RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PERMAINAN TAKDIR DAN SKENARIO BUATAN


__ADS_3


Kantor White Purple.


Berliana celingukan di depan lobby kantor.


Satpam langsung menghampiri begitu melihat tingkah anehnya.


“Permisi bu, ada yang bisa saya bantu?” tanya satpam ramah.


“Emb … saya mau …-”


Seorang wanita yang baru turun dari mobil menarik perhatiannya.


Berli menyipitkan mata menatap kedatangannya.


Tisya melepas kacamatanya berjalan mendekat.


“Emb permisi kalau begitu,” Satpam mundur begitu merasa dia tidak dibutuhkan.


“Ngapain kamu di sini!” tanya Berli ketus.


“Justru aku yang seharusnya bertanya padamu! Apa kamu sedang melamar pekerjaan di sini?”


Berli mendengus, “Aku hanya sedang mencari seseorang!”


Melihat Berli dari atas ke bawah, “Kenapa penampilanmu jadi biasa saja? Sudah tidak punya mesin ATM pribadi lagi ya?” ejek Tisya dengan nada santai.


Geram, “Kau! Jangan sampai aku jambak rambutmu di sini!”


Tersenyum mencibir, “Kamu memang tidak pernah tahu rasa terima kasih! Padahal aku sudah membantumu tentang kasus percobaan pembunuhan itu!”


“Heh! Aku sudah bilang, aku tidak akan pernah berterima kasih padamu! Jangan berharap deh!” tegas Berli.


“Terserah kamu saja! Aku masih ada kepentingan!” berjalan masuk ke dalam kantor.


Berli mengikuti.


Menoleh, “Mau apa kamu!”


“Bukan urusanmu!” mendahului Tisya berjalan menuju meja resepsionis.


Pak Didik yang melihat Tisya baru masuk langsung menghampiri.


“Bu Tisya!” sambut pak Didik mendekat.


“Ah, pak Didik!” tersenyum ramah.


“Pak Daniel akan segera turun. Mari duduk dulu!” mengarahkan ke sofa penerimaan tamu.


Tisya tersenyum mengikuti.


Berli mencibir, lalu menyapa resepsionis.


“Permisi!” ucap Berli ramah.


“Ya … ada yang bisa kami bantu?” tanya resepsionis wanita.


“Bisa saya bertemu dengan Vee?” tanyanya.


“Emb … ibu Vee sekretarisnya pak Daniel?”


Tisya dan pak Didik menoleh ke arah meja resepsionis.


Berli tidak tahu jabatan Vee yang sebenarnya, “Emb … iya!” asal menjawab.


“Kebetulan ibu ada di atas, saya sambungkan telepon untuk bertanya kepada beliau dahulu ya?”


“Emb, boleh!”


“Maaf, nama ibu?” tanya wanita itu.


“Berli! Berliana!”


“Ah ok! Tunggu sebentar ya bu!”


Aneh sekali ….

__ADS_1


Kenapa dia malah mencari Vee.


Apa yang sedang dia rencanakan sekarang?


Gumam Tisya dalam hati sembari menyipitkan mata menatap ke arah Berli.


“Ibu Tisya mengenalnya?” tanya pak Didik.


“Dia pacar adik ipar kakak saya!”


Butuh beberapa saat untuk memahaminya, “Maksud anda pak Gerry?”


Tersenyum, “Ya! Dia pacar Gerry.”


“Kenapa mencari Vee?” desis pak Didik lirih.


...***...


“Hallo!” Vee mengangkat telepon.


Daniel berdiri merapikan pakaian menatap ke arah Vee.



“Ibu Vee, ada seorang wanita yang mencari anda. Namanya Berliana.”


“Ah, Berli, di mana dia sekarang?”


“Ada di lobby buk!”


“Kalau begitu saya akan segera turun!”


Daniel salah tingkah.


Gawat!


Tisya juga sudah di lobby sekarang!


Aku harus membuatnya supaya tidak turun sebelum aku pergi!


Vee kembali menaruh gagang telepon ke tempatnya.


“Berliana,” jawab Vee berdiri merapikan pakaian.


“Ahh … dia lagi?” berjalan mendekat, “kenapa dia ke sini?”


“Katanya mau menemui ku!”


“Emb, suruh ke sini saja! Kebetulan aku harus pergi,” agak salah tingkah menggaruk kepal.


Menyipitkan mata, “Pergi? Pergi ke mana?”


“Ada klien yang minta ditemani melihat produk!” berdiri di hadapan Vee.


“Kenapa di jadwal yang tertulis tidak ada agenda itu?”


“Ini klien penting. Janjiannya juga dadakan!”


Vee semakin menyipitkan mata, “Kenapa dia tidak menghubungiku?”


