RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
IDENTITAS UNTUK NISAN ‘TANPA NAMA’


__ADS_3

Daniel sedang mengurus file saat Vee masuk ke ruangannya.



“Eh, sudah selesai dengan urusan Yve?” tanya Daniel.


“Sudah! Semoga dia betah di sana,” duduk di kursi kerjanya.


“Bagaimana dengan sekolah barunya? Apakah bagus?”


“Bagus banget sih, cuma kayaknya peraturan di sana bakal menyulitkan Yve deh!”


Daniel terkekeh, “Sekolah khusus perempuan kan?”


“Hmph, begitulah!”


“Itu bagus, dia bisa jadi lebih feminim sedikit!”


“Hya!” protes Vee mencibir.


“Eh, mau berangkat sekarang?”


“Boleh sih … terus masalah batu nisan bagaimana?”


“Begitu selesai memilih furniture, kita akan ke tempat itu!”


Tersenyum mengangguk, “Oke deh!”


Menutup laptop, langsung berdiri, “Yuk!”


“Hya, bersemangat sekali! Baru juga duduk,” cibir Vee cengingisan.


“Akhirnya bisa jalan berdua dengan Vee, bagaimana mungkin aku tidak senang?”


Berdiri, “Cih! Dasar!”


Pak Didik masuk ke dalam ruangan.


“Hya ketuk pintu!” memegang dadanya, “Mengagetkan saja!”


“Hya, kenapa kaget? Memangnya kalian sedang berbuat tidak benar?” cibir pak Didik.


Vee tersenyum, “Pak Didik kenapa ke sini?”


“Katanya kalian akan pergi ke showroom furniture? Aku harus mengganti tugas Daniel,” menatap Daniel memicingkan mata.


“Cih … seharusnya pak Didik menolak!” cibir Vee.


“Hya! Akhirnya dia akan berkencan dengan seorang wanita sungguhan, bagaimana mungkin aku tidak mendukungnya.”


“Memangnya selama ini dia hanya berkencan dengan pria?” Vee cengingisan.


“Sebelum kamu datang, dia selalu mengekor. Ngeri juga jika dia menyukaiku kan?” goda pak Didik terkekeh mengejek.


“Hya, mana mau aku sama orang tua yang pemarah!” cibir Daniel.


“Mau dipukul?” pak Didik bertolak pinggang.


Mengernyit, “Tidak! Tidak! Hanya bercanda, haiz!”


“Ya sudah, kalian pergi saja gih! Pusing aku melihatnya lama-lama!”


Daniel berjalan mendekat, “Giliran tidak ada saja dicariin!”


Tersenyum, “Hya, hati-hati kalian! Jangan terlalu mengumbar kemesraan di luar sana!”


Merangkul Vee, “Kalau di dalam sini boleh dong!”


Vee menyingkirkan tersenyum tanpa kata-kata.


“Hya! Jangan di sini juga! Bagaimana jika orang lain melihat!”


Daniel malah cengengesan kembali merangkul Vee.


“Hya!” memukul lengan Daniel, “Astaga anak ini badung banget sih dibilangin!”


Vee kembali mendorong lengan Daniel, “Jangan menggoda pak Didik terus.” Menatap pak Didik, “Maaf merepotkan pak Didik lagi!”

__ADS_1


Tersenyum, “Santai saja!”


...***...



Daniel dan Vee sudah di dalam mobil.


“Emb, ngomong-ngomong … tentang nisan itu, sebenarnya untuk siapa sih?”


“Apa kamu masih ingat dengan gadis yang bersamaku saat pertama kita bertemu?”


Mengingat, “Yang mengerjai sampai harus masuk ke mobilku itu?”


Mengangguk tersenyum.


“Eh tunggu! Jangan bilang dia sudah meninggal!”


“Dia meninggal delapan tahun yang lalu!”


“Apa?” terkejut, “Kok bisa?”


Vee menunduk sedih menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.


“Eh, maaf! Apa aku menyinggung perasaan kamu?”


Menggeleng, “Tiap mengingatnya, aku merasa sangat sedih!”


