RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
BROTHERHOOD


__ADS_3


Membuat senang?


Ulang Daniel bertanya dalam hati.


Rasanya kemarin itu hanya sebatas pertemuan perpanjangan kontrak, tidak ada yang istimewa!


Kenapa tiba-tiba mengundang kita semua untuk makan malam?


“Apa pa? Sungguh kita di undang makan malam oleh pak Ganny?” bu Risma terkejut tidak percaya.


Mengangguk, “Ini kesempatan bagus untuk bisa mengembangkan White Purple. Karena pak Ganny langsung yang menghubungi papa, tentu saja kita semua harus hadir malam ini!”


Bu Risma tersenyum antusias, “Wuih, suatu kehormatan kita diundang masuk ke kediaman pemilik Nirwana. Kalau begitu mama harus ke salon siang ini! Mama juga harus mencari pakaian baru yang layak untuk pertemuan itu!”


“Apa papa juga perlu ke salon untuk facial? Biar muka papa kelihatan bercahaya! Hahaha,” pak Fauzan terkekeh.


Bu Risma ikut terkekeh lepas, “Hahaha! Papa bisa saja deh!”


Daniel hanya terdiam.


Ada beberapa hal yang masih mengganjal di dalam hatinya.


Apa yang membuat pak Ganny terkesan?


Haruskah aku memberitahukan kepada Vee tentang hal ini?


Tapi pak Ganny hanya mengundang keluargaku saja.


Daniel semakin dilemma dengan pemikirannya sendiri.


Kemarin Vee sudah terlihat muram saat melihat Daniel dekat dengan Tisya.


Jika Vee tahu, keluarga Nirwana mengundang Daniel, Vee pasti akan marah dan semakin kesal.


Daniel tidak mau itu terjadi.


Dia takut kehilangan Vee.


Tapi di sisi lain, dia juga tidak berani mengatakan dengan jujur jika dia akan pergi makan malam di rumah pemilik Nirwana kepada Vee.


...***...


Pak Ardi menjemput Yazza dan Vee siangnya.


“Jadi, kita mau ke mana dulu nih?” tanya Vee begitu di dalam mobil.


“Fitting gaun!” jawab Yazza singkat.


“Em, tuan! Pak Karno sudah mengabari, mungkin mereka akan landing sore nanti,” pak Ardi sesekali menoleh ke arah spion atas.


“Tunggu! Pak Karno?” Vee tampak mengingat-ingat, “Bukankah itu tangan kanan si kakek tua?”


“Iya, mereka akan datang hari ini. Pernikahan kita tidak lama lagi!”


“Kenapa tidak bilang kepadaku sebelumnya?” protes Vee.


“Supaya jadi kejutan saja!”


Mendengus, “Hya … jangan gitu dong. Aku belum mempersiapkan apa-apa untuk kakek!”


Menyipitkan mata, “Apa yang harus dipersiapkan? Dia akan tinggal lama di sini, jangan khawatir!”

__ADS_1


“Paling tidak aku bisa menyiapkan makan malam dan acara penyambutan!” mencibir kesal.


“Tidak perlu serepot itu! Kita bisa makan malam di restaurant!”


“Tetap saja lebih baik memasak sendiri!” melirik Yazza, “Kakek akan tinggal di rumahmu?”


Mengangguk, “Di mana lagi memangnya? Tidak mungkin kan aku juga mengajaknya tinggal di apartemen kamu?”


Menghela nafas, “Bagus deh! Itu artinya kamu juga tidak akan mungkin menginap di tempatku selama kakek berada di rumahmu!” membuang muka tersenyum menang.


Yazza hanya mencibir tersenyum melirik Vee.


“Terlalu cepat untuk merayakan kemenangan!” gumam Yazza lirih membuang muka.


Vee melirik ke arah Yazza.


Dia tidak mendengar dengan cukup jelas kalimat yang Yazza ucapkan.


“Ngomong apaan sih!” gerutu Vee sama lirihnya tidak terlalu mengambil hati.


Dia kembali membuang muka, melihat ke luar jendela.



...***...


Hans dan Ozzy tengah asik bermain game online di ruang keluarga.


Hari ini Minggu, mereka tidak bersekolah dan Hirza juga di rumah.


“Hey … kenapa kalian tidak ikut ke tempat pelatihannya Xean?”


“Nanti kami menyusul! Lagi war nih!” jawab Hans masih fokus menatap layar handphone.


Hirza menghempaskan nafas, menggeleng tipis sembari duduk menyalakan Tv.



