RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PENGASUH BARU


__ADS_3


Melihat tingkah aneh Vee, membuat Yazza memicingkan mata menatap wanita itu.


“Hya … kenapa kamu selalu menyembunyikan segala sesuatu dariku?”


Deg!


Pernyataan yang Yazza ucapkan tepat mengenai sasaran.


Vee duduk tegang tanpa bisa berkata-kata.


Entah kenapa dia jadi teringat tentang hubungannya dengan Daniel.


Kenapa aku merasa sangat bersalah?


Batin Vee memegang dadanya yang mulai terasa sesak.


Yazza semakin dalam menatap Vee menyipitkan mata, “Apa yang ada di dalam pikiranmu saat ini? Rencana untuk meracuniku?”


“Hya!” sentak Vee memprotes.


Tersenyum mencibir, “Cih … sudah tidak heran jika lautan menyimpan banyak sekali misteri!”


“Cih … kamu saja yang suka berpikir negatif terhadapku! Aku hanya kepikiran tentang mantanmu!” membuang muka.


Menyipitkan mata, “Berli?”


Mengangguk, “Bukankah mantan pacarmu hanya dia?”


“Kenapa tiba-tiba membahas tentangnya?”


Mengingat kejadian tadi, “Setelah aku pikir-pikir, dia memang sangat menyebalkan ‘kan? Sejak bertemu dengannya di Bali, dia sudah terlihat seperti orang yang suka mencari masalah!”


“Yeah, tidak ada yang mau berteman secara tulus dengannya. Bahkan sejak SMA, dia nyaris tidak punya teman karena sikapnya itu!”


“Kenapa begitu?” Vee menyipitkan mata.


“Intinya, dia tidak mau dikalahkan! Apapun yang dia inginkan, harus dia dapatkan. Sikap tidak mau mengalah dan egoisnya membuat dibenci banyak orang. Aku kasihan padanya, lalu mulai mengajaknya berkencan agar dia mendapat perlindungan. Aku cukup terkenal dan ditakuti di sekolah. Dengan begitu, orang yang berniat mem-bully Berli akan berpikir ulang untuk melakukannya.”


“Cih … menjadi pria sok keren gitu?”


“Sekaligus untuk menghindari gadis-gadis yang mengejar-ngejar aku!”


“Hya … kenapa malah menyombongkan diri?”


Tersenyum, “Aku tampan, kaya dan keren. Tentu saja banyak yang ingin dekat denganku … tapi setelah aku bersama Berli, setidaknya aku merasakan sedikit ketenangan. Tidak ada lagi yang menggodaku secara terang-terangan.”


Menyipitkan mata, “Kenapa begitu?”


“Kamu melihatnya sendiri saat Berli mendatangimu dan memaki dengan mulut yang tidak bisa dia kendalikan itu kan?”


Mengingat semua kalimat kasar Berli, “Ah … sepertinya aku paham. Berli pasti melabrak setiap wanita yang dekat denganmu!”


“Tepat sekali!”


Bukankah dia hanya ingin diperhatikan?


Dia di benci banyak orang karena sikapnya sendiri.


Tapi mengingat yang pak Ganny pikirkan tentangnya, kenapa aku justru iba?


Batin Vee.


“Haiz … aku jadi kasihan padanya!” gumam Vee sembari membuang nafas sesak.


Keluarga Nirwana sepertinya menentang hubungan Gerry dengan Berli.


“Hya! Tunggu … kamu hanya sedang mengalihkan pembicaraan kan?” hardik Yazza.


Vee mendongak menatap Yazza, mendengus kesal, “Masih saja mau dilanjutkan!”


Sudah enggan rasanya untuk menanggapi Yazza dalam perdebatan kali ini.


Mengambil cangkir berisi teh di meja, “Ada obat tidurnya tidak?” mengendus teh.


“Hya … aku tidak licik seperti itu …,” memikirkan sesuatu, “shhh … tapi itu ide bagus juga! Besok aku akan membeli banyak obat tidur. Jadi tiap kali kamu akan mengomel seperti ini, aku akan membuatkan minuman untukmu!”

__ADS_1


Mendengus tersenyum tipis lalu meminum tehnya.



“Eh … sampai hampir lupa mau bertanya, Madam Lia kemana?”


Menaruh kembali cangkir ke atas meja, “Putranya kecelakaan … yang dia punya hanya putranya saja di dunia ini. Jadi dia harus fokus dulu untuk mengurusnya!”


“Astaga! Lalu bagaimana?”


“Sempat koma dan kritis. Tapi aku dengar, sudah agak membaik saat ini!”


“Kamu sudah menjenguknya?”


Yazza menggeleng, “Mau menjenguk bersama?”


“Kapan?”


Tampak berpikir, “Mmmm … karena besok kamu ada meeting, kalau begitu minggu saja. Sekaligus ke boutique untuk melihat gaun pernikahan!”


Mengangguk, “Oke!”


Yazza mendengus tersenyum, menyampirkan handuk ke punggung sofa.


“Jadi bagaimana pengasuh baru itu?” tanya Yazza datar.


“Dia masih sangat muda … sembilan belas tahun!”


Mengangguk, “Kata pak Ardi, dia mendaftarkan diri karena sedang sangat butuh uang untuk melunasi biaya kuliah semester berikutnya.”


