RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
BARA DALAM HATI


__ADS_3


Deg!


Apa yang baru saja di ucapkan paman Mail terdengar sangat tidak masuk akal.


Daniel menggelengkan kepala menatap mengernyitkan dahi, “Itu tidak mungkin!”


Paman Mail membalikkan badan memunggungi Daniel.


Pria itu tersenyum mencemooh, “Si gadis bodoh itu sudah menghancurkan hidupnya sendiri dan mengorbankan masa depannya untuk anak haram orang lain!”


“Maksud paman?” Daniel tercengang menggeser badan untuk kembali berdiri di hadapan paman Mail.


“Yve memang putri kandung Yazza, tapi dia bukan putri kandung Vee!”


“What?” pekik Daniel setengah berteriak.


Paman Mail membuang muka melihat ke arah kolam.


“Vee tidak ingin putri Yazza ini tahu jika dia bukanlah ibu kandungnya! Demi kebahagian anak haram orang lain ini … Vee begitu bodoh menuruti kemauan Yve! Termasuk menikah dengan orang yang sudah membuat sahabatnya menderita sampai ke ajalnya,” mengangguk-anggukkan kepala, “Yeah … anak itu adalah anak sahabat baik Vee!”


Daniel menggeleng tidak percaya, kakinya terasa lemas seketika.


“Itu tidak mungkin! Jika Yve bukanlah putri kandungnya … bagaimana Vee sampai harus segitunya demi Yve!”


“Itulah kebodohannya!” paman Mail mulai ikut emosional.


“Tapi, bukankah ini masih terdengar tidak masuk akal? Putri sahabatnya?”


“Kami orang-orang terdekat Vee di pesisir tidak suka jika Vee berteman dengan wanita ini. Dia bukan wanita baik-baik! Bahkan saat wanita itu hamil diluar nikah, Vee yang harus bekerja keras membiayai seluruh kebutuhan temannya ini … termasuk biaya melahirkan dan kebutuhan untuk Yve sejak masih bayi!”


“Lalu kenapa harus Vee yang merawat anak itu?”


“Sahabat Vee meninggal dan Vee memutuskan untuk menjadi ibu dari anak itu,” paman Mail menundukkan kepala, “Vee tiba-tiba pindah tanpa berpamitan … dan aku baru tahu baru-baru ini … ternyata dia melakukannya karena untuk menghilangkan jejak guna menghindari ayah kandung Yve!”


“Maksud anda pak Yazza?”


“Siapa lagi?” sentak paman Mail geram.


Daniel membuang muka, “Pantas saja Vee tidak ingin bertemu pak Yazza dan terlihat begitu membenci pria itu!” gumamnya lirih.


“Yang membuatku merasa kesal dan semakin marah adalah … Yazza menjadikan Yve sebagai ancaman agar Vee mau menikah dengannya! Pria macam apa yang begitu tidak sadar diri dan tidak tahu malu seperti dirinya!” terlihat tangan paman Mail mencengkram pembatas kolam dengan sangat erat.


“Tunggu! Maksud paman … aku tidak mengerti … mengancam?” tanya Daniel penasaran menyipitkan mata.


“Seperti yang aku katakan tadi … Yve tidak tahu jika Vee bukanlah ibu kandungnya … dan Vee tidak mau jika Yve tahu tentang kenyataan itu! Yazza memegang rahasia kenyataan itu dan membuat Vee harus menuruti semua kemauannya …. bukankah itu sangat menjijikan?” paman Mail mengernyit mencibirkan bibir.


Kaki Daniel terasa makin lemas setelah mendengar cerita paman Mail, dia ikut mencengkram besi pembatas kolam, menatap kosong ke depan.


“Lagi-lagi dia menyimpan kejutan yang tidak pernah aku tahu!” gumamnya lirih.

__ADS_1


Paman mail menghempaskan nafas panjang.


Dia melepas cengkraman, lalu menoleh ke arah Daniel, “Ketika pertama melihat kalian berdua di dermaga … aku menyadari sesuatu … kebahagian Vee ada pada dirimu!” Mendengus, “Cuih … lihat sekarang … Vee sampai harus terlibat bahaya karena dekat dengan Yazza!”


“Paman … aku tidak tahu harus berbicara apa lagi!” ucap Daniel lemas.


“Dari awal aku sudah menduga … ada yang tidak beres dengan suami Vee! Untuk menemui ku saja harus mendatangkan dua preman yang menyeramkan guna mengatur rencana pertemuan!”


Tiba-tiba saja Daniel teringat sesuatu.