“Oh iya pak Hirza, si kakek mata satu sepertinya akan segera mengundang anda untuk bertemu!” ucap Ozzy sama sibuknya seperti Hans tanpa menoleh menatap Hirza.


Menoleh terkejut, “Apa?”


“Halah … pasti juga berkaitan dengan Strom!” sahut Hans santai.


“Hya … orang itu tidak bisa dianggap remeh!” Hirza mulai khawatir.


“Kakek mata satu kan dekat dengan mendiang pendiri Strom, dan aku dengar dia cukup tertarik kepada Mr. X … kabar angin pasti sudah sampai ke telinganya dan dia tidak bisa tinggal diam,” sesekali Hans menoleh.


“Bagaimana dengan respon atau tanggapan dari mas Rudi, apa dia sudah tahu?” tanya Hirza.


“Mereka sudah bertemu, itu sebabnya saya mengatakan jika ada kemungkinan juga kalau kakek itu mau menemui anda!” jawab Ozzy santai.


“Tumben mas Rudi tidak langsung menghubungi aku? Biasanya dia akan langsung mengomel dan memarahiku,” gumam Hirza bertanya ada dirinya sendiri.


“Aku yakin, mas Rudi pasti sudah berusaha susah payah untuk melindungi mas bro!”


Hirza menghela nafas panjang.


Dia tahu, kakaknya memang akan selalu menutupi semua kesalahannya.


Itu yang membuat Hirza sering merasa bersalah sendiri dan kasihan pada beban yang harus di tanggung kakaknya.


Ulah apapun yang Hirza lakukan, mas Rudi selalu menjadi orang terdepan yang akan menyelesaikannya.

__ADS_1


...***...


Ganny datang ke rumah Gerry tanpa pemberitahuan.



“Mas Ganny! Tumben sekali datang ke sini!” Gerry cukup terkejut.


Dari ekspresi wajah Ganny, sepertinya ada hal yang tidak dia sukai saat ini.


Ganny masuk langsung melihat ke sekeliling, “Cewek matre itu mana?”


“Berli?” Gerry balik bertanya.


“Memangnya berapa banyak wanita yang kamu simpan di dalam rumahmu?” Ganny berjalan menuju sofa.


“Sudah dari pagi tadi dia pergi shopping dengan teman-temannya,” melihat ke arah dapur, “Mbak, buatkan kopi untuk mas Ganny!”


Mengangguk, “Baik tuan!”


Ganny duduk mendengus mencibir, “Lihat … sampai kapan kamu akan dibodohkan olehnya? Dia hanya tahu shopping, spa, salon, dan hal-hal yang tidak penting lainnya!”


Ikut duduk, “Mas, aku sebenarnya juga sudah capek dengannya. Hanya saja, masih belum tahu bagaimana cara melepaskannya!”


“Memangnya apa yang kamu jaga darinya!” sentak Ganny.


“Dia sudah bertahun-tahun bersamaku mas. Banyak rahasia perusahaan yang dia ketahui. Jika aku memutuskannya tanpa alasan yang jelas, dan membuatnya menjadi marah, orang pertama yang akan dia datangi sudah pasti Yazza! Saingan bisnisku!” Gerry tampak frustasi.


“Bagaimana jika mas yang membantumu untuk mengusirnya?” Ganny menatap adiknya.


“Bagaimana mas akan melakukannya?”


Asisten rumah tangga Gerry menurunkan kopi di meja.


Keduanya terdiam untuk beberapa saat.


“Tentu saja dengan mencaci-maki secara langsung!” tegas Ganny.


“Apa itu akan berhasil? Dia akan merengek dan memohon kepadaku!” Gerry cukup ragu.


“Sudahlah, serahkan saja kepada mas!” menepuk bahu Gerry.


Menghempaskan nafas panjang, “Baik deh kalau begitu!” terpaksa menurut.


“Ah … mas ke sini bukan hanya untuk hal tidak berfaedah itu! Ada hal yang ingin mas sampaikan!” Ganny mengambil cangkir kopi dan menyeruputnya seteguk.


Menyipitkan mata menatap kakaknya, “Apa itu mas?”


“Nanti malam kita mengadakan acara dinner dengan keluarga White Purple. Mas mau, kamu juga ikut datang!”


“White Purple?” ulang Gerry.


“Ya, dan ini akan menjadi acara makan malam yang sangat mengejutkan nantinya,” Ganny tersenyum tipis.


“Apa itu mas?” Gerry penasaran.


“Datang saja, kamu juga akan tahu nantinya!”


Gerry mengerutkan kening dengan alis yang bertautan menatap kakaknya penuh tanda tanya.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2