RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
WAJAH YANG TIDAK ASING


__ADS_3

Pagi yang cerah bagi Yve, senyum dan raut wajahnya pun tampak ceria seolah tidak memiliki beban pikiran sedikitpun.


“Sayang … kamu yakin sudah mau ke sekolah?” tanya Vee sembari menyuapi putrinya yang sudah berseragam.


“Aku bosan sekali ma … di Rumah Sakit hanya tiduran, di rumah juga!” jawabnya sembari mengunyah.


“Kamu aja masih di atas kursi roda begini!” ucap Vee khawatir.


“Sepertinya karena nona Yve terlalu bersemangat akan kembali ke sekolah lamanya!” Madam Lia tersenyum menimpali.


“Eh … benar juga! Kamu pasti buru-buru ingin ke sekolah lagi karena ingin bertemu Caesar kan?” goda Vee tersenyum cengengesan.


“Aku mau memberi kejutan padanya! Dia pasti akan kaget sekali saat melihatku di sekolah! Hehehe,” ucap Yve begitu antusias.


Melihat senyum dan keceriaan di wajah putrinya, tentu membuat Vee ikut merasa bahagia.


“Papa Yazza sudah bicara pada Kepala Sekolah semalam … kita di suruh langsung datang dan kamu juga sudah boleh langsung masuk. Iya kan pa?” Vee menyenggol lengan suaminya.


“Hmmm,” jawab Yazza acuh masih sambil makan.


“Papa tidak sibuk bekerja?” tanya Yve polos.


“Demi Yve, papa pasti akan selalu ada waktu!” sahut Vee kembali menyenggol lengan Yazza, “Iya kan pa?”


“Iya,” jawab Yazza masih datar.


Yve cengengesan menutup mulutnya, “Mama jangan ganggu papa deh! Kasihan nanti tersedak!”


“Nah … dengar itu! Anak delapan tahun saja lebih cerdas darimu!” cibir Yazza di lanjut meneguk segelas air putih.


“Cih … kan aku hanya ingin membuat kalian lebih interaktif!” cibir Vee memanyunkan bibir.


“Hya … seharusnya kamu ikut kelas Table Manner bukan kelas memasak!” balas Yazza sama mencibirnya, “Jadi kamu akan tahu … kalau sedang makan itu sebaiknya jangan banyak bicara!”


“Bibirku akan terasa gatal jika tidak banyak bicara!” gerutu Vee bergumam tanpa melihat suaminya.


“Astaga … dia semakin menunjukkan wajah aslinya!”


Vee hanya mendengus tersenyum lanjut menyuapi putrinya.


“Sudah aku bilang … mama itu bawel dan galak!” ujar Yve cengengesan.


“Shhh … papa Yazza lebih galak!” Vee mengusap dagu Yve dengan telapak tangannya, “Sudah … biar di lanjut madam Lia ya … mama mau bersiap sebentar!”


Yve mengangguk dengan senyuman, “Iya … buruan ma!”


“Iya sayang!” Vee berdiri sembari membelai lembut wajah putrinya.


Dania tampak memicingkan mata melihat dari balik pantry. Sembari mengupas buah, sesekali dia menatap tajam penuh kebencian ke arah Vee.


Wanita ini semakin menjadi-jadi saja jika terus di biarkan … dia pikir dia paling hebat!


Dengan seringaian licik Dania bergumam dalam hati.


...***...


Begitu memastikan mobil yang mengantar Xean sudah jauh meninggalkan area sekolah, Zoe langsung keluar dari tempat dia bersembunyi untuk menghampiri putranya.

__ADS_1


“Pagi Xean,” sapa nya tersenyum ramah.


“Pagi bu,” sahut Xean menjawab.


“Apa ada kesulitan dari tugas yang ibu berikan?”


“Yeah … sedikit sulit saat harus menuliskan namaku dalam sebuah lukisan! Sulit sekali memikirkan gambar apa untuk mewakilkan huruf X!”


Zoe tersenyum gemas mendengar jawaban putranya, “Bukankah itu paling mudah? Kamu bisa menjadikannya symbol di latar belakang gambar atau hanya menggambar logo kepala kincir angin dengan empat baling-baling saja.”


“Ehh … benar juga!” Xean langsung tersenyum begitu memikirkannya, “Ternyata sesimpel itu … kenapa aku susah-susah berpikir terlalu jauh ya?”


“Terkadang, hal paling sederhana lah yang justru bisa menyelamatkan hidupmu!”


“Hah?” Xean tampaknya tidak mengerti dengan kalimat yang gurunya lontarkan.


Sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu masuk utama gedung sekolah. Tidak jauh dari tempat Zoe dan Xean berdiri.


Melihat Vee turun yang langsung di susul Yve dan madam Lia, membuat Xean langsung tersenyum antusias hendak menghampiri.


“Maaf bu … saya mau menemui teman saya!” buru-buru Xean meninggalkan Zoe.


Dengan sedikit memiringkan kepala, Zoe melihat ke arah keluarga Gionio yang baru saja datang.


“Siapa mereka? Putraku tampaknya senang sekali!” gumamnya lirih.


