
Sebelumnya ....
Kantor Teratai Putih.
Resepsionis pria tampak kebingungan menyipitkan mata begitu melihat ekspresi pak Ardi yang terlihat tidak baik-baik saja.
“Memangnya kenapa pak?” tanyanya polos.
Menggeleng, “Kembalilah bekerja!”
Meski masih penasaran, resepsionis pria hanya mengangguk dan menurut.
Pak Ardi cukup bimbang dan ragu ketika hendak memberitahukan kepada Yazza.
Tapi ini sangat mendesak.
Dia tetap harus melaporkan tentang hal ini.
Pak Ardi berjalan mendekati Yazza, berbisik dengan sikap setenang mungkin.
Berharap agar tuannya tidak bereaksi berlebihan.
“Nyonya Vee dalam bahaya … elite Strom membawanya pergi!”
Begitu mendengar apa yang pak Ardi bisikkan, wajah Yazza langsung terlihat tegang.
Rahangnya mengeras dengan kepalan tangan.
Berdiri geram, “Rapat ditunda sampai besok! Kalian boleh kembali bekerja!” buru-buru Yazza keluar ruangan dengan langkah panjang.
Semua orang tampak bertanya-tanya.
Begitu pak Ardi berdehem, semua orang langsung terdiam.
Satu persatu mereka ikut keluar dari ruang meeting.
...***...
Kantor pusat Paradise.
Kakak angkat Hans tampak gelisah memegang handphone di tangannya.
Dia masih menunggu kabar dan telepon dari Hans.
Seorang pria paruh baya masuk tanpa mengetuk pintu.
Membuat pria itu kaget melihat siapa yang datang menemuinya.
“Mas Rudi!” gelagapan menyapa dengan panik.
Menghela nafas panjang sembari menutup kembali pintu dari dalam.
“Tumben sekali mas Rudi datang ke sini?” tanyanya basa-basi.
Pria itu salah tingkah menyembunyikan handphone ke dalam laci.
“Haiz … menyebalkan sekali!” gerutu pak Rudi sembari duduk di sofa.
Berdiri untuk mendekat, “Apa yang terjadi?”
“Jalan menuju kantorku macet sekali! Jadi aku mampir saja ke sini!”
Pria itu hanya diam dengan berjuta pemikiran memenuhi relung hatinya.
Tentu saja dia sudah tahu, alasan kenapa kemacetan itu terjadi.
“Hya … aku kira kamu bertugas di kantor Rumah Sakit hari ini?”
“Ahh … benar! Aku dengar ada tawuran yang membuat jalan harus di tutup total. Itu sebabnya aku juga urung datang ke rumah sakit dan langsung ke sini!”
Menggaruk kepala yang tidak gatal, “Tunggu … bukankah Hans bersekolah di sekolah yang sedang tawuran ini?”
Gelagapan salah tingkah.
“Hya … kamu bisa mendidiknya dengan baik atau tidak sih?” semprot pak Rudi.
__ADS_1
“Emb … mas … eee … aku yakin Hans pasti tidak ikut tawuran!” mencoba meyakinkan.
“Dengar ya! Hans sudah masuk ke keluarga Paradise mu! Jika sampai dia membuat hal yang dapat merusak citra Paradise, aku tidak segan-segan menghukumnya!”
“Mas … dia hanya anak remaja! Wajar jika masih tidak stabil … emosi remaja memang berapi-api seperti itu ‘kan?”
Menggeleng, “Dia tetap harus mengikuti aturan Paradise! Jangan sampai hanya karena kenakalan remajanya, namamu menjadi tercoreng!”
“Mas, percaya deh! Hans itu anak yang cerdas. Dia tahu bagaimana memposisikan dirinya sendiri!”
Menghempaskan nafas membuang muka, “Sudah meneleponnya?”
Kembali salah tingkah, “Takutnya dia masih ikut jam pembelajaran!”
“Mana mungkin seperti itu! Sekolahnya pasti juga di bubarkan! Pokonya nasehati anak itu agar tidak ikut membuat masalah!”
Mengangguk, “Baik mas!”
Mendengus, “Lebih tegas sedikit kepada anak itu! Kelak dia akan menjadi tumpuan bagi Xean, putramu!”
Pria itu hanya bisa mengangguk dan tidak berani untuk mendebat kakaknya.
...***...
Ruangan Yazza.
Berkali-kali Yazza mencoba menghubungi Vee.
Akan tetapi tidak ada jawaban.
Panggilannya tidak pernah diangkat.
Membuat Yazza semakin belingsitan panik penuh kekhawatiran.
“Ckk! Apa yang sebenarnya dia pikirkan!” membanting buku di meja kerjanya ke atas lantai.
Pak Ardi menurunkan ponselnya, “Mr. Bald sedang mengaktifkan ‘bayangan mata’ … tenangkan diri anda tuan!”
“Bagaimana bisa tenang? Baru beberapa waktu yang lalu dia menganalisa tentang para penjahat ini. Dan dia malah masuk ke dalam mobil mereka dengan suka rela!”
