RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
MANGGA MUDA


__ADS_3

Satu minggu terakhir, Vee begitu sibuk fokus untuk menyelesaikan proposal nya.


Yazza tengah bersantai duduk menyandar di atas ranjang sembari menonton televisi saat Vee datang menghampirinya.


“Malam sayang!” goda Vee duduk di sebelah suaminya.


Pria itu melirik mencibir ngeri begitu mendengarnya, “Haiz … tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak!”


Vee manyun mengerucutkan bibirnya, “Ckk! Tidak pernah menghargai niat baikku!”


“Hya! Tidak ada niat baik tanpa ada sesuatu dibaliknya … itu selalu berlaku bagimu!”


“Heh … aku hanya mau memberikan proposal ini,” memberikan map kepada Yazza.


“Lalu kenapa sok manis seperti ini? Lihat senyum itu! Kelihatan sekali palsunya!” Yazza kembali mencibir sembari menerima map.


“Cih! Meskipun palsu tetap saja masih manis kan?” ucap Vee manja masih berusaha merayu.


“Hya, jadilah seperti dirimu sendiri! Jika sampai ada yang tahu kalau kamu bisa berubah menjadi kucing, mereka mungkin akan mulai berpikir untuk mengadopsi mu!”


“Cih, aku kan hanya berusaha supaya hasil penilaiannya dipermudah!”


“Sudah kubilang! Aku akan professional menilai proposal ini,” melihat isinya sekilas, “Woah … kamu benar-benar bekerja keras menyelesaikan ini! Luka di bahumu bisa semakin parah!”


Memegang bahu lengan kanannya, “Hanya nyeri sedikit kadang, tidak apa-apa kok!”


“Hya! Bukan apa-apa kepalamu! Kamu pikir kamu itu apa? Robot?”


Vee kembali mencibir, “Cih … tidak bisakah khawatir dengan cara yang sedikit lebih lembut? Setiap kata yang terucap dari bibirmu selalu saja menyakitkan!”


“Cih! Aku pernah melakukannya!”


“Sepertinya dia hanya berkhayal saja,” gumam Vee bergumam lirih sengaja menyindir.


“Aku akan membaca. Buatkan kopi,” pinta Yazza santai.


“Siap!” Vee bergegas turun dari ranjang.


Tanpa basa-basi dia langsung berlari menuju pintu.


Melihat tingkah istrinya, membuat Yazza tersenyum geli menggeleng-gelengkan kepala.


“Astaga … dia bersemangat sekali!”


...***...


Hans tampak sedang fokus dengan layar laptop.


“Apa kamu sudah menemukan sesuatu?” tanya Hirza berdiri di belakangnya.


“Dia baru saja kembali ke rumah itu. Namanya Dania, seorang mahasiswi,” terang Hans menjelaskan identitas pengasuh Yve.


“Dia mengambil pekerjaan menjaga anak untuk membayar tagihan kuliah. Tidak banyak yang mengenalnya di kampus.”


“Meski dia cantik dan menarik, tidak ada satupun yang berteman dengannya! Seseorang mengatakan dia itu aneh, penyendiri dan menakutkan.”


Hans terdiam sejenak, matanya menyipit dengan kening berkerut, cukup ragu untuk melanjutkan.


“Well … pernah ada seorang pria yang dia dorong dari lantai dua, meski masih bisa tertolong tapi dia harus mengalami gangguan otak sampai saat ini. Pembelaannya sangat kuat, pria itu berniat melecehkannya, dan rekaman CCTV memang membuktikan pria itulah yang salah. Dia tidak dikeluarkan tapi imbasnya … dia dijauhi orang-orang,” pungkas Hans mengakhiri.

__ADS_1


“Jadi wanita ini memang menggantikan tugas madam Lia?” Hirza bergumam pada dirinya sendiri.


“Madam Lia? Bukankah dia mantan mata-mata dari Shadow?”


Hirza mengangguk tipis, “Kamu lupa jika dia juga terlibat dalam kasus penutupan aibnya Yazza waktu itu?”


Hans mencoba mengingat, “Ahh … aku baru ingat! Waktu itu dia ditugaskan menjadi pengasuh untuk menjebak sahabat nona Vee. Dan itu memang menjadi tugas terakhirnya sebagai mata-mata! Benar kan mas?”


Hirza kembali menganggukkan kepala tanpa menjawab.


Seolah menemukan keganjilan, Hans memicingkan mata setengah menoleh ke arah kakak angkatnya.


“Entah kenapa … dia malah kembali dipekerjakan begitu Yve diakui Yazza!” gumam Hans lirih.


“Karena dia sudah terikat dengan Shadow. Waktu itu Mr. Bald masih menaruh kecurigaan pada Vee, dan itu sebabnya madam Lia yang direkomendasikan untuk menjaga Yve. Tidak tahunya justru madam Lia-lah yang sudah mengungkap kebenaran tentang siapa Yve yang sebenarnya!”


“Ckk! Seharusnya nona Vee tidak perlu pindah ke kota ini!”


Hirza tersenyum tipis, “Aku merasa … aku juga mulai kehabisan ide! Terus menerus mengelabuhi Bayangan Mata dan orang-orang Shadow tentu sangat tidak mudah! Sedikit saja kesalahan, mereka bisa mengekspos jika kita selalu mengawasi Vee!”


“Delapan tahun mas … itu bukan waktu yang singkat! Jika mas tidak berkemampuan, tidak mungkin kita bisa bertahan selama itu untuk terus mengelabuhi mereka!”


