RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
KEPUTUSAN FINAL


__ADS_3

Yazza berusaha menahan lengan Vee.



Bukannya ikut emosi, dia justru kembali terkekeh puas.


“Hahaha! Apa yang kamu bicarakan!”


“Hya! Daripada berselingkuh, batalkan sekalian pernikahan kita! Kamu bisa bersamanya … tidak perlu seperti ini!”


“Hya! Siapa bilang ada wanita lain?” ucap Yazza santai masih dengan senyuman geli.


Vee melepaskan cengkeramannya, menurunkan tangan menatap Yazza menyipitkan mata.


“Jadi selingkuhan mu seorang pria?” Vee langsung membelalakkan mata, menutup mulut dengan kedua tangan, “Kamu penyuka sesama jenis?”


“Hya! Kamu pikir balas dendam hanya bisa dibalas dengan kisah romansa juga?” protes Yazza mencibir mendengus membuang muka.


Menyipitkan mata, “Maksud kamu?” menurunkan kedua tangannya.


“Kita bukan remaja yang harus membalas perselingkuhan dengan perselingkuhan lainnya!” menahan senyum, “Yang jadi masalah sekarang adalah, seseorang yang berselingkuh tapi malah diselingkuhi oleh selingkuhannya!”


Vee terperangah terdiam menatap Yazza.


“Kenapa terlihat syok sekali?” mengambil lagi handphonenya, “Merasa familiar dengan perkataan ku tadi?”


“Hya! Apa yang kamu bicarakan!” sok cuek membuang muka.


Pura-pura menyembunyikan perasaannya.


“Pantas saja waktu itu langsung menangis dan bilang jika kamu sangat memahami bagaimana perasaan sakitnya diselingkuhi!”


“Aku tidak mengerti sama sekali dengan yang kamu bicarakan!” masih berusaha menutupi kebenarannya dari Yazza.


“Udah deh … jangan pura-pura lagi! Pak Ardi yang tadi menelepon. Dia menceritakan segalanya dan mengirimkan ini,” memperlihatkan foto Daniel, Tisya dan mamanya Daniel.


“Karma itu dibayar kontan ya!” lanjut Yazza sengaja mengolok-olok.


Melihat foto kedekatan mereka membuat hati Vee semakin hancur.


Wanita itu langsung membuang muka dengan mata yang berkaca-kaca.


“Sekarang aku paham, kenapa kamu langsung mau keluar dari White Purple dan berjanji tidak akan menemuinya lagi!”


Vee mencengkram bedcover yang menutupi kakinya.


“Hahaha, ini balas dendamku! Aku akan terus menjadikan ini sebagai bahan ejekan!” menoleh menatap ke arah Vee, “Bagaimana sakit bukan?”


“Hapus foto itu!” meneteskan air mata tanpa melihat ke arah Yazza.


“Nggak mau! Aku masih sangat bahagia melihatmu menangis dan bersedih begitu! Ini akan jadi pembalasan yang sempurna!” tersenyum mengejek.


Menghapus air matanya, menatap Yazza kesal.


“Cih!”


Vee menyingkirkan selimut turun dari ranjang.


Wanita itu menuju pintu wardrobe, berjalan cepat dengan isak tangis yang coba dia tahan.



Yazza menghela nafas panjang, senyumnya lenyap begitu Vee masuk ke dalam sana.


Sorry Vee!


Hanya dengan membuatmu terus bersedih dan meneteskan air mata setiap kali mengingatnya lah, yang akan membuat hatimu lebih kuat dan kebal nantinya!


Setelah semua kemarahan dan kesedihan itu tercurahkan, lama-kelamaan rasa sakit itu juga akan habis dengan sendirinya.

__ADS_1


Jadi … menangis lah jika ingin menangis!


Yazza tersenyum tipis melihat ke arah pintu di mana Vee bersembunyi saat ini.


...***...



Hirza menyambut kedatangan kakaknya, mas Rudi.


Melihat sekeliling, “Kok sepi, Xean mana?”


“Hari minggu kan dia ada latihan bela diri,” jawab Hirza datar.


Mereka berjalan menuju ruang keluarga.


“Ah … kenapa kamu tidak ikut menjaganya?” melihat ke arah Hans.


Cengengesan, “Kalau tidak karena terpaksa, dia mana mungkin mau satu mobil denganku!”


“Ckckck,” berdecak menggeleng, “kamu akan menjadi tangan kananya, seharusnya kamu lebih bisa merangkul anak itu!”


Hirza tersenyum, berisyarat dengan tangan untuk mempersilahkan duduk, “Xean justru paling nurut sama Hans. Hanya kadang memang lebih sering menunjukan sifat gengsi … silahkan mas!”


Duduk di sofa, “Yeah … wajar sih masih anak-anak! Kedua anakku juga sering begitu!”


“Emb, mas Rudi mau minum apa?” tanya Hans.


“Kopi saja!”


“Mbak kopi hitam satu!” teriak Hans ikut duduk di sebelah Hirza.


Hirza dan pak Rudi mengernyit menutup telinga.


“Shhh!” menyikut pelan pinggang Hans.


Pemuda itu tampak cengengesan menggaruk kepala yang tidak gatal, “Maaf!”


