudah keluar dari alat vital Yunna.
Sambil menghisap rokok, yang sesekali puntungnya akan di tempelkan ke lengan Yunna, mereka tertawa terbahak menikmati kemenangan yang saat ini mereka dapatkan.
...***...
__ADS_1
Sebuah mobil Taxi terparkir di dekat dermaga.
Seorang pria dan dua anak laki-laki tampak duduk di dalam mobil yang sengaja tidak dinyalakan penerangannya.
Mereka duduk di bangku belakang.
Sementara pengemudi Taxi hanya menuruti perkataan pelanggannya yang menginginkan agar mobil diparkirkan di dekat area pertandingan street fighter pesisir pantai.
Pria kecil berusia 9 tahun tampak mendongak melihat pria dewasa di sampingnya.
“Tuan, kenapa kita tidak turun?” tanya pria kecil itu.
Dia terlihat sangat berantakan, kotor dan penuh luka memar baru di wajahnya.
Pria dewasa yang memangku anak laki-laki berusia 3 tahun tersenyum dengan tenang, “Apa kamu ingin ikut bertanding lagi?”
Melihat ke arah Vee yang tengah melayangkan pukulan keras ke wajah lawannya, hingga lawannya terpelanting mundur kebelakang.
Pria itu tampak terkulai lemas dan tidak bangun lagi.
Wasit pertandingan mulai menghitung mundur di dekat pria yang tumbang tersebut.
Karena lawan Vee sudah tidak mampu berdiri lagi. Vee dinyatakan sebagai pemenangnya.
Semua orang bersorak, memberikan tepuk tangan kepadanya.
“Nona itu hebat sekali!” menatap kagum dari dalam Taxi, “Aku ingin belajar darinya!”
“Entah kapan kita bisa menemuinya,” melihat ke arah Vee sembari mengelus rambut putranya yang masih kecil.
“Tuan mengenalnya? Kenapa kita tidak menemuinya?” tersenyum polos.
“Karena jika kita menemuinya, kita akan membuatnya berada dalam bahaya,” tersenyum menatap anak laki-laki disebelahnya, “Mulai sekarang, panggil aku 'mas' saja! Aku akan menganggap kamu seperti adikku sendiri. Dan aku sendiri yang akan memimpin jalanmu!” mengelus kepala pria itu dengan sebelah tangan yang lainnya.
Pria kecil itu kembali tersenyum mengangguk senang.
...***...
Paman Mail memberikan kantung kresek loreng kecil kepada Vee.
Mereka berjalan menuju jalan pulang.
“Apa ini?” tanya Vee melihat isinya.
“Tidak bagus jika anak gadis mempunyai memar di wajah seperti itu!”
“Skin care?” mendengus tersenyum melirik pamannya, “Heh! Bukankah seharusnya memberiku obat merah?”
“Hya! Kamu itu seorang petarung, mana mungkin tidak punya obat merah di rumah!”
Terkekeh pelan, “Tapi kenapa harus skin care? Bagaimana paman membelinya? Paman tidak malu?”
“Aku juga punya anak perempuan di rumah. Dia yang membelikannya!”
Mendengus, “Huh! Tidak mungkin! Pasti paman sendiri yang membelikan ini 'kan?”
Salah tingkah membuang muka, “Setidaknya kamu tidak hanya memakai balsem saja di mukamu itu!”
Kembali terkekeh, “Hehehe! Terimakasih paman. Paman memang paling the best deh!”
Mencibir tersenyum, “Hya, jangan menjilat! Pokoknya kamu harus ikut melaut bersama kami besok malam!”
“Oke-oke! Karena aku sudah berjanji akan membayar jasa paman yang mau jadi asistenku malam ini, aku pasti akan menepati janji!” tersenyum riang.
Melihat ke jalan gang, “Mau mampir dulu? Istriku masak rendang hari ini.”
Menggeleng, “Yunna pasti sudah menungguku. Dia bilang, dia akan memasak untukku malam ini!”
“Cih! Kalian bukan pasangan. Kenapa terlihat romantis sekali satu sama lain. Yang satu bekerja dan satunya memasak di rumah!”
“Hya! Paman masih berpikir aku tidak normal?”
Terkekeh, “Hahaha! Aku bercanda ... kurasa aku harus mencarikan seorang pacar pria untukmu!”
“Hya!” protes Vee.
“Hahaha ... sudahlah! Sudah larut, cepat pulang sana!” mendorong pelan lengan Vee.
Tersenyum, “Salam buat istri dan anaknya paman!”
Mengangguk tersenyum.
Vee melambai sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya kembali menuju kediamannya.
Paman Mail juga ikut melambai, tersenyum ke arah Vee.
Dengan riang, Vee melihat segulung uang yang dia dapatkan barusan.
“Semoga cukup untuk keperluan Yunna dan bayinya kelak!”
Suara gelegar tawa membuat senyumnya lenyap.
Terlebih ketika dia tahu, suara itu berasal dari kediamannya.
“Yunna!”
Vee menjatuhkan plastik skin care yang paman Mail berikan padanya.
Dengan panik dia segera berlari ke rumahnya sendiri.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>' '<((((<...