
Sekelompok orang datang menghadang mobil Daniel begitu mobil yang dia dan Yve tumpangi berhenti.
Yve tampak panik ketakutan. Sementara Daniel, sepertinya dia sudah bisa menebak, situasi apa yang sedang terjadi. Dia berusaha bersikap tenang dan memberanikan diri menghadapi orang-orang bertubuh besar di hadapannya saat ini.
“Apa mereka orang jahat?” tanya Yve gemetar memegang lengan Daniel.
Daniel mencengkram kuat kemudi stir, “Jangan takut! Mereka pasti tidak akan menyakiti kamu kok,” ucapnya dengan senyuman meskipun bibirnya kelu.
Tok … tok … tok!
Jendela kaca mobil diketuk dari luar.
Salah seorang tampak setengah menunduk melongok kan kepala melihat ke dalam isi mobil.
Yve langsung menahan lengan Daniel ketika pria itu hendak menurunkan jendela kaca mobil di sampingnya.
“Jangan dibuka! Kalau mereka orang jahat bagaimana?” ucap Yve khawatir.
Dari arah belakang orang-orang berbadan besar, muncul lah pak Ardi yang tampak berjalan santai mendekat menghampiri.
“Eh itu pak Ardi kan?” Yve semakin ketakutan.
Tentu saja karena Yve takut jika dia ketahuan dan papanya akan marah setelah tahu jika dia tidak masuk sekolah hari ini.
...***...
BRAKKK!!!
Yazza memasuki kamar dengan membanting pintu.
Suaranya sangat keras sampai membuat Vee terlonjak dari lamunannya.
Dia segera berdiri menaruh map di tempat dia duduk.
Tatapan Yazza tampak sangat tajam dengan rahang mengeras, tangannya pun mengepal dengan dengusan nafas dari hidung yang seolah sudah tidak bisa lagi membendung amarah.
“Aa … apa yang terjadi?” tanya Vee ketakutan, berjalan masuk dari arah balkon kamar.
“Apa kamu sedang berakting lagi? Jangan pura-pura tidak tahu!” sentak pria itu tiba-tiba.
Vee yang memang tidak memahami apa yang terjadi pun hanya bisa menyipitkan mata sambil bertanya-tanya, “A … apa yang kamu bicarakan?”
“Kamu sengaja bersekongkol dengan selingkuhan mu itu dengan memanfaatkan Yve kan?” tatapan nanar yang Yazza layangkan semakin tajam menusuk lawan bicaranya.
“Apa maksudmu!” protes Vee tegas.
Meski matanya mulai berkaca-kaca, dia tetap berusaha kuat untuk berdiri menopang badan dengan kedua kakinya yang sudah gemetaran lemas.
“Yve pergi bersama Daniel selama dia tidak masuk sekolah! Apa kamu juga diam-diam tahu lalu menutupinya? Bukankah hobi mu memang menutupi kotoran mu sendiri?” tuduh Yazza yang sekali lagi kembali melukai perasaan Vee.
“Yazza! Jangan sembarangan bicara!” sentak wanita itu lantang.
Vee mendengus mencemooh dengan kedua bahu merosot ke bawah.
“Daniel?” ulangnya mencibir, “Yve tidak dekat dengannya! Bagaimana bisa dia pergi bersama Daniel?”
“Halah! Sudahlah! Jangan memakai topeng mu itu lagi! Bisa saja saat Yve bersama Daniel, kamu juga berada di sana. Dengan kata lain, kamu memanfaatkan Yve untuk kepentingan mu!”
“Yazza!” sentak Vee meneteskan air mata, “Bukankah aku sudah berjanji padamu untuk tidak lagi menemuinya?”
“Lalu apa itu bisa di percaya?” Yazza balas meninggikan nada.
“Aku sudah berusaha melakukannya! Kenapa kamu masih saja tidak mempercayaiku,” deru Vee dengan bibir kelu. Kedua lututnya seakan semakin melemah.
