
Hans terdiam memicingkan mata menatap ke arah Daniel.
“Pfttt!”
Yve kesal membuang muka menyilangkan tangan di perut.
“Ngapain sih harus dia lagi!” gerutunya.
Xean ikut melihat ke arah Vee melihat.
“Siapa itu tante?” tanya Xean menyipitkan mata.
“Bos tante di tempat kerja,” tersenyum.
“Dik Yve tidak suka ya sama dia?” tanya Xean polos.
“Husstt …,” Hans nyengir menatap Vee merasa bersalah, “maaf mbak!”
Vee tersenyum, “Tidak apa-apa … namanya juga anak-anak!”
Yve menatap Xean “Dia terlalu cerewet dan menyebalkan!”
“Oh … sama persis kayak mas Hans dong! Hahaha …,” Xean terkekeh.
“Heh … dasar anak ini!” Hans bertolak pinggang.
“Ma … apa tidak ada yang lain?” protes Yve mencibirkan bibir.
“Kalau tidak suka pulang bersama paman itu, bareng kak Xean aja,” sela Xean tersenyum ramah kepada Yve.
Mengangguk masih dengan wajah kesal, “Ya! Yve lebih baik ikut kak Xean saja!”
Vee tersenyum, “Bukankah Yve mau bertemu dengan kakek dan nenek?”
Menatap mamanya antusias, “Tapi ini belum akhir pekan?”
“Akhir pekan ada papa di rumah. Kalau ditinggal pergi … nanti papa marah! Jadi sekarang saja mumpung ada kesempatan!”
Mengangguk, “Kalau begitu boleh deh!”
Xean kembali menyipitkan mata melihat perubahan Yve yang dirasa terlalu cepat.
Kenapa dik Yve tiba-tiba setuju dan malah senang?
Siapa lagi paman itu?
Xean bertanya dalam hati, kembali menatap Daniel.
“Kak Xean … maaf! Yve tidak jadi ikut kakak! Yve sama mama duluan ya,” pamit Yve ramah.
Xean mengangguk tersenyum.
“Sampai jumpa lagi!” Vee mengelus wajah Xean, lalu tersenyum ke arah Hans sebelum melangkah menghampiri Daniel.
Begitu memastikan Vee dan Yve sudah jauh, barulah Hans kembali menoleh menatap Xean.
“Hya bocah! Kenapa terlihat bahagia tiap melihat nona Vee?”
Xean masih melihat ke arah Vee, “Xean jadi pengen sekali punya mama!”
Pernyataan Xean jelas langsung membungkam mulut Hans rapat-rapat.
Dia terdiam tidak bisa berkomentar apa-apa.
Bahkan sampai saat ini, Xean tidak pernah tahu jika mamanya masih hidup.
Anak itu masih terlalu kecil jika harus tahu kenyataannya.
Xean akan merasa terpukul dan mungkin saja malu jika tahu mamanya ternyata berada di rumah sakit jiwa.
Hirza dan yang lain memutuskan untuk merahasiakan tentang ini dari Xean.
Setidaknya, sampai anak itu dewasa dan bisa berpikir logis untuk menyikapi aib yang berusaha di tutup rapat dalam keluarga Paradise.
__ADS_1
...***...
“Hei my little Mermaid! Manis sekali,” Daniel gemas mencubit pipi Yve.
Menghentakkan kasar, “Hya … sudah lama tidak dipukul ya?”
Daniel cengengesan, “Hehehe … nenek sudah menyiapkan kue yang sudah matang kali ini. Kamu pasti akan sangat suka!”
“Cihh! Ma, bukankah dia terlihat lebih baik saat sakit dan tidak banyak bicara seperti waktu itu?” cibir Yve menggoda Daniel.
“Hya dasar anak ini!” Daniel bertolak pinggang.
Yve cekikikan, dia paling suka melihat Daniel kesal. Menurutnya itu sangat lucu.
Seperti biasa, Yve tidak setuju jika Vee duduk di depan.
Mereka berdua ada duduk di bangku belakang pengemudi.
Yve tiduran di pangkuan mamanya, “Ma … Yve boleh nggak, kalau ikut kelas karate?”
“Kok tiba-tiba mau latihan bela diri?” tanya Vee mengerutkan kening.
“Kak Xean yang ngajak … katanya kalau Yve ikut, Caesar juga mau ikut!”
Menyipitkan mata, “Memangnya mama Caesar setuju? Caesar kan terlihat tidak seperti memiliki minat dalam bela diri … mama lihat kemarin di sekolah, dia saja tampak begitu ketakutan?”
“Itu sebabnya dia mau latihan bela diri!”
“Hya … kan kamu udah jago berkelahi!” goda Daniel sedikit menoleh ke belakang.