“Masih kuliah?” Vee menyipitkan mata.


“Karena tidak punya uang, dia mengambil cuti untuk saat ini.”


Mengangguk-angguk, “Setidaknya dia cukup baik dan mudah akrab dengan Yve.”


Tersenyum merangkul kan sebelah tangannya ke bahu Vee, “Mau bermain sebentar?”


Menyingkirkan lengan Yazza, “Apakah normal melakukannya setiap hari?”


Vee langsung nyengir kembali menarik lengan Yazza melingkarkan ke bahunya sendiri, “Ayo main saja!”


Mendengus tersenyum menatap Vee.


Perlahan kepalanya mendekat.


Vee mendengus pasrah memejamkan mata.


...***...


Dania sudah membuatkan sarapan pagi untuk satu keluarga.



Vee cukup terkejut saat keluar kamar dan semua sudah disiapkan.


“Wah, kamu tidak perlu repot-repot memasak. Tugasmu cukup menjaga Yve saja,” tersenyum mendekat ke pantry.


Dania tersenyum, “Kebetulan saya juga suka memasak. Jadi tidak ada salahnya saya juga membantu.”


Vee tersenyum langsung ikut membantu menyiapkan piring.


“Jadi, kamu masih kuliah?”


Mengangguk, “Sedang mengambil cuti saat ini.”


Tersenyum, “Jarang sekali ada gadis yang begitu gigih bekerja keras untuk membiayai pendidikannya!”


Dania tersenyum ramah, “Saya sempat berpikir untuk berhenti kuliah saja!”


“Eh … jangan! Sayang sekali …,” Vee menatap Dania, “dulu aku juga bekerja sembari kuliah. Percayalah … jika kamu bersungguh-sungguh dengan niat yang kuat, kamu pasti akan bisa menyelesaikannya!”


“Benarkah?” menatap kagum, “Saya pikir, anda berasal dari keluarga kaya!”


“Hahaha …,” terkekeh lepas, “Tidak! Aku bahkan tidak punya orang tua dan hanya tinggal di gubuk kecil dekat pesisir! Taman bermainku adalah pasar ikan!”


“Wah … saya sungguh terkejut mendengarnya!”

__ADS_1


Tersenyum, “Karena aku tahu susahnya berjuang, jadi aku sarankan … kamu tidak perlu mengambil cuti. Aku akan bicara pada ayah Yve, dan memberimu gaji di muka. Bagaimana?”


“Emb … saya jadi merasa tidak enak hati!” Dania tampak malu-malu.


Vee kembali tersenyum, “Tidak perlu sungkan. Atau begini saja … kamu pikirkan saja dulu baik-baik. Jika memang mau gaji di muka … bilang saja padaku!”


Dania tersenyum mengangguk antusias.


“Oh iya … apakah Yve sudah bersiap?” tanya Vee


“Itu dia!” menunjuk Yve yang baru keluar kamar.


Yve sudah mengenakan seragam, tas dan sepatunya.


“Pagi mama!” sapanya tersenyum lebar mendekat ke pantry.


“Pagi sayang!” menarik kursi agar Yve duduk di sana.


“Papa belum bangun?” melihat ke arah kamar Vee.


Dania ikut melihat ke arah Yve melihat.


“Tadi sih masih tidur. Kan hari ini sabtu, papa tidak ke kantor!”


“Ah benar! Papa pasti kecapekan ya?”


Tersenyum mengangguk.


Pintu kamar terbuka.


Yazza keluar sembari menguap.


“Eh, papa sudah bangun!” Yve tersenyum riang melihatnya.


Dengan gontai Yazza berjalan ke arah pantry.



Dania tersenyum sipu langsung mengambil cangkir untuk membuat kopi.


“Papa masih sangat mengantuk ya?” tanya Yve polos.


Yazza duduk langsung menaruh kepalanya di meja pantry.


“Jangan ditanya sayang. Papa masih setengah tidur itu!” goda Vee.


Yve cekikikan mengelus-elus punggung papanya.


“Tuan, ini kopi!” menaruh di dekat Yazza.


“Aku cuma mau kopi buatan calon istriku!” ucap Yazza masih memejamkan mata.


Dania langsung merasa menciut mendengarnya.


“Apaan sih … jangan aneh-aneh! Kopi, air dan gulanya berasal dari tempat yang sama! Apa bedanya coba!” cibir Vee.


Mengangkat kepalanya, duduk tegak, “Ckkk! Pagi-pagi sudah berkicau lagi!” mendengus menatap Vee sambil mengambil cangkir kopi.


“Lagian aneh-aneh saja!” cibir Vee lagi.


Meneguk kopinya, “Ini sudah aku minum! Jangan bawel lagi,” kembali meneguk.


Dania tersenyum melihat Yazza yang sedang minum.


Dari cara Yazza memegang cangkir, menaruhnya di bibir, dan mulai meneguk kopi buatannya, membuat Dania merasa seperti di taman bunga.



Baginya, Yazza terlihat begitu seksi dengan jakun yang naik turun seperti itu.


Sangat tampan dan mempesona.


Dania memegang bibirnya, tersipu-sipu sendiri.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2