RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
MENJADI YANG KEDUA


__ADS_3


Daniel menggenggam erat tangan Vee.


Keduanya saling berhadapan tidur di bawah selimut.


Masih tanpa busana.


“Hya … menatapku terus seperti itu … tidak bosan memangnya?” goda Vee menatap Daniel dengan rona bahagia.


“Aku takut tiba-tiba akan terbangun dari mimpi jika mengalihkan pandangan,” tutur Daniel lirih dengan senyuman.


“Pipi pak Daniel tidak sakit jika terus-menerus tersenyum seperti itu?” cibir Vee setengah tersenyum.


“Jangan menggangguku! Aku sedang sangat bahagia,” masih melihat Vee terpesona.


“Cih!” mendengus tersenyum.


“Vee … meski aku tahu ini salah … bisa tidak kita terus seperti ini?” kali ini tatapan Daniel kembali serius.


Mendengar pertanyaan itu, tentu membuat hati Vee sedih.


“Pak Daniel … aku minta maaf,” mencoba menarik tangannya.


Tapi Daniel tetap menahan dan menggenggam lebih erat.


“Jangan meminta maaf seakan kamu tidak akan menemuiku lagi!”


Mendengus tersenyum, “Aku tidak mau menjadi penghambat masa depan pak Daniel!”


“Bahkan jika harus menghancurkan hidupku untuk bisa tetap bersamamu … aku rela melakukannya!”


Deg!


Daniel yang biasanya selalu membawa suasana keceriaan, tiba-tiba kalimatnya terdengar berbeda jauh dari karakternya.


Bersungguh-sungguh dan tanpa keraguan.


Sesaat, ruangan gelap itu menjadi hening.


Jarum jam dinding yang berdetak terdengar jauh lebih jelas sekarang.


“Itu berlebihan!” cibir Vee tersenyum meringis berusaha mencairkan kecanggungan.


“Aku serius!” senyum Daniel meredup.


Begitupula Vee yang langsung terdiam menatap serius wajah Daniel.


“Pernikahanmu dengan pak Yazza … mungkin tidak bisa dihindari! Tapi aku mohon, jangan pernah menghindari ataupun meninggalkan aku setelah ini,” pinta Daniel dengan raut memelas.


Vee tampak bingung.


Dia juga tidak paham, kenapa dia tidak berpura-pura menolak Daniel seperti sebelumnya.


Membiarkan Daniel masuk dalam kisah hidupnya tentu adalah sebuah kesalahan.


Seharusnya aku tidak memberikan harapan untuknya!


Kenapa aku egois dan tidak bisa merelakan takdir yang bukan menjadi jalanku?


Daniel, maafkan aku!


Kecamuk getir kegelisahan kembali memenuhi hati dan perasaan Vee.


Yang terjadi … sudah terjadi.


Menyesal pun sudah sangat terlambat.


“Biarkan ini menjadi rahasia kita berdua … asalkan masih bisa bersamamu seperti ini … bahkan menjadi yang ke seratus sekalipun aku tidak mengapa!” tegas Daniel pilu.


“Tapi …-“


“Shhhh!” potong Daniel menempelkan jari telunjuk ke depan bibir Vee dengan sebelah tangan yang lainnya.

__ADS_1



“Jangan menyangkal lagi! Aku tahu kamu juga sangat menginginkan aku!” lanjut Daniel menegaskan.


Menyingkirkan tangan Daniel, “Aku hanya takut!” menunduk muram.


“Jangan memikirkan apapun … pikirkan saja tentang kebahagian hati kita,” tersenyum mencoba menguatkan Vee.


“Memangnya pak Daniel tidak takut jika hubungan ini bisa saja merusak nama baik pak Daniel?” kembali menatap mata pria di hadapannya.


Tersenyum menggeleng, “Sudah banyak yang bergosip buruk di belakangku! Memangnya kenapa jika suatu saat ada gosip lain yang mengatakan aku merebut istri orang?”


Vee mendengus tersenyum mencibir, “Tapi … keseratus sepertinya terlalu berlebihan … pak Daniel pikir aku apa?”


Mendengus tersenyum mengecup tangan Vee, “Mendapatkan cintamu saja sudah cukup!”


Vee menghempaskan nafas panjang, “Bagaimana jika aku ternyata malah semakin menyakiti pak Daniel?”


“Ini adalah pilihanku! Jika bukan karena sebuah alasan, tidak akan ada yang bersedia menjadi kekasih gelap pasangan lain … bukankah cinta itu buta?”


Mendengar pernyataan itu, lagi-lagi Vee kembali menunduk sedih.


“Maafkan aku!” ucapnya lirih.


“Sudah kubilang … jangan meminta maaf seolah kamu menolakku!”


“Sungguh … aku hanya tidak ingin membiarkan pak Daniel berada di posisi seperti ini! Bukankah aku juga egois jika terus berkeras ingin bersama dengan seseorang yang kucintai, padahal aku akan menjadi istri orang lain?”