“Kita mengenal, jadi dia langsung menghubungiku. Ah … bagaimana jika nanti saat aku turun, sekalian aku akan suruh dia naik diantar seseorang?”


Vee merasa ada yang aneh dari tingkah Daniel saat ini.


“Hmph … ok deh!” kembali duduk.


Tersenyum menunduk untuk merengkuh wajah Vee, “Aku pergi dulu ya!”


Vee tersenyum mengangguk tanpa beranjak dari tempat duduknya.


Daniel mengecup bibir Vee sebelum kembali melangkah ke pintu.


...***...



Yazza dan Hirza duduk berhadap-hadapan saling menatap penuh makna satu sama lain.

__ADS_1


Meja persegi kecil menjadi satu-satunya penghalang diantara keduanya.


Hirza tersenyum mencibir, “Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada pak Yazza dan Teratai Putih. Anda pasti senang sekali bukan, karena mendapat proyek ini?”


Balas tersenyum mencibir, “Saya hanya masih tidak mengerti, jelas-jelas yang terpilih adalah G Corporation!”


“Pak Gerry merasa tidak sanggup dan menyerah. Dia sudah membatalkan kontrak semalam!”


Tidak mungkin Gerry menyerah begitu saja


Dia sangat bahagia sekali bisa menang dariku waktu itu.


Aku harus berhati-hati, sepertinya memang ada permainan kotor di balik semua ini!


Gumam Yazza dalam hati.


“Ya … namanya juga takdir! Meskipun anda tidak terpilih sebelumnya, tapi pada akhirnya … Teratai Putih juga yang harus bekerja sama dengan Paradise!” Hirza sengaja semakin memancing Yazza.


“Tapi kenapa saya merasa … takdir itu sudah diatur?” Yazza masih bertahan dengan keangkuhannya.


Hirza tersenyum memegang gelas, “Berita tentang kecerdasan dan ketangguhan keluarga Gionio itu memang bukanlah kabar burung semata!”


Menatap tajam Hirza, “Saya hanya berharap kita bisa bekerja sama dengan baik dan professional!”


Menggoyang-goyangkan wine, “Tentu saja!” tersenyum tipis, “Senang bisa bekerja sama dengan pak Yazza!”


“Calon istri saya bilang … selama sebuah bisnis itu menguntungkan, maka tidak ada salahnya untuk bekerja sama!” Yazza sengaja membanggakan Vee di hadapan Hirza.


Seketika Hirza menghentikan geraknya.


Dia terdiam mematung masih memegang gelas.


Melihat perubahan sikap Hirza, semakin membuat Yazza tersenyum puas.


“Saya merasa beruntung sekali karena akan mempunyai istri sehebat Vee!” Yazza sengaja ingin memanaskan suasana.


Tersenyum sengit menarik tangannya, “Tidak salah memang … jika banyak yang menyukainya!”


Hirza mengepalkan tangan menyembunyikan di bawah meja, mencoba menahan diri.


Aku bisa saja membalikan takdir dengan mudah.


Dia hanya tidak sadar diri … Vee masih bersamanya karena aku memang sengaja membuatnya tetap di sisinya!


Jika aku memberitahu tentang kedekatan Vee dan Daniel, apa dia masih bisa sesombong ini di hadapanku?


Geram Hirza dalam hati.


Menyodorkan undangan, “Kebetulan kita bertemu hari ini. Jadi sekalian saya akan berikan undangan ini … satu minggu lagi!”


Tersenyum menarik undangan untuk melihatnya lebih dekat, “Woah … selamat pak Yazza!”


“Karena anda mengenal Vee cukup dekat, anda pasti akan datang bukan?”


“Tentu saja! Tapi sebelumnya … saya punya sebuah cerita untuk pak Yazza!”


Menyipitkan mata menatap Hirza, “Cerita?”


“Ya!”


Yazza menarik nafas bersandar di punggung kursi.


Apa lagi rencana pria ini?


Batin Yazza bersikap waspada.


“Jadi … dulu saya sangat ingin sekali menjadi seorang penulis scenario. Bukan kah menyenangkan bisa membuat drama kita sendiri? Meski cita-cita saya tidak tercapai … setidaknya saya masih bisa memimpin perusahaan!”


Mengambil jeda untuk melihat ekspresi lawan bicaranya.


“Tidak beda jauh cara mainnya … saya masih bisa mengatur kehidupan karyawan sesuai keinginan. Mau itu naik pangkat, atau justru di pecat! Tergantung penilaian saya. Yeah … seperti yang anda katakan tadi, takdir bisa saja dibuat dan diatur sesuai keinginan kita!”


Yazza tersenyum sinis mengepalkan tangan geram.


Sepertinya dia cukup memahami arah pembicaraan Hirza.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2