“Benar! Pak Yazza adalah pebisnis hebat … dia pasti banyak saingan. Bukankah semakin tinggi kita terbang, angin yang menerpa juga semakin kencang? Tidak heran jika dia juga berurusan dengan banyak preman! Memang sudah menjadi gossip sejak lama jika pak Yazza selalu di kawal para preman!”


“Vee sudah seperti putriku sendiri … jika masih tahu Vee bersama orang yang tidak baik, sampai matipun aku tidak akan bisa tenang!” melihat ke arah Daniel, “Kenapa kamu tidak mencoba memperjuangkannya? Dia pasti akan jauh lebih bahagia jika hidup bersamamu!”


Daniel kembali terdiam tidak bisa berkata-kata.


Dalam lubuk hatinya, seperti ada percikan api yang siap meletup jika terpicu sedikit lagi saja.


“Kuncinya memang ada pada Yve! Tapi sebagai orang tua … apakah kita tega menyakiti perasaan anak-anak? Rasanya memang tidak mungkin,” paman Mail kembali menatap kosong ke arah kolam.


Yeah ….


Bahkan jika aku ada di posisi Vee … aku juga tidak tega menyakiti perasaan Yve.


Jika dia sampai mengorbankan perasaannya sampai seperti ini, aku rasa itu memang yang paling benar.


Daniel bergumam dalam hati, menerawang membayangkan waktu kebersamaannya ketika bermain bercanda bersama Yve.


Aku sendiri juga tidak akan tega untuk merusaknya!


...***...



Operasi pengambilan peluru di bahu Vee berhasil dengan lancar.


Hanya saja, Vee belum juga sadarkan diri sampai tengah malam.


Ruang rawat Vee sudah gelap, Yazza sengaja mematikan penerangan agar Yve juga bisa beristirahat di sana.



Anak itu berkeras mau tetap tinggal menunggu mamanya bangun saat eyang buyutnya mengajak pulang.


Kek Gio dan pak Karno harus kembali ke rumah, mengingat kek Gio sudah sangat renta, tidak sepantasnya beliau ikut menginap di rumah sakit. Takutnya nanti malah masuk angin dan beliau tidak bisa beristirahat dengan nyaman.


Yazza mengelus kening Vee dengan lembut, “Hei … cepatlah bangun supaya aku bisa memarahimu! Rasanya ada yang kurang jika aku marah-marah tanpa ada yang mendebat!”


Meski Yazza sudah berusaha kuat, tetap saja matanya berkaca-kaca melihat wanita yang dia cintai dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja.


Pria itu menghempaskan nafas panjang.

__ADS_1


Dia menoleh ke belakang, Dania dan Yve tampak sudah terlelap di sofa.


Pak Ardi pasti masih ada di luar.


Aku tidak boleh tidur sebelum dia bangun!


Mungkin pak Ardi punya kopi!


Batin Yazza sembari berdiri meregangkan otot pinggang.


Begitu terdengar suara pintu tertutup, Dania langsung membuka matanya perlahan.


Dengan hati-hati dia meletakan kepala Yve yang tadi di pangkuannya ke bantal sofa.


Sekali lagi dia melihat ke arah pintu, memastikan jika Yazza tidak akan kembali masuk dalam waktu dekat.


Dengan senyum licik, gadis itu mengalihkan pandangan menatap Vee yang terbaring tidak bergerak di atas ranjang.


“Kenapa tidak mati saja sekalian! Aku sudah sangat siap menggantikan menjadi ibunya Yve kok!” gumam Dania berdiri.


Dengan langkah ringan, dia mendekat ke ranjang rawat Vee.


Dania tersenyum mencibir melihat wanita itu.


Jemarinya mengelus selang kabel infuse dengan gerakan gemulai dari atas ke tengah.



Detik berikutnya senyumnya sirna, berubah menjadi wajah garang seiring geraman tipis sambil mencengkram selang infuse.


Cairan yang harusnya mengalir menjadi tertahan.


Dania tersenyum melihat darah perlahan mulai naik dari pangkal ujung infuse.


Dengan santai dia kembali melepaskan.


Meski infuse sudah kembali mentes, darah di selang masih saja terlihat jelas.


Dania memiringkan sedikit kepalanya, tangan kanannya terulur ke depan.


Kali ini mengarah tepat ke arah selang oksigen.


“Ibu Vee pasti terganggu dan merasa risih dengan benda itu! Sini biar saya bantu menyingkirkannya!”


Senyum liciknya kembali mengembang saat jemarinya menyentuh masker oksigen.



...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2