
Sudah seharian Daniel melihat ke layar handphone.
Tiap kali ada notifikasi pesan masuk, dia langsung bergegas melihat.
Cukup mengecewakan setiap tahu itu bukanlah pesan dari orang yang dia harapkan.
Membuat semakin drop mood saja.
“Vee kemana sih. Sudah sejak kemarin nomornya tidak aktif!” menerawang, “Apa karena ini weekend, jadi dia takut ketahuan dan sengaja mematikan handphonenya?” cemberut, “Pasti dia sedang berkumpul dengan keluarganya! Haiz … sudahlah! Senin nanti juga ketemu lagi!”
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar Daniel diketuk.
Buru-buru dia menyembunyikan handphone.
“Ya, masuk saja!” Daniel setengah berteriak.
Bu Risma membuka pintu, “Lagi apa?” berjalan mendekat.
“Santai-santai saja sih ma!” tiduran sembari menonton Tv.
“Em, tadi mama telepon Tisya. Mama ngajak dia belanja!”
“Hah?” Daniel terkejut menatap mamanya.
“Katanya dia mau … kamu siap-siap gih!”
“Kok dia nggak ngasih tahu Daniel sih?” duduk menatap mamanya.
“Kan emang baru mama telepon tadi.”
“Shhhh! Mama kenapa ganggu waktunya sih!” protes Daniel yang sebenarnya enggan pergi keluar.
“Ini kan weekend … kalian juga lagi jalan bareng kan? Jadi apa salahnya? Daripada kamu seharian di kamar terus seperti ini!”
Menghela nafas panjang, “Iya deh iya! Daniel siap-siap mandi dulu!”
Tersenyum, “Mama seneng deh, akhirnya bisa jalan-jalan sama calon menantu beneran!”
“Mama sama semua wanita yang dekat sama Daniel, selalu begitu deh!”
“Lah yang kali ini kan jelas. Keluarga besar juga sudah sama-sama tahu!” Menerawang, “Tapi mama tiba-tiba kangen Yve deh! Jadi pengen ngajak Yve dan Vee sekalian!”
What?
Nggak!
Bisa gawat kalau itu terjadi!
Daniel memikirkan sesuatu, “Emb, mereka pasti sibuk! Apa lagi ini weekend, pak Yazza pasti juga memanfaatkan waktu untuk bersama keluarganya kan? Lagipula ini sabtu, Yve masih sekolah!”
“Ah benar juga!” mendengus kecewa, “Ya sudah deh! Buruan sana, mandi! Mama juga mau siap-siap dulu!”
“Hmm, iya ma!” Daniel menganggukkan kepala.
Bu Risma tersenyum membalikan badan kembali melangkah keluar dari kamar Daniel.
...***...
__ADS_1
Saat Dania turun dari lantai dua, Vee, bi Imah dan mbak Rosi sudah sibuk memasak di dapur.
“Biar saya saja nyonya!” bi Imah berdiri di sebelah Vee yang sedang membuat bubur.
“Ah, ini mudah kok bi! Lagipula inikan special untuk si tuan galak itu!” Vee tersenyum tipis.
Bi Imah cekikikan, “Tuan Yazza memang sangat pemilih. Dulu waktu pertama nyonya masak di sini, abis itu masak kita harus masak yang rasanya mirip masakan nyonya. Ya kan kita semua bingung yak!”
Vee terkekeh pelan, “Hahaha … pasti kalian kena omelan dan harus mendengar dia berteriak marah-marah!”
Mbak Rosi terkekeh, “Ya kami mah cuma bisa menunduk sambil bilang iya-iya aja!”
Vee terkekeh sambil melihat ke arah panci.
Dania menyipitkan mata.
Bukannya mereka bertengkar gara-gara ibu Vee selingkuh?
Kenapa dia masih bisa tertawa-tawa seperti itu?
Dan dia membuat bubur untuk pak Yazza?
Tersenyum mencibir bergumam dalam hati.
Sepertinya berusaha menjilat agar tuan Yazza tidak marah lagi padanya!
Aku harus melakukan sesuatu!
Dania kembali berbalik arah, menaiki tangga.
“Mbak Rosi, telur rebus nya sudah matang?” tanya Vee.
Vee menggeleng, “Tidak perlu! Biar saya saja!” melihat ke jendela, “Emb … di taman samping ada tanaman bunga mawar kan mbak?”
“Iya nyonya!”
“Tolong bantu petik satu tangkai yang paling cantik dong!” tersenyum ramah.
“Siap nyonya!” mbak Rosi tersenyum cengengesan sambil melenggang pergi lewat pintu samping.
“Cie, buat tuan Yazza pasti?” goda bi Imah.