Yazza mendengus membuang muka, “Cuih! Bahkan kamu sudah banyak berbohong sejak awal. Hanya saja aku terlalu bodoh untuk tetap mau mempercayaimu!”
Sekali lagi Vee menarik nafas panjang, berusaha bersikap kuat dengan menyeka air matanya, “Tanyakan pada semua orang di sini! Memangnya aku bisa pergi ke mana? Lenganku masih sakit, dan aku juga sudah mengganti nomor ponselku! Aku tidak pernah berhubungan lagi dengannya!”
__ADS_1
Sepertinya hati Yazza sudah terlalu keras dalam situasi ini.
Dia tersenyum mencemooh, memicingkan mata menatap istrinya, “Aku tidak mau tertipu lagi olehmu!”
Dengan acuh dia kembali membalikkan badan.
“Yazza!” Vee hendak mengejar.
BRAKKK!!!
Vee kembali tersentak menghentikan langkahnya.
Yazza meninggalkan kamar dan kembali membanting pintu dari luar.
Rasanya lebih pedih ketimbang terkena timah panas, Vee langsung mencengkram daadanya.
Kakinya kebas, tidak bisa merasakan apapun lagi.
Pertahanan kuat yang coba dia bangun, pada akhirnya harus runtuh juga.
Perlahan tubuhnya tersungkur ke lantai.
Air matanya kembali berjatuhan.
Kenapa tuduhannya lebih menyakitkan dari kata-kata makiannya?
Bagaimana bisa aku merasa duniaku sudah runtuh ketika dia berkata sudah tidak mempercayaiku lagi!
Dengan pandangan buramnya, Vee melihat ke arah pintu.
Aku sungguh tidak pernah mengingkari janjiku itu!
...***...
Layar laptop memperlihatkan Yve yang baru masuk dengan kepala menunduk ketakutan di iringi pak Ardi.
“Apa yang terjadi pada Daniel?” tanya Hirza santai di samping Hans.
“Bukankah mereka memang selalu berhati-hati?” Hirza menyandar punggung sofa dengan gaya santai.
“Sepertinya Daniel akan dalam masalah!” Hans menopang dagu dengan sebelah tangan.
Hirza tampak memikirkan sesuatu, “Hans, kamu ingat pak Joko?”
Menyipitkan mata, “Direktur bank swasta itu?”
“Ya!”
“Kenapa tiba-tiba membicarakannya?”
Tersenyum sinis sembari melihat kuku-kuku jarinya, “Dia memainkan trik kotor tapi berusaha menipu kita juga!”
“Maksud mas?” Hans menautkan alisnya.
“Dia tidak mau membayar uang keamanan. Dia pikir, dia sudah melakukan semuanya dengan sangat rapi! Tapi semalam, aku sudah menemukan bukti penggelapan yang dia lakukan,” menatap ke layar, “Dia dan mas Rudi sangat dekat, sudah pasti mas Rudi akan memaafkannya. Tapi aku tidak mau berakhir semudah itu … aku mau mereka jera karena sudah berniat mempermainkan kita!”
“Mas sudah punya rencana ya?” tanya Hans.
“Kirimkan potongan video ketika Daniel di hadang orang-orang Shadow ke pacarnya!”
Hans menyipitkan mata, “Mas jangan membuat aku semakin bingung! Sebenarnya ke mana arah tujuan pembicaraan mas ini?”
“Jika ular betina itu tahu pacarnya dalam bahaya … apa kamu memikirkan apa yang akan dia lakukan?” tersenyum sinis, “Terlebih video itu kita yang mengirimkan padanya!”
“Jangan bilang mas mau menggunakan Strom untuk mengatasi masalah direktur bank swasta itu!”
“Tepat sekali! Tisya pasti akan menukar keselamatan pacarnya dengan jasa. Dan aku ingin tahu, seberapa kuat mereka mengendalikan badai di tangan mereka! Apakah mereka akan sanggup menahannya sampai akhir?”
