
Hari ini Yazza sudah mengambil cuti untuk acara besok.
Dania melihat Yazza tengah duduk seorang diri di samping kolam sembari memegang ipad nya.
Gadis itu tersenyum merapikan rambut dan baju sebelum akhirnya memutuskan untuk menghampiri.
Yazza menoleh sebentar saat Dania mendekat, dengan acuh dia kembali fokus melihat layar ipad.
“Emb … pak Yazza, boleh saya di sini sebentar?” nada suara Dania sengaja dibuat-buat supaya terdengar lebih imut dan terkesan manja.
“Cari saja kesibukan lain! Jangan menggangguku!” tegas Yazza tanpa menoleh ke arah Dania.
Duduk di bangku sebelah Yazza, “Emb … tentang tamunya ibu Vee semalam, saya bisa menceritakannya kepada anda!”
Yazza terdiam menyipitkan mata, menoleh ke arah Dania.
Meski anak ini tidak jelas, sepertinya dia tidak akan berbohong dalam masalah ini
Mungkin aku bisa menggali informasi darinya!
Melihat ekspresi Yazza yang tampak tertarik mendengar pembicaraannya, membuat Dania merasa semakin percaya diri duduk tersenyum menatap ke arah Yazza.
“Katakan! Apa yang kamu tahu?” tanya Yazza.
“Jadi ini bermula ketika saya mengantar nona Yve ke tempat latihan bela diri di hari minggu kemarin. Di sana kami bertemu dengan seorang anak-anak. Anak itu cukup baik kepada nona Yve!”
“Karena saya lihat mereka sudah akrab, jadi saya membiarkan mereka ngobrol. Yve memberitahukan pada anak itu jika dia sekarang tinggal di rumah baru. Dan ternyata malam tadi dia datang bersama kakak dan papanya.”
“Tidak disangka, ibu Vee ternyata juga mengenal dengan baik papa anak itu. Bahkan mereka ngobrol berdua saat kami semua pergi bermain ke kamar nona Yve,” pungkas Dania menceritakan semua kejadian yang dia ketahui.
Yazza mendengus membuang muka menatap ke kolam.
Anak itu lagi!
Kenapa dia berteman dengan orang-orang yang tidak baik untuk dijadikan teman sih!
Dulu anaknya Gerry dan kenapa sekarang aku melupakan tentang anaknya Hirza!
Haiz!
Aku pikir dengan membuatnya bersekolah di tempat lain, sudah bisa membuatnya menjauhi anak-anak itu!
Mbak Rosi melihat Dania dan tuannya di dekat kolam.
“Eh, bi Imah sini deh! Lihat itu,” mbak Rosi menunjukan keberadaan Dania.
Mencibirkan bibir, “Pagi-pagi sudah genit begitu?”
“Ada apa sih?” tanya Vee yang baru datang sembari menguap menutupi mulut dengan sebelah tangan.
__ADS_1
“Sini deh nyonya Vee!” ajak mbak Rosi, “Tuh,” menunjuk ke luar jendela.
Vee mengernyit melihat Yazza dan Dania tengah ngobrol di sana.
“Nyonya … sejak dia datang, dia merasa menjadi ratu deh,” keluh mbak Rosi.
“Hah? Maksudnya?” menyipitkan mata.
“Ya … dia masak merasa derajatnya lebih tinggi dari kita. Kadang nyuruh buat ini itu dengan alasan non Yve yang minta! Ya maksudnya kan … kita sama-sama bekerja dan digaji di sini. Hanya karena dia pengasuh bukan asisten rumah tangga, kadang cuci piring bekas makannya sendiri saja tidak mau,” gerutu mbak Rosi.
“Hus! Kenapa malah ngeluh ke nyonya sih!” bi Imah menyenggol lengan mbak Rosi.
“Masak sih mbak? Dulu dia rajin banget loh saat di apartemen. Segala-galanya malah dia yang ngerjain,” Vee menyandar di wastafel.
“Nah itu! Kalau ada nyonya, tuan Yazza atau tuan besar, baru dia sok-sok sibuk mengerjakan segalanya!”
“Maksud mbak Rosi cari muka?”
“Nah, tepat sekali!” mencibir kembali melihat ke arah kolam, “Aku rasa dia juga deh yang waktu itu ngebuat tuan Yazza sakit perut!”
“Heh! Kok malah jadi berprasangka buruk kepada orang!” tegur bi Imah.