“Cuma buat pemanis nampan saja nantinya!” ucap Vee tersipu sembari sibuk mengupas telur rebus.
Setelah semua selesai dan siap dihidangkan, Vee menaruh mangkuk bubur, telur dadar gulung dan satu gelas kopi di atas nampan. Setangkai bunga mawar yang masih sangat segar di letakan di samping gelas kopi.
“Wuih, ini kelihatan manis sekali!” mbak Rosi tersenyum melihat nampan.
“Mau di bawa ke atas ya nyonya?” tanya bi Imah.
“Iya … akhir pekan gini Yazza emang paling suka bangun siang!”
Dania mendekat, “Wah, apa itu buk? Bau masakannya harus sekali?”
Vee tersenyum, “Sarapan untuk Yazza!” Melihat ke atas, “Yve sudah bangun?”
“Sudah buk! Bentar lagi juga turun,” tersenyum ramah.
“Hari ini Sabtu … di sekolah Yve yang baru, khusus hari ini adalah hari latihan balet kan?” tanya Vee memastikan.
__ADS_1
Mengangguk, “Saya tadi sudah diminta untuk menyiapkan perlengkapannya.”
“Ah, baiklah!” tersenyum menatap mbak Rosi, “Mbak, tolong siapin sarapan buat Yve ya!”
Tersenyum mengangguk, “Baik nyonya! Sekalian saya juga menyiapkan masakan untuk tuan besar!”
“Ah benar! Kek Gio sepertinya juga belum bangun,” Vee melihat ke arah kamar kek Gio di lantai satu.
“Biasanya sebentar lagi sih,” bi Imah membelakangi Vee sembari sibuk memasak.
Vee berbalik menuju wastafel, menyalakan keran, “Bi Imah sangat hafal ya,” tersenyum sambil mencuci tangan.
Ketika semua orang membelakangi Dania, saat itu lah dengan gesit Dania mengeluarkan botol kecil.
Dengan senyum licik dia menuangkan bubuk putih ke dalam mangkuk bubur.
“Iya, saya sudah ikut tuan besar saat beliau masih muda! Bahkan waktu itu papanya tuan Yazza saja masih SD!”
“Wuih, lama sekali ya?” tersenyum takjub.
“Iya! Setahu saya tuan besar itu galak banget. Nggak pernah tertawa lepas seperti saat bersama nyonya dan nona Yve. Pokonya bagi kami, kehadiran nyonya Vee dan nona Yve membawa perubahan yang sangat besar di keluarga ini!”
Vee terkekeh pelan, “Hahaha … masak sih bi?” mengeringkan tangan di bawah mini blower.
Dania kembali memasukan botol ke sakunya, pura-pura menyibukkan diri membersihkan meja.
“Tuan besar kalau mendidik tuan Yazza, beuh … tegasnya nggak ketulungan! Kalau tuan besar bilang A, tuan Yazza juga harus melakukan A. Berteman dibatasi, jam keluar rumah dibatasi, selalu diawasi dengan ketat dan pokonya disiplin banget deh!”
Tersenyum kembali membalikan badan, “Pantas gedenya jadi seperti itu!” cibir Vee tersenyum mengejek.
“Tapi tuan besar berhasil membuat tuan Yazza menjadi sesukses sekarang! Ya … meskipun hati dan sikapnya begitu keras dan dingin!”
Vee mengangkat nampan, “Dan pendendam! Bukankah kita yang sekarang di galakin olehnya?” Vee cekikikan.
Bi Imah dan mbak Rosi terkekeh.
“Nyonya ini bisa saja!” bi Imah sesekali menoleh.
“Tapi nyonya Vee yang paling bisa menghadapi tuan Yazza dengan sangat sabar loh!” ucap mbak Rosi.
“Nah, setuju!” bi Imah kembali terkekeh pelan.
Dania hanya mencibirkan bibir sembari bersih-bersih.
Tersenyum, “Tapi sungguh deh! Memang tidak mudah menghadapi tuan kalian ini!” menggeleng menertawakan dirinya sendiri, “Kalau begitu saya ke atas dulu bi, mbak Rosi!”
“Iya nyonya!”
Menoleh ke arah Dania, “Mbak, nanti kalau Yve sudah turun langsung suruh makan! Kalau dia nanyain aku, suruh naik ke atas.”
“Baik buk!” Dania tersenyum ramah.
Vee tersenyum sebelum kembali melangkah menuju tangga membawa baki dengan kedua tangannya.
Dania menatap punggung Vee dengan tatapan sinis.
Kita lihat!
Apakah setelah ini pak Yazza masih bisa memaafkan wanita si tukang selingkuh ini!
Senyum licik merekah di bibirnya.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...