RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PEMERAN PENGGANTI


__ADS_3

Zoe kembali tersenyum sinis melihat layar I Pad di hadapannya.


Terlihat jelas, suasana dan kejadian yang saat ini terjadi di dalam ruang Kepala Sekolah.


“Lihat … Hirza sepertinya memang langsung terpancing!” Zoe mendengus tersenyum puas, “Jangan harap dia bisa dengan mudah untuk mengungkap siapa Ziya yang sebenarnya!”


“Lalu apa setelah ini?” tanya Margo ikut melihat ke layar.


“Maaf … tapi sepertinya aku harus melibatkan paman. Ziya palsu akan mengatakan jika dia memang suruhan Paman.”


Margo terkekeh puas, “Hahaha! Jadi begitu? Bagus … bagus! Setelah ini pasti dia meminta bertemu langsung denganku! Kebetulan sekali aku sudah lama ingin menasehatinya tentang banyak hal!”


“Aku heran … kenapa orang-orang di bawah Hirza semuanya terlihat loyal dan begitu patuh padanya?” Zoe melihat Kepala Sekolah yang tamak tercengang dalam diam.


“Aku lihat … dia tadi sempat sengaja memancing agar Hirza bertemu langsung dengan Ziya. Apa yang dia harapkan? Supaya kamu ketahuan dan dia terbebas?”


“Apa paman juga tidak menyadari? Berkali-kali dia berusaha berisyarat kepada tuannya untuk meminta tolong. Kita tidak boleh percaya padanya!”


“Apa perlu aku menggantikan posisi Kepala Sekolah dengan orang kita?”


Zoe menggelengkan kepala, “Hirza akan semakin curiga … aku takut dia justru akan memindahkan Xean ke sekolah lain setelahnya!”


Margo masih menatap layar, “Kalau begitu … aku akan mengikuti skenario mu saja!”


Kepala Sekolah masih bungkam seribu bahasa melihat orang asing yang mengaku sebagai Ziya.


“Sekali lagi saya meminta maaf karena mengganggu pertemuan kalian … tadi saya sempat melihat pak Hirza … jadi saya langsung berinisiatif hendak menyapa,” ucap Ziya santai dengan senyum ramahnya.


“Anda … guru seni lukis nya Xean itu?” tanya Hans menyipitkan mata.


“Yeah … saya yang mengajari Xean dalam bidang kesenian, khususnya melukis,” Ziya berjalan santai lalu berdiri di samping Kepala Sekolah.


Hans sepertinya kembali mencurigai gelagat yang di tunjukkan Kepala Sekolah.


Permainan apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini?


Rasanya mas Hirza akan menghadapi lawan yang seimbang!


“Langsung saja … sebenarnya kamu ini siapa? Aku tidak pernah menyuruhmu … tapi Xean menerima pelajaran yang seharusnya tidak di ketahui oleh sembarang orang!” Hardik Hirza yang mulai tersulut emosi.


Dengan santai Ziya tersenyum ramah menanggapi kemarahan Hirza, “Saya adalah orang yang di percaya pak Margo untuk mendidik dan mengawasi tuan kecil kita!”


Kali ini Hirza mengernyitkan dahi dengan tatapan memicingkan mata menatap tajam Ziya.


“Bukankah tugas untuk mengurus Xean adalah tugas kami! Kenapa paman Margo ikut repot sampai harus mengirim anda ke sini?” tanya Hans berusaha tenang.

__ADS_1


“Saya tidak tahu … anda bisa bertanya langsung dengan beliau jika mau,” Ziya palsu berakting cukup baik dalam memerankan perannya. Dia sama sekali tidak terlihat gugup maupun panik saat berhadapan langsung dengan Hirza.


“Hans, segera hubungi paman Margo … minta jadwal bertemu dengan beliau secepatnya!” ucap Hirza tidak sabar.


Ziya tersenyum sinis meski tidak lagi berkata-kata.


Perangkap yang dia buat sepertinya langsung mendapatkan hasil yang memang di inginkan.


Kepala Sekolah menghela nafas panjang, dengan tatapan aneh dia melirik Ziya palsu di sampingnya. Yang dia khawatirkan saat ini adalah, tentang Hirza yang tampaknya masih tidak sadar jika dia sengaja di giring untuk berhadapan langsung dengan Margo.


...***...