“Maaf mas, mereka memang kurang terdidik!” Hirza mencoba membela.


“Kamu juga! Jangan terlalu memanjakan mereka!”


Tersenyum, “Bukankah aku selalu diawasi untuk mendidik anakku dengan baik? Jika orang-orang tahu, aku mendidiknya dengan kekerasan, sepertinya banyak yang akan mengecam ku!”


Menghela nafas panjang, “Kamu memang memegang tugas yang besar! Jangan membuat malu nama baik ayah kita!”


Tersenyum, “Tumben mas Rudi ke sini, apa ada sesuatu yang penting?” tanya Hirza.


Kopi diturunkan di meja depan pak Rudi.


Mereka terdiam sampai asisten rumah tangga Hirza kembali melenggang pergi.


“Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu,” ucap pak Rudi dengan nada rendah..


Tersenyum lagi, “Sepertinya memang sangat penting.”


“Apa benar kamu sedang mencoba merusak pondasi Strom?” tanya kakaknya.


“Ya!” jawab Hirza singkat.


Menyipitkan mata, “Tapi kenapa? Jangan bilang, kamu tersinggung karena masalah Sky Light dengan Nirwana?”


“Memang sih, semua orang tahunya karena hal itu! Tapi ada alasan lain yang lebih mendasar sebenarnya,” Hirza menyandar santai


“Hah? Aku tidak mengerti!”


“Sejak Nirwana pindah tangan ke Ganny, Strom seperti sudah tidak memiliki kekuatannya lagi! Sebagai sarana money laundry saja sudah tidak bisa! Lalu kontribusi apa yang mereka berikan kepada kita? Well … karena sudah tidak berguna, kenapa tidak kita musnahkan saja sekalian!”


Menatap Hirza menghela nafas panjang, “Tapi bagaimana dengan orang-orang yang bekerja di bawah Strom?”

__ADS_1


“Pindahkan saja ke Sky Light, Paradise, Shadow, atau kelompok-kelompok lainnya!”


“Tidak bisa semudah itu dong!” debat kakaknya.


Hirza menatap Hans, tersenyum sinis.


Hans justru tampak menyipitkan mata.



Apa yang sebenarnya mas bro rencanakan ini?


Batinnya bertanya-tanya dalam hati.


“Sebenarnya aku punya satu pilihan untuk tetap membiarkan Strom bertahan,” Hirza kembali tersenyum licik.


Menyipitkan mata, “Hanya satu?”


“Yeah!”


“Apa itu?” pak Rudi sama penasarannya.


“Ganti pemimpin dan ganti sistem tugas kelompok mereka!”


“Maksud kamu?”


“Jika di Paradise ada pemimpin pengganti, maka kenapa tidak mencarikan seseorang yang bisa senasib denganku dan Xean?”


“Mas bro!” desis Hans menautkan alis menatap protes Hirza.


“Maksud kamu apa?” pak Rudi meninggikan nada.


“Karena Nirwana sudah tidak mungkin lagi kita kuasai, bagaimana jika menjadikan G Corporation sebagai gantinya?”


“Apa?” Hans terkejut setengah berteriak.


“Hirza!” pak Rudi sama terkejutnya, membelalakkan mata menatap adiknya.


Tersenyum santai, “Kenapa? Ada yang salah?”


“Kamu mau menunjuk adik ipar Tasya? Kamu yakin tidak sembarangan memilih orang … dia itu seperti anak ingusan … penakut! Pecundang sepertinya bagaimana bisa memimpin Strom? Melihat kematian saja dia mengompol,” protes mas Rudi dengan nada tinggi.


Tersenyum, “Karena dia belum terbiasa! Itu sebabnya aku juga ingin mengganti tugas utama Strom menjadi kelompok eksekutor saja!”


“Ini semakin tidak masuk akal!” protes pak Rudi.


“Mas bro lagi demam atau tidak enak badan sih? Bagaimana jika istirahat saja … pembicaraan ini di lanjut besok lagi saja,” Hans berusaha memutus arah pembicaraan.


Dia sendiri juga terkejut dengan keputusan Hirza.


“Hans benar! Kamu berbicara melantur,” pak Rudi menggeleng-gelengkan kepala.


Terkekeh, “Hahaha! Kenapa kalian meragukan aku? Aku berbicara serius!”


“Tapi itu mustahil Hirza!”


“Mas Rudi atur pertemuan dengan Mr. X, Gerry dan perwakilan Strom untuk membicarakan hal ini … saya yakin mereka akan bisa mengatasinya.”


“Sampaikan juga pada mereka, bahwa mas Rudi hanya memberikan satu pilihan ini saja jika mereka ingin tetap bertahan!”


“Anak pertama Tasya, adalah anak haram Gerry, adik iparnya sendiri, dan anak itulah yang akan menjadi pewaris utama!”


“Well … selama Gerry masih hidup, Strom akan dipegang oleh Gerry!”


“Ini sudah keputusan final, jadi jangan mengacaukan rencananya lagi!” pungkas Hirza tegas.


Pak Rudi kembali menghela nafas panjang menggelengkan kepala membuang muka.


Hans ikut menghela nafas panjang, menatap Hirza dengan tatapan memprotes.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2