
Kisah tentang Dania yang di ceritakan Leo memang sulit untuk dipercaya.
Pasalnya, gadis itu terlihat kalem dan lemah lembut.
Bahkan, dalam perjalanan pulang setelah menjemput Yve dari Rumah Sakit, Vee masih saja kepikiran tentang hal itu.
Madam Lia duduk mendekap Yve yang tengah tertidur di pangkuannya. Wanita itu tampak mengernyit menyipitkan mata melihat Vee yang terdiam melamun sedari tadi.
“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran nyonya?” tanya Madam Lia hendak memastikan.
Vee menoleh, lalu pandangannya tertuju pada Yve yang terlelap pulas.
Begitu memastikan anak itu benar-benar tertidur, Vee kembali mendongak menatap Madam Lia.
“Madam … apakah Madam benar-benar tidak tahu … alasan kenapa kakek mendesak agar Madam kembali mengasuh Yve sebelum kepergian beliau?” tanya Vee lirih agar tidak membangunkan putrinya.
Wanita itu menggeleng, dengan mata menyipit dia balas menatap Vee hati-hati, “Beliau hanya mengatakan … jika beliau tidak bisa mempercayai siapapun selain aku untuk mengasuh nona Yve.”
“Aku dengar … kakek juga mendesak supaya Yazza cepat-cepat memecat Dania. Menurut Madam … apakah mungkin kakek menyimpan rahasia besar sebelum meninggal?”
“Sebenarnya … kemana arah tujuan pembicaraan nyonya? Saya tidak mengerti,” ucap Madam Lia menjawab defensive.
“Madam tidak perlu menutupi dari saya … saya sudah tahu tentang kejanggalan kematian kakek. Dan saya sudah mengambil alih kasus ini … Icha, Leo, pak Karno dan pak Ardi, sudah bergabung untuk bekerjasama dengan saya!”
Kali ini Madam Lia tampak terkejut membelalakkan mata menatap wanita di sebelahnya, “Tapi nyonya …-“
“Madam,” sela Vee memotong, “Emosi Yazza saat ini sedang tidak baik. Madam pasti berpikir sama seperti orang-orang yang juga menyayanginya … kalian semua tidak ingin jika Yazza mengulang kesalahan yang sama bukan?”
“Ma … maksud nyonya?” Madam Lia tampak gemetaran sekarang.
“Madam pasti tidak lupa dengan ibu dari anak yang sekarang ada dalam dekapan Madam kan?”
Seketika, ingatan Madam Lia kembali ke masa lalu. Masih tergambar jelas senyum dan kebahagian wanita yang di janjikan akan di nikahi tuannya itu. Tapi pada akhirnya, semua hanya tipu daya untuk menjerat wanita itu agar lebih mudah untuk di habisi.
Madam Lia menunduk salah tingkah, dia tidak lagi berani menatap wanita di sebelahnya.
“Anggap saja itu adalah keputusan buru-buru Yazza yang pada akhirnya menciptakan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dia masih muda waktu itu … tentu dia tidak mau menghancurkan imagenya dengan kehadiran Yunna dan Yve.”
Vee menghela nafas panjang lalu menghempaskan perlahan.
__ADS_1
Membicarakan tentang Yunna memang selalu membuatnya merasakan kesesakan yang menyiksa batin.
“Kali ini pikirannya sedang kacau … dan dia nyaris melakukan kesalahan yang sama. Aku hanya ingin menyelamatkan dia … jadi tolong … semoga Madam juga bisa memahaminya!”
Pak Karno yang menyetir di depan tampak melihat dari kaca spion atas, “Nyonya Vee benar … kami semua memang sudah sepakat untuk mendukung apapun yang nyonya Vee putuskan kedepannya.”
Mendengar pernyataan pak Karno, Madam Lia akhirnya mulai melunak, perlahan dia mengangkat kepala.
Rasa takut dan keraguan memang masih tergambar jelas di wajahnya, dia menoleh menatap Vee dengan sorot mata penuh penyesalan, “Maafkan saya nyonya!”
“Kenapa Madam harus meminta maaf?”
“Karena saya tahu saya salah … dan saya tidak berani menyelamatkan nyawa teman nyonya waktu itu!”
Dengan lembut Vee tersenyum.
