RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
JUDGEMENT


__ADS_3

Mbak Rosi bersujud menangis di hadapan pak Ardi dan pak Karno.


Dia bersumpah jika tidak ada sedikitpun niatnya untuk mencelakai kek Gio.


Tapi entah bagaimana, satpam justru menemukan bubuk racun yang sama dengan kandungan racun yang ada di dalam kopi di dalam almari mbak Rosi.


“Sungguh bukan saya yang melakukannya! Saya tidak mungkin melakukan kejahatan seperti itu … Tuan begitu baik kepada saya! Saya sungguh tidak punya alasan melakukan hal itu!” sangkal mbak Rosi sembari menangis tersedu.


Pak Karno mengerutkan kening menatap pak Ardi, “Bagaimana ini?” desisnya.


“Tuan Yazza sepertinya masih sangat marah dan mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat nya. Dia hanya berkata, ‘habisi’ … tapi aku tidak mau membiarkan tuan Yazza melakukan kesalahan untuk kedua kalinya!” jawab pak Ardi sama mendesis.


Dania yang melihat hanya menatap sinis memicingkan mata ke arah mbak Rosi.


Mammpus kamu sekarang!


Cuma asisten rumah tangga saja belagu sekali!


Dengan langkah santai, Vee datang mendekat. Membuat pak Karno dan pak Ardi terdiam seketika.


Mbak Rosi mendongak menatap majikannya itu sembari memegangi kakinya.


“Nyonya! Saya tidak melakukannya … saya berani bersumpah! Aku mohon percayalah kepada saya!”


Dengan gerakan halus, Vee ikut jongkok sambil memegang lengan mbak Rosi.


“Kami tidak akan memenjarakan mbak Rosi. Tapi maaf, mbak Rosi tidak perlu bekerja lagi di sini!”


Mendengar kalimat Vee, membuat asisten rumah tangga itu semakin terisak menderu.


“Nyonya! Jangan pecat saya nyonya … saya sangat senang sekali bekerja di sini! Sudah sejak remaja saya ikut bi Imah mengabdi pada keluarga ini!”


Bi Imah yang hanya bisa melihat dalam diam, jadi ikut sedih dan tidak tega ketika rekan sepekerjaan nya dalam situasi sesulit ini.


Meski dia percaya dan yakin jika mbak Rosi tidak akan melakukan hal jahat, tapi dalam hal ini, suara dan pendapatnya tidak akan membantu merubah keadaan.


Toh kalaupun dia ikut membela, dia juga takut jika ikut di tuduh bersekongkol atau terlibat dalam masalah yang sudah merenggut nyawa tuan besar di rumah ini.


Meski Vee masih tidak menunjukkan ekspresi apapun, dengan wajah datarnya dia mengelus lengan mbak Rosi, “Sebaiknya, mbak segera berkemas!”


Pak Ardi dan pak Karno saling bertukar pandang.


Perintah yang Vee ucapkan berbanding terbalik dengan keinginan Yazza. Vee akan mengacaukan rencana jika membiarkan mbak Rosi pergi. Bukankah Yazza sudah menurunkan perintah ingin menghukum dengan caranya sendiri, yaitu dengan menghabisi orang yang di duga sudah mencelakai kakeknya.


“Nyonya saya mohon!” Mbak Rosi sesenggukan bersujud mencium lantai.


“Maaf mbak Rosi!” melihat ke arah bi Imah, “Bi, bantu mbak Rosi berkemas!” Vee langsung berdiri mundur satu langkah mengabaikan pembantunya.


Meski cukup ragu, bi Imah akhirnya menuruti perintah Vee. Dia tidak pernah melihat wajah Vee yang begitu dingin dengan sorot mata tegas seperti itu selama tinggal di kediaman Gionio.


Melihatnya saja bisa membuat bi Imah gemetar ketakutan meski majikannya itu hanya berdiam tanpa sepatah katapun lagi.


Bi Imah menarik pak Udin untuk ikut membantunya.


“Nyonya!” mbak Rosi semakin menderu, merangkak maju untuk kembali memegang kedua kaki Vee, bersujud memohon padanya.

__ADS_1


Dengan gerakan hati-hati, Vee menarik kakinya. Dia sama sekali tidak menghiraukan dan langsung menoleh menatap ke arah pak Karno dan pak Ardi.


“Mbak Rosi sudah bertahun-tahun mengabdi kepada keluarga ini. Dan sebagai rasa terima kasih … kita yang akan mengantarnya sampai ke terminal,” ucap Vee datar


“Tapi nyonya …-”


“Pak Ardi, tolong siapkan mobil!” sela Vee memotong pembicaraan pak Ardi.


Melihat betapa seriusnya ekspresi yang Vee tunjukkan, membuat pak Ardi ikut menciut saat harus bertatapan mata dengannya.


Pria itu menunduk, “Baik nyonya!” ucapnya tanpa berani mendongak.


Vee memutar kepala, melihat ke arah tangga, “Karena Yazza tidak bisa mengantar, maka saya yang akan mewakilinya!”


Yazza memang masih diam merenung di kamar.


Dia menolak makan dan minum sampai saat ini.


Bagi Vee, situasi ini juga tidaklah mudah.


Yve masih di Rumah Sakit dan Yazza menjadi seperti ini.


