RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
SI MUKA TEBAL


__ADS_3

Berli diantar seorang resepsionis ke ruangan kerja Vee.



“Terima kasih!” ucap Berli langsung masuk begitu pintu dibukakan.


“Berli!” Vee berdiri menyambut.


“Siang ibu Vee!” sapa resepsionis.


Vee tersenyum, “Siang!”


“Kalau begitu saya permisi!” pamitnya.


Vee mengangguk.


Resepsionis itu menutup pintu dari luar.


“Sini!” ajak Vee menuju sofa di ruang kerja Daniel.


Melihat ke sekeliling, “Kenapa ruang kerjamu di ruang yang sama dengan bos mu?”


Vee tersenyum, “Bos ku agak pemalas dan suka berteriak. Jika di dalam satu ruangan, dia bisa bebas berteriak semaunya padaku!”


Ikut duduk, “Daniel?” melihat ukiran kaca bertuliskan nama dan pangkat Daniel yang ditaruh di atas meja kerja Daniel. “Yang pergi dengan Tisya tadi dong?” gumamnya pelan.


Deg!


Vee terkejut mendengar pernyataan Berli.


Seperti ada pukulan dalam dadaanya.


“Tisya? Ibu Tisya dari Nirwana?”


“Ya siapa lagi!” jawab Berli polos.


“Bu Tisya di sini?” Vee merasa ada sesuatu yang membuat hatinya jadi tidak tenang.


Mengangguk, “Kami berpapasan di luar. Dan saat aku naik ke sini, dia pergi keluar bersama …-“ menunjuk meja kerja Daniel, “bos mu!”


Vee kesal membuang muka.


“Eh … kan kamu sekretarisnya! Bagaimana bisa kamu tidak tahu?” tanya Berli lagi.


Menghela nafas, “Jika seorang sekertaris tidak tahu tentang kegiatan bosnya, mungkin mereka pergi karena urusan pribadi!”


“Cuih! Masa iya si Tisya sedang mendekati bos mu? Aku pikir dia cuma cinta mati sama Yazza!” menutup mulutnya, “Ups maaf!”


Menghela nafas.


Daniel kenapa tidak bilang jujur jika dia hendak pergi dengan Tisya!


Menyebalkan sekali!


Geram Vee berkata dalam hati.


“Eh … Vee … kamu marah ya? Maaf,” sesal Berli.


Salah tingkah, “Ah … tidak kok!”


“Yang terjadi antara Tisya, aku dan Yazza itu cuma masa lalu kok,” Berli mengelus lengan Vee.


Tersenyum, “Kalau begitu tidak usah di pikirkan lagi!”


Mengangguk, “Aku juga tidak mau terus-menerus jadi canggung hanya karena masa lalu kita!”


Vee kembali tersenyum, balas mengelus lengan Berli, “Oh iya … kenapa kamu ke sini? Masalah kamu sudah benar-benar selesai?”


Tersenyum sok manis, “Emb, itu ... sebelumnya aku mau berterimakasih dan meminta maaf padamu! Setelah apa yang pernah aku lakukan … kamu masih saja baik kepadaku!”


“Hya … kamu sendiri yang tidak ingin jadi canggung dengan masa lalu kan?” Vee terkekeh pelan.


Menggaruk kepala meski tidak gatal, “Aku jadi malu!”


Tersenyum gemas, “Semua orang pernah melakukan kesalahan. Dan tentang yang kemarin … seharusnya kamu berterima kasih kepada Leo!”


Tersipu, “Nah … itu dia masalahnya!” Salah tingkah, “Karena aku tidak punya uang sebagai ganti jasa … aku berencana memasak untuk dia sebagai ucapan terima kasih!”

__ADS_1


Vee tersenyum menyipitkan mata, “Memasak? Ide bagus!” mengelus bahu Berli, “Tentang biaya jasa … jangan dipikirkan! Aku sudah mengurus semuanya!”


Meringis menatap Vee salah tingkah,“Tapi aku juga tidak punya uang untuk membeli bahan makanan … emb … boleh pinjam uang?”


Mengangguk, “Tapi mungkin tidak banyak!”


“Nggak apa-apa! Berapapun juga boleh! Yang penting cukup untuk berbelanja bahan makanan!” Berli antusias.


“Nanti aku kirim!”


Memeluk Vee, “Kamu memang sangat baik!”


Tersenyum, “Kamu ini memang bermuka tebal ya? Membuatku jadi ingat akan seseorang yang sangat aku kenal!”


Menarik diri mencibir, “Cih … kamu sedang mengejekku atau bagaimana sih!”


Vee mengelus bahu Berli, “Beneran … aku hanya teringat sahabatku yang juga mirip sekali denganmu!”


Mencibir, “Yang pasti … aku lebih cantik dari dia kan?”


Vee terkekeh pelan menggelengkan kepala.


“Eh iya! Hampir lupa … aku harus membicarakan ini padamu!”


“Apa?” menyipitkan mata, “Kedengarannya serius sekali?”


“Pengasuh putrimu itu aneh banget deh!”


