RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
RASA YANG TERPENDAM


__ADS_3


Vee tidak berani membuka mulutnya sedikitpun.


Sekali lagi dia melihat ke sekeliling.


Apa semua orang sudah tahu?


Kenapa pak Didik memberitahukan ke semua orang?


Daniel ….


Pak Didik menghela nafas panjang. Tanpa banyak kata-kata lagi, dia membalikan badan. Berjalan mendahului menuju ruangannya.



Vee hanya diam dan mengikuti sampai ke ruang kerja pak Didik.


Entah kenapa, suasana menjadi canggung sekarang.


Pak Didik duduk lemas dengan bahu turun.


Vee menarik nafas panjang, lalu menghempaskan kembali.


“Pak Didik pasti sudah tahu sesuatu ‘kan?” tanya Vee memberanikan diri.


Menundukkan kepala tanpa menjawab.


Sama halnya dengan Vee, pak Didik juga masih tidak nyaman untuk membahas masalah ini sebenarnya.


“Apakah semua orang di sini juga sudah tahu?”


“Sepertinya begitu!” jawab pak Didik datar.


Vee kesal menautkan kedua alisnya, “Kenapa pak Didik mengatakan kepada semua orang!”


Menggeleng, “Bukan aku! Tapi pak Yazza yang memberitahukan kepada semua orang!”


“Yazza?” Vee menyipitkan mata.


Memperlihatkan majalah kepada Vee.


“Apa-apaan ini!” protes Vee begitu melihat sampulnya.


“Dia sudah mengumumkan ke publik tentang siapa dirimu dan apa hubungan kalian yang sebenarnya!”


“Apakah pak Daniel juga sudah tahu?” Vee gemetar.


“Aku tidak tahu! Tapi dia belum juga datang sampai saat ini!”


Vee makin gelisah, “Bagaimana ini!”


“Vee … kenapa kamu membohongi kami semua!” pak Didik duduk menopang kepalanya, “Kamu tahu kan … betapa cintanya Daniel kepadamu!”


“Pak, saya sama sekali tidak bermaksud untuk tidak jujur! Sungguh … saya juga tidak menginginkan hal ini terjadi!”


Menyipitkan mata, “Apa maksudmu?”


“Saya sangat membenci ayah Yve! Jika saya harus tersenyum padanya … itu hanya karena di hadapan Yve!”


“Tapi kalian akan menikah!” tegas pak Didik meski masih dengan nada rendah.

__ADS_1


“Itu juga membuat saya begitu frustasi!”


“Maksudmu … kamu sungguh tidak menginginkan pernikahan ini? Jangan bilang kamu terpaksa karena permintaan dari pak Yazza saja?”


“Memang seperti itu kenyataannya …,” menahan nafas untuk beberapa detik, “tunggu! Bagaimana pak Didik bisa menebak seperti itu?”


“Karena semalam pak Yazza bilang, dia tidak akan melepaskan kamu!”


Vee mendengus membuang muka, “Cuih … tapi saya sungguh ingin lepas darinya!”


Pak Didik mendengus memegang kepalanya, “Vee, pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan! Jika kamu menyetujui pernikahan ini, artinya kalian memang sudah memutuskan untuk hidup bersama … juga siap berbagi suka duka dalam berumah tangga!”


Menunduk, “Bukan ayah Yve yang saya cintai … hanya saja, Yve begitu menginginkan kami bisa bersama lagi!”


“Tapi bukankah jika  kamu memang tidak mencintainya, kamu bisa membicarakan ini baik-baik kepada putrimu? Kalian masih bisa mengasuhnya tanpa harus menikah!”


“Takutnya … tidak akan segampang itu!” Vee meneteskan air mata, “Yazza akan menuntut hak asuh anak, dan saya tidak mau jika Yve tidak tinggal bersama saya! Yazza lebih berkuasa, dia pasti akan memenangkan tuntutan ini di pengadilan!”


Kali ini pak Didik mendengus tersenyum, “Jadi, pak Yazza mendesak untuk kembali hidup bersama dengan ancaman seperti itu?”


Vee tidak bermaksud mengatakannya.


“Vee, boleh aku bertanya satu hal lagi?” ucap pak Didik ragu-ragu.


Menoleh, “Ya?” berusaha bersikap tegar.


“Jika bukan pak Yazza yang ada di hatimu, lalu bagaimana dengan pak Daniel?”


Mendengar pertanyaan pak Didik, membuat hatinya semakin pedih.


Vee mendengus kembali membuang muka, kali ini berdiri menatap ke luar jendela.


Melihat para karyawan yang bekerja sembari tersenyum dalam kesedihan.


“Dia sudah menjadi pengganggu sejak awal kedatanganku. Aku merasa, semakin hari dia semakin menyebalkan dan memalukan!” tutur Vee lembut tanpa menoleh ke arah pak Didik.


“Tapi, begitu dia tidak ada … rasanya hidupku menjadi sepi dan ada yang kurang!” lanjutnya tersenyum tipis mengingat awal pertemuannya dengan Daniel.


Menunduk sedih, “Sebenarnya, saya sudah memendam rasa kepada pak Daniel sejak kami masih berada di bawah kepimpinan pak Didik!” pungkas Vee dengan nada kelu.