Untung saja, sudah ada madam Lia yang menemani Yve.


Meskipun ada pak Ardi dan pak Karno, Vee yakin mereka tidak akan bisa membuat Yazza merasa jika dia tidak sendirian.


Pasti Yazza akan tetap terpuruk pada kesedihannya dan tidak lagi memperdulikan tentang dirinya sendiri. Terlebih harus kehilangan orang yang begitu berarti.


Mengingat betapa kerasnya hati Yazza, Vee lebih memilih untuk menemani suaminya ketimbang berada di Rumah Sakit.


Bukan berarti dia juga tidak peduli pada Yve, tapi di saat semua orang sedang kalut, tidak mungkin jika dia ikut-ikutan terbawa emosi dalam pemikiran yang sempit.


Bi Imah dan pak Udin berjalan dari belakang membawa dua tas besar milik mbak Rosi.


Suasana canggung tergambar jelas di sana.


“Bi, tolong masak soup untuk Yazza! Saya akan pergi mengantar mbak Rosi dahulu,” pinta Vee masih dengan nada datar.


Wanita paruh baya itu mengangguk dengan menundukkan kepala, “Baik nyonya!”


Tanpa banyak kata-kata, pak Karno mengambil alih tas yang dipegang bi Imah.


Dengan isyarat tangan, Vee menyuruh pak Karno dan pak Udin membawa tas mbak Rosi keluar rumah.


Vee kembali jongkok di hadapan mbak Rosi yang masih tidak mau berdiri.


“Mbak … percuma saja jika mbak Rosi terus-menerus seperti ini! Kami semua terluka! Meski kami mau percaya jika mbak Rosi tidak bersalah, tapi kenyataannya … semua bukti ada pada mbak Rosi!”


“Tapi sungguh, bukan saya!” sangkal mbak Rosi masih berusaha membela diri.


Vee mengangguk tipis, “Bahkan meskipun bukan mbak Rosi … apa mbak Rosi pikir kami akan tahan jika terus menerus melihat mbak Rosi tetap di sini?”


“Nyonya! Saya tidak bersalah!” rengek wanita itu kembali menderu.


“Mbak … jangan memaksa saya untuk meminta satpam menyeret paksa anda keluar. Kami sudah berbaik hati meminta mbak Rosi pergi tanpa memasukan mbak Rosi ke dalam penjara!” kali ini nada Vee lebih tegas dari sebelumnya.

__ADS_1


Mbak Rosi hanya bisa menunduk sedih semakin tidak berdaya. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan kecuali pasrah dan menerima tuduhan.


Jujur, dia sendiri juga takut jika sampai harus berhadapan dengan polisi.


Meski dia tidak bersalah, dia juga tidak bisa membuktikan jika dia benar. Nyatanya, bukti kejahatan justru di temukan dalam almari miliknya.


Dania tersenyum puas saat melihat mbak Rosi masuk ke dalam mobil.


Dia pasti akan dihabisi setelah ini!


Dengus Dania bergumam dalam hati.


...***...


Keluarga Daniel datang ke Rumah Sakit untuk menjenguk Yve.


Daniel berharap banyak akan bertemu Vee di sana.


Tapi harapannya tentu saja tidak terwujud.


Hanya ada madam Lia dan Yve saja di ruang rawat Yve.


“Kakek! Nenek!” Yve tersenyum antusias begitu melihat pak Fauzan dan bu Risma.


“Ya ampun sayang! Bagaimana bisa jadi begini?” bu Risma langsung panik saat melihat kepala Yve diperban.


“Ini salahku! Aku sembarangan berlari ke tengah jalan,” ucap Yve menunduk muram.


“Untung saja nenek masih bisa melihat senyummu,” ucap bu Risma tersenyum lembut sembari mengelus lengan anak itu.


Pak Fauzan menatap madam Lia, “Ini pasti berat bagi keluarga pak Yazza! Putrinya harus dirawat dan kakeknya meninggal dunia,” desis pak Fauzan agar Yve tidak mendengar.


Tentu saja untuk menjaga hati dan perasaan Yve.


Madam Lia mengangguk tipis, “Tuan Gio yang sudah merawat dan membesarkan tuan Yazza seorang diri selama ini! Jelas saja tuan Yazza akan merasa sangat terpukul.”


“Apakah Vee menemaninya?” tanya pak Fauzan masih dengan nada lirih.


“Ya … hanya nyonya Vee yang mampu sedikit meringankan kepedihan tuan Yazza untuk saat ini! Tuan Yazza sangat beruntung memiliki istri sebaik dan sepengertian seperti nyonya Vee.”


Meski perbincangan madam Lia dan ayahnya sudah sangat lirih, tapi Daniel tetap bisa mendengar dengan jelas. Dan kalimat yang diucapkan madam Lia, membuat pria itu merasakan kepedihan yang mendalam.


Daniel membuang muka memejamkan mata dengan tangan yang mengepal.


Vee, di sini aku sangat merindukanmu!


Apakah kamu benar-benar mau meninggalkan aku?


Aku tidak rela jika kamu perhatian dengan pria lain!


Bukankah kamu membenci pak Yazza?


Kamu hanya mencintaiku Vee!


Semoga … kebaikanmu kepada pak Yazza hanya karena kamu kasihan atas keadaannya saat ini!

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2