
Usai makan malam bersama.
Pak Ardi kembali mengantar paman Mail ke hotel tempat dia menginap malam ini dan baru akan kembali ke pesisir besok siang.
Sudah sangat larut saat mereka menyudahi kebersamaan.
Paman Mail banyak berbincang dengan Yve dan Vee, membicarakan masa kecil Vee, dan bercerita tentang lautan. Yve begitu antusias mendengarnya.
Dan Yazza, lebih banyak terdiam untuk ikut mendengarkan.
Seperti saat perjalanan ke restaurant, dalam perjalanan pulang mereka tidak berbincang sedikitpun.
Paling, sesekali Yve akan bertanya pada mamanya dan Vee hanya menjawab singkat saja.
Jujur saja, semakin mendekati gedung apartemen, Vee merasa semakin takut.
Mereka sampai di area parkir.
Enggan rasanya melangkahkan kaki keluar dari dalam mobil.
Kegelisahan menguasai jiwa, membuat perasaan Vee campur aduk tidak karuan.
Dia memang ingin segera berbicara berdua dengan Yazza.
Tapi semakin dekat ke kediamannya, justru langkahnya semakin berat.
Antara berani dan tidak berani menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tentu Yve yang menjadi beban pikirannya.
Bagaimana jika Yazza kembali menyakiti Yve?
Melihat Yazza begitu dingin kepada Yve sejak sore tadi saja sudah membuat Vee sangat sakit hati.
“Malam ini papa akan menginap?” tanya Yve menatap mamanya yang sedang mengunci pintu.
Yazza langsung menuju kamar Vee.
“Ya!” tersenyum kelu, “Yve langsung istirahat ya?”
Menarik lengan mamanya, “Apa papa marah? Kenapa mengabaikan Yve?”
Menggeleng sedih melihat tatapan sendu putrinya, “Papa Yazza mungkin terlalu lelah. Atau, sedang ada masalah dengan pekerjaannya!”
Mengangguk-angguk, “Kalau begitu, Yve tidak akan mengganggu papa. Biar papa juga berisirahat malam ini.”
Mengangguk tersenyum, “Cuci kaki, cuci tangan, gosok gigi dan langsung tidur!”
Tersenyum mengangguk, “Good night mama sayang.”
Mengecup kening Yve, “Good night juga sayangku!”
Begitu Yve masuk ke dalam kamarnya, Vee langsung menghela nafas panjang mempersiapkan diri menemui Yazza.
Ini adalah kamarnya sendiri.
Seharusnya tempat ini menjadi tempat ternyaman dan teraman untuknya.
Tapi, melihat Yazza berdiri di dekat jendela kaca, membuat degup jantungnya menjadi tidak stabil.
Seketika perasaan terancam dan gelisah memenuhi ruangan.
Auranya sudah tampak sangat berbeda!
Pekat dan pengap.
“Sepertinya, seekor kucing sedang mencoba menutupi kotorannya!”
Mendengus, “Bukankah itu justru anda sendiri?”
Tersenyum sinis, “Jadi, siapa yang sedang kamu lindungi?” menatap Vee tajam, “Seorang penjahat, atau sebuah kotoran!”
Vee geram melangkah mendekat, “Jaga mulut anda!” menunjuk wajah Yazza dengan jari telunjuknya, “Siapa yang anda bilang kotoran itu!”
Meski dia marah, dia masih tidak berteriak.
__ADS_1
Tentu saja karena Yve pasti belum tertidur.
Jika dia mendengar keributan, Yve pasti akan sangat sedih.
“Tentu saja anak itu! Siapa lagi?”
PLAAAKKKK!
Vee langsung menampar Yazza dengan sangat keras.
Yazza memegang pipinya melirik Vee tajam dengan rahang mengeras.
“Bagaimana bisa ada orang yang menyebut darah dagingnya sendiri adalah sebuah kotoran!” geram Vee mendesis di sela gigi yang bergemeretakkan.
