
Pagi tadi begitu kabar duka dia dengar, Hirza segera mengajak Xean dan Hans pulang terlebih dahulu.
Mr. Bald dan keluarga memang sepakat mengumumkan jika penyebab utama kek Gio meninggal adalah serangan jantung.
Hirza yang sudah tahu dari Vee, hanya bisa menghormati keputusan mereka untuk menutupi kejadian sebenarnya.
Jika saat kedatangan Hirza membuat Yazza mencurigainya, pasti memang ada yang sedang ingin mereka cari tahu.
Hirza ikut penasaran dan segera menyuruh Hans memeriksa kamera pengawas yang mereka pasang di dalam mata patung ikan emas.
Dan benar saja, mereka memang menemukan sebuah bukti dari rekaman mata patung ikan.
Semuanya terekam jelas dan mereka bahkan terkejut begitu tahu alasan kenapa kejadian itu terjadi.
Tapi masalahnya sekarang, mereka juga berada dalam sebuah dilema.
Jika Hirza dan Hans memberikan rekaman itu kepada Vee, mereka akan ketahuan jika mereka sudah memasang kamera pengawas di dalam sebuah patung ikan emas.
Kalau sampai Vee tahu tentang itu, jelas dia akan sangat marah dan bahkan tidak mau lagi berbicara pada Hirza.
Namun jika mereka tetap berdiam meski sudah tahu kebenarannya, jelas hati dan perasaan mereka akan selalu dipenuhi rasa bersalah dan tidak tenang.
Secara tidak langsung, mereka juga membahayakan nyawa Vee jika tetap berdiam seperti ini.
...***...
MALAM SEBELUMNYA
Dania yang masih resah dan gelisah turun dari kamar Yve ke ruang tamu.
Sudah lewat tengah malam waktu itu.
“Bagaimana mungkin keluarga ini berkaitan dengan mafia!” gumam Dania sambil berjalan mondar-mandir memainkan jari-jari tangannya sendiri.
Melihat foto besar kek Gio yang terpampang di dinding.
“Sejak awal kedatangannya dalam kehidupanku … orang ini memang selalu membawa banyak masalah! Dia jadi penghalang saja! Seharusnya aku menyingkirkannya sejak awal!”
Dania menggeser pandangannya, melihat foto pernikahan Yazza dan Vee.
Senyum liciknya mengembang.
Kek Gio yang hendak mengambil air minum tidak sengaja melihat Dania.
Kek Gio langsung sembunyi dan diam-diam mengintip untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan Dania.
Jemari Dania tampak mengelus foto cucunya, “Pak Yazza tenang saja! Saya pasti akan segera bersama dengan anda!” Tersenyum sinis, “Setelah wanita ini aku singkirkan, aku yang akan berada di dalam foto ini, mengenakan gaun pernikahan yang sangat serasi dengan anda!”
Mendengar kalimat Dania tersebut, membuat kek Gio sangat terkejut.
Seperti yang aku duga!
Memang ada yang tidak beres dengan anak ini!
Gumam kek Gio dalam hati.
Aku penasaran, apa dia mata-mata yang di kirim kelompok musuh untuk mengacau di keluargaku?
Kek Gio mengerutkan kening.
Aku harus mencaritahu untuk memastikannya!
Kek Gio urung berjalan ke dapur dan langsung berbalik hendak kembali ke kamar.
__ADS_1
Dania melonjak kaget saat melihat bayangan memantul di atap-atap dekat dapur.
Gawat!
Sepertinya ada seseorang yang melihatku!
Dania mengatupkan bibir dengan rahang mengeras.
Dengan hati-hati dia melangkah menuju dapur.
Tangannya mengepal, seolah siap menyerang.
Mbak Rosi tampak sedang mencari sesuatu di dalam lemari pendingin.
Begitu sadar ada seseorang, dia melonjak menoleh ke belakang.
“Astaga!” memegang dadanya sendiri, “Dania! Membuatku kaget saja!”
Dania menyipitkan mata.
Apa dia sedang berakting?
Biasanya dia begitu sinis kepadaku, kali ini kenapa dia tampak biasa saja?
Atau mungkin dia memang sedang berpura-pura biasa saja agar aku tidak mencurigainya?
Jika dia mendengar perkataan ku tadi, dan diam-diam melaporkan kepada seisi rumah, akan berantakan semua rencana ku!
Tidak!
Aku harus mencari cara untuk menyingkirkannya sebelum dia bilang pada orang-orang!
Mbak Rosi menepuk pelan lengan Dania, “Heh … malah melamun! Kamu kenapa malam-malam berkeliaran di sini?” tanya mbak Rosi kembali membalikan badan mengambil sesuatu dari dalam kulkas.
