RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
MENUNTUT KEADILAN


__ADS_3


“Dimana ruang kerja pak Hirza?” teriak Tasya di dalam ruangan.


Semua orang menatapnya, tapi tidak ada yang berani menjawab.


Dari sudut pandang luar, ruangan Hirza memang tidak bisa terlihat.


Tapi dari dalam ruang kerjanya, Hirza bisa melihat dengan jelas semua kegiatan seluruh pekerja.


“Hei! Kalian semua tidak bisa berbicara?” sentak Tisya berteriak geram.


Salah seorang akhirnya mendekat, “Mari ikut saya!” dengan tatapan sinis, pria itu mengantar Tisya ke ruangan Hirza.


Mereka berhenti di depan pintu kaca dengan tag Manager tertempel di pintu.


“Mau menipuku?” sentak Tisya lagi.


“Kebetulan sedang ada renovasi di ruang kerja pak Hirza. Jadi … untuk sementara beliau bekerja di ruang ini,” meski pria itu tampak kesal, dia masih berusaha bersikap sopan.


Tisya mencibir langsung menggeser pintu.


Ternyata pekerja itu tidak berbohong, Tisya melihat Hirza berada di dalam ruangan tersebut.



“Ahh … tamu tak diundang dari langit rupanya,” sambut Hirza sembari tersenyum tipis.


“Maaf pak Hirza! Bukan maksud saya untuk lancang, tapi saya harus menemui dan berbicara pada anda!”


Hirza berdiri, berjalan menuju sofa, “Silahkan duduk!”


Tisya menghempaskan nafas, berjalan menuju arah sofa dan langsung duduk di sana.


Hirza duduk santai di single sofa.


“Jadi … apa yang membuat anda sampai senekat itu membuat keributan di sini? Bukankah ini sifat asli anda semasa masih remaja?”


Tersenyum sengit, “Sepertinya gosip di luar sana memang benar! Anda seperti mata Tuhan yang tahu segalanya!”


Tersenyum, “Kamu memang sangat mengagumi kakakmu … sampai-sampai mengubah sifat dan kebiasaanmu menjadi persis seperti dirinya! Lalu apa yang membuatmu sampai harus mengahancurkan image lemah lembut yang sudah kamu bangun bertahun-tahun ini?”


“Anda yang sudah menghancurkan semuanya!” geram Tisya.


Menyipitkan mata, “Saya tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan ini”


“Strom adalah milik keluarga kami! Kenapa anda memberikannya kepada orang lain?”


Terkekeh, “Sepertinya kamu salah orang! Aku tidak mengurusi hal-hal seperti itu. Datang saja dan marah-marah kepada pak Rudi!”


Mengepalkan tangan geram, “Jangan menyembunyikan jati diri lagi! Saya tahu anda adalah dalangnya! Semua keputusan pasti anda yang membuat … anda yang sudah mengatur segalanya!”

__ADS_1


Mendengus tersenyum, “Kamu salah menduga. Memang aku pemilik Paradise, tapi sama seperti Gerry … aku hanya pemimpin boneka! Hanya namaku saja yang digunakan, yang menjalankan bisinis tetap saja pak Rudi!”


Menyipitkan mata, “Anda pasti sedang berbohong untuk sembunyi tangan!”


Terkekeh, “Hahaha! Lucu sekali, aku sungguh tidak tertarik masuk ke dalamnya. Bahkan aku juga tidak tertarik dengan urusan orang! Jadi pergi saja ke tempat pak Rudi, dan komplain saja ke sana!”


“Lalu kenapa waktu itu anda membantu Teratai Putih di acara lelang? Anda sudah berniat dan merencanakan semua ini dari awal kan?” tegas Tisya lagi.


Hans berjalan santai sambil bersiul menuju ruang kerja Hirza.


“Eh, tuan Hans! Tidak bersekolah lagi?” sambut satpam.


Mengernyit mencibir, “Haiz … aku sudah terlalu pandai! Pelajaran di kelas terlalu mudah!”


“Hmph, alasan saja! Eh … kalau bolos itu paling tidak pergi ke tempat lain! Ini sudah tidak ke sekolah, malah sengaja datang ke kandang harimau, memang suka cari gara-gara deh tuan Hans ini!”


Terkekeh, “Hahaha! Mas Hirza itu kalau marah cuma keras di suara. Tapi sebenaranya dia tidak benar-benar memarahiku!”


Tersenyum mencibir, “Cih! Eh iya, beliau sedang ada tamu!”