“Yve!” panggil Xean langsung mendekat memegang kursi roda gadis kecil itu.


“Eh … kak Xean!”


“Xean! Hi,” Vee mengusap lembut kepala anak itu.


“Coba tebak?” Vee tersenyum menggoda.


Mobil kembali melaju menuju area parkir. Yazza sendiri yang mengemudikannya.


Xean melihat seragam yang di kenakan Yve, “Loh … eh … ini!” tersenyum riang menatap Yve, “Adik mau kembali bersekolah di sini?”


“He’emb!” dengan senyum riang, anak itu menganggukkan kepala.


“Benarkah? Yeay … kakak senang bisa satu sekolah lagi dengan adik!” Xean mengelus lengan Yve.


Karena penasaran, Zoe memutuskan mendekat menghampiri mereka.


“Pagi!” sapa Zoe ramah.


“Pagi!” sahut Vee menjawab dengan senyuman.


Madam Lia tampak menyipitkan mata, menatap aneh ke arah wanita di hadapannya.


“Ada yang bisa saya bantu? Sepertinya saya tidak pernah melihat kalian?”


“Ah … dulu putriku pernah sekolah di sini, belum lama pindah dan hendak masuk lagi ke sekolah ini!”


“Ah … jadi begitu … maaf! Kebetulan saya juga baru seminggu menjadi pengajar di sini!”


Vee tersenyum ramah, “Pantas saja saya juga baru pertama melihat ibu di sini!”

__ADS_1


Zoe melihat Yve yang duduk di atas kursi roda dengan perban yang masih menempel di kepalanya, “Eh … kamu kenapa sayang?”


“Ahh … putri saya mengalami kecelakaan beberapa waktu yang lalu.”


“Ya ampun … apa kamu sudah benar-benar membaik?” Zoe mengelus wajah Yve penuh kelembutan.


Yve mengangguk tersenyum, “Saya gadis yang kuat bu! Tentu saya sudah baik-baik saja!”


“Astaga … manisnya!” Zoe gemas menatap Yve.


Xean menggeser Madam Lia dengan tubuhnya, “Boleh saya saja yang mendorong kursi roda adik Yve ke kelasnya?”


Madam Lia mengangguk tersenyum, “Wah, terima kasih karena mau membantu non Yve!”


“Tidak masalah! Aku pasti akan selalu menjaga adik Yve!” Xean bersemangat.


“Eh … kebetulan! Tante mau menemui ibu Kepala Sekolah terlebih dahulu … terima kasih kalau Xean mau menemani Yve!”


“Tante tidak usah khawatir! Xean pasti akan menjaga adik Yve dengan sangat baik!” janji Xean bersungguh-sungguh.


“Terima kasih kak!” Yve sedikit menoleh ke belakang, “Oh iya … apa Caesar sudah datang?”


“Kakak tidak tahu … ayo kita lihat!” Xean tersenyum mulai mendorong kursi roda Yve.


Melihat Xean tampak begitu senang dengan kehadiran Yve, membuat Zoe ikut tersenyum bahagia mengamati kepergian anak-anak itu.


“Madam, tolong awasi Yve ya!” pinta Vee ramah.


Madam Lia mengangguk, “Baik nyonya!” tanpa banyak basa-basi lagi, dia langsung menyusul Yve dan Xean.


“Anak-anak terlihat semakin manis saat bersama ya!” gumam Zoe lirih dengan senyuman.


Vee ikut tersenyum, “Yeah … mereka menjadi semakin akrab setelah mengalami masalah bersama-sama!”


“Masalah?” ulang Zoe menyipitkan mata menatap Vee.


“Emb … waktu Xean pertama pindah ke sekolah ini … beberapa anak hendak iseng … yeah … kenakalan anak-anak! Putriku yang hendak membela Xean, jadi ikut terseret maslah perkelahian deh!”


“Lalu?” Zoe antusias ingin mengetahui detail cerita tentang putranya.


“Kepala Sekolah menyelesaikan dengan rapat orang tua! Begitu terbukti kalau Xean hanya berusaha membela diri, maka yang di keluarkan ya anak-anak yang nakal itu!”


“Woah … kalau putri anda sampai terseret kasus perkelahian … pasti putri anda memang sangat pemberani!” puji Zoe tersenyum ramah.


Yazza baru datang dengan langkah santai dari area parkir.


Zoe tampak terkejut membelalakkan mata menatap ke arahnya.


“Emb … sepertinya saya harus menyiapkan materi untuk pelajaran di jam pertama! Permisi!” buru-buru Zoe meninggalkan Vee.


“Eh … iya!” jawab Vee gelagapan sendiri melihat guru itu tiba-tiba berbalik arah dengan langkah cepat meninggalkannya.


“Siapa?” tanya Yazza menyipitkan mata,”Dari kejauhan … nampaknya tidak asing! Tapi aku lupa!”


“Katanya guru baru di sini … namanya tidak tahu … belum sempat menanyakannya!”


“Aneh … aku benar-benar merasa pernah mengenal atau melihat wajahnya itu deh!” Yazza mengernyitkan dahi melihat Zoe yang semakin menjauh.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2