“Kalian memang terlihat seru saat bersama pada waktu itu. Pasti dia sangat dekat sekali denganmu ya?”


“Bahkan kita sudah tinggal bersama sejak remaja!” tanpa disadari air matanya menetes.


Menyentuh lengan Vee, “Jangan sedih! Tidak perlu diungkit jika menyakitkan!”


“Aku hanya merasa tidak berguna selama ini! Membuatkan nisan untuk Yunna seharusnya sudah kulakukan sejak lama, tapi aku baru punya keberanian!”


Menyipitkan mata, “Keberanian?”


“Ada sebuah kejadian yang memaksa temanku berada di lingkaran yang seharusnya tidak dia pijak. Dia melakukan kesalahan dan membuatnya harus kehilangan nyawa! Aku merasa bodoh sekali karena tidak melaporkan kepada polisi tentang penghilangan nyawa temanku … justru aku malah menghindar, pura-pura menutup mata dan kabur untuk menyelamatkan diri!”


Air mata Vee berjatuhan.


“Preman? Dia berurusan dengan pembunuh?” Daniel tampak gelisah, “Lalu apa tidak bahaya jika kamu mengganti batu nisan temanmu saat ini?”


Mengusap pipinya, “Aku justru akan tidak tenang jika tidak mengembalikan identitasnya yang sebenarnya. Namanya adalah ‘Yunna’! Bukan ‘Tanpa Nama’!”


“Bagaimana jika para pembunuh itu masih mengawasi tentang hal ini, dan tahu jika kamu adalah saksinya?”


“Aku sudah tidak peduli lagi dengan mereka!”


“Vee! Ini bukan hal yang simple!” protes Daniel. “Jangan lagi membuat dirimu berada dalam bahaya!”


“Seharusnya tidak akan berbahaya lagi sekarang!” karena Yazza juga sudah tahu semuanya.


“Tetap saja aku mengkhawatirkan kamu! Kita ajukan saja masalah ini ke kepolisian, aku akan mencari pengacara untuk kembali menyelidiki kasus temanmu.”


Menggeleng, “Aku tidak bisa!”


“Vee!” Daniel menurunkan bahunya ikut sedih.


“Keadilan mungkin sudah tidak dibutuhkan lagi sekarang. Yang aku mau, Yunna bisa mendapatkan kembali identitasnya, dan aku yang akan melanjutkan mimpinya!” Mendengus, “Karena sudah sejak dilahirkan ke dunia ini, alam memang sudah tidak menginginkan dia bahagia! Dunia ini begitu tidak adil baginya, padahal dia sangat baik dan periang!”


Daniel terdiam menatap Vee.


“Dia ditinggalkan kedua orang tuanya, dijadikan budaak oleh bibinya, dan dilecehkan oleh paman juga kakak keponakannya! Jika aku yang ada di posisinya, aku sudah tidak akan bisa tersenyum lagi. Tapi Yunna berbeda! Setelah semua yang dilaluinya, dia masih saja bisa berpura-pura tersenyum menutupi semua kepedihan!”


“Dia memang terlihat sangat periang waktu itu.” Daniel mengingat kejadian malam pertama bertemu dengan Vee.


“Di balik senyumnya itu, ada jutaan duri dan pedang tajam yang menancap dalam dirinya. Untuk menyambung hidup, dia menjual diri. Itu terpaksa dia lakukan untuk tetap bisa bersekolah. Tapi mulut orang-orang begitu menyakitkan untuk didengar. Mereka hanya bisa mengecam dan menyalahkan Yunna, tapi apa mereka tahu, apa saja yang sudah Yunna lewati untuk tetap bisa bertahan hidup?”


Vee mendengus mencibir pada dirinya sendiri.


“Yang mereka lihat hanya keburukan seseorang! Menganggap dirinya sendiri sudah menjadi yang paling benar!”