Menyipitkan mata, “Tamu? Siapa?” melongok ke dalam, meski tidak bisa melihat.


“Wanita … galak banget! Tapi cantik sih!”


Semakin penasaran, “Jangan-jangan nona Vee, dia kan galak dan cantik,” gumam Hans lirih.


“Wanita itu membuat keributan! Sampai banyak orang yang berkerumun penasaran!”


Mengangguk, “Huh cantik tuan, godain gih!”


Hans kembali mencibir, “Ngajarin pelajar SMA kok gitu ish! Ku aduin ke mas Hirza nih!”


Mencibir, “Mana mungkin anda mengadu!” menengadahkan tangan, “Kopi dong tuan!”


“Nah kan! Orang pelajar gini kok dipalak!”


“Kalau begitu mentahannya juga boleh!”


“Cih!” Hans mencibir mengambil uang seratus ribuan. “Nih!” Hans kembali mencibir sambil berjalan masuk.


Terkekeh, “Hahaha! Cocok nih … terima kasih tuan!” satpam mengelus-elus selembar uang tersebut, “Lumayan!”


Hirza tersenyum, “Sepertinya kamu terlalu banyak berpikir. Aku hanya ingin mendapatkan lahan itu juga! Tapi Gerry malah menentangku!”


“Anda jangan berbohong. Jelas-jelas saya melihat perwakilan Teratai Putih menekan deal, tapi yang keluar justru nama Paradise! Begitu pula sebaliknya … anda melakukan deal di last minute, tapi kenapa justru nama Teratai Putih yang keluar?” hardik Tisya.


Hans masuk ke dalam ruangan.


Dia terkejut melihat yang datang ternyata adalah Tisya.


Tisya sempat menoleh sebentar lalu kembali menatap Hirza.

__ADS_1


Dengan gerakan halus, Hans mengambil handphone dan mulai merekam.



Hirza mendengus melihat aksi yang di ambil bocah SMA itu.


Meski Hans sudah berhati-hati, Hirza tetap saja bisa membaca gerakan dan maksud Hans.


Pemuda itu meringis tersenyum berjalan mendekat.


Hirza kembali menatap Tisya, “Anda jangan salah paham! Kejadian di acara lelang itu memanglah kesalahan saya! Saya ceroboh dan sampai tidak sadar jika tablet Paradise tertukar dengan milik Teratai Putih.”


Terkekeh mencemooh, “Anda mungkin bisa menipu orang lain! Tapi bagi saya … apa yang anda katakan itu sungguh alasan yang tidak logis!”


“Lalu apa yang sebenarnya kamu inginkan dari saya? Sudah jauh-jauh datang ke sini … pasti memang sudah ada hal yang diniatkan bukan?”


“Seperti yang sudah saya katakan di awal! Saya tidak terima jika Strom jatuh ke tangan orang lain!”


Tersenyum, “Saya juga sudah bilang … kamu salah orang jika menemui saya untuk membahas masalah itu!”


Hans menghentikan rekaman, terseyum tipis sembari mengirimkannya ke orang kepercayaan Strom.


...***...


Kebetulan waktu itu, Mr. X, Gerry dan Tasya tengah sibuk menyusun rencana dan tatanan baru Strom di rumahnya.


Begitu pesan dari Hasn masuk, tangan kanan Tasya langsung terperangah terkejut menatap bosnya.


“Kenapa? Seperti bukan sesuatu yang baik?” tanya Tasya penasaran.


Dengan panik, pria itu memberikan handphone ke Tasya.


“Nona Tisya sepertinya benar-benar sudah kelewatan!” ucapnya khawatir, “Kali ini nona Tisya sudah melakukan kesalahan besar dengan datang ke sana!”


Tasya tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa membelalakan mata geram melihat rekaman video itu.


Gerry langsung berdiri, “Kita harus segera menyusul!”


“Nyonya! Anda harus menenangkan diri!” Mr. X berusaha membuat Tasya tenang.


Wanita itu sudah mengepalkan tangan mulai terlihat tidak bisa membendung amarah.


“Kenapa anak itu membuat masalah!” Tasya berdiri kesal, “Yang ini saja kita masih berusaha merangkak untuk keluar dari lubang derita!” mendengus,“Cih!”


“Nyonya! Sebaiknya kita juga jangan terburu-buru mengambil langkah,” saran tangan kanannya.


Tasya menggeleng, mengatupkan bibir dengan rahang mengeras.


“Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan!” geramnya di sela gigi yang bergemeretakkan.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2