“Karena aku sudah pernah ingin membuangnya. Jadi kenapa memangnya jika aku meyebutnya kotoran?”
“Yve putri anda!” tegas Vee.
Mencengkram pipi Vee dengan jari-jarinya.
Refleks Vee langsung mencoba menarik lengan Yazza.
Kuku-kuku Yazza menancap begitu perih sampai membuatnya meneteskan air mata.
“Lepas!” desis Vee.
“Kamu hanya orang luar! Kenapa begitu bodoh hingga merusak diri sendiri hanya demi seorang yang seharusnya tidak pernah ada!”
“Bahkan meskipun dunia tidak menghendaki kehadirannya, saya akan tetap menjadi perisai saat dia diserang dan menjadi pedang yang akan maju duluan untuk melemahkan musuh!”
“Cuih!” masih mencengkram rahang pipi Vee, “Bagaimana jika dia tahu, kamu bukanlah ibunya!”
“Saya ibunya!” tegas Vee dengan berani meski air matanya terus saja berjatuhan.
“Ya … orang yang selama ini dia anggap ibu, ternyata orang yang membantu penjahat menyembunyikan kebusukannya!”
“Itu sebabnya, saya lebih baik tidak pernah berjumpa dengan orang sebusuk anda!”
Makin mencengkram kuat, “Menyesal pernah menyelamatkan nyawaku yang nyaris saja hilang?”
“Sangat!”
Dengan sangat kasar Yazza menghentakkan Vee hingga terjatuh tersungkur ke lantai.
Bahkan enggan rasanya mendongak untuk menatap Yazza.
Yazza mendengus jongkok di sebelah Vee dengan begitu tenangnya.
“Apa yang harus aku lakukan pada pembohong ini? Kenapa kamu membuatku benar-benar di posisi orang jahat kali ini?” ucap Yazza santai.
“Cih! Bukankah memang anda selalu menjadi orang jahat?” masih tidak menatap Yazza.
Menggeleng, “Semua yang kukatakan tentang peri kecil … aku tidak pernah berdusta! Kamu tahu betapa bahagianya aku saat mengetahui jika Yve adalah putri kita berdua?”
“Seharusnya anda tahu sekarang! Kenapa saya tidak menyangkal dan justru membohongi anda tentang identitas Yve sebenarnya!” kali ini Vee menatap Yazza penuh amarah.
Mengelus kepala Vee dengan lembut, mengabaikan kemarahan wanita itu, “Aku sangat bahagia sampai rasanya akan menyerahkan segalanya untuk kalian berdua! Tapi kenapa kamu justru memupuskan keindahan itu dengan semua kenyataan tengik ini?”
Vee hanya diam kali ini, rasanya dia sudah tidak peduli lagi.
Tatapan matanya begitu nanar di balik selaput air mata, tapi nyalinya sangat ciut sampai bergerak saja tidak berani.
Melawan Yazza?
Sepertinya dia memang tidak akan pernah bisa mengalahkannya.
“Aku benar-benar sudah menghancurkan harga dirimu, merampas kesucian dan memaksamu mengenang perbuatan yang sebenarnya belum pernah kita lakukan,” masih mengelus rambut Vee, “Apa kamu semakin membenciku?”
“Kenapa saya masih harus menjawab pertanyaan yang anda sendiri sudah tahu dengan pasti jawabannya!” tegas Vee lirih.
Mengusap lembut bawah dagu Vee, “Tidak peduli kamu membenci sampai berniat meracuniku sekalipun! Aku akan membuatmu tetap berada di sisiku!”
“Cih … memang seorang psikopat gila!” cibir Vee tersenyum dalam isak tangisnya.
“Bagaimana? Masih tidak menyesal saat kamu berpikir sudah akan terbebas dariku?”
“Satu-satunya penyesalan yang saya miliki adalah, membiarkan Yunna pergi dengan anda!”
