
Pria bertubuh besar yang selalu memegang cerutu itu tampak menoleh terkejut melihat Yazza dan pak Ardi berada di tempat yang seharusnya tidak mereka datangi.
“Bagaimana bisa mereka lolos dalam pemeriksaan identitas?” menghisap cerutu dengan tatapan frustasi, “Tuan Gio akan sangat marah jika tahu! Ayo hampiri mereka,” Mr. Bald mulai gelisah.
Icha mengangguk.
“Tuan Yazza, itu Mr. Bald,” pak Ardi menunjuk kehadiran Mr. Bald yang mendekat ke arah mereka.
Tersenyum menyambut dengan hormat, “Mr Bald,” sapa Yazza sopan.
Tersenyum membalas dengan penuh hormat, “Pak Yazza, kenapa anda bisa datang ke sini?”
“Ada janji meeting dengan pak Hirza,“ menyipitkan mata melihat ke sekeliling, “tidak disangka ternyata bertepatan dengan acara besar!”
“Hah … meeting? Sekarang … di tempat ini? Aneh sekali!” Mr. Bald bertolak pinggang.
“Emb … kalau boleh tahu, ini acara apa Mr.?” tanya pak Ardi.
Menghela nafas panjang, “Di luar sana, rumor tentang kejatuhan Strom sudah tersebar. Kali ini kami semua dikumpulkan untuk menghadiri penghakiman dan keputusan mengenai Strom. Entah bagaimana hasil akhir nantinya!”
“Bukankah jika Strom jatuh, Shadow akan merasa senang?” Yazza bertanya dengan nada datar.
“Kita semua tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi setelahnya. Keputusan Paradise selalu saja mengejutkan … itu yang kami semua takutkan!”
Yazza ikut bertolak pinggang, “Jika Hirza harus menghadiri acara pertemuan itu, bagaimana dia bisa membuat janji dengan kita di waktu yang bersamaan?”
“Jika misalkan dia meminta anda ikut dalam pertemuan ini, usahakan untuk menolaknya!” Mr. Bald mulai khawatir.
“Saya juga tahu itu!”
Icha melihat Hans yang berjalan tengil sambil makan permen lollipop di mulutnya.
“Mr. Bald, itu anak SMA yang waktu itu,” menunjuk dengan isyarat gerakan kepala.
Yazza, pak Ardi dan Mr Bald melihat ke arahnya.
“Sepertinya dia menuju kemari. Bersikap biasa saja,” pak Ardi mendesis mengalihkan pandangan.
Yazza dan Mr. Bald ikut mengalihkan pandangan.
Mereka terdiam bahkan saat Hans sampai berdiri di dekat mereka.
Mencabut lolipop nya ,“Pak Yazza! Mari ikut saya, mas Hirza sudah menunggu,” ucap Hans santai.
Mr. Bald dan Yazza saling bertukar pandang.
“Emb, oke!” Yazza kembali melihat Hans.
Anak ini benar-benar tidak memiliki rasa bersalah sama sekali.
Setelah ketahuan dengan apa yang dia lakukan kepadaku, sikapnya terlihat sangat biasa saja!
Gumam Yazza dalam hati.
Hans tersenyum tipis, kembali mengemut permennya.
Masih dengan gaya tengil, dia berbalik berjalan santai kembali ke arah dia muncul.
“Permisi Mr. Bald,” Yazza menunduk memberi salam hormat.
“Ingat pesan saya tadi,” membalas menunduk hormat.
Yazza dan pak Ardi berjalan mengikuti Hans.
...***...
Sudah berjam-jam Vee menyibukkan diri di dapur.
Sambil mencoba memasukan bumbu-bumbu dan mencampur bahan, dia juga harus mencatat dan melakukan riset untuk hasil dan rasa masakannya sendiri.
Mbak Rosi dan bi Imah membantu menyiapkan segala bahan yang Vee butuhkan.
__ADS_1
Kek Gio berjalan mendekat, “Ada apa ini? Sibuk sekali,” mengendus aroma, “hmph … bau masakannya harum!”
“Kakek!” Vee tersenyum menyambut.
Kek Gio duduk di dekat meja makan, “Masak banyak sekali … mau ada acara?”
Vee tersenyum, “Tidak … hanya sedang melakukan percobaan!”
“Percobaan?” menyipitkan mata, “Untuk apa?”
“Vee berencana membuka restaurant kek!”
Tersenyum lebar, “Eh … ide bagus itu! Yazza pasti akan mendukung ide mu!”
Manyun mencibir, “Ini saya sambil mencatat untuk materi pembuatan proposal!”
“Proposal?” kek Gio mencibirkan bibir, “Proposal apa?”
“Kata Yazza, aku harus membuat proposal pengajuan pembangunan restaurant jika aku mau dia membantuku!”
Terkekeh, “Hahaha … lucu sekali! Bahkan sama calon istrinya sendiri harus seperti itu?”
Mencibir, “Itu hasil dari cara kakek mendidiknya!”
“Loh! Kok malah nyalain kakek,” protes kek Gio meski dengan nada bercanda.
Vee mendengus, “Huh! Memang begitu kenyataannya! Eh kek …,“ tersenyum menatap kek Gio, “bagaimana jika aku mencuri tabungannya saja!”
Terkekeh geli, “Ide bagus! Kakek pasti akan mendukungmu!”
Mencibirkan bibir, “Tapi enggak deh! Barang nggak penting hilang saja dia bawel, apalagi jika hartanya berkurang! Pasti satu tahun mengomel tidak akan cukup! Iyuhh! Males deh!”
