
Memang sulit merubah persepsi seseorang yang sudah kadung melekat terlalu lama.
Bagaimanapun juga, Berli dan Yazza memiliki masa lalu yang tidak baik.
Tapi bukankah tidak salah jika mencoba membuat seseorang itu merubah pandangannya terhadap karakter orang lain?
Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, dan dorongan dari orang lain lah yang bisa memotivasinya untuk berubah.
Jika terus di biarkan, takutnya justru akan membuat orang itu salah jalan hingga tersesat dalam kesalahan-kesalahan lain.
“Aku pikir kamu jauh lebih tahu tentangnya,” lanjut Vee berucap lirih.
“Bukankah dia sebenarnya sangat polos dan mudah dikelabui? Aku hanya tidak mau dia menjadi seperti Yunna. Tetap berjalan di jalan yang salah dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya ke jalan yang benar, meski saat itu seharusnya aku bisa merubahnya!”
“Aku ingin menebus semua penyesalan itu sekarang!” pungkas Vee menunduk sedih ketika harus kembali mengingat tentang Yunna.
Setiap melihat Vee kembali muram begitu menyinggung tentang sahabatnya, selalu saja membuat hati Yazza bergetar.
Rasa bersalah dan takut bercampur jadi satu, membuatnya menjadi satu-kesatuan rasa yang sulit di jelaskan dengan kata-kata.
“Yang Berli butuhkan hanyalah perhatian dan ketulusan!” ucap Vee lagi.
“Kamu yakin dia benar-benar bisa berubah? Bagaimana jika suatu saat dia justru mengkhianatimu?” tanya Yazza datar.
“Jika itu terjadi … anggap saja Tuhan memang sedang menghukum akan kesalahan masa laluku. Tapi jika aku berhasil, anggap saja itu bonus dari menanam sebuah kebaikan.”
Kali ini sudut bibir Yazza terangkat ke atas, dia tersenyum tipis menatap wanita di sebelahnya.
“Kurasa aku sudah terkelabui lagi oleh kata-kata manis mu itu!”
Dengan senyum riang Vee menoleh, mendongak untuk melihat wajah suaminya.
“Jadi kamu mengijinkan?”
Sebelah tangan Yazza terulur ke depan, dia mengambil sepotong roti di atas meja, “Tergantung dari isi proposal mu nantinya!”
“Cih! Jadi proposal itu masih harus dibuat?” cibir Vee mendengus kesal.
“Tentu saja!”sahut Yazza sembari mengunyah tanpa menoleh menatap istrinya.
“Ckkk!” decak Vee mengerucutkan bibir sembari membuang muka.
Yazza tersenyum tipis mencemooh melirik ekspresi yang Vee tunjukkan.
...***...
Yve tampak bersemangat pagi ini.
Vee tersenyum senang karena akhirnya dia bisa melihat senyum ceria Yve lagi.
“Woah … putri mama sudah bersiap sepagi ini?” sambut Vee, “Mbak Rosi, susu buat Yve tolong buatin dulu ya!”
“Siap nyonya!” sahut mbak Rosi tersenyum ramah.
Anak perempuan itu tampak celingukan mencari seseorang.
“Loh … mbak Dania belum juga kembali ya ma?” tanya Yve sembari duduk di dekat mamanya.
__ADS_1
“Mbak Dania ijin satu minggu. Soalnya sebentar lagi dia harus ikut ujian semester,” jawab Vee sembari membalikkan piring untuk Yve.
“Apa perlu pak Karno yang mengantar Yve?” tanya kek Gio.
“Ah tidak perlu eyang buyut! Yve sudah besar … tanpa pengasuh Yve juga tidak akan kenapa-napa kok!” sahut Yve tersenyum riang.
“Itu tidak boleh! Semua orang sudah tahu kalau kamu itu putriku. Itu artinya kamu tidak sebebas seperti dulu lagi … bagaimanapun juga, tetap harus ada yang mengawasi!” tegas Yazza tanpa melihat ke arah Yve.
Yve kembali menjadi muram menunduk sedih.
Melihat wajah putrinya yang tampak tertekan membuat Vee merasa sesak.
“Emb … mungkin Yve tidak nyaman jika yang menjaganya adalah seorang pria! Lagipula ini hanya seminggu, atau aku saja yang menjaganya?” usul Vee mengajukan diri.
“Shhh,” Yazza langsung menolehkan kepala menatap Vee memprotes, “Awas saja kalau kamu berani melangkahkan kaki keluar dari pintu gerbang utama!”
“Ckkk!” decak Vee mencibirkan bibir, “Posesif banget deh … apa-apa tidak boleh!”
“Bukan begitu … apa kamu sudah lupa dengan kejadian teror waktu itu? Bagaimana jika tiba-tiba ada yang berniat jahat lagi? Aku hanya berjaga-jaga agar hal-hal semacam itu tidak terjadi lagi!”
“Pa … teman-temanku di sekolah akan ketakutan saat melihat pak Karno. Yve malu jika jadi pusat perhatian dan di perbincangkan anak-anak yang lain!”
Vee menghela nafas panjang.