__ADS_1
Hans menggaruk kepalanya sendiri, “Mas membantu Strom tetap berdiri tapi juga berusaha untuk menghancurkannya! Pikiran mas Hirza memang sulit dimengerti!”
Pria itu tersenyum mencibir, “Hanya ingin membuat mereka sibuk sampai mereka tidak sempat memikirkan cara untuk menyakiti Vee!” menatap layar laptop semakin dalam, “Dari sekian banyak orang-orang jahat yang ada di Strom. Hanya Tisya-lah yang memiliki kebencian paling besar terhadap Vee. Meski dia terlihat tenang, aku justru paling khawatir jika dia tiba-tiba menyerang Vee dengan bisa racunnya!”
Hans mengangguk-anggukkan kepala, “Obsesinya terhadap Yazza menjadikan dia berubah haluan menjadi obsesi untuk mengalahkan nona Vee!”
“Karena dia ingin membuktikan jika dia bisa lebih baik dari Vee di mata Yazza.”
Hirza memiringkan kepalanya, melihat Yazza yang berjalan cepat menghampiri Yve.
...***...
“Kemana saja!” sentak Yazza bertolak pinggang menatap putrinya.
Kek Gio menarik lengan Yazza, “Jangan terbawa emosi!”
Mendengar keributan, Vee bergegas menghapus air matanya.
Dia berdiri merapikan diri sebelum berjalan ke arah pintu.
“Apa kamu tahu? Apa yang sudah kamu lakukan ini membuat mama dan papamu malu?” Yazza menghiraukan kek Gio, “Bagaimana bisa Kepala Sekolah memanggil kami hanya untuk memberikan surat skorsing! Jika itu sebuah prestasi, tidak masalah kami dipanggil! Tapi apa yang kamu buat ini? Kamu sudah mencoreng nama baikku!”
Yve mulai mewek tanpa berani mendongakkan kepala.
“Cukup Yazza! Jangan berteriak padanya!” Vee menuruni tangga.
Yve segera berlari ke arah mamanya.
“Mama!” rengek Yve memeluk mamanya tepat saat Vee sampai di lantai utama.
Yazza mendengus kesal, “Masih membela anak tidak tahu diri ini?” melotot menatap Yve, “Aku sudah membayar mahal untuk sekolahmu itu!”
“Yazza cukup!” sentak Vee mengelus rambut putrinya.
“Kamu yang diam! Jika kamu terus memanjakannya seperti ini, dia tidak akan menyadari kesalahannya!” Yazza semakin meninggikan nada.
Yve menarik diri, dia tidak tega mendengar mamanya di bentak seperti itu.
“Ini salah Yve! Papa jangan memarahi mama!” tegas Yve memberanikan diri balas menyentak papanya.
“Sudah berani melawan orang tua? Percuma saja di sekolahkan untuk belajar sopan santun dan tata krama!” sahut Yazza sama tegasnya.
“Ya! Yve memang tidak suka sekolah! Yve tidak suka di sekolahkan di situ! Kenapa papa tidak pernah mau mengerti Yve! Papa selalu mau Yve yang mendengarkan papa! Tapi apa pernah papa mendengarkan Yve? Papa egois! Yve benci papa!” Yve mendorong Yazza, berlari menuju pintu keluar.
“Yve! Kamu mau kemana sayang!” Vee yang kembali meneteskan air mata langsung mengejar.
Kek Gio menghempaskan nafas panjang menatap Yazza kecewa.
Pria itu hanya terdiam menurunkan kedua bahunya.
Yve terus saja berlari.
“Yve! Mau ke mana?” Vee berlari sembari memegang bahu lengan kanannya yang terasa pegal.
“Non!” Satpam rumah tampak kebingungan melihat Yve berlari sambil menangis.
Yve membuka gerbang tanpa peduli siapapun lagi.
“Non, mau ke mana?” Satpam berusaha ikut mengejar.
Satpam satunya melihat ke arah jalan, “Awas non!”
Yve terkejut terdiam melihat ke arah kirinya.
BRUCK!!!
“Yveeeeee!!!” Pekik Vee keras.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...