RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
CINTA TAK SAMPAI


__ADS_3


Daniel menarik tangan Vee, kembali menggenggam dengan erat.


“Vee … semua orang melarang jika aku terus menyukai kamu! Tapi … bagaimana bisa aku hidup tanpa kamu!”


Mencoba menarik tangannya, tapi Daniel menahan kuat.


“Pak Daniel tidak boleh seperti ini! Tadi itu aku hanya bergurau! Aku … aku sungguh akan menikah dengan orang itu!”


Menggeleng muram melepaskan tangan Vee.


Melihat ekspresi yang Daniel tunjukan tentu membuatnya ikut bersedih.


“Jangan membohongiku … aku tahu kamu sangat tidak suka pada pak Yazza!”


Menunduk, “Meskipun aku tidak menginginkan pernikahan ini … kebahagian Yve lebih penting daripada perasaan saya!”


Mengingat senyum ceria Yve dalam foto majalah kemarin, tentu membuat Daniel semakin sadar jika Yve memang sangat bahagia telah bertemu kembali dengan ayah kandungnya.


“Tapi … apa benar kamu tidak akan meninggalkan White Purple?” tanya Daniel lemas.


Menggeleng dengan senyum lembut.


Berharap, agar suasana tidak canggung seperti saat ini.


“Aku masih akan tetap bekerja di White Purple,” ucap Vee tenang.


Daniel tersenyum lega, menyandar ke punggung kursi menatap Vee penuh harap.


“Pak Daniel … maafkan saya!” menunduk sedih.


“Jangan meminta maaf seolah kamu tidak akan pernah bicara padaku lagi!” tegas Daniel.


Mendengus tersenyum, “Kalau begitu … terima kasih!”


Menyipitkan mata, “Untuk apa?”


“Untuk tetap mengijinkan saya bekerja di White Purple!”


“Hya … tentu saja aku akan sangat senang karena masih bisa terus melihatmu,” sahut Daniel.


“Setidaknya … saya punya tempat untuk menyibukkan diri menghindari Yazza sepanjang hari!” mendengus tersenyum pada dirinya sendiri.


 “Cih! Bahkan kamu tidak masuk kerja lagi sejak kemarin untuk menemani pak Yazza ‘kan?” cibir Daniel.


“Aku tidak bisa pulang dengan luka seperti ini! Yve akan khawatir jika tahu,” melihat perban di lengannya sendiri.


Kembali menarik lengan Vee, “Ah benar … aku dengar kamu terluka. Apakah parah?” mengelus lengan Vee.


“Tidak apa-apa … lukanya tidak dalam!”


Masih mengelus dengan lembut, “Maaf aku tidak ada saat kejadian!”


“Tidak apa-apa … mereka sudah dibereskan!”


“Hya … kamu itu seorang ibu, kenapa berkelahi seperti itu sih!”


Menyingkirkan tangan Daniel, “Cukup beri aku tepuk tangan dan pujian saja … oke?”


Daniel mencibir sambil bertepuk tangan pelan, “Begini?”


“Cih!” Vee berusaha menahan tawa.


Daniel terkekeh pelan melihat Vee.


Dia senang, setidaknya masih bisa membuat Vee terlihat bahagia.


Meski Daniel tahu, apa yang sedang Vee lalui ini adalah masa-masa terberat untuknya.


Lega sekali mengetahui Daniel tidak membenci ataupun menyalahkan aku karena sudah tidak jujur dari awal ….


Sungguh ….


Tiada niatan untuk menyembunyikan kebenaran ini darinya!

__ADS_1


Gumam Vee dalam hati.


Ada sedikit kelegaan setelah mengungkap semua kegundahan yang terpendam.


Vee hanya takut jika Daniel menjauhinya.


Tapi sekarang dia mendengar secara langsung, Daniel yang malah memohon agar Vee tidak meninggalkan dirinya.


Bagaimana bisa itu tidak membuat hati dan perasaan Vee menjadi mengharu biru.


Jelas ini adalah sebuah kesalahan.


Aku egois jika masih tetap mempertahankan perasaan ini!


Tapi harus bagaimana … aku juga tidak rela untuk melepaskan Daniel.


...***...


Yazza semakin resah karena sudah sore Vee belum juga kembali.


Vee yang sudah berada di rumah sakit hanya mencibir cuek mengabaikan panggilan dari Yazza.



Dia kembali duduk santai melihat ke arah Tv di dekat kursi antrian ruang tunggu pendaftaran rumah sakit.


Sudah cukup lama dia di sana.


Malas saja untuk menghadapi Yazza.


Dia pasti akan mengomel dan memarahinya karena tadi Vee tidak mendengar perintah Yazza di acara lelang.


Seusai bertemu Daniel, dia langsung kembali ke rumah sakit.


Vee bahkan menolak niat baik Daniel saat hendak mengantar.


Tentu saja takut jika pak Ardi atau suruhan Yazza melihat.


Vee berencana menunggu jam pulang sekolah Yve untuk melakukan panggilan video.


Baru saja tidak bertemu sejak kemarin, rasanya sudah membuat Vee merasa sangat kesepian dan tidak tenang meninggalkan Yve berlama-lama.


“Kenapa tidak dijawab!”


Suara seroang laki-laki terdengar sangat dekat di telinga.


Vee melonjak terkejut menoleh ke belakang.


