
“Papanya Xean?” ulang Vee masih terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Bukankah patung itu terlihat terlalu berlebihan?
Maksudku emas dan berlian?
“Tunggu … aku tidak paham deh! Hirza menitipkan patungnya di tempat kita?” tanya Vee polos.
Pria itu bahkan tidak menjenguk Vee selama dia berada di rumah sakit miliknya.
“Rumahnya berhektar-hektar! Kenapa kamu masih bisa berpikir jika dia menitipkan benda itu di tempat kita?” dengus Yazza mencibir.
“Jadi, maksudmu …,”
“Yeah … itu hadiah dari pak Hirza untuk pernikahanmu!” sahut kek Gio sama ketusnya.
“Hah?” bukannya senang, kedua bahu Vee justru semakin turun begitu mendengarnya.
“Untung saja dia tidak mengirim ke gedung resepsi waktu itu! Bisa-bisa hadiah darinya mencuri banyak perhatian dari seluruh tamu undangan!” Yazza kembali mencibir sinis.
“Sebentar sayang, mama mau lihat kartu ucapan itu,” Vee yang sangat penasaran berusaha melepaskan pelukan Yve.
Tapi anak itu tidak membiarkan mamanya melangkah.
Melihat tingkah putrinya, Vee hanya bisa menghempaskan nafas panjang.
Sepertinya masih ngambek.
“Mbak Dania … tolong ambilkan kertas itu coba,” pinta Vee kepada Dania.
Dania mengangguk langsung berjalan menuju patung.
“Apa kamu mengemis padanya untuk hadiah itu?” celetuk Yazza.
“Hya! Aku tidak seburuk itu!” mendengus, “Aku hanya basa-basi meminta patung emas!” memutar bola mata menatap langit-langit dengan gesture salah tingkah.
Yazza melotot tajam, “Shhhh … apa kamu bilang?”
Pria itu bertolak pinggang, mendengus membuang nafas.
“Benar-benar memintanya? Sungguh tidak tahu malu,” kembali mendengus, “Hya! Kalau ingin emas bilang saja padaku! Kenapa meminta pada orang lain! Kamu pikir aku tidak akan mampu membelikannya? Aku bisa membelikan patung emas yang lebih besar dari itu!”
Vee menyeringit mencibir, “Kurasa aku tadi mendengar jika dia berkata akan berpikir ulang untuk membeli hiasan seperti itu!” gumamnya lirih.
“Ini buk,” Dania memberikan kartu ucapan kepada Vee.
“Daripada mengemis pada orang lain, bukankah lebih baik meminta padaku? Aku ini suamimu!”
Sambil membuka kartu ucapan, Vee kembali mencibir, “Dasar … mudah sekali iri hati! Lagipula aku juga tidak tahu jika dia benar-benar akan memberikannya, candaan patung emas itu sudah ada sejak kita masih kuliah.”
“Kurasa dia hanya ingin pamer!” celetuk Yazza sinis.
Vee mulai membaca.
...Karena aku sudah menawarkan dan sudah kedua kalinya kamu menjawab hal yang sama, maka aku tidak boleh untuk tidak mewujudkannya kali ini....
...Sebelum ada pertanyaan ketiga kalinya, aku kirimkan patung ini tanpa persetujuan mu....
...Semoga kalian menjadi pasangan yang bisa saling menjaga....
__ADS_1
...Ingat Vee … kamu harus selalu bahagia dan terus menjadi dirimu sendiri....
...Dari temanmu yang paling tampan .......
...‘Senior Buaya’...
Vee cekikikan begitu selesai membacanya, “Astaga! Aku hanya bercanda … kenapa menanggapinya dengan serius!” gumam Vee seolah sedang berbicara pada kartu ucapan tersebut.
“Vee!” panggil kek Gio, “Meskipun dia teman lamamu … bukankah lebih baik kamu menjaga jarak dengannya mulai saat ini?”
Vee menyipitkan mata menatap kek Gio.
“Kamu sudah menjadi istri sah dari seseorang … tidak baik menjalin hubungan terlalu dekat dengan pria lain,” lanjut kek Gio menegur dengan cara halus.
“Kakek … kita bahkan jarang sekali bertemu!” ucap Vee mengelak.
“Cih … hanya orang dekat yang akan diberi hadiah semahal itu,” celetuk Yazza mencibir menyilangkan tangan diperut, “Kamu tahu berapa beratnya ikan itu?”
“Mana aku tahu, menyentuh saja belum,” jawab Vee manyun.
“Cukup untuk membeli hunian mewah baru!”
Terkejut menutup mulut dengan satu tangan, “Benarkah semahal itu? Kalau begitu kembalikan saja!”
“Hya … jika dikembalikan, kita akan dianggap tidak menghargai pemberiannya!”
Mengernyitkan dahi, “Shhh … tadi tidak suka dengan hadiah itu … giliran mau dikembalikan tidak boleh! Sebenarnya kamu juga suka kan dengan patung itu?”
