
Bali.
Villa pribadi Yazza cukup banyak.
Ada asset hotel juga, tapi masih dipegang kakeknya yang memang tinggal di sana.
Atas permintaan Yve, mereka bertiga berada di satu villa yang sama.
Vee melihat isi kopernya, “Ini Yve yang mengemas pakaian mama ya?” tanya Vee tersenyum memeriksa, “Lengkap sekali!”
“Papa yang mengemas semuanya,” jawab Yve tepat saat Vee menyentuh dalaman.
Segera dia kembali menyelundupkan lagi ke dalam sela pakaian.
Wajahnya memerah tidak berani mendongakkan kepala.
Yazza membuang muka salah tingkah meski masih bersikap sok dingin.
“Kenapa membiarkan orang asing masuk ke kamar mama?” sedikit melirik ke arah Yazza.
“Dia papa! Bukan orang asing!” Yve memainkan kakinya ke dalam kolam yang berada di samping kamar mereka.
Yazza tersenyum pongah balas menatap Vee penuh percaya diri.
“Cihh!” mencibir kesal membuang muka.
“Kamu pasti sangat menyukai tiga warna itu. Merah, hitam dan ungu!”
Mendengar celetukan Yazza, dia kembali melayangkan tatapan tajam dengan dengusan nafas melalui hidung.
“Hanya ada tiga warna itu," lanjut Yazza sengaja membuat Vee semakin kesal.
“Awas jika anda berani menyentuh bagian itu lagi!” desis Vee.
Yazza membayangkan, “Sepertinya bagus jika mengenakan yang merah,” tersenyum menerawang.
Botol body lotion melayang ke kepala Yazza.
“Aaa!” pekik Yazza mengelus kepalanya.
Yve menoleh.
Seketika Vee langsung tersenyum sok polos melihat Yve.
“Kenapa memukul papa?” hardik Yve mengernyitkan dahi dengan alis yang bertautan.
Yazza tersenyum, “Mama tidak sengaja kok,” membela untuk mencari muka.
“Sungguh? Mama jangan jahat!” gertak Yve.
Vee menggeleng tersenyum, “Tidak kok!”
Yve berdiri, “Aku mau mencari madam Lia. Dia bilang mau mengajakku bermain pasir!”
“Yve nanti saja bareng mama!”
Yve menggeleng tetap berlari keluar.
Tidak nyaman bagi Vee hanya berduaan saja bersama Yazza di ruangan itu.
“Jadi, Yve itu adalah singkatan dari Yazza dan Vee?” tanya Yazza memecah keheningan.
Memejamkan mata menahan diri dengan helaan nafas panjang.
Jika tidak di benarkan, justru malah akan membuat pertanyaan yang akan semakin panjang.
“Hanya tidak tahu harus memikirkan nama apa yang bagus!” balas Vee ketus.
Dia sama sekali tidak berniat menjawab sebenarnya.
Tersenyum, “Terima kasih masih mau mengakui aku! Termasuk di dalam akta kelahirannya.”
“Itu bukan nama lengkapmu! Jadi jangan kepedean!”
Tersenyum, “Tetap saja itu Yazza. Namaku!”
“Kenapa anda tidak ikut pergi keluar saja?” usir Vee halus.
__ADS_1
“Aku akan membuat konferensi pers dan mengumumkan ke dunia jika aku menemukan putriku, juga wanita yang selama ini aku cari!”
Vee tertegun mendengarnya, “Jangan membuat drama yang memalukan!”
Menggeleng, “Aku sangat bahagia. Jadi akau akan mengumumkan ke dunia tentang kalian!”
“Tidak! Aku tidak mengijinkan!”
“Cepat atau lambat, kita akan segera meresmikan pernikahan. Jadi apa bedanya?” debat Yazza.
Berdiri menatap Yazza geram, “Hanya karena saya mengijinkan anda mendekati Yve. Bukan berarti saya mau menikah dengan anda!”
Yazza menyipitkan mata, “Aku tidak mau mendengar alasana apapun! Kita akan menikah dan bersatu kembali! Itu sudah menjadi keputusan!”
“Anda pikir anda siapa? Seenaknya memutuskan tentang hidup saya!”
Yazza berdiri, menatap geram, “Aku sudah mencoba baik untuk memperbaiki kesalahanku. Kenapa masih tidak bisa menerimaku?”
“Anda pikir semudah itu memaafkan apa yang sudag terjadi?”
Mendengus, “Heh! Terserah apa yang akan kamu katakan. Jika aku sudah memutuskan kita akan menikah, maka tidak akan ada yang bisa menentang. Termasuk dirimu sendiri!”
“Hya!” sentak Vee menyela.
“Masalah memaafkan dan menerima kehadiranku. Bisa berjalan dengan seiring waktu!” tegas Yazza sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi.
Tubuh Vee gemetar ketakutan, dia hanya berdiri dan tidak bergerak sedikitpun melihat kepergian Yazza.
***
Pantai
Matahari bersinar cerah di sore itu.
Lautan biru membentang seperti lukisan.
Langit sudah berwarna oranye, tapi masih belum mengurangi keramaiannya.
Masih banyak orang yang bergembira menghabiskan waktu menikmati senja.
Sementara Yazza hanya duduk santai di kursi pantai jauh dari tepian.
Dia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek juga kacamata hitam.