“Aneh?” Vee makin tidak paham, “Aneh gimana maksudnya?”


“Dia kayaknya ada kelainan jiwa!”


“Dania kan maksud kamu?”


“Ya iyalah! Siapa lagi!” Berli mencibir.


“Dia kelihatan baik kok … tugasnya menjaga Yve juga bagus!”


“Masak aku pernah lihat dia sedang menari-nari sendiri sambil memegangi dalaman pria! Hati-hati deh … kayaknya dia halu suka sama Yazza!”


“Selain melihat dengan mata kepalaku sendiri … aku juga mendengar dengan sangat jelas! Dia menyebut nama Yazza!”


“Tunggu … apakah dalaman itu berwarna abu-abu?”


Tampak mencoba mengingat, “Waktu itu gelap sih … entah abu-abu atau hitam, aku kurang tahu … tapi sepertinya warna dalaman cenderung gelap.”


Baru-baru ini Yazza sempat uring-uringan karena kehilangan dalaman.


Kenapa jadi begini?


Apa mungkin hanya kebetulan?


Masak iya sih … Dania yang sudah mencuri dalaman Yazza?


Batin Vee bertanya-tanya dalam hati.


“Tatapan gadis itu juga serem deh! Cuma ketika menatap Yazza baru dia terlihat seperti malaikat tak berdosa! Hih … aku saja ngeri dengan gadis itu!” Berli seolah bergidik mengelus lengannya sendiri.


“Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan ini?” Tanya Vee masih meragukan.


“Beh … kalau nggak percaya, coba awasi saja sendiri! Udahlah cari orang lain saja … penyakit itu! Nggak usah tetap dipekerjakan!” ucap Berli sambil mencibirkan bibir.


Vee membuang muka, menghela nafas panjang memikirkan tentang perkataan Berli.


...***...



Bi Nany dan Caesar menunggu di depan gerbang sekolah Yve.


Yve yang baru keluar dari area sekolah tersenyum senang melihat temannya datang.


“Caesar!” panggil Yve, berlari kecil kearahnya.


Bi Nany tersenyum, “Nah itu non Yve!”


Caesar tersenyum melambai, “Yve! Cepat ke sini!”

__ADS_1


Berdiri di depan Caesar, “Kok kalian di sini?”


“Tuan Caesar katanya kangen mau ketemu nona Yve!” ucap bi Nany tersenyum ramah.


“Yve kenapa tidak tepat janji sih!” Caesar manyun menyilangkan tangan di perut seolah kesal.


“Tidak tepat janji bagaimana?” tanya Yve.


“Katanya tidak mau pindah sekolah kalau sudah pindah rumah?”


Yve tersenyum nyengir menggaruk kepala, “Itu karena aku tidak bisa menolak kemauan papa!”


“Eh, duduk di sana yuk!” menunjuk pembatas taman sekolah.


Yve mengangguk.


Mereka duduk di pembatas, di belakang mereka ada bunga berwarna-warni.


“Kenapa nomor Yve juga tidak bisa dihubungi?”


Yve menunduk sedih, “Papa nggak suka kalo aku berteman sama kamu!”


“Kenapa begitu?” tanya Caesar polos.


Bi Nany sepertinya memahami tentang permusuhan orang tua mereka. Ia merasa sedih melihat dua anak ini.


“Aku juga tidak tahu. Papa marah lalu mengganti handphoneku dengan handphone baru!”


“Emb, boleh pinjam handphone baru nona Yve?” tanya bi Nany.


Mengangguk, mengambil handphonenya, “Ini bi!” memberikan pada pengasuh Caesar.


Bi Nany menuliskan nomor Caesar di sana.


“Nah selesai … itu nomor tuan Caesar!”


“Chila? Nama cewek?” Yve menyipitkan mata.


“Dengan begitu papa nona Yve tidak akan tahu jika itu adalah Caesar. Kalian masih bisa berteman diam-diam!”


Caesar tersenyum, “Eh benar juga!”


Yve tersenyum, “Terima kasih bi Nany!”


Pengasuh Caesar tersenyum mengelus rambut Yve, “Kok kamu sendirian? Mana pengasuh kamu?”


“Siang tadi dia pergi. Katanya ada urusan di kampus!”


“Kampus? Nona Yve ganti pengasuh?”


Mengangguk, “Madam Lia sedang sibuk.”


“Ah, saya mengerti!” bi Nany mengangguk-angguk.


“Eh … Yve! Beberapa waktu yang lalu, papa bohongan mu ada di rumahku loh!”


Menyipitkan mata, “Si lem tikus?”


“Yang waktu itu ikut lomba sekolah bersamamu!”


“Iya, itu lem tikus! Kenapa dia di rumahmu?” tanya Yve.


“Dia pacarnya tanteku! Tante Tisya!”


Mengernyit menyipitkan mata, “Hah? Kenapa tantemu mau sama orang yang menyebalkan itu?”


Caesar mengangkat bahu.


Mobil putih berhenti di hadapan mereka.



Vee membuka kaca mobil, melihat ke arah Caesar dan putrinya.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2