RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
BLAMING


__ADS_3


Daniel langsung berdiri panik melihat pesan dari Vee.


Bergegas dia mengambil kunci mobil berjalan cepat.


Pak Didik yang baru saja membuka pintu menatapnya terkejut.


“Mau ke mana?” tanya pak Didik menyipitkan mata.


“Sekolah Yve!” melewati pak Didik tanpa banyak kata-kata.


Pak Didik menghela nafas panjang, menggeleng berdecak menatap Daniel dari belakang.


...***...



Sekolah Yve.


Hirza turun dari mobil di area parkiran sekolah, tepat saat Vee juga turun dari taksi online di depan gerbang.


Dia tampak menyipitkan mata melihat ke arah Vee yang tampak terburu-buru.


Hirza mengangkat bahu berjalan mendekat.


Vee cukup terkejut melihat teman lamanya juga ada di sana.


“Heh … kamu mengikuti aku ya?” Hirza memicingkan mata.


“Kok kamu bisa ada di sini?” menyipitkan mata.


Hirza menghela nafas panjang, “Ini adalah hari pertama putraku pindah ke sekolah ini … tapi sepertinya dia sudah membuat masalah!” Mencibir pada dirinya sendiri, “cih … dia berkelahi!”


“Tunggu …,” Vee makin mengerutkan kening, “berkelahi?”


Mengangguk dengan tatapan penuh tanda tanya, “Kamu sendiri? Kenapa di sini?”


“Putriku berkelahi dengan anak pria!”


Keduanya terdiam sesaat saling menatap membelalakkan mata.


Berbagai dugaan dan prasangka berkembang liar di dalam pikiran masing-masing.


Vee langsung berkacak pinggang.



“Hya! Jangan-jangan putramu nakal dan menjahili putriku ya?” tuduh Vee, melotot tajam menatap Hirza.


“Enak saja! Senakal-nakalnya putraku, aku selalu mengajarinya untuk tidak memukul anak perempuan!” sangkal Hirza membela putranya.


“Putriku tidak akan berkelahi jika tidak ada sesuatu yang salah … aku yakin pasti ada yang menyinggungnya terlebih dahulu!”


“Putraku juga sama! Dia tidak akan berkelahi hanya untuk mencari perhatian … pasti ada alasan!”


Satpam menghampiri.


Vee dan Hirza kembali terdiam, melihat ke arah Satpam.


“Orang tua murid yang bermasalah?” tanya Satpam pria bertubuh gempal.


Vee mengangguk, menurunkan tangan dari pinggang.


“Mari ikut saya! Orang tua yang lain sudah menunggu,” ajaknya cukup ramah dan sopan.


“Hah … orang tua yang lain?” Vee mengernyitkan dahi.


“Tunggu pak! Maksud bapak, anak yang bermasalah bukan cuma dua orang?” Hirza juga baru tahu.

__ADS_1


Mengangguk, “Yang berkelahi sih ada enam anak. Katanya empat anak pria di hajar oleh dua anak baru … yang satu perempuan masih kelas tiga!”


“Itu putri saya!” sahut Vee.


Satpam terkejut, dia melihat salah tingkah.


Hirza menyipitkan mata, “Apa ada yang salah?”


Menggeleng, tapi seperti menutupi sesuatu.


“Pak! Bapak tidak salah bicara? Empat anak pria di hajar oleh dua anak? Dan satunya perempuan loh!”


Menggaruk topi, “Aduh … bagaimana ya … mending ibu dan bapak langsung ke ruang kepala sekolah saja deh!”


Hirza menghela nafas panjang.



Bertolak pinggang, “Apa yang sebenarnya bapak khawatirkan?” desak Hirza.


“Eh … emm!” Satpam kembali salah tingkah.


Vee menyipitkan mata menatap Hirza, “Maksud senior apa?” desis Vee.


“Pak … jangan bilang jika salah satu di antara ke empat anak itu berasal dari keluarga yang terpandang?” tebak Hirza.


Jleb!!!


Satpam langsung melongo menatap Hirza dengan wajah tegang.


“Hah?” Vee sama terkejutnya dengan pernyataan Hirza.


“Saya sudah sering menghadapi masalah seperti ini … rata-rata selalu saja sama … melimpahkan tuduhan yang belum jelas kepastiannya untuk mencuci tangan!”


Satpam jadi kebingungan, “Duh … gimana ya pak! Saya tidak berani berkomentar banyak deh! Yang jelas, orang tua dari ke empat anak pria itu tampak sangat marah sekarang,” melihat Vee dan Hirza bergantian, “Bapak dan Ibu sebaiknya langsung menghadapi mereka saja!”


Vee menatap Hirza panik.


“Saya juga cukup ragu … empat anak ini memang nakal dan sering membuat masalah … tapi orang tua mereka cukup berkuasa!” Satpam menatap Vee, “Tidak ada yang berani kepada Gabriel dan teman-temannya sejauh ini … sampai putri ibu dan anak yang baru masuk hari ini menghajar mereka!”