Sesekali dia tersenyum melihat Vee dan putrinya nampak begitu bahagia bermain bersama.
Tiga gadis berbikini tengah bercengkerama sambil cekikikan berjalan di sepanjang garis pantai.
Salah satu diantara mereka adalah Berliana.
“Eh, lihat. Ada cowok keren!” salah seorang gadis berambut pendek bernama Amel menujuk Yazza yang sedang bersantai.
Ellen menepuk-nepuk bahu Berliana, “Berli, bukankah itu mantanmu?” gadis bekuncir itu memperhatikan Yazza dengan seksama.
Berliana tersenyum mencibir, merapikan rambutnya dan sengaja berjalan mendekat.
“Yo! Lihat siapa ini?” menyilangkan tangan di perut, berdiri mencibir di samping Yazza.
Yazza melirik santai.
Begitu tahu siapa wanita itu, Yazza cuek mengabaikannya.
Kembali melihat ke depan.
“Aku dengar, sampai sekarang kamu masih belum memiliki pasangan. Atau masih belum bisa move on dariku?” Berliana sengaja meroasting.
Yazza tetap acuh tidak menggubris.
Vee tidak sengaja melihat ke arah Yazza yang sedang dikerumuni wanita-wanita sexy.
“Cihh!”
Vee hanya mencibir dan lanjut bermain dengan putrinya.
“Ckk, kasihan sekali! Yuk guys cabut! Sepertinya dia sedang mengikutiku karena tahu aku sedang liburan ke sini,” dengan centil, Berliana berjalan melenggak-lenggok melewati Yazza.
Teman-temannya cekikikan menertawakan lalu mengikuti Berliana.
__ADS_1
Yazza hanya mencibirkan bibir, tetap fokus memperhatikan Vee.
Pak Ardi mendekat, “Tuan! Sedekat ini dengan lautan, apa anda tidak apa-apa?”
Menggeleng, “Aku merasa sangat aman selama masih bisa melihatnya!”
“Saya sudah mengirim pesan ke pak Karno, tangan kanan kakek anda,” ujar pak Ardi memberitahukan.
“Bagaimana?”
“Tentu saja beliau akan meluangkan waktu untuk anda besok. Hanya saja, beliau sedikit kecewa,” ekspresi wajahnya berubah muram.
“Kecewa?” ulang Yazza mengernyit.
“Beliau menanyakan, kenapa anda tidak langsung ke sana dan malah ke villa terlebih dahulu,” jawab pak Ardi datar.
Tersenyum, “Apa dia akan sakit jantung jika aku tiba-tiba membawa anak dan wanita?”
Terkekeh, “Hahaha! Takutnya, jika tidak diberitahu terlebih dahulu, justru nona Vee yang akan dalam masalah.”
“Kakekku hanya akan mengomel di awal!”
“Tetap saja akan membuat nona Vee tidak nyaman nantinya.”
Pak Ardi ikut melihat ke arah tuannya melihat.
“Meskipun tuan besar hanya menggertak, tapi dengan sikap keras kepala nona Vee, bukankah itu akan sulit untuk menyatukan keduanya? Terlebih, nona Vee belum mengenal kakek anda,” lanjut pak Ardi dengan nada santai.
“Akan ku beritahu kepada putriku dan Vee nanti!” tersenyum melihat ke depan.
Pak Ardi seolah seperti menahan tawa. Menutup bibirnya dengan telapak tangan.
Melirik, “Apa yang anda tertawakan?”
“Tiba-tiba anda menjadi seorang ayah, bukankah ini terasa sedikit mengejutkan?” goda pak Ardi.
Tersenyum, “Bukan sedikit lagi! Rasanya masih sangat canggung sekali ketika anak itu memanggilku dengan sebutan Papa!”
“Anak itu sangat cerdas dan cepat tanggap," puji pak Ardi.
“Ah… iya! Bisa siapkan acara untuk konferensi pers dengan majalah yang masih terikat kontrak dengan kita? Aku mau mengumumkan ke semua orang jika aku bahagia dan bangga telah menemukan mereka!” tersenyum melihat Vee dan Yve.
Melihat raut bahagia tuannya, tentu membuat pak Ardi merasa senang.
“Baik tuan!” jawabnya menunduk hormat.
***
Yazza menggendong Yve di pundaknya.
Mereka berjalan kembali ke villa.
Yve terlihat sangat bahagia sekali.
Vee yang melihat ikut tersenyum.
"Yunna! Ini yang pernah kamu harapkan bukan?”
“Putrimu bertemu dengan ayahnya!”
“Mereka terlihat bahagia dan bisa tertawa bersama.”
“Sayang sekali kamu sudah tidak disini!”
“Yve tidak pernah tertawa sebahagia itu sebelumnya.”
“Lihatlah putri kecilmu yang semakin tumbuh dewasa!”
“Dia akan menjadi seceria dirimu!”
“Aku bersumpah!"
Meski ada kelegaan di hatinya. Butir bening tetap saja jatuh menuruni pipinya.
Sebelum ada yang melihat, segera dia mengusap dengan jarinya.
“Aku rindu sekali dengan suara tertawa mu Yun!”
“Sampai waktu yang tepat, aku pasti akan datang mengunjungimu! Mengembalikan identitas pusara terakhirmu!”
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>' '<((((<...