RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
CINCIN PETARUNG


__ADS_3

Leo mengangguk membenarkan.


“Tapi untuk apa? Dan apa tujuan mereka?” Yazza semakin menyipitkan mata dengan kening yang mengkerut.


“Kenyataan bahwa tawuran itu terjadi tepat saat kejadian rencana penculikan nona Vee, itu masih menjadi sebuah pertanyaan utama … singkatnya … kami masih berpikir, apakah penumpang gelap ini ada kaitan dengan Strom atau tidak!”


Membelalakkan mata menatap Leo, “Bukankah sudah jelas … mereka pasti sengaja menciptakan keributan untuk melancarkan aksi!” ucap Yazza geram.


Menggeleng, “Takutnya tidak sesimpel itu!”


Mengernyitkan dahi, “Maksudnya?”


“Seperti yang sudah saya katakan … kami masih mencoba mencari tahu! Memang … cukup masuk akal jika Strom sengaja menciptakan tawuran untuk mengalihkan perhatian agar rencana mencelakai nona Vee berjalan dengan lancar … tapi … menutup jalan hingga menciptakan rekayasa kemacetan yang begitu luar biasa seperti kemarin … rasanya mustahil bagi Strom untuk mengatur itu semua!” Leo menjelaskan.


Yazza tampak berpikir.


“Lagipula itu bukan gaya Strom!” Mr. Bald angkat bicara.


Menoleh ke arah pria gempal itu, “Itu memang bukan gaya mereka!”


Yazza membenarkan pernyataan Mr. Bald.


“Sudah sejak lama Strom terkenal bar-bar. Kejadian kemarin terlalu terperinci dan penuh kehati-hatian,” Icha duduk santai di sofa sembari melihat kuku jari yang di cat merah.


“Entah itu Strom atau bukan … bisa jadi yang melukaiku adalah salah satu dari penumpang gelap?” tanya Yazza skeptis.


“Itu yang sebenarnya ingin saya lihat,” Mr. Bald menghempaskan nafas panjang menyandar di punggung kursi lipat yang dia duduki.


“Tunggu … bukankah anda mengatakan jika ‘Bayangan Mata’ telah gagal?” Yazza semakin tidak mengerti, “Setahu saya, mereka tidak pernah gagal untuk mencuri data?”


“Mereka bilang … yang mereka hadapi bukanlah hacker biasa!”


Terdiam memikirkan sesuatu, “Atau mungkin Strom mendapatkan seseorang yang berbakat?” tanya Yazza.


Mr. Bald menggelengkan kepala, “Entahlah … yang jelas, semua data rekaman CCTV jalanan benar-benar hilang seolah tidak memiliki jejak. Bahkan masuk ke beranda system saja mereka tidak bisa menembus!”


Yazza menyipitkan mata, “Ngomong-ngomong … seperti yang sudah anda katakan sebelumnya, adik Tasya sudah kembali!”


Terkejut, “Oh? Lebih cepat dari yang saya perkirakan! Apakah mungkin ini adalah campur tangan dari dia?”


Menggeleng, “Saya juga tidak tahu!”


Vee membuka pintu.


Semua orang terdiam menatap ke arahnya.



Menutup kembali dari dalam sedikit salah tingkah.


“Ah, maaf tadi saya terburu-buru,” memberi hormat pada Mr. Bald, Icha dan Leo.


“Pak Leo apa kabar!” hanya dia yang Vee kenal.


Leo tersenyum, “Baik nona!”


Mr. Bald berdiri terkekeh, “Hahaha … jadi ini calon istri pak Yazza?”


Vee mendekat untuk berjabat tangan.


“Vee … dia Mr. Bald, bosnya Leo,” Yazza memperkenalkan.


“Heh … kenapa tidak sopan memanggil seperti itu!” desis Vee pada Yazza.


Mr. Bald memang botak, tapi tidak seharusnya Yazza memanggilnya begitu.

__ADS_1


Mr. Bald justru makin terkekeh, menepuk-nepuk bahu Vee pelan.


“Hahaha! Itu memang nama saya, Baldi! Karena saya memang identik seperti ini … orang-orang lebih mudah mengenal dengan sebutan Mr. Bald!”


Vee meringis salah tingkah, “Ah … terdengar cukup unik!”


Mr. Bald menoleh ke belakang.


Wanita sexy yang duduk santai di sofa menatap hormat.


“Icha … mana hadiah dariku untuk nona ini?”


Icha tersenyum, berdiri dengan anggun.


Pakaiannya ketat dan roknya pendek sekali.



Dia mengambil kotak dari dalam tas.


Langkahnya sudah bak model di atas catwalk.


Dia berjalan mendekat, “Semoga kamu suka,” memberikan kotak kepada Vee.


Menyipitkan mata, “Ini apa?” sembari membuka.


“Tuanku ingin sekali memberi hadiah karena sudah menangkap musuh pak Yazza … aku sendiri yang memilih … apakah bagus?” tanya Icha ikut melihat kotak yang saat ini Vee lihat isinya.