“Mungkin saja nyonya Vee memang sudah mempunyai sebuah rencana.”
Menunduk tidak berani menatap Yazza yang begitu emosional.
Yazza semakin frustasi memegang kepala.
“Haizz!”
Handphone pak Ardi berdering.
“Mr. Bald!” ucapnya sembari menatap Yazza.
“Cepat jawab!” Yazza diam bersiap ikut mendengarkan.
Pak Ardi menggeser tombol hijau, “Hallo Mr. Bald … bagaimana?”
Terkekeh, “ Hahaha … bahaya apa yang kamu bicarakan tadi? Hahaha!” Mr. Bald kembali terkekeh.
Menyipitkan mata sambil melihat ke arah Yazza.
“Mr. Bald … sekarang keadaannya begitu mendesak … tolonglah kami!” pak Ardi memohon.
“Apa yang harus aku tolong hah? Jangan bercanda denganku!” cibirnya angkuh.
“Mr. Bald … tolonglah! Kami akan mengirim lebih jika anda mau!”
“Tidak … tidak! Aku tidak berani … takutnya hanya menyia-nyiakan uang saja!”
“Lalu kami harus bagaimana?” pak Ardi menjadi frustasi.
“Kamu tahu … justru aku baru saja melihat pertunjukan yang sangat menarik!”
“Maksud anda?”
“Bilang pada tuan mu … aku akan memberinya sebuah hadiah karena sudah menghiburku!” kembali terkekeh, “Hahaha …. aku sampai tidak bisa berhenti tertawa!”
Pak Ardi semakin menyipitkan mata.
“Icha … suruh Leo untuk segera bersiap!” Mr. Bald berbicara pada asistennya.
__ADS_1
“Leo? Bukankah dia seorang pengacara?” pak Ardi tidak memahami.
“Ya … hadiah dariku untuk kalian!”
Handphone Yazza yang berdering kali ini.
Segera dia melihat ke arah layar.
Bukan Vee!
Harapannya semakin jatuh.
Nomor tidak dikenal memanggilnya, malas sekali Yazza menjawab.
“Oh … apa sudah ada yang menghubungi tuan mu?”
“Bagaimana anda tahu? Apakah suruhan anda?” tanya pak Ardi
“Bukan! Angkat saja! Mungkin sesuatu yang akan membuat kalian sangat terkejut!” ujarnya santai.
“Tuan … mungkin saja itu mereka! Mr. Bald meminta anda untuk menjawab panggilannya!” pak Ardi menatap Yazza.
Terkekeh, “Hahaha … sudahlah … kalau begitu akan ku akhiri saja! Sisanya, aku serahkan kepada Leo!”
“Mr. Bald!” pak Ardi berusaha menahan.
Tut ... tut ... tut ... tut ….
Panggilan sudah terputus.
Yazza menyipitkan mata melihat ke layar handphonenya, dengan ragu dia menjawab panggilan.
Suara teriakan bising samar-samar terdengar.
Beberapa orang merintih memohon ampun.
“Halo! Apa benar ini dengan pak Yazza Gionio?” suara seorang wanita di ujung telepon.
“Ya benar!” Yazza menyipitkan mata, melirik pak Ardi.
“Kami dari kantor kepolisian … bisakah anda datang untuk memberikan kesaksian atas kasus nona Vee Lesyanna?”
“Vee?” terkejut, “Dia di sana?”
“Benar! Kami menahan mereka sampai ada bukti yang kuat untuk membebaskan nona Vee dari tuduhan!”
“Apa? Menahan Vee? Tuduhan? Tunggu … apa yang sebenarnya terjadi?”
Pak Ardi terkejut mendengarnya.
“Loh … bukankah sudah ada pengacara dari tuan?” tanya polisi wanita itu.
“Pengacara?”
“Sudah ada seseorang yang menghubungi kami tadi … katanya beliau dalam perjalanan sekaligus menunggu barang bukti dari pak Yazza!”
Menatap pak Ardi mengangkat sebelah tangan.
“Sebaiknya bapak segera datang membawa barang buktinya … kami akan menunggu!”
”Barang bukti?” desis Yazza menyipitkan mata tidak memahami.
Pak Ardi segera menulis di kertas.
'Mr. Bald mengirimkan Leo untuk turun tangan.
Sepertinya beliau sudah merencanakan sesuatu.'
“Baiklah … saya akan segera ke sana!” jawab Yazza mantap begitu membaca tulisan pak Ardi.
Panggilan diakhiri.
Yazza kembali menatap pak Ardi.
Begitu pak Ardi memberikan anggukkan kepala untuk meyakinkan tuannya, keberanian Yazza pun kembali terkumpul.
“Hubungi Leo, tanyakan apa yang dia butuhkan!” perintah Yazza.
“Baik tuan!” pak Adri kembali melihat ke layar handphone untuk mencari kontak Leo.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...