Bertolak pinggang melotot tajam, “Hya … jangan sembarangan! Bukankah jika kamu memberikan hadiah kepada seseorang dan orang itu mengembalikannya padamu … kamu akan merasa sedih kan?”
“Iya juga sih,” ucap Vee membenarkan. “Terus gimana? Jual saja kalau hanya menjadi sumber keributan seperti ini!”
Kek Gio memukul kepala Vee pelan.
“Aww!” rintih Vee mengelus kepalanya.
Menghempaskan nafas panjang, “Aku akan bicara padanya jika bertemu dengannya lagi. Bagaimanapun juga … hadiah ini terlalu berlebihan!” ucap Vee terdengar serius.
“Tapi Vee, jika dia menganggap kita tidak sopan bagaimana?” tanya kek Gio.
Tersenyum, “Kakek tenang saja! Aku bukan rekan bisnis atau koleganya. Karena kita berteman, jadi kita akan bicara santai layaknya teman.”
Kek Gio menghempaskan nafas yang menyesakan, “Terserah kamu saja kalau begitu! Tapi ingat pesan kakek tadi … kalau bisa tetap jaga jarak dengannya!”
Vee melirik Yazza yang sudah berwajah masam, “Jangan khawatir kek! Aku tahu kalau suamiku itu sedang kesal, dia akan menjadi sama persis seperti petasan! Jadi agar dia tidak meledak-ledak sembarangan, tentu aku harus bisa menempatkan dimana diriku seharusnya berada bukan?”
Yazza mengernyit mencibir, “Terdengar mengerikan sekali!”
Kek Gio terkekeh pelan, “Hahaha … dasar kamu ini! Selalu bisa mencairkan suasana!” melihat keduanya bergantian, “Jujur … kakek senang sekali memiliki kalian dalam hidup ini!” ucapnya bangga.
Dania tampak kesal dengan rahang mengeras saat mendengarnya.
Si tua bangka ini semakin lama semakin menyebalkan saja.
Ibu Vee sama sekali tidak cocok dengan pak Yazza!
Aku yang paling pantas bersanding dengan pak Yazza!
Dania Mengepalkan tangan geram.
...***...
__ADS_1
Hirza menyipitkan mata menatap aneh ke layar laptop.
“Ada apa mas? Kenapa sepertinya ada sesuatu yang tidak baik?”
“Hans!” panggil Hirza datar.
“Hmph? Apa?” santai duduk di sofa ruang kerja Hirza.
“Aku punya sebuah misi baru untukmu!”
Antusias menatap Hirza, “Sungguh? Apakah misi besar … katakan apa misi itu mas?”
“Cari tahu asal-usul tentang pengasuh Yve yang baru ini!”
“Hah? Si wanita aneh yang mengerikan itu?” Hans terkejut.
“Sepertinya dia memang benar-benar mencurigakan! Aku khawatir jika dugaanku benar … bagaimana jika dia benar-benar seorang psikopat?”
Menyipitkan mata, “Sebenarnya apa yang baru saja terjadi? Kenapa mas bro tiba-tiba ingin supaya aku mencaritahu tentang indentitasnya?”
Hirza berdiri merapikan jasnya, “Nanti kamu juga akan tahu sendiri!”
Melihat Hirza, “Mas mau ke mana?”
“Pergi ke sekolahmu untuk mengantarkan kamu ke sana!”
Berdiri gelagapan, “Mas! Aduh jangan dong! Please!”
“Mas mau supaya kamu lulus dengan baik di tahun ini. Pokonya mas nggak mau tahu … jangan bolos lagi!”
Salah tingkah, “Aduh mas … nanti Hans dimarahi di sana!”
“Mas juga akan memarahi kamu di sana! Jadi bersiaplah,” berjalan mendahului.
“Hya mas! Jangan ke sekolah!” rengek Hans.
“Mas sudah memutuskan … begitu kalian berdua lulus tahun ini, kalian akan mas kirim untuk belajar ke luar negeri!”
“Mas … tapi aku dan Xean pasti tidak akan setuju!”
“Jangan banyak mendebat! Pokoknya hal ini sudah mas putuskan dengan matang-matang. Mas Rudi juga sudah setuju!”
Tertunduk lemas, “Yah … mas bro! Aku selalu mau berada di sisi mas bro saja!”
“Kamu tidak akan pernah bisa mandiri jika terus bergantung padaku!” tegas Hirza.
Hans manyun, “Tidak menyenangkan. Aku kan cuma mau terus melindungi mas bro!”
“Jangan banyak mengoceh lagi. Jika aku tidak menyeret mu kembali ke sekolah sekarang … mas Rudi akan berpikir jika aku benar-benar tidak bisa mengurus kalian!” Hirza membuka pintu, “Ayo cepat!”
“Baiklah!” mengikuti dengan lemas.
Hirza dan Hans meninggalkan ruangan.
Laptop di meja kerjanya masih menyala.
Gambar yang tampak di layar sepertinya tidak asing.
Yeah ….
Ruang tamu keluarga Gionio yang masih penuh dengan hiasan balon, pita dan banner ucapan selamat datang.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...