
Dengan langkah berat Daniel memasuki ballroom acara resepsi.
Pria itu menatap Vee penuh kesedihan.
Ada ketidakrelaan, dan keputusasaan dari sorot matanya.
Meski keduanya saling beradu pandang, tapi justru kekosongan yang tersirat jelas.
Baik Vee maupun Daniel, keduanya sama-sama terlihat tengah menahan kepedihan di dalam hati masing-masing.
Hirza yang menyadari perubahan wajah Vee langsung berdiri di hadapan Vee, menghalangi pandangan agar wanita itu tidak terus menatap ke arah Daniel.
Hirza tidak ingin melihat air mata Vee secara langsung di depan matanya.
Bagi Hirza, kesedihan Vee adalah kesedihannya juga.
“Selamat pak Yazza, Vee!” Hirza tersenyum mencoba mengalihkan perhatian.
Aksi yang Hirza lakukan ternyata berhasil membuat Vee tersadar dari kekosongan nya.
Wanita itu memejamkan mata, menarik nafas panjang dan menghempaskan nya.
Yazza baru sadar jika Daniel sudah ada di sana.
Dia menoleh ke arah istrinya
Pantas saja dia langsung drop!
Menatap Hirza, dengan sedikit memiringkan kepala.
Dia sengaja menghalangi pandangan orang terhadap kesedihan Vee, atau memang hanya sebuah ketidaksengajaan?
Batin Yazza bergantian melihat ke arah Daniel dan Hirza.
“Terima kasih senior buaya!”
“Terima kasih pak Hirza,” Yazza tersenyum palsu.
“Hadiah pernikahan kalian sudah dikirim ke rumah kalian!”
Vee menyipitkan mata, “Langsung ke rumah kami?”
Mengangguk tersenyum, “Agar tidak terlalu menarik banyak perhatian!”
“Apa memangnya?”
“Rahasia dong … cek saja sendiri begitu acara ini usai,” tutur Hirza lembut sembari tersenyum menatap Vee.
Mencibir, “Cih … paling juga pensil dan buku tulis!”
Terkekeh, “Hahaha … hya! Kamu pikir ulang tahun anak SD!”
“Bercanda!” Vee mengelus lengan Hirza, “Sekali lagi terima kasih sudah datang!”
Hirza menganggukkan kepala, “Kalau pak Yazza membuatmu menangis, bilang padaku!”
Bagi Vee, kalimat yang Hirza ucapkan hanya seperti candaan. Tapi berbeda dengan yang Yazza tangkap. Rasanya, kalimat itu terdengar begitu serius, lebih tepatnya seperti sebuah ancaman.
“Pak Hirza jangan khawatir! Saya sangat mencintai istri saya, tentu saya akan selalu berusaha membuat dia bahagia,” dengan sengaja Yazza merangkul kan sebelah tangannya melingkari bahu Vee.
Hans tampak mencibir membuang muka melihat tingkah Yazza.
Hirza yang sadar jika dia berada di tempat umum berusaha untuk tidak terpancing. Meski tangannya sudah mengepal, tapi bibirnya memperlihatkan senyuman, “Kalau begitu sepertinya saya tidak perlu khawatir! Vee bertemu dengan orang yang tepat!”
“Tentu saja!” sahut Yazza percaya diri.
Dia melihat Hirza sudah tampak kepanasan.
“Emb, sepertinya saya membuat antrian,” melihat ke belakang, “Ada tamu penting yang sudah menunggu giliran.” Hirza menatap Vee, “Mantan bos mu!”
Vee hanya tersenyum palsu tanpa bisa berkata-kata lagi.
Daniel terlihat berjalan mendekat.
“Sekali lagi aku ucapkan selamat untuk kalian berdua!” pamit Hirza sebelum berjalan menuruni panggung di ikuti Hans di belakangnya.
Anak itu tidak banyak berbicara, dia lebih memilih bungkam daripada harus membuat kesalahan karena tidak bisa menahan amarah dan harus salah bicara nantinya.
Daniel berdiri canggung di hadapan Yazza dan Vee, terlihat sekali dia tampak salah tingkah.
__ADS_1
“Emb, selamat pak Yazza! Vee,” ucapnya berat.
Pria itu menatap Vee, tapi justru dibalas dengan memalingkan wajah. Dengan acuh, Vee tidak menanggapi.
Melihat sikap Vee yang sepertinya terlihat sangat membencinya, tentu membuat Daniel terdiam menyipitkan mata penuh tanda tanya.
Kenapa Vee tidak mau melihatku ya?
Apa aku melakukan kesalahan yang membuatnya kesal?
Batin Daniel masih memandangi pengantin wanita di hadapannya.
“Ehem!” pak Didik berdehem menyenggol pinggang Daniel, berisyarat agar Daniel segera melangkah.
Pria itu menoleh sebentar lalu melangkah maju.
Sembari berjalan, dia kembali melihat ke arah Vee.
“Selamat ya Vee! Selamat pak Yazza, semoga bahagia selalu!” pak Didik menyalami.
Vee tersenyum kali ini, “Terima kasih ya pak Didik!”
Daniel semakin bertanya-tanya menyipitkan mata.
Dia bahkan tersenyum saat berbicara dengan orang lain!
Ada yang tidak beres di sini!
Daniel kembali bergumam dalam hati.
Bu Risma langsung memeluk Vee, “Anakku … semoga berbahagia! Selalu ingat pesan mama, jika ada sesuatu, hubungi mamamu ini!”
Vee tersenyum haru melihat bu Risma yang tampak meneteskan air mata, “Ahh mama! Terima kasih!” memeluk bu Risma erat.
