
Semua keperluan untuk ke Pesisir sudah ditata rapi di dalam mobil baru yang Yazza berikan semalam.
Kek Gio melarang Vee untuk tidak mengajak Yve, tentu karena anak itu harus bersekolah.
Lagipula, Yve juga tidak terlalu tertarik untuk ikut.
Kek Gio bilang padanya, akan sepi jika Yve tidak ada dan akhirnya Yve lebih memilik menemani buyutnya ketimbang harus ikut mamanya.
“Mbak Dania, jaga Yve ya! Dia suka telat makan kalau nggak diingatkan!”
Dania mengangguk, “Baik buk!”
“Sayang mama pergi dulu ya!” pamit Vee mengelus rambut putrinya.
Yve tersenyum mengangguk, “Salam buat kek Mail!”
“Tentu!” melihat ke arah Yazza, “Jangan lupa pesanku!”
Vee meminta agar Yazza mengantar dan menjemput Yve ke sekolah.
“Ckkk! Jangan bawel!” membuang muka.
Mencibir, “Pasti kamu akan sangat senang karena tidak akan mendengar ocehan ku beberapa hari ke depan!”
“Justru aku malah takut jika tidak mendengar ocehan mu itu!”
Vee tersenyum mencibir membuka pintu mobil.
“Kalau kakek tidak setua ini, pasti kakek juga masih mau ikut berlayar ke tengah laut!”
“Haiz, kakek ini! Akhirnya sadar juga kalau sudah sangat tua!”
Bertolak pinggang, “Hya! Dasar anak ikan!” omelnya.
“Jangan marah-marah kek! Nanti tekanan darahnya tinggi! Vee berangkat dulu ya?” berkata dari dalam mobil.
“Sudah sana! Hati-hati!”
Vee tersenyum, menyalakan mobil.
“Hati-hati mama!” Yve melambai.
Vee ikut melambai sambil menjalankan mobilnya.
Mobil yang dikendarai pak Ardi berpapasan dengan mobil Vee di depan gerbang.
Keduanya sama-sama membunyikan klakson untuk menyapa.
“Pak Ardi sudah datang. Ayo berangkat ke sekolah!” Yazza menoleh ke arah Yve.
“Yve ambil tas dulu pa!” berlari ke dalam.
Dania tampak cengengesan.
Akhirnya bisa satu mobil sama pak Yazza!
Pasti sangat menyenangkan bisa terus melihatnya dengan jarak yang begitu dekat.
Astaga ....
Dia tampan sekali!
Gumam Dania dalam hati.
__ADS_1
Kek Gio menyipitkan mata melihat Dania yang tersenyum-senyum sendiri seolah tersipu malu.
“Kek!” panggil Yazza membuat kek Gio terkejut.
“Eh, iya?”
“Nanti ada seseorang yang akan datang. Katanya, dia sangat ingin menemui kakek."
“Siapa?” tanya kek Gio penasaran.
Yve berlari dari dalam langsung menuju mobil.
“Kakek juga akan tahu sendiri nanti,” melihat ke arah pak Ardi yang sudah membukakan pintu untuknya, “Yazza pergi dulu!”
“Ckkk! Bicara kok setengah-setengah!” cibir kek Gio menggerutu lirih.
Yve sudah mendahului masuk. Dania berjalan memutar, hendak masuk dari pintu lain.
“Shhh! Dania!” pak Ardi menegur, “Duduk di depan!”
Sedikit kecewa, “Ah, baiklah!” menutup kembali pintunya untuk membuka pintu depan.
...***...
Daniel sudah menyiapkan koper di samping meja makan.
“Kata pak Didik kamu harus ke luar kota untuk memeriksa kantor cabang dalam beberapa hari saja! Tapi kenapa membawa dua koper?” tanya mamanya.
“Sekalian liburan dong ma! Kan kantor kita itu dekat pantai tuh, kapan lagi coba bermain-main di pantai. Daniel jadi kangen sewaktu dulu di luar negeri!”
Menyipitkan mata, “Apa hubungannya?”
“Ya, pantai lah! Kan Daniel anak pantai banget. Jagonya bermain jetski, sampai banyak cewek-cewek yang terpesona!”
Bu Risma mencibir, “Cihh! Percuma banyak yang naksir tapi tidak ada yang di pacari. Ujung-ujungnya malah para cowok yang melirik!”
Pak Fauzan terkekeh, “Hahaha! Ma, sekarang Daniel kan sudah punya pacar!”
Tersenyum, “Ah benar! Eh, kenapa kamu tidak ajak Tisya sekalian saja?”
Daniel langsung salah tingkah, “Emb ... anu! Kan Tisya juga harus mengurus kantor kakaknya!”