“Yang lalu biarlah berlalu … meski saya sendiri pernah berpikir jika saya tidak akan pernah bisa memaafkan pelaku penghilangan nyawa Yunna … tapi pada akhirnya … hati manusia mudah sekali diluluhkan,” nada suara Vee terdengar kelu, matanya tampak sudah berkaca-kaca.
“Nyonya … saya sangat menyesalinya! Bahkan saya tidak pernah bisa melupakan binar kebahagian dari sorot mata sahabat nyonya itu sampai saat ini!”
Vee kembali tersenyum, dengan lembut dia mengelus bahu lengan Madam Lia, “Tugas kita sekarang adalah … menjaga supaya tidak ada lagi Yunna-Yunna yang lain setelah ini!”
“Saya sudah mengamankan mbak Rosi, dan tetap rahasiakan terlebih dahulu dari Yazza,” Vee kembali menatap Yve,”Dan tugas terpenting Madam adalah … menjaga Yve dengan sebaik-baiknya!”
Madam Lia menunduk, dia melihat wajah polos Yve yang masih pulas. Pengaruh obat membuat anak itu mudah sekali tertidur.
“Sebenarnya … alasan lain kenapa saya bisa sepenuh hati dalam mengurus nona Yve adalah karena rasa bersalah saya sendiri! Saya ingin menebus kesalahan masa lalu saya dengan cara ini. Hanya dengan menjaga nona Yve, saya bisa merasakan beban-beban yang berat menjadi sedikit lebih ringan.”
Vee kembali tersenyum, “Karena Madam Lia sudah berkata seperti itu … maka saya tidak akan ragu lagi mempercayakan Yve kepada Madam.”
“Nyonya tahu?” pak Karno sedikit menoleh lalu kembali menata ke jalanan, “Bahkan sampai akhir hayat tuan besar … beliau masih tidak pernah tahu tentang asal-usul nona Yve yang sesungguhnya!”
”Kami semua sepakat menjaga rahasia supaya kakek tidak terkejut dan terlalu banyak berpikir. Itu sebabnya beliau sangat marah pada tuan Yazza ketika beliau tahu jika tuan Yazza tidak bertanggung jawab menikahi anda sejak awal,” pungkas pak Karno.
“Yeah … aku juga memahaminya … itu sebabnya aku tidak bisa menolak untuk menikah dengan cucunya!” Vee mendengus tersenyum dengan nada bercanda.
Madam Lia ikut tersenyum tipis, “Nyonya jangan khawatir … saya akan menjaga nona Yve bahkan dengan nyawa saya!”
...***...
__ADS_1
Meeting dengan Paradise telah usai.
Jika Yazza dan pak Ardi buru-buru meninggalkan kantor Paradise, berbeda halnya dengan Daniel.
Pria itu bahkan sengaja menyuruh pak Didik untuk pulang terlebih dahulu agar dia lebih leluasa menunggu Hirza sepulang bekerja nantinya.
Tanpa di sangka, ternyata dia tidak perlu menunggu selama itu tatkala Hans datang menghampirinya di lobby kantor.
“Pak Daniel!” sapa Hans tersenyum ramah.
Daniel yang tampak linglung langsung terkesiap berdiri terkejut begitu melihat Hans berdiri di depannya.
“Aa … emb … pak Hans!”
Hans tersenyum cengingisan, “Haiz … jangan memanggilku seperti itu! Bahkan usiaku belum genap 17 tahun!”
“Ah … maaf!”
Hans melihat sekeliling, “Tampaknya … anda masih ada kepentingan di sini?”
“Aa … emb … itu … anu … saya … saya …-“
“Pak Daniel pasti ingin bertemu dengan kakak saya secara pribadi kan?” terka Hans menyela.
“Bagaimana anda tahu?”
Hans kembali tersenyum, “Kakak saya yang sudah menebak sejak awal! Dia merasa kalau pak Daniel ingin membicarakan sesuatu yang penting dengannya!”
“Aa … emb … apa beliau ada waktu?”
“Tentu saja! Itu sebabnya dia menyuruhku datang untuk menemui pak Daniel!”
Daniel meringis salah tingkah melihat CCTV di sudut-sudut ruangan, “Sepertinya saya bertingkah mencurigakan di sini!”
“Hahaha … pak Daniel bisa saja!” Hans menepuk pelan bahu belakang Daniel, “Mari ikut saya! Kakak saya sudah menunggu … beliau tidak sabar menantikan hal yang mungkin saja sangat menarik untuk di dengarkan!”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1