Sebuah cincin dengan mata pisau kecil yang terlihat cukup tajam.



Vee membelalakkan mata melihatnya, “Bagaimana saya bisa memakainya?”


Pisau itu bisa saja melukai dirinya sendiri.


Icha tersenyum mengambil cincin itu, memperlihatkan pemantik di bawah pisau.


Saat pemantik itu di tekan pisau kembali melingkar menjadi cincin biasa, dan saat di tekan lagi, pisaunya akan muncul.


Vee tampak tertegun takjub, “Woah! Keren sekali!”


Langsung memakai dan mencoba memainkan pemantik.



“Karena kamu terlihat hebat bertarung dengan tangan kosong, jadi cincin seperti ini memang cocok untuk berjaga-jaga!” Icha tersenyum lagi.


Menyipitkan mata, “Tunggu … terlihat hebat bertarung dengan tangan kosong?”


Itu artinya mereka mereka melihat saat aku bertarung?


Yazza mendengus tersenyum melihat ekspresi Vee.


Vee langsung menatap Mr. Bald, terkejut penuh tanda tanya.


Apakah dia seorang gangster?


Gumam Vee dalam hati.


“Hya … jangan banyak berpikir! Leo anak buah beliau, tentu Leo menceritakan apa yang sudah terjadi kepada Mr. Bald,” Yazza membuyarkan lamunan Vee.


“Jadi bagaimana? Kamu menyukai hadiah ini?” tanya Mr. Bald.


“Ini terlalu bagus, apa saya pantas menerimanya?” Vee tersenyum mengelus cincin petarung itu.

__ADS_1


“Tentu saja … asal jangan kamu gunakan untuk melukai calon suamimu ini! Kasihan … sudah banyak yang menginginkan dia celaka! Hahaha,” kali ini dia terkekeh pelan sambil melihat ke arah Yazza.


“Cihhh, bahkan saya juga salah satunya!” cibir Vee cengingisan.


“Hya … kembalikan saja kalau begitu!” dengus Yazza balas mencibirkan bibir.


“Hahaha … calon istri pak Yazza suka bercanda sepertinya!” Mr Bald terkekeh.


“Seorang peri seharusnya anggun dan lemah lembut … kenapa yang satu ini terlihat berbeda?” Icha tersenyum kagum melihat Vee dari ujung kepala sampai ujung kaki.


“Haiz … kenapa semua orang terpengaruh pria payah ini sih!” melirik Yazza.


Yeah … sebutan ‘peri’ pertama kali memang di ciptakan oleh Yazza, dan orang-orang mulai meniru menjuluki Vee dengan sebutan ‘peri’.


Leo tersenyum, “Pak Yazza tidak payah … dia hanya lengah karena terlalu khawatir kepada anda saat itu!”


Mencibir, “Cih,” melirik Yazza, “dalam beberapa hal memang tidak payah!” gumamnya lirih.


Yazza mendengus tersenyum kali ini, “Hya … paling tidak ucapkan terima kasih kepada Mr. Bald!”


Menatap Mr. Bald, “Terima kasih … ini sangat bagus sekali,” tersenyum senang masih sambil mengelus cincin barunya.


...***...


Madam Lia menemani Yve bermain ke rumah Caesar.



Dia sangat terkejut setelah ibu Caesar keluar hendak menemui mereka.


Tentu saja madam Lia tahu siapa wanita itu.


“Eh … ini teman baru yang sering Caesar ceritakan?” Tasya menggendong Cessa.


Caesar tersenyum antusias, “Iya Ma! Ini Yve yang waktu itu ngasih banyak oleh-oleh dari Bali!”


“Ah benar … terima kasih ya,” mengelus rambut Yve, “bibi Nany … tolong ambilkan minum dan camilan!”


Tasya menyuruh pengasuh Caesar untuk menyiapkan makanan.


Yve tersenyum sambil melihat Cessa, “Ini adik Caesar?”


Tasya menunduk menurunkan Cessa, “Benar sekali!”


Mengelus pipi Cessa gemas, “Lucu … menggemaskan!”


“Kamu juga lucu dan manis sayang,” puji Tasya lembut.


“Ma, aku mau ajak Yve main di kamar ya? Aku mau nunjukin mainan ke Yve!”


Mengangguk, “Boleh … nanti biar bibi Nany membawakan camilan ke kamar kamu!”


“Terima kasih Ma,” Caesar begitu antusias menarik Yve untuk segera mengikutinya.


Madam Lia tampak tersenyum menunduk hormat kepada Tasya sebelum ikut naik ke atas.


Tasya tersenyum tanpa menoleh ke arah anak-anak itu.


Mereka masih begitu polos!


Tidak seharusnya dilibatkan dalam urusan orang dewasa!


Mengelus wajah Cessa, tersenyum sinis sembari menoleh tipis ke arah tangga.


__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2