“Hya … mau kemana sih? Giliran aku di rumah … kamu yang justru pergi-pergi terus!” cibir Yazza begitu melihat Vee yang sudah bersiap rapi.


“Haiz … kan sudah aku bilang sebelumnya! Aku mengajak Berli ke kelas memasak hari ini … kenapa masih saja bertanya terus sih!”


“Hya … kurang-kurangi bergaul dengan orang itu!”


“Asal kamu tahu … Berli yang sekarang makin manis dan lucu!” Vee terkekeh sendiri mengingat tingkah Berli yang menyamar kemarin.


“Cih! Memang keras kepala wanita ini kalau di bilangin!” cibir Yazza bergumam lirih.


“Cih … tidak sadar kalau dirinya juga keras kepala!”


“Yee … kan sudah ada pak Karno yang akan selalu bersamaku!”


“Aku mulai berpikir akan menambah beberapa bodyguard lagi untuk mengawal!”


“Hya … jangan membuatku merasa tidak nyaman sepanjang waktu!”


“Hanya bercanda!” sahut Yazza mencibir.


Vee mendengus tersenyum, lucu sekali melihat Yazza tampak kesal.


“Eh … aku memberimu kesempatan untuk kembali lebih dekat dengan Yve seharian ini … jadi manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk membuat Yve agar semakin sayang lagi padamu!”


“Hya … aku … aku sibuk!” dalih Yazza yang sebenarnya masih sedikit canggung jika harus kembali akrab dengan Yve.


Dengan lembut Vee tersenyum merengkuh wajah Yazza dengan kedua tangannya.


“Jadilah ayah yang baik bagi anak-anak kita! Jika aku saja bisa sayang pada putrimu … seharusnya kamu yang masih sedarah, bisa jauh lebih sayang padanya,” tutur Vee lembut.


“Aku tidak biasa menghadapi anak-anak!”


“Kamu bisa dekat dengannya dulu saat di Bali?”

__ADS_1


“Karena ada pak Ardi dan Madam Lia!”


Vee tersenyum gemas, “Kan sekarang ada Madam Lia juga!”


Yazza menghela nafas panjang, “Baiklah … aku akan mengajak dia bermain hari ini!”


Vee tersenyum sembari mengusap-usap jemarinya ke pipi Yazza.


“Hya … kamu mau membuat aku diabetes dengan tingkah mu yang terlalu manis?” Yazza melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Vee.


“Sejak kapan kamu terlihat setampan ini?”


“Hya … aku sudah sering mendengar pujian itu … langsung katakan saja … mau minta apa?” cibir Yazza memicingkan mata.


“Ongkos dan uang jajan!”


Yazza mendengus tersenyum sembari mengambil dompetnya, “Ingat … kamu hanya boleh merayu dengan sikap manis mu ini kepadaku saja!” Yazza mengambil sebuah credit card.


“Hmph … aku baru saja berpikir hendak merayu senior buaya agar dia mau berinvestasi di restauran ku!” Vee menyahut credit card dan langsung berlari cekikikan meninggalkan Yazza menuju pintu keluar.


“Hya … apa kamu bilang?” Yazza berdiri bertolak pinggang menatap kepergian Vee.


Dari ambang pintu, Vee menjulurkan lidah sebelum akhirnya di tutup dari luar.


Masih tanpa beranjak sedikitpun dari tempat dia berdiri, Yazza mendengus tersenyum gemas melihat tingkah istinya.


...***...


Dania tampak sibuk memilih-milih sayuran di supermarket pusat perbelanjaan.


Karena dia setuju menjadi pengganti mbak Rosi, maka dia yang bertugas untuk berbelanja kebutuhan dapur.


Dengan catatan kecil di tangan kirinya, dia mendorong troli besar dengan sebelah tangan lainnya.


“Ribet sekali sih … kan lebih enak jadi pengasuh! Apa perlu menyingkirkan Madam Lia juga agar aku bisa kembali jadi pengasuh Yve?” gerutu Dania bergumam lirih seorang diri.


Mata Dania fokus melihat catatan sampai pada akhirnya troli yang dia dorong berhenti seolah menabrak sesuatu yang mampu menahan laju rodanya.


Dania mendongak, seorang pria berjaket hoodie hitam dengan sengaja menahan troli menggunakan sebelah kakinya.


“Siapa kamu?”


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2