“Pak Yazza! Meski aku tidak melahirkannya, tapi aku sudah menganggap Vee seperti putriku sendiri. Tolong jaga dia ya!” bu Risma menatap Yazza.
Pria itu memperlihatkan senyuman sembari menganggukkan kepala.
Pak Fauzan mengelus bahu istrinya yang terbawa suasana, “Pak Yazza, semoga anda tidak merasa tersinggung. Bagi kami, Vee memang sudah seperti keluarga. Dia sangat baik dan periang. Kami semua menyukainya!”
Yazza tersenyum, “Saya tidak tersinggung. Saya justru berterima kasih kepada kalian. Vee pasti senang bisa merasakan kasih sayang dari kalian berdua!”
Pak Fauzan tersenyum mengangguk, “Semoga kalian selalu berbahagia! Aku hanya bisa mendoakan, supaya kalian selalu bersama sampai akhir hayat kalian!”
Bu Risma ikut memeluk Vee dan suaminya.
“Kita masih boleh menemui Yve kan setelah ini?” tanya bu Risma.
Vee mengangguk, “Tentu saja!”
Dengan senyuman bu Risma mengusap air mata Vee, “Sudah … jangan menangis! Nanti cantiknya ikut luntur!”
Vee terkekeh pelan, “Mama sih yang menulari!”
Wanita paruh baya itu kembali tersenyum mengelus wajah Vee, “Sekali lagi selamat ya!” ucapnya haru.
Vee mengangguk tersenyum menggenggam tangan bu Risma.
Keluarga pak Fauzan berpamitan turun dari panggung, memberikan kesempatan bagi orang lain untuk naik dan member selamat juga kepada ke dua mempelai.
Ganny langsung melambaikan tangan mengisyaratkan agar keluarga pak Fauzan duduk di dekat mereka.
Kenapa Tisya juga di sini?
Aduh, gawat!
Daniel salah tingkah.
“Emb, pa, ma! Daniel mau menemui Yve sebentar ya!” pamit Daniel mau menghindari Tisya.
“Eh, sapa dulu keluarga calon istrimu!” bu Risma memegang lengan Daniel.
Melepaskan diri dengan sopan, “Daniel kangen banget sama Yve! Bentar saja kok,” berjalan cepat ke arah meja yang penuh dengan makanan.
Senyum penuh harap yang Tisya simpulkan sedari tadi tampak pupus ketika Daniel berjalan berlawanan arah dari tempat dia duduk.
“Yve! Itu papa bohongan kamu!” Caesar menunjuk Daniel.
Yve mengernyit mencibir, “Ish! Nyebelin!”
__ADS_1
“Hi tikus kecil!” sapa Daniel.
Paman Mail yang membawakan gelas jus untuk Yve tampak menyipitkan mata melihat Daniel dengan seksama.
“Hya! Dimana ada banyak makanan enak, di sanalah tikus akan datang!” cibir Yve menatap Daniel.
“Ehh … lagi ngomongin dirinya sendiri dong? Bukankah kamu yang sudah di sini sedari tadi!” goda Daniel.
Caesar dan Xean tampak terkekeh menutup bibir.
“Hya! Mau aku tendang!” sentak Yve.
“Astaga masih galak!”
Bertolak pinggang, “Pergi sana! Bukankah kamu sudah ada pacar sekarang?”
Deg!
Daniel terkejut membelalakkan mata menatap Vee.
Beberapa saat dia baru sadar.
Caesar, keponakan Tisya tengah bersama Yve.
“Emb … sejak kapan kamu tahu kalau paman sudah punya pacar?” tanya Daniel serius kali ini.
“Beberapa waktu yang lalu! Mama Vee juga sudah tahu kok!” cibir Yve.
“Apa!” Daniel setengah berteriak terkejut menatap Yve dengan tangan mengepal.
Apa ini yang membuat Vee tampak kecewa dan marah saat melihatku?
Pikirannya semakin kalang kabut.
Bagaimana ini!
Vee pasti salah paham!
Melihat ke arah Vee.
Jangan bilang, dia sengaja menghindari ku beberapa hari terakhir karena dia merasa kesal dan marah?
Kenapa aku bodoh sekali!
Seharusnya aku segera mencarinya begitu nomornya tidak aktif!
Paman Mail menepuk punggung Daniel, “Benar! Bukankah kamu si nahkoda?”
Sekali lagi Daniel dibuat terkejut.
Belum tenang pikirannya, di tambah satu masalah lagi yang datang.
Seketika dia menjadi gelisah dan salah tingkah melihat paman Mail.
Seorang waiters pria datang mendorong troli makanan.
Pria itu berdiri di bawah panggung tepat lurus di hadapan Vee dan Yazza.
Dengan sigap dia menarik penutup troli, sebuah senapan sudah dia genggam, mengarah tepat ke arah kedua mempelai.
“Aaaaaaaa!” pekik histeris orang-orang.
Daniel langsung memeluk Yve, berusaha melindunginya.
“Apa itu!” huru hara orang-orang mulai gemericik.
“Astaga! Timer apa itu!” semua orang tampak membelalakkan mata melihat isi troli.
“Jangan ada yang bergerak!” ancam pria tersebut, “Semuanya tiarap!”
“Aaaaaaaa!” mereka ketakutan dan menurut.
“Yazza, apa-apaan ini?” desis Vee ikut menunduk.
Menggeleng kebingungan, “Sepertinya ini adalah ancaman Gerry tadi!” duganya geram.
“Jangan ada yang berisik!” melihat ke atas troli. “Kalian tahu apa ini?” mengelus kotak besar dengan timer yang terus berjalan.
“Boom!” desis Vee membelalakkan mata.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...