
Menyadari adanya sesuatu yang tidak dia inginkan, kaki Daniel mulai melemas.
“Pagi tadi pak Ardi datang ke sini untuk mengemas semua barang-barang Vee. Dia bilang Vee akan segera menikah, jadi pak Yazza memintanya untuk tidak lagi bekerja di tempat orang. Karena menurut mereka … itu akan menjadikan image pak Yazza menjadi tidak baik,” pak Didik berkata dengan nada cukup rendah.
Tanpa pikir panjang lagi, Daniel segera mengambil handphonenya untuk menghubungi Vee.
Tut … tut … tut ….
“Shhh! Kenapa masih tidak aktif sih!”
“Percuma! Aku juga sudah menelepon ke nomornya ratusan kali sejak pagi tadi. Tapi nomornya tidak aktif!”
“Apa pak Yazza mengetahui tentang hubungan kita? Dia memarahi Vee dan menyuruh Vee mengganti nomornya?”
Menggeleng, “Pak Ardi juga meninggalkan undangan pernikahan untuk kita. Kurasa dengan mengirim undangan ini, itu artinya tidak terjadi hal yang buruk diantara Vee dan pak Yazza.”
Mendengar tentang pernikahan, membuat hati Daniel semakin tidak tenang.
“Tentang kenapa Vee menonaktifkan handphonenya … mungkin dia juga sedang fokus mempersiapkan pernikahan!” lanjut pak Didik mengakhiri.
Daniel menundukkan kepala membelakangi pria yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri itu.
“Semakin ke sini … aku semakin tidak ikhlas saja! Jika bisa … aku mau membawa Vee lari saat pernikahannya!”
“Daniel! Jangan gila!” sentak pak Didik menatap frustasi.
“Kita benar-benar bahagia kemarin saat liburan berdua! Bagaimana bisa dia akan hidup dengan orang lain? Meski aku tahu … aku hanya kekasih gelapnya! Tapi … rasa ingin memiliki Vee seutuhnya itu terus saja menggebu!”
Nampak jelas Daniel terlihat mulai emosional dengan perasaannya.
Pak Didik menjadi tidak tega menyaksikannya, dengan lembut dia mengelus bahu lengan Daniel untuk menguatkannya.
“Mungkin pak Yazza sudah mengambil cuti. Dan karena tidak mau ketahuan, Vee lebih memilih menonaktifkan handphonenya,” ucap pak Didik mencoba membuat Daniel untuk tetap positive thinking.
Pria itu masih saja menunduk, “Seharusnya dia memberitahukan padaku terlebih dahulu!”
“Kamu bisa bertemu dengannya lusa. Saat resepsi pernikahan!”
“Aku tidak yakin … apa aku akan sanggup melihat mereka di pelaminan?”
Pak Didik menghela nafas lalu menghempaskan, “Kamu harus datang! Jika tidak ingin menimbulkan banyak kecurigaan bagi Tisya, kedua orang tuamu, semua pegawai kantor White Purple dan bahkan pak Yazza akan berpikir lain jika kamu tidak menunjukan diri dalam acara itu.”
Daniel menghempaskan nafas panjang, “Aku masih tidak tenang sekarang … kenapa Vee ku tiba-tiba harus mengundurkan diri?”
“Berpikirlah positif! Dia pasti akan segera menghubungimu jika ada kesempatan!” pak Didik menyemangati.
“Tapi ini sudah tiga hari. Aku kangen sekali kepadanya!” memanyunkan bibirnya.
“Jangan seperti anak SMA! Kamu sendiri yang setuju untuk memilih jalan ini. Jadi bersabar saja dan belajar menerima di mana posisimu yang sebenarnya!”
Daniel kembali mencibir muram melihat surat pengunduran diri Vee di tangannya.
__ADS_1
...***...
Restaurant Jepang.
Enam pria berpakaian hitam dan dua pria berseragam satpam berada di gerbang utama.
Mereka memberhentikan setiap mobil yang hendak masuk.
Antrian cukup panjang hari ini.
Ada yang harus memutar balik dan ada yang diperbolehkan masuk setelah menunjukan kartu identitas diri.
“Tempat ini memang selalu penuh dengan antrian. Tapi kenapa aku merasa kali ini sangat berbeda sekali?” gumam Yazza melihat dari dalam mobil.
“Biasanya kalau ada pemeriksaan seperti itu, tempat ini memang sudah dibooking untuk acara penting,” pak Ardi menyiapkan kartu identitasnya, “Tuan Yazza, keluarkan saja yang mereka minta.”