“Lah, gara-gara itu kita semua jadi dicurigai tuan besar kan? Padahal mana mungkin kita begitu kurang ajar sama tuan-tuan di sini. Kita sudah lama bekerja bersama keluarga ini … tidak pernah tuh ada kejadian seperti itu,” mbak Rosi nyinyir.
Vee manyun, “Yang paling disalahkan itu saya,” mencibir, “Cih! Padahal kan bi Imah sama mbak Rosi tahu sendiri kan, saya membuat masakan itu dengan sepenuh hati,” melirik Yazza, “meski kadang aku sangat ingin memukulnya … mana mungkin aku melakukan hal-hal rendahan seperti menaruh obat pencahar atau semacamnya!”
“Nah kan! Lihat deh itu,“ mbak Rosi kembali nyinyir melihat Dania, “Mana ada pekerja yang kurang ajar duduk di sebelah tuannya dengan tingkah genit begitu!”
Vee menyilangkan tangan di perut, melihat ke arah Yazza.
Apa yang sedang mereka bicarakan!
Batinnya menggerutu dalam hati.
...***...
PHMC
(Paradise Hospital Medical Center)
Tisya membuat keributan dengan satpam penjaga ruang staf dan karyawan rumah sakit.
“Pokoknya saya mau menemui pak Hirza!” tegas Tisya.
“Maaf nona! Jika anda tidak memiliki janji dengan beliau, anda tidak boleh masuk!” ucap satpam sama tegasnya.
Tidak peduli jika saat ini dia menjadi pusat perhatian banyak orang.
“Kalau begitu, saya akan menunggu sampai dia keluar!” menyilangkan tangan di perut.
“Nona, kami sudah bersikap sopan. Jangan salahkan jika kami memaksa dan menyeret anda keluar dari sini! Anda sudah menimbulkan keributan! Ini rumah sakit, banyak pasien sakit yang butuh ketengan!”
__ADS_1
“Ah … kalau begitu bagaimana jika aku pergi ke bangsal rawat inap dan membuat keributan di sana saja? Apa cukup untuk membuat pak Hirza keluar?” Tisya bersikeras.
Hirza melongok melihat dari ruang kerjanya, karyawan di ruangan itu tampak berkerumun di dekat pintu masuk.
Dia menyipitkan mata berdiri menuju pintu geser ruang kerja full kacanya.
“Apa yang terjadi?” tanya Hirza kepada salah satu staff pengurus rumah sakit.
“Ada yang membuat keributan. Katanya orang itu mau bertemu dengan anda!”
Mengerutkan kening, “Pria atau wanita?”
“Wanita, masih muda!”
“Dia bilang atau tidak, alasan kenapa dia mau menemui aku?”
“Saya tidak tahu pak! Dia hanya berkeras mau menemui pak Hirza. Jika bapak tidak mau menemuinya, maka dia akan tetap di situ menunggu sampai pak Hirza keluar.”
Mencibirkan bibir, “Kalau begitu suruh masuk saja!”
Mengernyit, “Pak Hirza yakin? Wanita itu sepertinya agak kurang sehat kejiwaannya!”
“Daripada terus membuat keributan!” melihat ke arah depan, dia tidak bisa melihat siapa yang datang, orang-orang menghalanginya.
Yang jelas, suasana sudah sangat chaos di luar sana.
“Cepat ke sana dan bilang pada wanita itu untuk masuk!”
Menunduk hormat, “Baik pak!”
Hirza mengangkat bahu kembali masuk ke ruangannya.
Pria suruhan Hirza datang menyela, menarik pelan lengan satpam, “Pak, sudah biar dia masuk. Pak Hirza sudah mengijinkan!”
Tisya mendengus memicingkan mata menatap sengit ke arah satpam.
“Anda yakin?” satpam meragukan.
“Kata pak Hirza sih … daripada membuat keributan, lebih baik mengijinkannya masuk saja!”
“Baik kalau begitu!” melihat Tisya, “Silahkan nona!”
Menghentakkan tangan satpam, “Jangan menyentuhku!” dengan sombong berjalan mendahului.
Satpam mengernyit, “Cantik-cantik tapi tidak tahu malu dan tidak punya sopan santun,” ciibir satpam.
Pria tadi mengelus lengan satpam, “Sabar pak!”
Satpam mengangguk sambil memicingkan mata menatap Tisya dari belakang.
“Ayo semuanya! Kembali kerja!” pria tadi masuk membubarkan kerumunan.
Hirza tersenyum sinis begitu melihat Tisya melangkah dengan kesal.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...