RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
CARI PERHATIAN


__ADS_3


Vee sudah bersiap untuk meeting malam ini.


Dia sudah menghubungi Daniel, memberitahukan jika pria itu tidak perlu menjemputnya.


Yazza berkeras untuk ikut.


Vee tidak bisa melarang, begitu pula Daniel.


Meski Daniel cukup kecewa karena kehilangan kesempatan berdua dengan Vee, tapi dia mencoba bersikap profesional.


Terutama di hadapan Yazza.


Dia tidak mau menimbulkan kecurigaan dan membuat Vee dalam masalah jika sampai ketahuan.


“Lama banget sih!” Yazza memakai jam tangan melirik Vee yang masih memakai stocking di sofa ruang tamu.


“Dih … udah ngotot mau ikut, bawel pula!” cibir Vee.


“Tuan, dasi anda sedikit miring!” Dania maju mengulurkan tangan hendak menyentuh Yazza.


Langsung mundur menghindar, “Apa-apaan kau? Jangan menyentuhku!” sentak Yazza.


Vee langsung mendongak menoleh.


Dania tersenyum mundur kembali menurunkan tangannya, “Ah maaf!”


“Lancang sekali!” berjalan menuju pantry.


“Mama nanti pulangnya malam ya?” Yve duduk di sebelah Vee.


“Mama juga tidak tahu sayang. Nanti tidurnya jangan terlalu larut ya?”


Mengangguk, “Oke … siap komandan!”


Vee tersenyum gemas menatap putrinya.


Yve tampak memikirkan sesuatu, “Eh … iya … hampir saja lupa lagi!”


“Apa itu sayang?” Vee kembali menoleh, menyipitkan mata.


“Tentang ikut latihan bela diri … apa Yve diijinkan? Besok hari minggu, kebetulan minggu adalah salah satu hari latihan!” Yve terlihat sungkan menanyakannya.


“Coba tanya pendapat papa Yazza?” tersenyum lembut.


Melihat Yazza yang mengambil botol air dari dalam kulkas, membuat Dania bergegas mengambilkan gelas yang langsung disodorkan ke Yazza.


Yazza melirik tajam memicingkan mata.


Lagi-lagi Dania tersenyum kembali menurunkan tangannya, menaruh gelas ke tempat sebelumnya.


“Papa, Yve boleh ikut bela diri?” tanya Yve.


“Terserah saja!” dengan acuh minum dari botolnya.


Yve melihat Vee sedikit muram, “Ma, papa marah karena Yve mau ikut bela diri ya?”


Menggeleng mengelus rambut putrinya, “Tidak! Kan mama sudah bilang, dia mirip bajak laut yang sebenarnya kan?” cibir Vee berusaha menghibur Yve.


Tersenyum, “Jadi Yve diijinkan ikut?”


Vee tersenyum mengangguk.


“Yes! Yve mau ngasih tahu Caesar dulu!” segera berlari ke kamarnya.


Vee tersenyum berdiri menatap Yazza, “Ayo berangkat!”


Menutup kulkas, “Hmmm!” berjalan mendahului menuju pintu.


Dengan gesit Dania langsung membuka kan pintu terlebih dahulu.


Yazza kembali memicingkan mata, melenggang tanpa kata-kata.


“Silahkan tuan dan nyonya!” ucapnya tersenyum ramah.


Vee tersenyum, “Terimakasih! Jaga Yve baik-baik ya!” mengikuti di belakang Yazza.


“Tentu nyonya!” mengangguk hormat.


Yazza menarik lengan Vee.


“Hei! Aku bisa jalan sendiri!” mengimbangi langkah cepat Yazza.


Keduanya masuk kedalam lift.


“Kurasa ada yang aneh darinya! Akan ku minta pak Ardi mencari pengasuh yang lain!” ucap Yazza di dalam lift.


“Hya! Siapa memangnya yang tidak kamu curigai sebagai orang aneh?” mencibir, “Kurasa otakmu yang ada kelainan!”


Melirik tajam, “Apa maksudnya? Lihat sendiri tadi ‘kan? Dengan lancing, dia hampir saja menyentuhku!”


“Dia hanya berniat baik mau membantu. Kurasa dia anaknya cukup bekerja keras dan berusaha melakukan yang terbaik, makanya dia seperti itu. Bukankah sangat bagus, gadis seusia dirinya sudah bisa berusaha menunjukan kerja kerasnya?”


Yazza mencibir, “Tetap saja terlalu lancang!”