“Jangan sebut wanita itu lagi jika kamu juga tidak ingin aku menyebut namanya di depan putri haram itu!”
__ADS_1
Menatap garang, “Pak Yazza!” bentaknya.
“Karena kamu lebih memilih tidak melaporkan kejahatanku, itu artinya kamu lebih memilih menutup identitas Yve yang sebenarnya bukan?”
“Jangan pernah membahas ini di hadapannya!”
Mengangguk-angguk, mengusap pipi Vee yang berdarah oleh bekas kukunya, “Kalau begitu, aku sudah tahu kelemahanmu!”
“Saya mohon … jangan sakiti Yve! Jika anda sungguh tidak menginginkannya, biarkan saya membawa dia pergi. Saya janji tidak akan muncul lagi di hadapan anda, dan saya tidak akan pernah menggali kotoran yang sudah anda sembunyikan ini!”
Menggeleng sok polos, “Tidak … tidak seperti itu maksud tujuanku! Aku tidak mau melepaskanmu, yang aku inginkan adalah kamu!”
Menyipitkan mata, “apa yang anda inginkan dari saya sebenarnya!” tanyanya frustasi.
“Menjadi istriku!”
Vee langsung menyentakkan tangan Yazza dan berdiri membuang muka menatap ke luar jendela.
“Masih dengan sangat angkuhnya menolak?” Yazza geram ikut berdiri.
Vee mengusap air matanya mendongak menatap langit.
Menikahi orang yang sudah menghancurkan hidup sahabatku?
Apa yang sebenarnya pernah aku lakukan sebelumnya?
Kenapa Tuhan menghukum aku seperti ini!
“Yve tetaplah putri kandungku. Jika aku menyewa pengacara dan meminta hak asuh anak, bukankah aku sudah pasti akan mendapatkannya?”
“Apa yang anda bicarakan!” protes Vee kembali menatap Yazza.
“Setelah aku mendapatkan hak asuh atasnya, perlahan aku akan membuat dia sangat menderita. Dan dengan cara yang sama halusnya, dia akan seolah mengalami kecelakaan hingga harus lenyap dari dunia ini!”
“Pak Yazza cukup!” sentak Vee kembali mengisak tangis, “Kenapa otak anda begitu rusak! Anda sudah benar-benar sakit jiwa!”
“Jadi, bagaimana? Mau melindungi dan tetap menjadi ibunya atau tetap mempertahankan egomu dan membuatnya tinggal bersamaku seorang diri?”
“Ya, saya akan menikah dengan anda!” tegas Vee lantang.
Sungguh, kata-kata itu rasanya membuat hatinya begitu perih seperti disayat pisau.
Yazza tersenyum mendengus lalu perlahan terkekeh dengan sini.
“Sungguh wanita yang cerdas!” mengusap air mata Vee.
Menampik lengan Yazza dengan sebelah lengannya.
Yazza tersenyum sinis.
Menarik pinggang Vee, menenggelamkan kedalam dekapannya
Dengan lembut Yazza membelai rambut juga mengusap-usap punggung Vee.
Senyumnya merekah meski dia tahu jika perasaan wanita dalam pelukannya tidaklah sama dengan kebahagiaan yang saat ini dia rasakan.
Yunna!
Air mata ini tidak akan mampu menebus kesalahanku!
Aku merasa sangat berdosa padamu!
Maaf karena membuat Yve berada dalam bahaya.
Dan aku justru bersedia menikah dengan pria ini!
Tapi, jangan khawatir! Aku akan selalu menjadi perisai untuk putri kita!
Butiran bening terus turun perlahan, mengiringi kepedihan yang merayapi hingga ke inti ulu hati.
Nyeri sekali!
Jika dunia ini memiliki oksigen gratis, kenapa rasanya begitu menyesakkan?
Apa aku harus membayar untuk mendapatkan kebebasan?
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...