
Yve menoleh, melambai ke mamanya yang mengikuti di belakang.
“Papaku adalah pria paling tampan di dunia!” Yve berteriak bangga duduk di atas bahu Yazza.
Yazza terkekeh, “Dan kuat!” sahutnya melanjutkan.
“Ya! Papa sangat kuat membawa Yve seperti ini!” Yve memeluk dan menciumi kepala Yazza.
“Setelah ini mandi air hangat dan pergi makan malam!” Vee menegaskan.
“Bagaimana jika kita mandi berendam bersama-sama? Biasanya hanya aku dan mama yang berendam berdua. Sekarang ada papa ... aku senang sekali!”
“Yve!” sentak Vee menatap protes.
Pak Ardi dan madam Lia tampak cengengesan menyembunyikan tawa.
Yazza tersipu, “Bolehkah papa ikut berendam bersama?”
“Tentu!”
“Tidak!”
Jawab Yve dan Vee bersamaan.
Pak Ardi berdehem, “Kalau begitu kami juga akan membersihkan diri di villa sebelah!” menarik lengan madam Lia.
“Ah, benar!” madam Lia memahami maksud pak Ardi yang berniat memberi kesempatan bagi mereka untuk bersama.
Madam Lia tersenyum sebelum berbalik dan melangkah ke villa samping.
Yazza melirik Vee genit.
Sontak, Vee langsung membalasnya dengan tatapan tajam.
“Yve sayang ... meski dia adalah papamu, tidak boleh mandi bersama pria,” tutur Vee lembut kepada putrinya.
“Papa akan siapkan air,” menurunkan Yve.
Yve mengejar mengabaikan mamanya, “Aku bantu ... aku suka membuat tumpukan gelembung sabun!”
Vee mendengus kesal karena tidak di dengarkan.
...***...
Tangan Vee di silangkan di depan perut.
Kaki kanannya menghentak-hentak lantai jengkel.
Dia berdiri membelakangi Yve dan Yazza yang sudah berendam dan bermain gelembung di bathtub.
“Ma! Sini ... ini menyenangkan sekali,” ajak Yve.
“Kamu tidak kedinginan, masih mengenakan kaus yang basah itu? Lepaskan saja dan kemari sebelum masuk angin,” goda Yazza dengan nada santai.
Rasanya Vee ingin melempar patung kecil yang menjadi hiasan meja ke kepala Yazza saat itu juga.
Tapi, dia hanya menghela nafas dan menahan diri.
“Mama, ayolah kemari,” rengek Yve.
“Yve, mama wanita dewasa! Tidak mungkin mandi bersama pria asing itu!"
“Dia papa Yve ... suami mama!” tegas Yve mengerucutkan bibir.
Vee melirik tajam, “Apa kamu bilang?”
Yazza menarik Yve, “Ah, benar! Karena kita berpisah lama, jadi mama dan papa harus menikah ulang.”
“Pak Yazza!” sentak Vee.
“Sungguh, kalian akan bersama lagi?” Yve sangat senang.
“Ya, kita akan tinggal bersama lagi. Yve senang?”
Bersorak gembira, “Yeay ... senang sekali!”
__ADS_1
Vee menatap tajam.
Yazza kembali tersenyum dengan pongahnya.
“Ini sudah keterlaluan!” Vee menghentakkan kaki kesal, beranjak pergi meninggalkan kamar mandi.
“Apa mama tidak setuju dan marah lagi?” tanya Yve polos.
“Mamamu hanya malu untuk mengakui secara terang-terangan,” mengusap wajah Yve, “Karena kita keluarga, kita harus bersatu!”
Yve tersenyum, mengangkat tangannya menyentuh wajah papanya.
...***...
Yazza sudah memesan spot tempat makan malam dengan view paling indah di pinggir pantai.
Yve tidak henti-hentinya berbinar takjub melihat begitu banyaknya hidangan di meja.
Teman Berliana melihat ke tempat VIP.
Sungguh mengejutkan, mereka makan malam di tempat yang sama.
“Berli! Itu mantanmu yang tadi sore bukan? Jadi tempat VIP itu, dia yang sudah mendahului membooking?” Amel mencibir.
“Siapa anak dan wanita yang bersamanya? Mereka tampak bahagia sekali?” timpal Ellen ikut memperhatikan.
Berliana menyipitkan mata, mengepalkan tangan geram.
Ia melihat Pak Ardi dan seorang wanita berpakaian pengasuh duduk di dekat meja pesanan Yazza beserta seorang gadis kecil.
Yang paling sulit diterima oleh hati kecilnya, ada wanita lain di sebelah Yazza.
“Eh, bukannya kamu bilang dia masih tidak menikah karena masih tidak bisa move on darimu?” Amel bertanya dengan polosnya.
“Mungkin kerabat dan keponakannya!” Berliana berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Malu juga jika dia menjadi bahan ejekan temannya karena terlalu kepedean.
“Sudahlah, kita makan saja dan bersenang-senang. Tidak penting mengurusi mereka!” meski dalam hatinya terasa ada sesuatu yang mengganjal.
Ia berpura-pura tersenyum dan mengabaikan.
Siapa wanita itu? Sok kecakepan sekali!
Cibir Berliana dalam hati.
