
Dania kembali memastikan jika Yve sudah benar-benar tidur atau belum.
Begitu yakin Yve sudah terlelap, dia langsung mengendap keluar, seperti yang sudah pernah dia lakukan.
Jam sembilan lebih, tapi rumah sudah sepi dengan lampu yang sudah dipadamkan.
Dania menuju kamar Yazza, dia terkagum melihat seisi ruangan.
“Bagus banget! Ini lebih luas dari rumahku!” membentangkan tangan, menari berputar-putar, “Ini akan menjadi kamarku dengan pak Yazza nantinya!” melihat sekeliling, “Di mana almari pakaiannya?”
Dengan hati-hati dia menyentuh semua barang di sana.
Ada sebuah pintu di dekat almari kaca untuk memajang piagam penghargaan.
Dania membuka pintu tersebut dan kembali terkejut melihat isi dalamnya.
Di sanalah ruang ganti Yazza beserta kamar mandinya.
“Gila! Keren banget!” melihat-lihat tempat jam tangan, rak sepatu dan tempat penyimpanan pakaian dalam Yazza tentunya.
Dania cengengesan melihatnya.
“Jika aku ambil satu lagi, pasti akan heboh kembali! Jangan dulu deh,” mengurungkan niat.
Dania membalikan badan dengan senyum yang merekah.
Membuka almari satu persatu sampai menemukan almari pakaian Vee, “Aku sudah mengikuti semua gayanya sampai sungguh benar-benar mirip dengannya! Seharusnya pak Yazza sudah mulai bisa melihatku!”
Mengambil pakaian kantor Vee.
“Apa aku juga perlu menjadi pekerja kantoran juga ya? Tapi kalau mendaftar magang di kantor, aku tidak akan dapat kesempatan sedekat ini lagi dong? Ah … jadi pengasuh saja,” kembali meletakan pakaian Vee ke almari.
Dania kembali menutup almari, berjalan menuju bathtub.
Mengangkat bahu melihat ke depan, “Berendam dulu ah!” menyalakan air panas.
Sembari menunggu penuh, Dania memilih-milih sabun mana yang akan dia gunakan. Ada berbagai jenis wewangian di sana.
Begitu mendapatkan yang dia suka, dia langsung menuangkan ke bathtub.
Dania melepas bajunya sembari menggerakkan tangan menari di depan cermin, dia berputar-putar dengan gerakan luwes, lalu melangkah anggun masuk kedalam air yang sudah penuh busa.
Dengan manja, dia tiduran memejamkan mata.
Hanya kepalanya yang terlihat.
Senyumnya merekah, seolah menikmati ketenangan yang dia rasakan tanpa peduli jika itu bukanlah tempat yang seharusnya dia kunjungi.
...***...
Berli ada di ruang keamanan Mall.
“Pak sungguh! Saya tidak mencuri!” Bantahnya berusaha membela diri.
Menunjuk kalung berlian di meja, “Itu buktinya ada di tas kamu!”
Melihat ke sekeliling, Amel dan Ellen tidak nampak lagi batang hidungnya.
“Saya tidak tahu pak!”
“Jangan banyak alasan! Dua temanmu tadi sudah menjelaskan jika kamu itu memang 'klepto' dari dulu!”
“What?” Berli menatap penuh keterkejutan.
“Kami akan membawa kamu ke kantor polisi!”
“Wait … wait! Tidak bisa begitu dong! Saya pasti di fitnah!”
“Halah … banyak yang bilang begitu setelah para penjahat ketahuan melakukan kejahatan!”
“Saya bersumpah memang bukan saya pelakunya!” Berli memegang kening frustasi, “Wait … ijinkan saya menelepon seseorang!”
...***...
Tepuk tangan dan ucapan selamat diberikan kepada G Corporation karena mendapatkan kontrak proyek dari Paradise.
__ADS_1
Dengan senyum pongah, Gerry menatap Yazza memicingkan mata.
Yazza tersenyum mencibir sambil memberikan tepuk tangan untuk Gerry.
Setidaknya dia berhasil membuat Teratai Putih tidak terlibat dengan Paradise dengan cara yang elegan. Karena memang itulah tujuannya.
“Mas Rudi, bisa bicara setelah ini?” desis Hirza pada kakaknya.
Menatap Hirza, “Tidak bisa besok saja?”
Menggeleng, “Ini sangat mendesak!”
“Hmph, baiklah kalau begitu!”
Hirza tersenyum.
Lalu menatap Raya yang tersenyum manis kepadanya.
Pertemuan dibubarkan.
Gerry langsung menyusul Yazza yang keluar terlebih dahulu.
“Heh! Bagaimana rasanya dikalahkan?” ejek Gerry menaruh tangannya di saku celana.
Tersenyum sinis, “Bukannya kamu yang lebih tahu? Soalnya kamu sering dikalahkan!”
Geram menatap Yazza, “Sudah kalah masih saja sok tengil! Tidak punya rasa malu?”
Tersenyum menepuk bahu Gerry, “Sebaiknya rayakan saja kemenangan mu! Aku tidak minat mendengar ocehan tidak berguna!”
Menyingkirkan tangan Yazza.
Yazza mendengus tersenyum, melangkah menjauh di ikuti pak Ardi.