“Cih!” menyilangkan tangan di perut membuang muka.

__ADS_1


...***...


Daniel sudah menunggu di restaurant tempat untuk meeting.



Dia berdiri begitu melihat Yazza dan Vee datang.


“Malam pak Yazza!” tersenyum menyambut.


“Malam!”


Keduanya berjabat tangan.


“Eh, belum datang?” Vee celingukan karena mereka masih di lobby tunggu dekat kasir.


“Belum sih! Tapi ruangannya sudah disiapkan.” Daniel melihat Yazza, “Pak Yazza duduk saja dulu!”


Tersenyum, “Terima kasih!”


“Maaf ya pak Daniel, dia memaksa ikut!” Vee menatap Daniel merasa bersalah.


“Jangan khawatir, aku tidak akan ikut masuk ke dalam ruang meeting kalian!” Yazza cuek membuang muka.


“Emb, masuk juga tidak apa-apa. Lagipula, White Purple juga sudah bekerja sama dengan Teratai Putih kan?” Daniel cengengesan.


“Tidak pak Daniel! Saya masih punya etika,” nada bicaranya datar.


Vee mencibir, “Cih!”


Menyenggol lengan Vee, “Apa aku menyinggung pak Yazza?” desis Daniel.


“Ah tidak! Jangan pedulikan. Ucapannya memang selalu menusuk seperti itu,” balas Vee ikut mendesis.


Menghela nafas melihat ke arah Yazza.


Tisya diikuti Mr. X berjalan anggun memasuki pintu.


Yazza langsung menoleh menatap ke arahnya, diam tanpa kata-kata.


Tisya tersenyum sinis melihat Yazza di depan sana.


Kenapa bukan Tasya atau Ganny yang datang!


Yazza menyipitkan mata bertanya dalam hati.


“Eh, itu mereka!” Vee menarik lengan Daniel untuk bersiap menyambut.


Daniel berdiri tegap, merapikan jasnya.


“Selamat malam!” sambut Vee hangat.


“Lagi?” Yazza melihat ke arah Vee.


“Emb … acara lelang,” Vee salah tingkah, mencoba menutupi tentang acara pesta ulang tahun kemarin.


Tisya kembali tersenyum melihat ke arah Yazza, “Hallo Yazza! Long time no see!”


Yazza membuang muka acuh.


“Emb … maaf! Bagaimana jika kita langsung saja ke privat room tempat meeting!” Vee berusaha menutupi sikap tidak mengenakan Yazza.


Jika kelamaan berhadapan seperti ini, takutnya Tisya akan membahas tentang kemarin.


Vee tidak mau jika Yazza sampai tahu kalau teman Yve berasal dari keluarga saingannya.


Akan menimbulkan keributan lagi pastinya.


“Ah benar, mari bu … jangan kelamaan berdiri di sini, nanti saya dikira tidak bisa menyambut klien dengan baik. Hahaha,” Daniel mencoba membuat lawakan, “Langsung ke ruangan saja bu!”


Tersenyum, “Boleh tentu saja!” melihat Daniel dari atas sampai bawah, “Jadi ini CEO muda yang sedang banyak diperbincangkan itu? Sangat berbakat, humoris, menyenangkan dan menjadi salah satu contoh pemimpin sukses dengan gaya kepemimpinan yang unik.”


Daniel tersenyum meringis, “Ah … mereka hanya melebih-lebihkan!”


Tersenyum, “Masih terlihat sangat muda dan tampan!”


Tersenyum sipu, “Bisa saja anda ini!”


“Kalau begitu, mari langsung saja!” mengisyaratkan untuk memimpin jalan.


Vee menunduk hormat, berisyarat untuk meminta ijin berjalan mendahului.


“Tidak ikut?” tanya Tisya menoleh ke arah Yazza.


“Aku hanya mengantar calon istriku! Takutnya seseorang dengan sengaja hendak menyakitinya!” sindir Yazza melirik tajam Mr.X.


Tisya sedikit menoleh ke arah Mr.X, “Jangan khawatir! Di sini kami membawa nama Nirwana untuk membahas tentang bisnis.” Menepuk bahu Yazza, “Berbeda ceritanya jika kita datang sebagai Strom!”


Menyentakkan tangan Tisya, langsung mengelap bahunya seolah habis terkena kotoran.


“Aku rasa, aku harus segera membuang jas ini. Najis yang menempel sulit dihilangkan!”


Tisya tersenyum sengit dengan hati yang sudah penuh oleh luapan amarah.