Menggeleng, “Aku tidak peduli dengan itu semua! Jika selamanya harus diam-diam seperti ini juga tidak mengapa! Yang penting … jangan pernah membuangku saja!”


“Pak Daniel yakin dengan pilihan ini?”


Mengangguk, “Hanya kita berdua dan Tuhan saja yang tahu!”


“Bukankah tidak pantas membawa-bawa Tuhan dalam kesalahan ini?”


Membelai rambut Vee, “Benar dan salah sepertinya sudah tidak penting lagi … selama nyawaku masih ada … akan terus aku perjuangkan rasa cinta ini meski tidak akan pernah bisa memiliki!”


Tersenyum tipis, “Kenapa pembicaraan ini semakin berat?”


“Tapi …-“


“Hya!” potong Daniel, “Sudah cukup! Jangan ragu lagi,” mendengus tersenyum.


Meringis, “Rasanya aku yang sedang bermimpi!”


“Cih … aku pikir … hanya aku yang tergila-gila padamu selama ini!”


Tersenyum membelai wajah Daniel, “Hmmm … aku juga heran … kenapa aku tidak pernah bisa melupakan pria bermuka tembok sepertimu!”


Daniel terkekeh lepas, “Hahaha ….”


Vee melotot langsung membekap mulut Daniel.



“Shhhh! Kamu bisa membangunkan Yve!” desis Vee.


“Ah maaf!” tersenyum meringis.


Gemas melihat ekspresi Daniel, “Dasar!”


Bagi Daniel, ini adalah malam yang tidak akan pernah dia lupakan.


Khayalan dalam setiap malam akhirnya terwujud. Vee ada di sebelahnya.


Dan ini bukanlah mimpi.


“Intinya … jangan memikirkan yang berat, jangan ragu … dan jangan takut! Aku akan selalu bersamamu!” tegas Daniel percaya diri.


Tersenyum mendesal ke pelukan Daniel, “Astaga! Benar-benar lem tikus!”


Terkekeh pelan memeluk Vee, “Jangan memanggilku pak Daniel lagi jika hanya berdua seperti ini!”

__ADS_1


“Lem tikus?” goda Vee cengengesan.


“Haiz … panggil sayang, ayah, beb atau apa gitu!” cibir Daniel memanyunkan bibir.


Terkekeh pelan, “Hahaha … justru takutnya akan kelepasan memanggil dengan panggilan sayang jika berada di tempat umum nantinya! ‘Pak Daniel’ memang sudah paling tepat!”


Terkekeh, “Hahaha … baiklah … tidak masalah!”


“Heh … pak Daniel harus pulang!” tapi Vee masih mendekap Daniel dengan sebelah tangan.


“Hya … ini sudah larut sekali!”


Terkekeh pelan, “Hahaha … kalau begitu pulang sebelum Yve bangun!”


“Iya-iya, aku tahu … emb …,“ cengengesan, “sekali lagi yuk!”


Vee tersenyum sipu, “Apaan sih! Genit sekali!”


“Ahh … sekali lagi!” rengek Daniel.


Malu-malu memainkan jarinya di lengan Daniel, “Eum … mau!”


“Cih!” Daniel segera menyeruduk menindih Vee.


Vee cengengesan, “Astaga gercep sekali!”


Terkekeh bahagia, “Hahaha … tidak akan kuberi ampun kali ini!”


“Hya!” Vee terkekeh geli saat Daniel mulai menciuminya.


Daniel bersemangat sekali menghabiskan malam bersama Vee.


...***...


Yve keluar dari kamar saat Vee sedang memasak sarapan di pantry.



“Pagi sayang?” sambut Vee dengan senyum cerah.


Melihat mamanya yang sudah rapi dengan pakaian kantor, membuat Yve menyipitkan mata.


“Mama mau berangkat kerja ya? Tidak menjemput papa?” tanya Yve skeptis.


“Kan sudah ada pak Ardi yang bersama papa!”


“Kan papa masih sakit, kenapa mama tidak ijin untuk menemani papa saja sih?”


Meringis menatap putrinya, “Haiz … papa sudah bukan anak-anak lagi! Tidak perlu ditemani!”


Mencibir, “Cih … tangan mama juga masih sakit. Kenapa memaksakan diri!”


Tersenyum gemas, “Sayang … tangan mama hanya tergores sedikit … sungguh tidak apa-apa kok!”


Yve duduk di sofa, mengenakan kaos kaki.


Ada sebuah dompet yang tergeletak di lantai.



Terlihat asing.


Segera Yve memungut dan membuka.


“Lem tikus?” Yve mengernyit melihat foto identitas Daniel.


Deg!


Vee langsung menoleh menatap Yve yang sedang memegang sebuah dompet.


Astaga!


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2