“Coba yang ini!” Yazza menaruh makanan di piring Vee.
Vee tersenyum palsu karena ada Yve di hadapannya.
Enggan rasanya berakting baik kepada pria yang sangat dia benci.
“Ah, makan ini juga! Ini sangat enak!” mengambilkan makanan lain.
Seolah tidak terjadi apa-apa, dengan santai kakinya menendang Yazza.
Sepertinya Yazza sengaja memberikan banyak sekali makanan ke piring Vee.
Yazza hanya tersenyum mengejek.
Yve melihat ke tempat ice cream.
“Ma ... Yve mau itu,” langsung berlari.
“Eh Yve!” hendak beranjak.
Tapi madam Lia lebih sigap berdiri mendahului, “Biar saya temani!”
Pak Ardi mengambil ponselnya, “Ya Hallo ... tunggu!” dia berdiri lalu berjalan menjauh, "Saya cari tempat yang tidak terlalu bising!” lanjutnya melihat Yazza berisyarat seolah meminta ijin.
Yazza tersenyum mengangguk.
Vee langsung menggeser tempat duduknya menjauh.
Canggung sekali.
“Seperti bulan madu bukan?” celetuk Yazza.
“Jangan sampai garpu ini melayang ke arah anda!” membuang muka.
__ADS_1
“Itu tidak akan terjadi!”
Tubuh Yazza condong mendekat, membuat Vee harus ikut mencondongkan tubuhnya ke belakang.
“Hya jangan dekat-dekat!” mendorong Yazza.
Duduk menegakkan badan, menatap memprotes, “Aku hanya mau mengambil lobsternya!”
Menggeser piring besar dengan lobster besar di atasnya, “Ambil semuanya!” cibir Vee kesal.
Yazza tersenyum, “Oh iya! Besok aku akan mengajak kalian berdua menemui kakekku!”
“Apa? Kenapa kami harus ikut!”
“Dia satu-satunya keluarga yang aku miliki. Dengan kabar besar ini ... bagaimana mungkin aku tidak akan memberitahukan kepada beliau?”
“Hya! Kenapa semakin rumit sekali sih? Jika kamu mau menemui Yve terserah saja, tapi aku tidak mau terlalu sering terlibat dalam urusanmu!”
“Yve adalah darah dagingku, dan kamu ibunya! Bukankah kalian juga sudah menjadi bagian dari keluarga Gionio?”
“Shhh ... haiz!” Vee tidak bisa terus mendebat pria di hadapannya ini.
Jika aku tidak bisa mengontrol emosiku. Takutnya akan kelepasan!
Vee menghela nafas panjang, bergumam dalam hati.
Kenapa sulit sekali melawannya!
Yazza tersenyum, “Jadi ... kamu setuju untuk ikut?”
“Terserah saja!” membuang muka.
“Tapi jangan terkejut, kakek pasti akan mengomel ... hanya di awal sih, selanjutnya sudah tidak akan terlalu galak lagi ... intinya, kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulutnya ... abaikan dan pura-pura saja mendengarkan tanpa dimasukan ke hati!”
“Hya! Kenapa anda membawaku dalam kesulitan seperti itu?”
Tersenyum, “Percayalah, beliau sebenarnya adalah orang baik dan penyayang. Hanya saja karakternya kuat.”
Menoleh menatap Vee, “Justru aku merasa, kalian ada sedikit kemiripan.”
“Hya, maksudmu aku mirip kakek-kakek!” protes Vee melotot tajam.
“Karakter maksudku,” tersenyum gemas.
“Beliau pasti akan senang jika tahu ternyata dia sudah memiliki cucu ... kakek selalu mengomel agar aku cepat menikah sebelumnya!” lanjut Yazza cengingisan.
“Cih ... padahal banyak gadis yang mengerumuni!” sindir Vee mengingat kejadian sore tadi.
Mengernyit, “Mana ada!”
“Kurasa anda yang memang tidak normal! Wanita-wanita tadi terlihat sangat menarik dengan bikini mereka. Dan anda masih saja diam tidak menggubris ... cih!” membuang muka.
“Ah, kamu melihatnya dan merasa cemburu?”
Melirik tajam, “Jangan mengarang!”
“Sudah kubilang! Aku tidak mau wanita lain jika bukan kamu!”
Vee tersenyum menatap Yazza, “Sangat dekat dengan lautan. Mau ku tenggelamkan sekarang juga?”
Yazza mendengus terkekeh, “Dasar otak psikopat!”
“Dan jika sekali lagi anda memanfaatkan Yve untuk membahas pernikahan, saya benar-benar akan menyeret anda ke tengah laut!”
“Tentu saja aku tidak akan mendengarkanmu! Selama aku bisa mengambil keuntungan untuk mendapatkan yang aku mau ... kenapa aku harus menyiakan kesempatan?"
“Hya! Dasar ... haiz!” melotot tajam tetapi tidak berani untuk melanjutkan mengumpat.
Yazza hanya tersenyum kecil.
Cuek melanjutkan makan.
Diam-diam, Vee melirik mencuri pandang menatap Yazza.
Kegelisahan memenuhi relung hatinya.
*Apa yang membuat orang ini terlihat sangat kuat?
Sampai-sampai aku merasa ciut tiap kali menatapnya*!
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))>' '<((((<...