“Tempat ini milik pak Rudi kan? Jika dilihat, orang-orang di depan seperti bawahannya. Apa mungkin dia sedang mengadakan acara pertemuan penting?”
Menggeleng, “Saya tidak tahu tuan,” menghela nafas panjang, “jika memang sedang ada acara penting, kenapa pak Hirza memilih tempat ini untuk acara meeting kita?”
“Cih … pasti memang ada sesuatu yang sudah dia rencanakan! Waspada saja,” dengus Yazza yang sudah tidak heran dengan karakter Hirza.
Mengangguk, “Setelah ini giliran kita yang akan diperiksa!”
“Bahkan mereka memeriksa dengan pendeteksi logam dan bagasi mobil bagi yang sudah melewati gerbang!” cibir Yazza yang baru bisa melihat ke dalam dengan jelas setelah tidak terhalangi oleh mobil-mobil lain.
“Hah? Apa ini tidak terlalu ekstrem? Maksudku dengan mengundang orang luar seperti kita di acara penting bagi mereka! Aku semakin tidak bisa memahami isi pikiran si Hirza ini,” gerutu Yazza.
“Pantas tuan besar selalu memperingatkan ku untuk menjaga tuan dari pak Hirza!”
“Kakekku?” tanya Yazza.
“Yeah, pertemuannya dengan Mr. Bald waktu itu membuat kakek tersadar akan satu hal. Paradise mungkin saja memang menginginkan anda terlibat dalam dunia bisnis ini! Itu sebabnya kakek selalu mewanti-wanti supaya saya menjaga anda agar tidak salah langkah dan tersesat dalam rencana mereka!”
Menghela nafas, “Aku tidak mau mengambil resiko membahayakan keluargaku. Terlebih aku akan membawa Vee masuk ke dalam kehidupanku! Aku tidak akan menyeret dia dalam kegelapan.”
“Itu juga yang tuan besar inginkan!” memajukan mobil, “Bersikap biasa saja tuan!”
Yazza mengangguk.
Pak Ardi menurunkan jendela kaca mobil.
“Bisa tunjukan identitas diri?” tanya pria berwajah seram berpakaian hitam.
“Tentu!” memberikan identitasnya.
Yazza ikut memberikan identitasnya kepada pria tersebut.
Dia memperlihatkan kepada teman di sampingnya, dengan alat scan khusus dia mencoba memeriksa.
__ADS_1
Dua pria dengan jas hitam dan kemeja putih yang berada di dalam post satpam mengangguk setelah melihat layar komputer di hadapan mereka.
Mengembalikan kartu identitas kepada pak Ardi, “Oke silahkan masuk dan ikuti prosedur berikutnya!”
“Terima kasih!” pak Ardi tersenyum menerima kartu identitas mereka kembali.
Mobil kembali dijalankan.
Empat pria menghadang sekarang.
“Maaf tuan, kami harus melakukan pemeriksaan isi mobil,” ijin salah satu pria dengan sopan.
“Silahkan!” pak Ardi berusaha seramah mungkin.
Yazza hanya diam menyandar santai di kursi yang dia duduki.
Orang-orang itu mulai memeriksa.
“Aman,” kata salah seorang.
“Ok sip!” jawabnya.
Dia kembali menunduk, “Oke tuan … silahkan langsung masuk menuju parkiran!”
Pak Ardi mengangguk, tanpa banyak basa-basi lagi, dia langsung menjalankan mobilnya kembali.
Sesampai di parkiran pak Ardi membukakan pintu untuk tuannya.
Yazza memutar bola mata melihat ke sekeliling.
Sebagai salah satu pebisnis besar, dia merasa tidak asing melihat wajah-wajah beberapa orang di sana.
Dengan seringaian mencibir dia hanya mendengus mengenakan kacamata hitamnya.
“Apa ada yang salah tuan?”
“Sepertinya memang banyak pebisnis yang harus bergantung dan rela menjadi bawahan Paradise demi kesuksesan usaha mereka!”
Pak Ardi ikut melihat sekeliling, “Karena hanya dengan jalur Paradise, mereka bisa berkembang dengan cepat!”
“Semuanya para bos besar yang datang ke sini,” gumam Yazza sembari merapikan jas.
Icha menyipitkan mata begitu tidak sengaja melihat Yazza dan pak Ardi.
“Mr. Bald … bukankah itu pak Yazza dan pak Ardi?” ucapnya lembut setengah berbisik kepada tuannya.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1