“Memang tidak pernah berubah sedikitpun!” berjalan meninggalkan Yazza.


Mr.X memberikan hormat secara formal sebelum kembali mengikuti Tisya.

__ADS_1


Yazza menoleh, “Jika dia yang datang, bukankah lebih mencurigakan?” gumam Yazza lirih.



Daniel menarik kursi untuk Tisya.


Tisya tersenyum berjalan mendekat.


Sejengkal lagi mencapai kursi, kaki kanan Tisya tergelincir.


“Aaaaa!”


Dengan sigap Daniel menahan tubuh Tisya.


Vee berdiri panik melihat ke arah Tisya.


“Bu Tisya tidak apa-apa?” tanya Daniel.


Tangan Tisya melingkar di tengkuk leher Daniel, dengan senyum menawan dia menatap Daniel tanpa kata-kata.


Daniel menyipitkan mata,”Bu Tisya?”


“Ah maaf!” Tisya kembali berdiri tegak.


Hanya mereka bertiga sekarang di dalam ruangan.


Mr.X berjaga di depan pintu.


“Kaki bu Tisya baik-baik saja?” tanya Vee.


Tisya duduk sedikit meringis kesakitan, “Sepertinya terkilir.”


Daniel langsung jongkok di hadapan Tisya, “Biar saya lihat!”


“Ah, maaf merepotkan,” Tisya tersenyum.


Vee kembali duduk menghela nafas panjang.


Dengan anggun, Tisya mengangkat kaki.


Rok yang dia kenakan terlalu pendek, membuat Daniel menjadi salah tingkah begitu melihat bagian dalamnya.


Daniel menunduk membuang muka memegang kaki Tisya, “Maaf!” memutar badan memunggungi wanita itu.


Tersenyum, “Pak Daniel bisa mengurut?”


“Ya, sedikit.” Jawab Daniel.


Melihat Daniel sedekat itu dengan Tisya, bahkan menyentuh kaki wanita lain, membuat Vee menjadi muram.


“Maaf karena saya kurang berhati-hati,” Tisya mengelus bahu Daniel.


Daniel merasa canggung, tapi tidak berani menegur Tisya.


Kok aku jadi insecure ya!


Gumam Vee dalam hati, begitu melihat tatapan Tisya yang tampak sangat terpesona menatap punggung Daniel.


“Pak Daniel belum menikah kan?”


Tersenyum tanpa menoleh ke belakang, “Tidak ada yang mau sama saya!”


“Itu mustahil. Pak Daniel sangat tampan dan berbakat, bagaimana dengan pacar?” tanya Tisya lagi.


Daniel melihat ke arah Vee, salah tingkah dan ragu untuk menjawab.


Tisya ikut menoleh ke arah Vee, “Nyonya Gionio pasti tahu, pak Daniel dekat dengan siapa-siapa saja.”


Deg!


Entah kenapa Vee merasa tersindir dengan kalimat itu.


“Anda adalah sekertaris pak Daniel, tentu anda banyak menghabiskan waktu dengan pak Daniel.”


Vee tersenyum canggung, “Ah … benar!”


“Jadi, apakah pak Daniel sudah ada kekasih?” Tisya tersenyum seolah tanpa beban.


“Emb …,“ melihat ke arah Daniel yang tampak menyipitkan mata, “pak Daniel dekat dengan semua wanita di kantor!” Tersenyum, “Dia terlalu ramah kepada semua orang, sampai saya sendiri tidak tahu, siapa yang sebenarnya dekat dengan pak Daniel.”


Terkekeh, “Hahaha, jika ramah kesemua orang begitu, biasanya sih belum punya kekasih. Soalnya tidak khawatir jika hati yang dia jaga menjadi cemburu.”


Terkekeh pelan, “Ibu Tisya bisa saja!”


“Lalu, apakah belum ada rencana untuk menikah, apalagi yang pak Daniel cari?” suara Tisya terdengar semakin manis.


“Masih ada banyak hal yang ingin saya capai. Terutama menaikan nama White Purple sampai sebesar nama Nirwana.”


Tisya kembali terkekeh, “Nirwana semakin melambung ketika ayahku menikah dengan ibuku. Untuk sebagian orang, kesuksesan biasanya didapat setelah pernikahan.”


“Apa bu Tisya punya referensi? Barangkali ada yang mau sama saya!” goda Daniel.


“Kalau saya bagaimana?” tanya Tisya menggoda.


Vee langsung menatap Tisya terkejut tanpa bisa berkata-kata.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2