“Yunna menjadi seorang yang sangat dibenci dan dianggap sebagai pengaruh buruk. Dia direndahkan dan selalu dipandang dengan sebelah mata. Sejak saat itulah, aku bersumpah pada diriku sendiri untuk melindunginya!” pungkas Vee dengan nada berapi-api di sela tangisnya.


Daniel menghentikan mobilnya karena lampu merah.

__ADS_1


Mendengar cerita Vee membuatnya ikut menjadi muram.


“Ada sesuatu yang bisa aku pelajari dari kisah temanmu itu,” ucap Daniel lirih.


Vee menoleh menatap Daniel.


“Kita memang tidak pernah tahu apa saja yang sudah dialami seseorang. Tapi kita hanya melihat semua hal dari luarnya saja. Kebaikan akan dipuji, keburukan akan di caci. Bedanya sekali membuat kesalahan, seumur hidup akan membekas di ingatan orang lain!”


Vee mengangguk tipis, “Kebanyakan orang memang seperti itu.”


“Kamu benar! Kebanyakan orang memang merasa jia mereka sudah menjadi yang paling benar!”


Tersenyum, “Demi Yunna dan impiannya, apapun pasti akan aku lakukan untuk mewujudkannya!”


Daniel tersenyum menatap Vee.


Baru kali ini dia melihat sisi Vee yang lain.


Vee terlihat begitu angkuh dan acuh selama ini. Tapi menyangkut tentang persahabatan, ternyata Vee begitu loyal dan setia kawan.


Vee melihat segala sesuatu bukan dari satu sisi saja. Meski tahu sahabatnya berjalan di jalan yang salah, dia tetap mau berteman dan justru selalu berdiri di sisinya.


...***...



Manager toko tampak terkejut melihat kedatangan Daniel.


Meski tidak ada yang salah, kehadiran atasan memang selalu membuat pegawainya panik dan juga salah tingkah.


“Pak Daniel! Maaf kami tidak ada sambutan, kenapa tidak mengabari dahulu tadi!” tersenyum cengengesan.


Manager ini masih terlihat sangat muda. Namanya Natan. Dengan setelan jas rapi dia terlihat cukup ramah dan bersahabat.


“Memang sengaja sih!” melihat sekeliling, “Jadi gimana penjualan hari ini?”


“Seperti yang pak Daniel lihat, ramai dong! Bisalah bonusnya,” dia berusaha mencairkan suasana dari kecanggungan.


Daniel tersenyum, “Asalkan lebih dari omset penjualan, gampang lah masalah bonus!” Daniel menoleh ke arah Vee, “Ini sekertaris baruku, Vee. Dia akan membantuku memilih furniture untuk apartemen baruku!”


“Eh, pak Daniel membeli apartemen baru?”


“Yah, buat investasi saja!”


Vee menyipitkan mata.


Bukankah Daniel bilang, dia dan kedua orang tuanya sudah melihat-lihat furniture kemarin?


Kenapa manager di sini tidak tahu?


Batinnya.


Tersenyum, “Kalau begitu pilih saja yang pak Daniel suka, pokonya langsung bisa dikirim hari ini juga deh!”


Menatap Vee, “Mulai dari mana dulu?”


Vee tersenyum menatap pak Natan, “Furniture untuk kamar dulu sih yang paling penting. Karena di sanalah tempat untuk melepas penat dan lelah, jadi harus memilih yang benar-benar bisa membuat nyaman!”


“Wah, ibu Vee memang memiliki ‘passion’ yang sangat bagus dalam hal ini!”


Terkekeh, “Itu sebabnya saya bekerja di White Purple!”


“Benar-benar! Kalau begitu mari ikut saya ke lantai dua!”


“Emm, boleh lihat catalog nya?”


“Tentu, sebentar saya ambilkan!” Natan tersenyum lalu berjalan ke meja lobby.


“Pokonya semua terserah selera kamu saja!” bisik Daniel.


“Heh, bukankah pak Daniel bilang sudah memilih-milih dengan orang tua pak Daniel kemarin?”


“Emb itu … itu bukan di sini! Di toko lain!” gelagapan salah tingkah.


Vee memicingkan mata menatap Daniel curiga.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2