Terkejut, “Apa?”


“Yeah … saya memang selalu bersikap dingin dan jual mahal kepadanya pada waktu itu! Bahkan, meski dia sangat mengganggu, saya tidak pernah benar-benar mengusirnya!” menghapus air matanya lagi.


Pak Didik menatap Vee dalam.


Satu lagi hal yang membuatnya tidak bisa berkata-kata.


“Daniel selalu berkata, jika dia hanya akan menyukai Vee seorang! Dan kata-kata itu yang masih selalu saya pegang!” perlahan menoleh menatap pak Didik sendu.


“Lalu kenapa harus dipersulit seperti ini?” mendengus, “Cih! Cinta kalian berdua ternyata tidak bertepuk sebelah tangan! Tapi, kenapa semua baru terungkap di waktu yang tidak tepat!”


Vee kembali menunduk sedih.



Pak Didik menggeleng-gelengkan kepala, “Kenapa kamu tidak jujur saja sejak dulu!” tegasnya.


“Itu karena saya membuat kesalahan telah bertemu dengan Yazza!” Vee sama tegasnya.


Pak Didik mengernyitkan dahi.

__ADS_1


“Meski itu sebuah pertemuan yang tidak di sengaja … tapi kehancuran hidup saya dimulai sejak hari itu! Saya sungguh tidak ingin berurusan dengan orang sepertinya, maka dari itu saya memutuskan melarikan diri! Saya sudah kehilangan banyak hal … termasuk harus memupuskan perasaan saya kepada pak Daniel!”


“Daniel sangat frustasi dan kehilangan semangat kerja begitu kamu mengundurkan diri dengan tiba-tiba pada waktu itu!”


“Dan sepanjang hidup saya … saya hanya bisa menyalahkan Yazza atas semua yang sudah saya alami! Saya hanya ingin hidup tenang bersama Yve … melindungi dan menjauhkan anak itu sejauh mungkin dari ayah kandungnya!”


“Apa kamu tahu … berapa kali dalam sehari Daniel berusaha meneleponmu? Bahkan ketika dia sudah tahu jika nomormu memang sudah tidak aktif lagi …,” mencibir tersenyum, “dia masih tetap saja berusaha memanggil ke nomor itu!”


“Saya tidak pernah menyangka jika pak Daniel memang masih memegang ucapannya selama ini!” Vee tersenyum lega.


“Saya kembali melamar ke kantor cabang White Purple dengan harapan akan bisa bertemu dengan pak Daniel lagi suatu hari nanti!”


“Saya bekerja keras memang dengan tujuan agar dipromosikan kembali ke kantor ini … meski kenyataan bahwa pak Daniel ternyata anak pemilik perusahaan yang membuat saya terkejut karena merasa di tipu … jujur saja, saya cukup senang karena bisa melihatnya lagi!”


“Terlebih, ketika pak Didik berkata bahwa dia masih menunggu saya … betapa bahagianya saya waktu itu!” pungkas Vee dengan bibir kelu.


Pak Didik berdiri mendekat.


Vee mengusap air mata dengan telapak tangan, “Saya cukup sadar diri sekarang! Dengan perbedaan status kami, rasanya akan sulit untuk bersama!”


Mengelus punggung Vee, “Lantas kamu menyerah dan hendak mengorbankan perasaanmu sendiri?”


“Pak Daniel berhak mendapatkan yang lebih baik dari saya!” mendongak menatap ke langit-langit.


Dengan begitu, air matanya akan bisa tertahan tanpa harus mengalir jatuh ke bawah.


“Vee … jika memang hatimu masih memilih Daniel, maka jangan di sembunyikan lagi!”


“Lalu, saya harus bagaimana? Bagaimana juga dengan Yve? Saya sungguh tidak bisa melawan Yazza! Bukannya tidak mau menolak … tapi saya memang tidak bisa!”


Pak Didik ikut menunduk sedih, “Jadi, pernikahan kalian memang hanya demi Yve?”


Vee mengangguk dalam kepedihan.


“Lagipula … dari yang aku lihat, pak Yazza memang sangat menginginkanmu! Dan Yve begitu bahagia menyambut Yazza malam tadi. Pasti memang sulit jika ada di posisimu!”


“Apa Yazza juga mengintimidasi anda?” tanya Vee ragu.


“Intimidasi?” menyipitkan mata.


“Mengenai kejadian pengiriman malam kemarin! Tidakkah Yazza berbicara pada anda jika dia di balik semua ini?”


Menyipitkan mata, “Apa yang kamu bicarakan! Justru pak Yazza yang datang menemuiku untuk membantu menyelesaikan masalahnya!”


“Apa!” Vee terkejut mengerutkan kening.


“Pak Yazza yang sudah bekerja keras menyelidiki CCTV jalanan! Dia bahkan mengumpulkan bukti dan melacak di mana lokasi truk kita berada dengan sangat detail … aku menduga, itu butuh waktu yang lama dan tidak mudah membujuk petugas menunjukan rekaman CCTV secara diam-diam!”


Deg!


Vee mengepalkan tangan dengan kemelut kegelisahan dalam hati.



Apa-apaan ini!


Kenapa malah jadi begini ceritanya?


Membujuk petugas secara diam-diam?


Jadi, memang bukan dia?

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2