Seorang OB menghampiri Raya.
“Ibu … ada titipan!” memberikan kertas.
Menyipitkan mata, “Dari siapa?”
“Dari pak Hirza! Kalau begitu saya permisi!” OB itu langsung pergi.
Raya membuka kertas dan membaca pesannya.
Gerry menoleh ke arah Raya, “Apa isinya?”
Menoleh ke belakang, Hirza masih di dalam ruang meeting, “Jangan mengecewakan! Tunjukan seluruh kemampuan terbaikmu, supaya dia semakin terkesan!”
Tersenyum merapikan rambutnya, “Tentu saja!”
Tersenyum sinis, “Biksu kata orang?” mencibir, “Biksu apanya?” Gerry mengolok-olok Hirza yang ternyata tertarik juga pada wanita cantik.
...***...
Dalam perjalanan pulang, Yazza kembali teringat perkataan Gerry tentang Vee dan Daniel.
Perasaanya menjadi gelisah sekarang.
“Kenapa anda terlihat gusar tuan?” tanya pak Ardi.
“Apa kamu ingat, tanggal berapa saja aku tidak menginap di tempat Vee?”
“Shhh … saya tidak mengingatnya!” menyipitkan mata, “Tapi kenapa anda bertanya begitu?”
“Jika kamu ingat, kamu bisa memilah memeriksa cctv di tanggal mana yang tidak ada aku di sana!” menghela nafas panjang, “Setidaknya itu bisa menyingkat waktu!”
Pak Ardi mengerutkan kening, “Sepertinya butuh waktu kurang lebih tiga hari untuk memeriksanya. Anda sungguh percaya ucapan pak Gerry ?”
“Dia musuhku, tentu dia akan mengatakan hal-hal yang bisa menjatuhkan. Dia tahu Vee adalah kelemahan ku! Tidak menutup kemungkinan dia memang sengaja mencari tahu tentang Vee dan menemukan kenyataan itu.”
Ragu menatap ke arah spion atas, “Emb … jika kemungkinan terburuknya … yang dikatakan pak Gerry adalah kebenaran, apa yang akan anda lakukan?”
Memejamkan mata menyenderkan punggung, “Aku tidak tahu!”
Pak Ardi tidak berani bertanya lagi.
Dia jadi teringat tentang kisahnya dengan Berli. Dulu Berli juga berselingkuh dan meninggalkan tuannya ini.
Pak Ardi merasa tidak rela jika melihat tuannya kembali bersedih.
Mereka sampai di depan rumah Yazza.
__ADS_1
“Pak Ardi tidak menginap?” tanya Yazza sambil membuka pintu.
Menggeleng, “Kamar yang biasa saya pakai pasti digunakan pak Karno!”
Yazza tersenyum, “Kalau begitu hati-hati di jalan!”
Mengangguk, “Permisi tuan!”
Yazza mengangguk lalu berjalan menuju pintu utama.
Rumahnya sudah sangat hening.
Yazza langsung menuju kamar.
Begitu dia membuka pintu, bau parfum Vee menyengat keluar dari dalam ruangan.
Menyipitkan mata, “Apa dia sudah pulang?” gumamnya lirih.
Yazza segera masuk, menutup pintu dari dalam.
Tiada siapapun.
Yazza masih berpikir jika Vee mungkin saja sedang di kamar mandi sekarang.
Dengan tergesa dia langsung mengecek.
Sama saja.
Tiada seorangpun di sana.
Yazza bertolak pinggang menyipitkan mata keheranan.
...***...
Handphone Vee berdering.
Daniel berhenti bergerak meski masih mendekap Vee di bawah selimut.
“Sebentar!” Vee meraih handphonenya, dia khawatir jika itu adalah telepon dari Yve.
Daniel ikut menyipitkan mata penasaran.
“Berli?” desis Vee.
“Hah?”
Vee menarik selimut, menutup ke badannya yang masih tidak berbusana.
“Tunggu!” Vee berisyarat pada Daniel untuk diam.
Daniel mengangguk menurut.
“Hallo Berli?” sapa Vee setelah mengangkat panggilan.
“Vee … tolong aku Vee!” suara Berli panik.
“Hah? Apa yang terjadi? Kamu kenapa Ber?”
“Ceritanya panjang! Tapi aku di fitnah oleh teman-temanku! Vee gimana ini!”
“Tunggu! Tenang dulu … aku tidak mengerti!”
“Aku di mall! Dan aku dituduh mencuri Berlian! Vee aku difitnah! Mereka mau membawaku ke kantor polisi! Aku takut!”
“Apa?” Vee terkejut membelalakkan mata.
“Aku tidak tahu lagi harus menghubungi siapa … hanya kamu yang menjawab panggilanku!”
Melihat jam dinding, “Ini sudah larut! Aku juga masih di Pesisir!”
“Tolong aku Vee!”
Memikirkan seseorang, “Tunggu … sepertinya aku tahu harus meminta bantuan kepada siapa untuk membantumu!”
“Kamu bisa membantuku?”
“Bukan aku … kamu tenang dulu! Aku tidak akan ingkar janji, aku hubungi dulu seseorang! Kamu tunggu ya!”
“Tapi Vee …,”
“Berli … percaya padaku!”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...