“Begini saja … pak Karno akan mengantar dan menjemput Yve, tapi pak Karno tidak akan ikut menunggu di sekolah Yve … bagaimana?” tanya Vee mengelus kepala putrinya.
“Ide mama jauh lebih baik!” anak itu tersenyum lega.
Vee balas tersenyum mencubit pipi putrinya dengan gemas, Yve ikut tersenyum menatap mamanya.
“Lagipula Yve tidak akan kemana-mana. Dia pasti aman saat di sekolah … bukankah sekolah barunya adalah sekolah yang memiliki standar keamanan tinggi?” ujar Vee mencoba meyakinkan semua orang.
Kek Gio tersenyum menatap Yve, “Bagaimana jika eyang buyut yang mengantar?”
“Haiz! Eyang akan tidur di sembarang tempat! Dengkuran eyang akan mempermalukan Yve!” goda Yve mencibirkan bibir.
“Eh … dengkuran itu normal. Kenapa harus membuat malu?”
“Cih! Bagi anak-anak, orang yang mendengkur akan dianggap sangat konyol dan mereka pasti akan menertawakannya!”
Kek Gio mengernyit mencibir, “Itu artinya mereka semua kurang ajar!”
“Nah kan … belum jadi mengantar saja sudah memarahi mereka! Bagaimana jika itu benar-benar terjadi?” Yve membayangkan, “Hmph … sebaiknya memang tidak usah diantar eyang buyut!”
Kek Gio terkekeh geli, “Hahaha! Dasar anak ini … hya Vee! Lihatlah hasil didikan mu ini!”
Vee tersenyum, “Hya! Kakek bandingkan saja dengan didikan kakek!” melirik ke arah Yazza.
“Apa?” lirikan tajam Yazza menggambarkan jika dia seolah tampak memprotes.
Kek Gio mencibir menatap cucunya, “Dia memang sudah terlihat masam seperti itu sejak kecil. Jangan salahkan kakek jika tidak bisa bercanda dengannya! Berbeda denganmu … hanya ketika bertemu denganmu kakek baru bisa bercanda. Well … intinya harus menyesuaikan kepribadian orangnya!”
“Hya … kenapa kakek malah menyalahkan aku?” Yazza mencibir menatap Vee, “Dua lawan satu … hah?”
“Kali ini aku tidak akan di pihak manapun!” kek Gio terkekeh menatap Yve, “Hahaha … sayang! Eyang suruh pak Karno dulu … kamu selesaikan sarapan mu ya! Sebelum mamamu mengomel!”
Yve tersenyum mengangguk, “Baik eyang buyut!” meneguk susu hangatnya.
__ADS_1
Vee ikut tersenyum sembari mengelus rambut putrinya.
...***...
Gerry melihat Berli yang sudah sibuk di dapur bersama asisten rumah tangganya.
Pemandangan itu tentu masih membuat Gerry terkejut.
Akhir-akhir ini wanita itu jadi rajin sekali mengurus rumah.
Dari mulai masak, beres-beres sampai membersihkan halaman.
“Kamu tidak capek tiap hari seperti itu?” tanya Gerry sembari duduk di dekat pantry.
Menggeleng, “Aku mulai terbiasa melakukan ini semua!” tersenyum menoleh untu beberapa detik, lalu kembali fokus memasak.
“Hmmm … itu bagus!”
“Oh iya … aku rasa aku tidak bisa bekerja di kantor! Terlalu memaksakan diri!”
“Loh … kan kamu tidak ngapa-ngapain juga di sana!”
“Justru itu … aku ingin belajar mandiri!”
“Hah? Mandiri?” ulang Gerry.
“Boleh tidak jika aku bekerja di tempat lain? Emb … yang sesuai dengan kemampuanku?”
Menyipitkan mata menatap lekat Berli, “Aku tidak salah dengar?”
“Heh … bukankah mas Ganny bilang aku tidak berguna? Aku hanya ingin membuktikan jika aku bisa berubah!” cibir Berli.
“Kamu salah minum obat atau bagaimana sih?” Gerry semakin bingung dengan perubahan sikap yang Berli tunjukkan.
Wanita itu tersenyum, “Itu karena aku baru menemukan teman yang tepat! Sepertinya pergaulan memang bisa mempengaruhi sikap!”
“Apa yang kamu bicarakan itu?”
“Selama ini aku berteman dengan orang-orang yang doyan shopping, suka foya-foya dan hanya menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak berguna!” ucap Berli bijak.
Mengingat tentang teman lama, jadi terlintas di kepalanya akan sesuatu yang masih membuatnya penasaran.
“Oh iya … tentang Raya, kenapa kamu tidak mencarinya?” lanjut Berli bertanya polos.
Gerry langsung salah tingkah begitu mendengar nama itu kembali disebut.
Ruangan yang tadinya dingin seolah tiba-tiba menjadi panas.
Berli menyipitkan mata melihat perubahan wajah pria di hadapannya, “Kenapa kamu terlihat seperti seseorang yang sedang ketakutan?”
Wanita itu mendekatkan wajahnya, setengah menunduk untuk memperhatikan Gerry dengan seksama.
“Tunggu …,”
Gerry makin tegang dengan tangan gemetaran.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...