
Melihat kertas yang menunjukan identitas seorang pelajar beserta kartu nama seseorang yang sangat ternama, tentu membuat pak Ardi terkejut.
“Bukankah ini … tuan …,” pak Ardi menatap Yazza khawatir.
Bibirnya seolah terkunci, dia tidak bisa berkata-kata lagi.
“Lihat alamat anak itu dan samakan dengan yang ada di kartu nama,” ujar Mr. Bald menyuruh.
Yazza lemas menurunkan tangan ke pangkuannya.
“HIrza?” menatap Mr. Bald penuh tanda tanya.
Pak Ardi teringat akan suatu hal.
Dia kembali melihat sketsa wajah yang Mr. Bald berikan.
“Pantas saja saya merasa tidak asing dengan anak ini. Dia memang sering mengikuti pak Hirza dalam beberapa pertemuan. Bedanya anak itu memakai setelan jas formal, begitu mengenakan seragam sekolah … sungguh seperti orang yang berbeda!” cibir pak Ardi.
“Ya … aku pernah mendengar tentang kabar burung jika pak Hirza yang memiliki orang kepercayaan … anak muda dengan reputasi tinggi di Paradise … jadi dia anak itu?” tanya Yazza menyipitkan mata.
“Yeah … dialah serigala kecil yang sudah dibesarkan secara langsung oleh pak Hirza!” Mr. Bald tampak menunduk putus asa, “Bahkan meskipun Paradise adalah atap yang menaungi kita semua … saya sendiri tidak pernah tahu … siapa yang sebenarnya menduduki ‘kursi sang raja’. Yang jelas, semua orang pengikut surga … tidak bisa diremehkan!”
Pak Ardi mengernyitkan kening, “Ahh … saya mengerti … jadi anak ini yang diangkat sebagai saudara dan secara resmi sudah masuk ke dalam keluarga Lorenzo?”
Mengangguk, “Yeah ! Beberapa tahun lalu, pak Hirza bertemu dengan seorang anak jalanan yang cukup menarik perhatian …,”
Mr. Bald menghentikan kalimatnya.
Dia menyipitkan mata, seolah memikirkan sesuatu.
Melihat perubahan ekspresi pria di hadapannya, Yazza juga ikut mengernyitkan dahi.
“Apa ada yang salah?” tanya Yazza penasaran.
“Saya teringat tentang cerita calon istri anda yang katanya mantan petarung jalanan …,” terdiam sejenak, “anak ini juga mantan petarung jalanan yang berasal tidak jauh dari daerah pesisir!”
Mendengar pernyataan Mr. Bald, semua yang di sana tampak terkejut membelalakkan mata.
“Semoga saja hanya kebetulan,” cukup ragu Mr. Bald mengucapkan.
“Lalu … kenapa pak Hirza bisa sampai ke tempat itu?” tanya Yazza skeptis.
Semua pasang bola mata tertuju kepadanya kali ini.
Pertanyaan itu jelas menimbulkan pertanyaan lain.
Mr. Bald menarik nafas panjang dan menghempaskan pelan.
“Sebaiknya kita tidak usah menyimpulkan apapun terkait hal ini!” tegas Mr. Bald.
Lebih tepatnya, tidak berani terlibat terlalu dalam.
Icha menatap Mr. Bald, tentu dia memahami kekhawatiran bosnya.
__ADS_1
Terlalu sulit jika harus menentang Paradise.
Terlebih jika harus melibatkan Yazza.
Meski tidak pernah dibicarakan, ada rahasia besar yang disembunyikan Shadow.
Demi menghormati pemimpin sebelumnya, Mr. Bald tidak berani mengambil resiko jika harus membawa Yazza ke dalam masalah besar.
“Sepertinya kita harus berhenti menyelidiki terkait kejadian ini!” Icha menatap Yazza, “paling tidak … tuan Yazza juga sudah tahu siapa si penumpang gelap yang sebenarnya!”
Mr. Bald menggeleng, “Takutnya masalah ini tidak sesimpel itu! Saya masih sangat penasaran, apa motif mereka?”
“Tapi kita tidak boleh menentang surga tuan!” Icha memperingatkan.
“Setidaknya kita harus tahu … apa yang mereka rencanakan. Dengan begitu … barulah aku tenang!” jawab Mr. Bald.
Karena hanya dengan kejelasan, Mr. Bald bisa mengantisipasi masalah yang mungkin akan menimpa Yazza kedepannya.
“Well … saya merangkum beberapa kemungkinan! Tapi semakin dipikir, justru malah semakin tidak masuk akal!” Icha menghempaskan nafas.
Cukup membuat frustasi.
“Pura-pura menutup mata dan telinga sepertinya adalah jalan terbaik!” lanjut Icha memutuskan.
“Meski aku pun juga penasaran … tapi Icha benar! Sebaiknya memang tidak usah menyinggung mereka,” Yazza menaruh kartu nama dan selembar kertas, kembali ke atas meja.
Dalam hal ini, Yazza merasa harus berdiam dan mengalah.
Bahkan meskipun egonya terlalu besar, dia tidak boleh sembarang melangkah.
Pertemuan Vee dan Hirza beberapa waktu lalu, sepertinya memang bukan hanya kebetulan semata.
Seperti yang sudah dia khawatirkan jauh sebelumnya.
Bisa saja dengan alasan bertemu kembali dengan teman lama, Hirza sengaja mendekati Vee hanya untuk di manfaatkan.