Vee dan Hirza kembali saling tatap.


Keduanya menghela nafas panjang.


Sepertinya mereka akan menghadapi masalah dengan orang-orang yang ‘katanya’ berkuasa tersebut.


Satpam mengantar keduanya menuju ruang kepala sekolah.



Empat anak nakal tadi menangis dengan muka bengep dalam dekapan orang tua masing-masing.


Xean dan Yve berdiri menunduk di samping kepala sekolah.


Sudut bibir Xean tampak berdarah.


“Mama!” Yve tersenyum melihat mamanya yang baru masuk.


Xean tampak menunduk membuang muka tak berani menatap papanya yang tampak melotot kesal.


“Ini orang tuan anak itu?” ibu Gabriel tampak nyolot.


“Harap tenang, kita akan menyelesaikan ini secara baik-baik!” bu kepala sekolah tampak bijaksana.


“Anak nakal tukang pukul itu tidak pantas sekolah di sini!” protes ibu Gabriel dengan nada angkuh.


“Kak Gabriel yang memukul kakak ini duluan!” Yve membela menunjuk Xean di sebelahnya.


“Heh … kamu anak kecil sudah pandai berbohong!” sentak ibu Gabriel.

__ADS_1


“Heh! Putriku tidak pernah berbohong!” Vee ikut nyolot.


Hirza menarik bahu Vee, “Tenangkan dirimu,” bisik Hirza santai.


“Bapak … ibu … silahkan duduk dulu,” kepala sekolah kembali mencoba menengahi.


Hirza berisyarat pada Vee agar menurut.


Vee menghela nafas panjang, berjalan menuju kursi yang sudah disediakan.



“Keluarkan saja kedua anak itu bu kepala!” ibu Gabriel mencibir nyinyir.


“Tenang … kita akan mendengar cerita dari kedua sisi dulu!”


“Sudah jelas anak-anak kami terluka parah dan mereka tampak biasa … masak hanya sedikit terluka? Pasti mereka membully anak kami! Benar kan sis?” mengompori ibu-ibu lain.


“Betul!”


“Betul itu!”


Ibu anak yang lain bersahut-sahutan mengangguk-angguk membenarkan sembari mengusap lembut kepala anak mereka masing-masing.


Anak-anak itu masih menderu menangis kesakitan.


“Gabriel, kemari nak! Coba ceritakan apa yang terjadi,” bu kepala sekolah bertanya lembut, memberi isyarat agar Gabriel maju ke depan.


“Eh cepat ceritakan!” desak ibunya mendorong pelan anaknya agar segera maju.


Dengan ketakutan, Gabriel maju mendekat.


Dia berdiri di kanan kepala sekolah.


Sementara Yve dan Xean berdiri di sebelah kiri ibu kepala.


“Jadi kenapa kamu dan yang lain ada di gudang?” tanya bu kepala.


“Anak baru itu nakal sekali buk! Dia nyolot di kelas dan menyuruh kami melakukan apapun yang dia suruh! Kami tidak mau menurut dan dia justru memaksa kami ke gudang, lalu kami dihajar di sana!” jawab Gabriel berapi-api.


“Itu bohong!” sahut Yve, “Kakak itu tadi mendorong Yve … kak Xean mencoba membela Yve, tapi kak Gabriel malah langsung memukul kak Xean terlebih dahulu! Itu sebabnya kak Xean balas memukul!”


Bu kepala sekolah tampak diam memperhatikan.


“Teman-teman kak Gabriel ikut menghajar kak Xean … karena melihat kak Xean dihajar banyak orang, Yve juga ikut berkelahi berusaha membantu kak Xean,” lanjut Yve menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


“Kamu masih kelas tiga, kenapa pandai sekali mengarang cerita!” Gabriel nyolot, “Kamu bahkan juga ikut memukuli kami!”


“Gabriel tenang dulu!” Bu kepala sekolah menengahi, “Ibu tanya lagi, kenapa ada anak kelas tiga juga di sana?”


“Bu kepala bagaimana sih! Jelas mereka bersekongkol,” sahut ibunya Gabriel.


“Bu … kami berusaha berlaku adil mencari tahu kebenaran. Harap tenang dulu,” tegur bu kepala.


“Cih!” dengan sombong dia menyilangkan tangan di perut membuang muka kesal.


“Jadi Gabriel, kenapa ada anak perempuan juga di sana?” tanya bu kepala lagi.


“Dia tiba-tiba muncul dan ikut memukuli kami! Bukankah mereka sama-sama murid baru? Mungkin mereka memang berteman,” jawab Gabriel mulai kebingungan.


Yve mengernyit kesal.


“Ah, keduanya murid pindahan … pantas tidak punya aturan! Coba sudah sejak awal di sekolahkan di sini … pasti tidak akan jadi bandel dan liar!” cibir ibu Gabriel lagi, menaruh tas di pangkuan.


Vee berdiri tampak geram mengepalkan tangan dengan rahang mengeras melihat ekspresi sinis dari ibu Gabriel.



...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2