Hirza menopang kepala dengan kedua tangan yang di letakkan di atas sandaran bangku.


Dia tersenyum santai duduk di tepat di baris belakang Vee.



“Hya … kamu menguntit aku sampai ke sini ya?” protes Vee mendorong kepala Hirza.


“Ckkk … justru aku pikir kamu yang sengaja mengikuti aku sampai ke sini!” kembali duduk menyandar ke kursinya.


Vee menyipitkan mata, memutar pinggang untuk menatap Hirza bertanya-tanya.


Mengangkat bahu, “Yeah … tiba-tiba saja aku baru teringat jika tadi kamu mengatakan kalau pak Yazza sedang sakit.”


“Dia memang sakit,” mengernyit, “shhh … yang jadi pertanyaan … kenapa kamu juga di sini?”


“Paradise Hospital and Medical Center, PHMC! Tidak kah kamu merasa asing dengan nama itu?”


Vee baru mengingat, “Ah benar … aku nyaris tidak berpikir sampai sana! Aku lupa jika Paradise adalah gurita bisnis milikmu!”


“Cih … sedatar itu? Tidak terkesan kepadaku sedikitpun?” cibirnya.


“Tidak,” tersenyum mengejek langsung kembali menghadap depan.


“Jadi kenapa malah di sini dan tidak menjawab panggilan telepon dari dia?”


“Bukan urusanmu,” sahut Vee cepat.

__ADS_1


“Hmph … lalu … sudah selesai acara pertemuan dengan selingkuhan kamu tadi?”


Kembali menoleh ke belakang, “Hya … aku tidak menemui selingkuhan!”


“Mmmm … begitu,” meragukan, “katanya calon suami kamu sedang sakit … kenapa malah menonton Tv di sini? Tidak mungkin ‘kan … jika pak Yazza di rawat di ruang yang biasa-biasa saja … pasti ada Tv juga di sana!”


“Shhh … jangan mengganggu … kenapa kamu terlihat seperti orang menganggur sih … pergi sana!” usir Vee risih.


“Cih … galak sekali!” cibir Hirza. “Eh iya … aku penasaran … kenapa kamu baru mau menikah sekarang … memangnya kenapa dulu malah kabur dari Yazza?”


“Hya … masih saja di bahas! Aku tidak mau membahas hal itu lagi!” tegas Vee ketus.


Tersenyum gemas, “Aku semakin yakin jika pernikahan mu ini adalah sebuah keterpaksaan!”


Deg!


Kenapa dia menebak dengan benar!


Aku sudah berjanji untuk menggunakan topeng di muka umum.


Hirza tidak boleh curiga ….


Aku harus menutupi kenyataan ini!


Gumam Vee dalam hati.


“Hya … kenapa malah melamun?” Hirza sengaja membuat Vee merasa terpojok.


“Apakah pekerjaan sampingan yang kamu jalani adalah seorang wartawan? Mmph … atau justru detektif?” cibir Vee mencoba mengalihkan pembicaraan.


Tampak berpikir, “Mmph … bisa jadi … hanya saja berita dan info yang aku dapat, tidak pernah dipublikasikan ke publik!”


“Cih …,” mendengus mencibir kembali mendongak melihat Tv.


“Eh … karena calon suami kamu di rawat di sini dan dia pasti juga sudah tahu jika aku pergi bersamamu … kenapa kita tidak menemuinya saja?” celetuk Hirza antusias.


Itu cukup masuk akal.


Ide yang sangat bagus.


Dengan begitu, Yazza tidak akan curiga jika Daniel yang sebenarnya baru saja dia temui.


“Tapi … memangnya kalian saling kenal?” tanya Vee menyipitkan mata, sedikit menoleh ke belakang.


Menggeleng, “Kenal dekat sih tidak … tapi sebagai sesama pengusaha, kita sering bertemu di berbagai acara dan hanya sebatas memberi salam sapa saja sih!”


“Hya … jika ingin mengunjungi orang sakit … paling tidak bawalah sesuatu agar tidak terlihat datang dengan tangan kosong!”


“Ah benar,” mengambil ponselnya, “akan aku suruh seseorang membelikan keranjang buah!”


“Sudah ada buah … yang lain saja,” cibir Vee.


“Hya … aku curiga … sebenarnya yang berharap di bawakan sesuatu itu kamu atau yang sedang sakit sih?”


Tersenyum cengengesan, “Aku lapar … pizza sepertinya enak!”


Tersenyum mencibir, “Cih … pulang dari café, masih saja lapar … dasar!”


Manyun, “Aku tidak sempat makan!”


“Akan aku pesankan … tapi untuk menjenguk orang sakit … keranjang buah masih jadi opsi terbaik!”


“Tapi aku tidak suka di beri oleh orang lain!”


Terkekeh pelan, “Hahaha, masih saja! Anggap saja aku sedang mentraktir seperti dulu sewaktu masih kuliah!”


Tersenyum, “Hya … awas jika kamu sampai membocorkan tentang yang tadi, akan aku bakar tempat ini,” cengengesan.


“Hya … sebuah ancaman kejahatan! Bisa dipidanakan,” gertak Hirza bercanda sembari tersenyum lepas.


Vee mendengus tersenyum kembali cuek menghadap ke depan, menatap iklan di layar Tv.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2