Vee tersenyum, “Mama masih kurang hebat dalam ngajarin kamu ya?”
“Cihhh! Mama kalau ngajarin marah-marah terus!”
“Hya … dulu mama lebih keras dimarahi ayah mama!”protes Vee.
Terkekeh, “Kita kapan ke pesisir ma? Yve juga pengen di tengah lautan!”
“Hah?” menyipitkan mata.
“Sebenarnya kita akan langsung ke taman hiburan!” Daniel antusias.
“Hya! Aku mau bertemu kakek dan nenek!” Yve duduk menatap Daniel protes.
“Mereka sudah menunggu di sana!” sahut Daniel.
“Bohong!” cibir Vee.
“Sungguh! Memangnya kapan aku pernah bohong?” cibir Daniel.
...***...
Pak Fauzan dan bu Risma memang sudah menunggu di taman hiburan.
Pagi ini saat Daniel bilang Yve ingin bertemu mereka, keduanya menjadi antusias dan mulai menyibukkan diri membuat kue juga makanan kesukaan Yve.
Meski masih sangat khawatir dengan hubungan antara Daniel dan Vee, mereka berdua lebih memilih diam dan tidak banyak berkomentar.
Daniel dan Vee sudah cukup dewasa untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk.
Vee sebentar lagi menikah dan Daniel tahu tentang itu.
Yang kedua orang tuanya pikir, tentu saja Daniel tidak akan nekad itu untuk merusak hubungan Vee dan Yazza.
Meski pada kenyataannya ….
Daniel sudah masuk di antara keduanya.
Bu Risma melambai begitu melihat Yve.
“Itu mereka di sana!” Yve antusias menarik lengan mamanya.
Daniel tersenyum, “Sudah kubilang kan? Aku tidak berbohong! Mereka sudah menunggu kalian!”
__ADS_1
Menjulurkan lidah sembari berlari kecil menghampiri bu Risma dan pak Fauzan.
“Kakek … nenek!” Yve langsung memeluk keduanya.
“Ya ampun … siapa ini? Cantik sekali,” goda bu Risma.
“Eh … putri duyung dari lautan mana ini? Ayo cepat bawa ke air biar tetap bisa berenang dengan anggun,” pak Fauzan menimpali, mengelus wajah Yve.
Cekikikan, “Hihihi … kakek dan nenek membuat Yve jadi malu deh,” tersipu menutup muka.
Bu risma mencium kening Yve, “Nenek sudah masak banyak untuk Yve … ada kue kacangnya juga loh!”
“Wah asyik!” sorak Yve riang gembira.
“Monyet kecil begitu mendengar kacang langsung senang!” cibir Daniel mengolok-olok dengan sengaja.
“Hya!” Yve bertolak pinggang.
Vee tersenyum ke arah bu Risma dan pak Fauzan.
Meski sedikit canggung dan terasa berbeda suasananya.
Yeah ….
Setelah kabar tentang dia dan Yazza tersebar di majalah bisnis.
Vee merasa sangat bersalah pada keluarga Daniel.
Terlebih bu Risma sepertinya sudah berharap banyak kepadanya sebelum ini.
Ketiganya sama-sama berusaha bersikap biasa saja.
Dan itu justru membuat kesan yang semakin aneh.
“Emb … apa saya masih boleh memanggil mama?” tanya Vee salah tingkah.
Bu Risma tersenyum sama canggungnya, “Tentu saja,” mengelus bahu Vee.
“Eh … tiket sudah dibeli dan kita tinggal masuk!” pak Fauzan tersenyum mencoba mencairkan suasana.
Taman hiburan kota.
Mereka semua masuk ke dalam area taman.
Cukup ramai dan banyak keluarga yang sedang menghabiskan waktu bersenang-senang bersama anak mereka.
“Hya … sudah aku belikan pakaian ganti untukmu! Tidak lucu kan jika Mermaid berkeliaran di darat?” goda Daniel menatap Yve.
Yve melihat kostumnya sendiri, “Benar juga … ini tidak sesuai!”
“Mama membawakannya kan?” tanya Daniel.
“Sudah di tas,” menggandeng Yve. “Nenek antar kamu ganti baju yuk sayang!”
Mengangguk senang.
Daniel menyenggol lengan Vee dengan bahunya, “Hya … kangen,” bisik Daniel manja.
Vee tersenyum mencubit perut Daniel.
Seketika Daniel meringis kesakitan melirik memprotes.
“Jangan sampai menimbulkan kecurigaan!” tegas Vee balas mendesis.
Dua pria berpakaian hitam tampak mengawasi dari kejauhan.
Salah satunya memegang kamera yang di arahkan ke Vee.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1