Saat Dania hendak mengambilnya, mbak Rosi keburu membalikan badan.
Sepiring pudding sudah di tangannya.
Wanita itu tersenyum menatap Dania.
“Eh sini deh!”
Dia mengajak Dania duduk di dekat pantry
“Jadi, aku diam-diam membuat pudding ini! Bi Imah akan sangat marah jika tahu aku menggunakan bahan-bahan untuk kebutuhanku sendiri! Karena kamu sudah tahu, jadi kita makan bersama saja ya? Tapi, jangan kasih tahu bi Imah,” pinta mbak Rosi tersenyum membujuk.
Dania tersenyum, “Kelihatannya enak!”
“Tentu saja! Sebentar aku ambil fla coklat sebagai tambahannya!” kembali membuka lemari pendingin.
Sepertinya dia memang sedang menutupi sesuatu!
Dia tiba-tiba sebaik ini pasti sedang ingin menjebak ku saja!
Dania tersenyum sinis bergumam dalam hati
Aku tidak akan tertipu semudah itu!
Dania bersikap tenang dan mulai memikirkan cara untuk menyingkirkan orang di hadapannya ini.
...***...
Kek Gio yang hendak menelepon pak Ardi tidak sengaja melihat status madam Lia yang mengatakan jika mereka sudah kembali dari luar Negeri.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, dia langsung menelepon madam Lia terlebih dahulu.
“Tuan besar!” madam Lia menjawab panggilan.
“Ahh … syukurlah kamu terbangun dan menjawab telepon dariku!”
“Apa terjadi sesuatu?”
“Dengar! Aku tidak bisa mempercayakan cicit-ku kepada orang lain selain kamu! Apa anakmu sudah membaik? Sudah bisa ditinggal? Kalau sudah bisa, segeralah kembali menjadi pengawas Yve!” kek Gio mencecar penuh ketidaksabaran.
Madam Lia menghela nafas panjang.
Meski anaknya sudah bisa ditinggal, sebenarnya dia masih tidak tega untuk meninggalkan anaknya sendirian.
Disisi lain, dia tidak enak hati jika menolak permintaan kek Gio.
“Atau begini saja, aku akan menyuruh seseorang untuk mengawasi putramu, dan sebagai gantinya, kamu harus kembali ke sisi Yve mulai besok!”
“Kenapa sangat mendadak? Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah sudah ada pengganti sementara?”
“Sudah aku bilang … aku tidak percaya pada orang luar! Yve mengalami kecelakaan sore tadi, dan dia di rumah sakit sekarang!”
“Astaga! Apakah Yve terluka parah?”
“Untung saja tidak! Tapi aku masih saja mengkhawatirkannya! Lia … kamu adalah satu-satunya orang yang bisa aku percaya!”
Madam Lia menghela nafas panjang, “Baiklah … kalau begitu saya akan kembali mulai besok!”
“Bagus! Aku akan menelepon Ardi. Dia akan menjemputmu besok!”
“Baik tuan!”
Kek Gio mengakhiri panggilan dan langsung menghubungi pak Ardi.
Pak Ardi yang sedang tidur di sebelah istrinya sampai terkesiap terkejut saat mendengar handphonenya berdering.
“Tuan besar?” gumamnya menyipitkan mata sambil menggeser tombol hijau.
“Ardi!” seru kek Gio begitu panggilan tersambung.
“Tuan, apa terjadi sesuatu?” tanya pak Ardi terkejut.
“Ah tidak! Aku hanya ingin memberitahumu, besok datanglah ke rumah madam Lia sebelum datang kesini!”
“Hah madam Lia? Bukankah dia masih di luar negeri?”
“Tidak! Dia sudah pulang … aku mau dia kembali menjadi pengasuh Yve! Besok kamu harus mampu meyakinkan dia supaya dia mau kembali mengawasi Yve!”
“Saya dengar putranya mengalami kecelakaan sangat parah … apa dia tega meninggalkan putranya?”
“Aku menjanjikan padanya akan mengirim seorang pengawas untuk putranya! Sebagai gantinya, dia harus segera kembali bekerja untuk kita! Pokoknya kamu harus bisa membuat dia yakin dan percaya jika putranya akan kita pikirkan juga!”
Pak Ardi tampak menyipitkan mata.
Aneh sekali?
Kenapa tuan besar membahas hal ini di jam segini?
Ini masih terlalu dini hari … seharusnya ini jam beliau untuk istirahat.
Apa yang membuat beliau terdengar tergesa-gesa seperti itu?
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...