“Tapi pada akhirnya … mereka berdua menikah juga!” ucap Hirza pilu sembari menundukkan kepala


“Mas … aku selalu tidak tega jika mas seperti ini!”


Hirza kembali mendongak, tersenyum menatap adiknya.


“Bahkan kita semua sudah tahu, apa akibatnya jika terus menerus melawan takdir,” menepuk bahu Hans, “Sebaiknya persiapkan diri untuk pertemuan besok. Karena tidak seperti biasanya … kali ini kita harus ikut berhadapan dengan orang-orang.”


Hans menyipitkan mata, “Hanya para tetua petinggi saja kan yang akan hadir?”


Mata Hans fokus menatap layar, “Eh … mas lihat ini!” potong Hans.


Perhatiannya teralih, Hirza menyipitkan mata, setengah membungkuk untuk ikut melihat ke arah layar.


“Ini sudah larut, kenapa dia terlihat senang sekali berlarian menuruni tangga?”


“Sepertinya menuju arah pantry dapurnya!” sahut Hans.


...***...


Pak Karno, pak Udin, bi Imah mbak Rosi dan dua satpam rumah Yazza tengah berkumpul di dekat kolam.


Vee yang hendak ke pantry tidak sengaja melihat mereka dari pintu kaca geser. Karena penasaran, dia pun menghampiri.


“Eh nyonya Vee,” sapa bi imah.


Semua hendak berdiri.


“Ah tidak usah! Santai saja,” Vee melarang mereka saat hendak beranjak.


Pak Udin cengengesan, “Hehehe … maaf nyonya! Kami berisik ya?”


“Tidak kok! Saya cuma mau bikin kopi untuk Yazza,” jawab Vee dengan senyuman.


“Eh … malam-malam begini ngopi? Mau lembur ya?” goda salah satu Satpam.


“Hush!” bi Imah memukul pelan lengan Satpam.

__ADS_1


Pak Karno dan yang lain hanya cengengesan menahan tawa.


Vee terkekeh pelan, “Bisa saja!” melihat ke tengah kerumunan, “Asik sekali … sedang apa sih?” melihat cobek berisi sambal gula merah dan sepiring mangga muda, “Wah … kelihatanya enak!” menelan ludahnya sendiri.


“Kebetulan pohon mangga di rumah ini sedang berbuah semua. Saya sudah minta ijin tuan besar untuk mengambil beberapa,” pak Udin tersenyum meringis..


“Saya mau juga dong!” Vee terus mengulum bibir dan ludahnya sendiri.


“Ini mangga muda nyonya! Tidak baik jika dimakan di malam hari, nanti sakit perut gimana?” melihat ke arah dapur, “Di dalam ada juga yang sudah matang. Kalau nyonya mau, besok saya siapin,” ucap bi Imah.


“Kalian juga makan dimalam hari. Kenapa aku tidak boleh?” cibir Vee mengerucutkan bibir.


“Itu karena kami semua bersantai nya saat malam seperti ini nyonya,” jawab Satpam terkekeh.


“Isshh … bi Imah! Minta sedikit dong … aku juga mau rujak mangga mudanya!” rengek Vee.


“Sudah … tidak apa-apa! Nyonya Vee sendiri yang meminta,” pak Karno tersenyum.


“Tapi sedikit saja ya nyonya? Takut dimarahi tuan Yazza nanti,” bi Imah masih ragu.


“Oke! Saya buat kopi untuk Yazza dulu, bi Imah siapin ya! Sekalian mau saya bawa ke atas.”


Bi Imah berdiri dengan susah payah, “Siap nyonya!”


Vee tersenyum senang.


Sekali lagi dia melihat mangga muda yang menggiurkan di atas piring, sebelum akhirnya mengikuti bi Imah masuk ke dalam rumah.


Begitu sampai di kamar, dia melihat Yazza sudah duduk di sofa. Fokus melihat isi proposal.


Tanpa kata-kata Vee menaruh baki di meja, menurunkan kopi dan mengambil piring berisi mangga muda dan sambal gula jawa.


Yazza melirik memicingkan mata, “Hya! Kamu mau makan itu di malam hari?”


“Kenapa? Mau? Minta sendiri sama orang-orang di bawah!” cibir Vee sambil menggigit mangga nya.


Seketika Vee langsung mengernyit dengan mengangkat kedua bahu.


Meskipun begitu, dia tetap menikmati dan mengunyah dengan nikmatnya.


Yazza mencibirkan bibir, “Cuih … hya … sengaja mau masuk rumah sakit lagi?”


“Kenapa harus ke rumah sakit hanya karena makan mangga muda?” bantah Vee.


“Ckckck!” berdecak menggeleng-gelengkan kepala, “Terserah kamu saja!”


“Hmph! Ini enak sekali!” terus melahap dengan riang.


“Hya! Jangan mengganggu konsentrasi ku!” protes Yazza.


“Cih! Baiklah … aku lebih baik turun lagi saja, bergabung sama bi Imah dan yang lain!” kembali berdiri sambil menenteng piring.


“Sangat sulit dimengerti! Kenapa mood swing nya berubah secepat itu! Tadi begitu manis, setelah memegang mangga masam dia jadi begitu!” cibir Yazza bergumam pada dirinya sendiri sambil melihat Vee yang berjalan menuju arah pintu.


“Aku rasa dia adalah siluman bunglon!”


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2