RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PLAYING VICTIM


__ADS_3


Raya selesai mandi, dia langsung mengenakan pakaian yang memang sudah disiapkan.


“Jadi seperti ini seleranya?” melihat bayangan dirinya sendiri di cermin.


Lingerie transparan berwarna merah menyala yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas sudah dia kenakan.


Dia mendengar seseorang mencoba mengakses pintu masuk.


Raya segera berlari ke ranjang, berpose seexy memiringkan tubuh, menopang kepalanya dengan sebelah tangan dan tangan lainnya memegang paha.


Senyumnya merekah siap menyambut kedatangan Hirza.



Seseorang muncul, Raya terperangah terkejut saat melihat orang itu ternyata bukanlah orang yang dia tunggu.


Pak Rudi membelalakkan mata menatap tajam ke arah wanita di hadapannya.


Hirza dan Hans masih berada di dalam lift.


“Ah … mas bro aku malas ikut masuk nanti!” gerutu Hans menyilangkan tangan di perut.


“Yang pertama punya ide ini siapa?” Hirza cengengesan mengejek Hans.


“Tapi kenapa harus melibatkan mas Rudi!” menghela nafas kesal, “Akan panjang ceritanya kalau begini!”


“Sudah kubilang kan? Kalau mau membuat drama, jangan setengah-setengah!” tersenyum mencibir.


Pintu lift terbuka, membawa mereka langsung ke pintu apartemen.


“Pokoknya aku tidak mau ikut masuk! Aku lepas tangan dan tidak mau terlibat lagi jika ada mas Rudi!”


Terkekeh, melangkah keluar, “Hahaha … cupu sekali!”


“Bodo amat, yang penting telinga dan mentalku aman!” mengekor di belakang Hirza.


Raya langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.


“Siapa kamu? Kenapa kamu di sini? Dimana Hirza?” sentak pak Rudi berteriak penuh amarah.


Raya ketakutan, “Emb, saya … saya …,”


“Tunggu, bukankah kamu sekretarisnya pak Gerry?”


Raya semakin salah tingkah.


Hirza membuka pintu kamar seolah terkejut, “Mas Rudi! Kenapa mas masuk ke kamarku!”


PLAKKK!


Pak Rudi langsung menampar keras wajah Hirza dengan rahang mengeras dia menatap adiknya berkilat penuh kekecewaan.


“Ouchhh!” Hans mengintip dari ruang depan.


“Sekarang kamu pergi!” mengusir Raya, “PERGI!!! Dasar jaalaaang!” sentak pak Rudi.


Raya langsung mengambil pakaiannya, dia ketakutan mengendap keluar kamar.


Hans berisyarat pada Raya untuk segera meninggalkan apartemen Hirza.


“Cepat, sebelum perang dunia ketiga terjadi di sini!” desis Hans.

__ADS_1


Raya mengangguk, buru-buru mengenakan pakaiannya lagi sambil berlari kecil menuju pintu, dia menenteng sepatu hak tingginya.


“Apa-apaan kamu ini! Apa maksud kamu membawa wanita lain ke sini?” sentak pak Rudi.


Hirza menunduk, “Tapi aku juga pria normal mas!”


“Aku tahu itu! Tapi ini juga demi dirimu, demi kelangsungan hidup kita! Jika sampai kabar ini tersebar keluar, kita hanya bisa menggali lubang kuburan untuk diri kita sendiri!”


“Maafkan aku mas!”


“Dia sekertaris pak Gerry yang tadi kan? Bagaimana bisa dia ada di sini!” bertolak pinggang.


“Sebelum meeting, dia menemui ku … menggodaku! Dia sangat menarik dan cantik, aku jadi tertarik ingin tidur bersamanya! Dia bilang jika aku meloloskan proposal G Corporation, dia bisa melakukan apa saja termasuk permainan ranjang. Jadi, aku mengabulkan permintaannya dan menyuruhnya menunggu di sini!”


Menyipitkan mata, “Kamu sungguh tidak waras ya?”


Menggaruk kepalanya, “Emb … aku tadinya berpikir mas tidak akan masuk ke kamar! Kenapa mas masuk ke area pribadiku sih! Aku kan mengundang mas ke sini untuk berbicara tentang masalah bisnis penting!” protes Hirza.


“Ada tas wanita di ruang depan! Kamu pikir aku bodoh! Untung saja aku memergokinya. Jika tidak, akan ada bahaya yang lebih besar nantinya!”


Menghela nafas panjang, “Iya deh aku salah! Aku tidak akan seperti ini lagi! Anggap saja tadi itu aku khilaf!”