“Nah … itu masalahnya! Kalau sudah mengomel, satu isi rumah bakal kena imbasnya. Hahaha,” kek Gio kembali terkekeh lepas.
“Kalau begitu … aku ikuti maunya aja deh! Buat proposal pengajuan!”
Tersenyum menggeleng-gelengkan kepala, “Jadi kamu sudah resign dari tempat kerjamu?”
Mengangguk, “Yaps!”
“Yazza memang paling bisa mencarikan kesibukan untuk orang yang menganggur!”
Tersenyum, “Kamu yakin saja, semua keputusan yang dia ambil pasti sudah dipikirkan matang-matang! Dia tidak hanya memusatkan untuk kepentingannya sendiri, sudah pasti punya maksud yang baik kok!”
Vee tersenyum sambil kembali mencampurkan bahan, “Yeah! Aku tahu itu!”
Aku rasa, aku sudah mulai terbiasa memahami sifat kerasnya!
Yang jelas, dia memang tidak memikirkan demi kepentingannya sendiri!
Batin Vee kembali tersenyum tipis mengingat tentang Yazza.
...***...
Hirza duduk bersila sambil memanggang daging saat Yazza dan pak Ardi masuk.
Pria itu tersenyum ramah, “Anda telat pasti karena kemacetan di depan?”
Yazza dan pak Ardi ikut duduk lesehan setelah Hans mempersilahkan dengan gerakan tangan.
“Yeah … sepertinya memang agak lain dari hari-hari biasanya,” ucap Yazza berhati-hati untuk tidak menyinggung tentang pertemuan yang sebenarnya sudah dia ketahui.
Tersenyum lagi, “Mas Rudi punya acara penting hari ini,” kemabli fokus menatap panggangan di atas meja.
“Ah … kenapa tidak memilih tempat lain saja? Atau kantor Paradise misalnya?” Yazza masih berusaha memancing dengan pura-pura sok polos.
“Mas Rudi memintaku datang, jadi sekalian saja mengundang kalian ke sini!”
Menyipitkan mata, “Anda bisa membatalkan meeting dengan saya jika memang acara pak Rudi tidak bisa ditinggalkan.”
Mendengus tersenyum, “Dia hanya memintaku datang. Yang penting aku sudah datang kan? Tapi aku tidak suka keramaian … jadi aku di sini saja! Daripada membuang waktu, bukankah lebih baik sekaligus memanfaatkan untuk pertemuan kita?”
Tersenyum mendengus, “Anda memang sangat sulit ditebak!”
__ADS_1
“Terima kasih atas pujiannya,” tersenyum sembari membolak-balik daging.
Suasana menjadi hening utuk beberapa saat.
Hanya suara daging segar yang bergemerisik di atas panggangan.
Asap menyeruak membawa bau harum yang memaksa perut kembali menjadi lapar meski sudah makan sebelumnya.
“Hans nyalakan layar Tv-nya!” ucap Hirza tanpa menatap adiknya.
“Oke mas,” pemuda itu berdiri menuju Tv dengan layar besar yang menempel di atas dinding belakang panggung yang biasa dipakai untuk pertujukan.
Gambar layar memperlihatkan aula ruang pertemuan yang sangat besar.
Para penari sudah melenggak-lenggok di sana, sudah ada puluhan orang duduk bersila di lantai.
Berbagai hidangan makanan juga sudah disediakan di atas meja.
Orang-orang terus berdatangan.
Untuk bisa masuk butuh pemeriksaan yang lebih ketat.
Hanya satu orang dari setiap perwakilan yang diperbolehkan memasuki ruangan tersebut.
Mr. Bald baru masuk.
Beberapa kenalan langsung menyapa melambaikan tangan untuk mengajaknya duduk di dekat mereka.
Yazza membelalakkan mata melihat ke layar, “Pak Hirza … sepertinya saya tidak pantas menyaksikan acara yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh orang luar!”
Tersenyum mencemooh, “Lalu kenapa orang luar seperti anda bisa tahu tentang pertemuan sejenis ini?”
Deg!
Kali ini Yazza yang sudah terpancing oleh Hirza.
Yazza panik menoleh menatap pak Ardi.
Tangan kanannya itu justru menyipitkan mata, menggelengkan kepala tipis.
Sial!
Aku sepertinya masuk ke dalam perangkapnya!
Yazza menghempaskan nafas panjang, “Mungkin sebaiknya kita menunda saja acara meeting kita!”
Menggeleng, “Sepertinya anda cukup dekat dengan Mr. Bald. Jadi tidak masalah jika anda tahu bukan?”
Hirza masih sibuk melihat panggangan tanpa menatap ke arah Yazza sedikitpun sedari tadi.
“Kami tidak sedekat itu! Hanya beberapa kali saja saya meminta bantuannya,” sangkal Yazza.
Tersenyum, “Tapi mereka tidak akan pernah lepas tangan untuk terus melindungi anda!”
Yazza menyipitkan mata kali ini.
“Ehemb!” Pak Ardi berdehem salah tingkah, “Emb … pak Hirza, bisa langsung kita mulai saja?”
Kali ini Hirza mendongak menatap pak Ardi dengan senyum mencibir.
Sepertinya mereka masih menutupi tentang semua ini dari Yazza!
Gumam Hirza dalam hati.
“Wow! Mas bro lihat itu! Bintang utamanya sudah datang,” Hans sengaja meninggikan nada untuk menarik perhatian, “Tamu istimewa yang sudah di tunggu-tunggu!”
Tidak sengaja Yazza ikut menoleh dan melihat ke layar.
Nafasnya seolah tercekat di kerongkongan dengan mata membelalak tajam.
“Gerry!”
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...