“Oke! Kita memang tidak akan menuntut jika memang penumpang gelap itu adalah orang Paradise. Tapi kita juga tidak boleh hanya berdiam!” Mr. Bald menatap Icha, “Bagaimana jika kita dia anggap tidak peka dengan isyarat yang mereka buat?”
Icha mengernyitkan dahi, berisyarat mata, melirik kea rah Yazza.
Mr. Bald menghela nafas, “Maaf … sepertinya ini bukan lagi menjadi urusan tuan Yazza! Sebaiknya kita kembali dan bicarakan ini di markas saja!”
“Tunggu! Bagaimana anda bisa berkata seperti itu? Jika hanya saya yang mereka targetkan … itu tidak masalah! Yang jadi permasalahan, sepertinya ini bukan hanya tentang masalah personal. Hirza sudah dengan sengaja melibatkan Vee di dalamnya! Saya juga tidak mungkin lepas tangan begitu saja!” protes Yazza.
“Anda sendiri yang tidak ingin mempermasalahkannya lagi!” debat Mr. Bald.
“Dan anda sendiri juga yang bilang jika kita harus tahu motif mereka! Mengenai botol kaca itu … anggap saja sudah kita lupakan … tapi bagaimana dengan Vee?” sahut Yazza meninggikan nada.
Sekali lagi Mr. Bald menghela nafas panjang.
“Paradise sedang menandai G Corporation, dan sudah menjadi rahasia umum jika Teratai Putih adalah rivalnya. Apakah Paradise memang sengaja ingin menggunakan kesempatan ini untuk memperpanas perselisihan?” tanya Yazza spekulatif.
“Itu juga yang sebenarnya saya simpulkan tadi,” Icha mengernyitkan dahi, “Tapi ada yang cukup aneh di sini.”
Yazza dan pak Ardi fokus menatap Icha menunggu kelanjutannya.
__ADS_1
“Pak Yazza sudah membuat skandal dalam dunia bisnis. Dan dalam sekejap, meski berita itu sempat menggemparkan, Paradise mampu menciptakan kehebohan dengan berita tentang tawuran pelajar untuk menutupnya. Bahkan pak Hirza menurunkan orang yang paling dia percaya untuk mengawasi nyonya Vee … terbukti dari polah tingkah mereka yang hanya berdiam meski membawa balok kayu saat elite Strom berhasil di taklukkan … well, karena memang bukan nyonya Vee ataupun Teratai Putih yang Paradise incar!”
Yazza menyipitkan mata, “Lalu … kenapa mereka justru menyerangku?”
“Paradise sedang bermain teka-teki dengan kita!” ucap Mr. Bald datar.
“Bukankah sudah jelas mereka hanya ingin memanfaatkan Teratai Putih untuk menjatuhkan G Corporation?” pak Ardi angkat bicara. “Memperkeruh suasana!”
Yazza mengangguk-anggukan kepala, “Mereka tahu, aku sering mengandalkan Shadow … begitu pula Gerry yang selalu bergantung kepada Strom. Layaknya Teratai Putih dan G Corporation, Shadow dan Strom juga tidak pernah sejalan!”
“Sepertinya Paradise sudah melempar umpan besar untuk mengadu domba antara Shadow dan Strom!” Mr. Bald semakin was-was.
“Cih … mereka selalu bermain bersih! Saya ingat jika Strom sepertinya baru saja membuat kesalahan!” cibir Icha.
“Jadi, satu umpan bisa menangkap banyak ikan?” Mr. Bald tersenyum ironi, “Kita berada dalam masalah!”
“Yeah, bisa jadi seperti itu! Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Begitulah kuasa Paradise!” Icha mendengus membuang muka.
“Bahkan pak Hirza berakting seolah tidak tahu apa-apa saat mengunjungiku! Cih …,” menertawakan dirinya sendiri.
“Dia memang memiliki banyak wajah … tidak tahu apa lagi yang akan dia lakukan setelah ini! Sebaiknya anda memberitahu nona Vee agar tidak terlalu dekat dengannya!” saran Mr. Bald.
“Bagaimanapun juga, mereka berteman saat masih kuliah. Vee tidak akan mempercayaiku jika aku berkata bahwa pak Hirza itu berbahaya!” Yazza menghela nafas frustasi.
...***...
Tisya berjalan santai menuju taman samping kolam.
Di sana sudah ada Gerry dan Tasya yang tengah bersantai sambil mengawasi Cessa bermain.
Tasya menoleh, “Masih di rumah?” tersenyum menyambut adiknya.
Wanita itu balas tersenyum duduk di dekat kakaknya.
“Kak … bolehkah Tisya meminta sesuatu?” melirik sedikit ke arah Gerry.
Ikut melihat ke arah Gerry, “Mau bicara berdua saja?”
Salah mengartikan.
Menggeleng, “Tidak perlu!”
Tersenyum mengelus rambut adiknya, “Untuk adikku tersayang … apa yang tidak bisa aku kabulkan?” tersenyum hangat, “Apa yang kamu inginkan?”
“Aku ingin menikah dengan putra tunggal pemilik White Purple!” ucap Tisya menatap kakaknya dengan senyum datar.
Mendengar kalimat itu, membuat Tasya terdiam terpaku menatap adiknya penuh dengan tanda tanya.
Gerry mendengus dengan seringaian mencemooh.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1