Mengangkat tangan, “Mas nggak mau tahu! Pokonya mas akan menyelesaikan masalah ini. Kontrak dengan G Corporation akan mas batalkan!”


“Tapi mas!”


“Jangan membantah!” sentak pak Rudi.


Hirza menunduk, menutup mulut rapat-rapat.


Mendengus, “Mas sudah tidak mood berbicara. Apa yang ingin kamu bicarakan pada mas, kita bicarakan besok saja! Mas mau pulang!”


“Mas!” mencoba menarik lengan pak Rudi.


Hans tersenyum cekikikan dari luar.


Pak Rudi menoleh ke arahnya. Hans langsung terdiam membuang muka.


“Sudah! Mas mau pulang! Kamu juga sebaiknya langsung pulang! Xean tidak ada yang menjaga di rumah!”


Mengangguk pasrah.


Pak Rudi mendengus memicingkan mata, lalu berjalan keluar.


Dia melewati Hans, menatap Hans kesal, “Kamu juga! Harusnya kamu menjaga dia supaya tidak melakukan hal-hal seperti ini!”


“Maaf!” menunduk tidak berani menatap wajah pak Rudi.


Mendengus kembali berjalan meninggalkan Hans.


Begitu memastikan pak Rudi keluar dari ruangan, Hans langsung masuk ke kamar.


Cengengesan menertawakan Hirza.


Hirza mengelus pipinya sendiri, “Perih juga!”


“Eunuch! Hahaha!” ejek Hans menatap bagian bawah Hirza.


Memukul kepala Hans, “Aku juga akan memotong ‘punyamu’ sampai habis!”


Menutup dengan kedua tangan, “Dih! Horror sekali!”


Tersenyum mengangkat sebelah tangan.

__ADS_1


Hans langsung menepukkan tangannya ke telapak tangan Hirza.


Keduanya terkekeh cekikikan.


“Hahaha! Mission completed!” ucap Hans riang.


Tersenyum, “Mas Rudi sangat marah. Sepertinya akan ada kabar buruk setelah ini!”


Mengangkat bahu, “Itu sebabnya aku malas berurusan dengan mas Rudi!”


...***...



Leo datang ke kantor keamanan Mall.


Berli terkejut melihat ke arahnya.


“Loh … kamu …,” mencoba mengingat, “kamu pengacaranya Vee waktu itu kan?”


Leo hanya menoleh sebentar.


Dia tidak menjawab, dengan gaya acuh dia menatap kepala keamanan Mall.


“Saya pengacara nona ini! Sebelum membawa masalah ini ke kepolisian, kenapa kalian tidak memastikan dulu dengan bukti CCTV secara detail?” ucap Leo tanpa banyak basa-basi.


“Tapi sudah jelas buktinya di temukan di dalam tas nona ini!” bantah Kepala Keamanan.


“Kejadian seperti ini bisa saja dimanipulasi. Jika terbukti kalau nona ini tidak bersalah … kami akan menuntut balik atas fitnah dan pencemaran nama baik klien saya!” tegas Leo.


“Loh … kenapa malah menuntut kami? Jelas-jelas nona ini mencuri!”


“Kalau begitu ijinkan saya memeriksa semua CCTV di lokasi kejadian!”


Berli terperangah kagum melihat Leo yang tampak dingin dan gagah saat berbicara.


Dia keren sekali!


Setiap kata yang terlontar, rasanya seperti ribuan pukulan yang menghujam!


Batin Berli.


“Oke! Silahkan!”


Mall sudah di tutup. Tapi karena kasus ini, para penjaga keamanan dan juga karyawan toko Berlian masih menunggu hasil pengamatan.


Mereka memang sepakat untuk tidak membawa kasus ini ke kepolisian terlebih dahulu.


Baik dari pihak pemilik toko juga para petugas keamanan Mall, mereka cukup ciut setelah mendengar ancaman dari Leo yang akan menuntut balik jika Berli terbukti tidak bersalah.


Tidak ingin gegabah, mereka setuju untuk menyelidiki CCTV secara bersama-sama.


Disaksikan langsung oleh petugas pengawas CCTV, Leo akhirnya menemukan beberapa bukti melalui pantulan kaca.


“Mereka amatir! Tapi cukup cerdas juga!” gumamnya lirih.


Dengan senyum pongah Leo menatap Kepala Keamanan Mall.


“Bersiaplah untuk memohon maaf kepada kami!”


Pria paruh baya itu tampak menyipitkan mata menata Leo penuh tanda tanya.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2