“Ya kan … siapa tahu mau di ajak liburan!” Bu Risma mengangkat bahu.
“Ma, masak iya gitu. Baru juga berkenalan dan mencoba dekat kemarin. Nanti keluarganya malah jadi berpikir Daniel ini kurang ajar,” dalih Daniel.
“Yang dikatakan Daniel ada benarnya ma! Pak Ganny akan berpikir Daniel tidak sopan jika langsung mengajak Tisya liburan,” pak Fauzan menatap istrinya.
Tampak berpikir, “Ah benar juga ya! Mereka itu keluarga terhormat. Memang sebaiknya jangan aneh-aneh dulu deh!”
Daniel tersenyum pongah merasa senang karena mudah mempengaruhi kedua orang tuanya.
...***...
Dermaga.
Ada kerinduan juga kesedihan saat Vee kembali berdiri di sana.
Kenangan masa lalu tiba-tiba berdatangan terbawa arus ombak.
Deburan itu, angin itu dan suara hiruk pikuk orang-orang di sana, semua terdengar masih sama.
Hanya saja, kenyataannya yang sudah berbeda.
__ADS_1
Banyak yang sudah pergi dan banyak yang sudah menghilang.
Vee pernah dengan gagahnya melindungi dermaga dari para pungli.
Semua orang akan tersenyum tunduk padanya.
Menghormatinya, layaknya ratu.
Tidak ada yang tidak mengenalnya.
Sayangnya, ketenaran itu meredup sekarang.
Meski keramahan dan senyum mereka masih sama, orang-orangnya lah yang sudah berbeda.
Vee memejamkan mata, menghirup udara kebebasan yang sangat dia rindukan.
Semilir angin menerbangkan rambutnya yang terurai.
Tanah kelahiran memang selalu menjadi tempat yang penuh kenangan.
“Loh bukankah itu dik Vee?” pak Lohan yang tengah duduk di dekat kapal melihat Vee dengan seksama.
“Vee? Peri pesisir?” anak buahnya berdiri mundur ketakutan.
“Benar loh! Itu dik Vee di sana!” menaikan topinya menunjuk ke depan.
Pak Lohan berdiri hendak menghampiri.
Langkahnya sudah tampak susah.
Dengan tongkat saja masih terlihat gontai, goyang ke kanan, goyang ke kiri.
“Mau kemana bos?” anak buahnya mengejar.
“Ya menghampirinya lah!”
“Aduh jangan deh!” larang anak buahnya.
“Sudah diam saja kamu!” sentak pak Lohan.
Seorang pria berambut gondrong dengan tato memenuhi tubuhnya berjalan mendekat ke salah satu anak buah pak Lohan begitu kakek tua itu berjalan menjauh.
“Kenapa?” tanyanya garang.
Meski masih muda, dia sudah menggunakan beberapa gigi palsu berwarna keemasan.
Melihat ke depan, “Itu bos! Bos besar mau menemui Peri pesisir!”
“Hah?” terkejut langsung melihat ke arah Vee, “Kenapa dia datang lagi?” dengus Logan geram mengepalkan tangan dengan tatapan tajam.
“Tidak tahu bos! Tapi ayah anda langsung berniat menemuinya begitu melihat dia di sini!”
Bertolak pinggang, “Bisa-bisa pemasukan kita turun lagi jika dia berniat kembali menetap!” melihat ayahnya, “Kenapa pria tua itu tidak bisa berhenti mengagumi wanita menyebalkan itu sih! Ckckck!” decaknya heran pada ayahnya sendiri.
Tersenyum meringis, “Bos! Saya dengar, pedagang dari ruko di pojokan itu mau menyerahkan putrinya ke bos besar ya?”
Logan melirik tajam, “Terus kenapa? Kamu berharap aku memanggil anak gadis berusia 18 tahun dengan sebutan ‘ibu’?”
Salah tingkah, “Bukan begitu bos! Istri ayah bos kan sudah banyak sekali, kenapa tidak di serahkan ke bos saja gadis-gadis muda itu?”
“Hya … lebih baik tidak menikah! Aku bisa lebih bebas! Memangnya ada bedanya? Meski mereka menikah dengan ayahku, aku masih bisa tidur dengan mereka juga kok! Hahaha!” Logan terkekeh pongah menatap ayahnya, “Lihat! Jalan saja dia sudah kesusahan!”
Vee yang tadinya tampak ceria, begitu melihat kedatangan pak Lohan, membuat senyumnya memudar.
Ketenangan yang dia rasakan seolah hilang dalam sesaat.
“Astaga, masih saja harus ketemu mereka!” gumam Vee lirih membuang muka.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...